
Maka disinilah Rosa yang terjebak dalam mobil bersama Reyhandra. Padahal Rosa sudah sebisa mungkin menolak tawaran Reyhandra yang menawarinya dirinya untuk mengantar Rosa pulang, tapi hal itu tetap tidaklah berhasil.
Rosa duduk terdiam di kursi dekat dengan Reyhandra sambil memainkan jarinya dengan sesekali mencuri pandang terhadap Reyhandra.
"Kenapa aku harus terjebak dalam sel semewah ini!!! Bersama dengan orang aneh!!! Oh tuhan, salah apakah aku? Berdosakah aku?" Tanya Rosa sambil meratapi serta menangis darah jika menginginkan kejadian sebelumnya.
Flashback
Rosa selesai menjelaskan tentang cocktail yang terbuat dari jus buah kepada Andre. Rosa membuat Andre nggak bisa berkutik sedikit pun dan disinilah akhir yang menjadi kemenangan Rosa.
Rosa tersenyum bisnis kepada Andre, gaya duduk Rosa yang menyilangkan sebelah kakinya seperti CEO besar, membuat lawannya lumpuh dengan pesona yang mendominasi darinya.
"Gimana? Apakah gege mengerti sekarang? Jadi lain kali jangan sampai tertipu gege!" Kata Rosa tersenyum manis kepada Andre sambil mengedipkan sebelah matanya.
Andre masih tetap nggak menyangka dirinya bakal dikalahkan oleh seorang gadis kecil kemarin dalam hal minuman yang biasanya dia nikmati. Risa benar-benar membuatnya mati kutu.
Dian yang setengah sadar akhirnya bersorak untuk Rosa. "Hebat, luar biasa. Uwouwooo~, hiks."
Dian bertepuk tangan untuk Rosa, bahkan dia juga bersenandung senang. Tapi orang mabuk tetaplah orang mabuk, Dian bahkan cegukan tak hentinya, meskipun begitu dia tetap antusias akan rosa. Dian mengisi gelasnya kembali dan lagi-lagi dia minum lagi.
"Yan, udah cukup. Jangan minum lagi." Rosa menarik botol anggur dari tangan Dian saat Dian akan mengisinya lagi.
Dian melihat kearah Rosa dengan tatapan kosong, "Ah,Shaka ya. Biarkan aku minum lagi. Aku sedang dilanda kesenangan, hohoho~." Dian terus bernyanyi gila dengan lirik yang amburadulnya, bisa dikatakan ini adalah sifat mabuknya.
"Oh ayolah, jangan minum lagi. Bagaimana kamu akan mengantarkan aku pulang nantinya." Ucap Rosa menjejalkan buah kedalam mulutnya Dian.
Rosa hendak menjejalkan buah kedalam mulut Dian lagi, tapi Dian malah menahan tangannya dan menggenggam erat tangannya.
"Kamu nggak usah khawatir, aku adalah orang yang sangat bertanggung jawab. Jadi aku nggak akan membuang kamu." Dian memperbaiki tata letak kacamata Rosa. Lalu kembali lagi Dian menggenggam erat tangan Rosa, "Jangan khawatir, kamu itu cantik, hahaha, hiks." Dian cegukan lalu melepaskan tangan Rosa.
Rosa khawatir klo Dian mabuk, bagaimana dirinya akan pulang nantinya. Kan nggak mungkin banget klo dirinya harus pulang dengan Andre ataupun Reyhandra. Meskipun Rosa bisa naik taksi, tapi itu pasti nggak bakalan dibiarkan oleh duo pembuatan onar itu.
"Yan, kamu mabuk. Biarkan aku nyari kamu sesuatu untuk diminum dulu, ya!" Ucap Rosa yang langsung bergegas berdiri dari tempat duduknya.
"Mau kemana?" Tanya Reyhandra mencegah Rosa untuk keluar dan menahan dengan tangannya.
Tak hanya itu ternyata Dian juga bangun dari tempat duduknya dan menggenggam tangan Rosa, seolah dia menahan Rosa untuk pergi. Dian melihat kearah tangan Reyhandra yang menggenggam tangan Rosa juga. Melihat itu Dian langsung melepaskan genggaman tangan Reyhandra dari Rosa.
"Berani kali dia melakukan hal itu sama bos besar?" Pikir Rosa melihat Dian yang berani berani mengacungkan jari tengahnya kepada Reyhandra, bahkan setelah dia melepaskan genggaman tangan Reyhandra darinya. Walaupun dengan itu Rosa sangat berterima kasih kepada Dian.
Dian tersenyum gaje kepada Reyhandra, walaupun Dian berdirinya saja sempoyongan. Dian mengambil tangan Rosa dan membuat Rosa berdiri saling bertatapan dengan Rosa. Dian menatap Rosa dengan begitu serius, bahkan bagi Rosa Dian terlihat maskulin dibawah sinar lampu malam bar.
"Shaka." Panggil Dian serius dan itu otomatis juga membuat Rosa menjadi tegang. "Shaka~, hiks, kamu jangan genggam tangan orang lain selain aku, ya~ hiks. Klo nggak aku nggak mau nyanyi untuk kamu lagi, hiks." Cegukan Dian di sela-sela kata-katanya.
"Sebenarnya siapa yang nyanyi untuk siapa? Dan siapa yang minta pada siapa?" Tanya Rosa dalam hati sambil tersenyum miris saat mendengar pernyataan Dian.
Lalu Dian melepaskan tangan Rosa dan mengambilnya botol alkohol lagi, tapi Rosa merebutnya dari tangannya dan mendudukkan Dian kembali. Setelah Dian duduk, akhirnya Rosa juga bisa duduk kembali dan menghela nafas panjang.
Reyhandra yang melihatnya nggak bisa berbuat apa-apa. Bahkan saat Dian mengacungkan jari tengahnya kepadanya Reyhandra juga nggak bisa bilang apa-apa, karena itu adalah orang mabuk. Lagipula Dian sudah seperti adiknya sendiri.
"Lo kenapa diem aja? Biasa lo paling heboh?" Tanya Reyhandra kepada Andre, melihat ekspresi Andre yang suram. Bahkan dia nggak ada respon sama sekali walaupun adiknya, Dian udah berbuat kacau.
"Jangan bicara sama gue, bro, sedang nggak ada mood gue buat ngeladenin lo."
"Hahaha, emang kenapa lo bisa nggak ada mood? Biasanya kan lo yang paling mood booster."
"Bisa nggak lo jangan bicara sama gue, bentarrr aja, please. Gue sedang butuh proses untuk sembuh."
"Emang sakit apa lo? Hemmm, atau...."
"Atau apa??!" Tanya Andre dongkol.
"Atau..., atau..., apa kabarnya dengan harga diri lo itu?" Reyhandra tersenyum puas karena bisa mengejek Andre. Jarang-jarang Reyhandra bisa mengejek Andre, apalagi di tempat favoritnya.
"Haissh, dua orang ini. Kenapa aku harus berakhir diantara orang-orang aneh ini sekarang?" Rosa menatap nanar kearah Dian yang mabuk, dan Andre yang nggak mood juga Reyhandra yang menikmati keadaan disekitarnya secara bergantian.
Rosa memakan buah-buahan yang ada didepannya kembali. Tidak ada yang mengeluarkan suara mereka kecuali hanya terdengar suara DJ berdegum yang dimainkan. Suara teriakan kesenangan penghuni bar yang melepaskan akal pikiran sehat mereka digantikan dengan kesenangan.
"Kapan aku bisa pulang?" Rosa bertanya-tanya karena dia sudah sangat bosan. Rosa memperhatikan jam tangannya, hampir menunjukkannya jam satu malam. "Aku nggak tau bagaimana keadaan di rumah, apakah aku ketahuan sama Papa Mama juga atau nggak? Aku nggak tau. Bahkan aku nggak tau bagaimana caranya keluarga dati sini."
Rosa terus memakan buahnya. Dian sudah sedikit tenang, tidak nyanyi-nyanyi nggak jelas lagi. Reyhandra dan Andre kembali menegakkan minumannya dan menikmatinya.
"Mereka berdua pasti ATM berjalan tetap bar ini." Pikir Rosa saat memperhatikan Reyhandra dan Andre.
"Bro, lo nggak berencana buat pulang malam ini? Ini udah hampir dini hari lho. Emang lo nggak berencana fitting baju besok sama kakak ipar? Kasihan kakak ipar lho, masa harus nungguin lo buat jemput dia fitting baju?" Tutur Andre mengawali pembicaraan setelah sekian lama.
Rosa tersendat saat mendengar kata kakak ipar dari Andre, dan itu sontak membuat Rosa terbatuk-batuk.
"Are you okay, Shaka?" Tanya Andre mengalihkan dirinya terhadap Rosa.
Rosa mengangkat tangannya menghentikan Andre, Rosa mengisyaratkan bahwa dia baik-baik saja. Rosa segera duduk dengan tegak lagi walaupun dia agak gugup. Reyhandra terus memerhatikan gerak-gerik Rosa tanpa diketahuinya, dia begitu menikmati permainannya pada malam ini.
"Masih tetap mau melanjutkan permainan kejar-kejaran dan siapa yang ditangkap ya? Sampai kapan itu akan bertahan, hemmm? Atau haruskah aku berbaik hati untuk tidak membongkarnya supaya permainan ini makin menyenangkan." Batin Reyhandra meledek Rosa yang menganggap semua yang terjadi malam ini adalah permainan yang menyenangkan baginya.
Itu menyenangkan saat Reyhandra melihat seorang Rosa yang gemetaran seperti tikus got yang basah, menyenangkan melihat Rosa yang gugup takut ketahuan oleh mereka, apalagi dirinya yang notabene sebagai tunangan juga suami masa depannya.
"Apa yang akan kamu lakukan saat kamu tau klo orang yang duduk didepan mu sekarang ini adalah tunangannya Reyhandra, juga kakak ipar yang kamu panggil itu." Tanya Rosa dalam batinnya.
Dian sadar lagi, kini dia malah heboh menarik tangan Rosa dan menariknya untuk berdiri. Dian menggenggam kedua tangan Rosa layaknya sepasang sejoli kasmaran.
"Shaka, haruskah aku bernyanyi untukmu sekali? Aku baru saja mengarang liriknya." Tanya Dian bersemangat walaupun dia sendiri berdiri saja hampir tidak bisa.
"Jadi kamu diam barusan hanya untuk mengarang lirik lagu untuk dinyanyikan?" Tanya Rosa tak percaya akan betapa anehnya kebiasaan mabuk Dian. "Ahahaha, baiklah lakukan sesukamu."
__ADS_1
"Jadi kamu nggak mau aku menyanyi untukmu? Hiks, kamu jahat." Dian menangis dan menghapus air matanya.
"What the hell? Darimana datangnya air mata itu? Bisa-bisanya kamu beneran menangis disini." Rosa lebih tidak percaya lagi akan kenyataan yaang dihadapinya itu. "Ok, ok, baik. Kamu menyanyi saja, aku akan mendengarnya. Tapi bisakah kau melepaskan tanganku dulu."
Rosa mencoba melepaskan genggaman tangannya dari Dian, karena dia nggak enak dari tadi Rosa dan Dian dilihat oleh Reyhandra dan Andre. Bahkan ini adalah putaran kedua.
"Aku nggak peduli! Pokoknya harus berpegang tangan kayak gini." Rajuk Dian mengeratkan genggamannya. "Baiklah, kamu dengar, ya. Lagu ini khusus untukmu dari Dian Rocher terhebat! Ehem, hem,hem. A~B~C~D~E~F~G~H~I Love You~Will You Marry Me. Will you merry, my Shaka?" Tanya Dian yang naik keatas sofa sambil duduk bersimpuh.
Rosa nggak bisa berkata apa-apa, hanya bisa melihat kearah Reyhandra dan Andre untuk diminta tolong. Reyhandra hanya cuek saja melihat itu, sedangkan Andre dia hany bisa geleng-geleng kepala saja.
"Haruskah aku menabok kepalanya sekali? Klo sekali saja nggak apa, kan?" Tanya Rosa pada dirinya sendiri yang hendak menarik tangannya untuk memukul Dian. Tapi Dian duluan mengeratkan genggamannya kembali.
"Bagaimana? Bagus kan lagunya. Itu tuh lagu marry me!!! Hehehe, khusus buat Shaka tercinta." Dian membanggakan lagunya dan melepaskan genggamannya dengan Rosa.
"Lagu merry me apaan? Itu lagu sekte Yoon-gi will you marry me, klo sampai para fansnya tau mungkin bukan sekali dua kali kena taboknya, bisa jadi babak belurnya kau." Rosa bergidik ngeri saat membayangkannya.
"Karena kamu nggak menjawab berarti kamu setuju. Kamu suka lagunya. Jadi kamu harus menikah denganku." Seru Dian senang sendiri.
"Mabuk memang menyusahkan, plus memalukan nantinya." Rosa duduk kembali ke sofanya, dia memijat keningnya, betapa banyaknya kejadian malam ini membuat dia lelah.
Ddrrrtttt.... Ddrrrtttt.... Ddrrrtttt....
Ponsel Rosa bergetar dalam saku jaketnya. Rosa mengambil handphonenya dan tertera nama "Allen Park" di nama ID-nya.
"Kak Alan kenapa telepon tengah malam dini hari gini, ya?" Pikir Rosa. "Atau jangan-jangan aku ketauan sama orang rumah lagi."
"Maaf, aku harus ke toilet dulu." Rosa permisi pada semuanya.
"Aku ikut." Ucap Dian beranjak dafi tempat duduknya dan berencana untuk mengekori Rosa.
"Kamu mau kemana? Disini aja kamu. Jalan aja nggak bisa, ada hati mau ngekori orang. Kamu tidur aja sana." Tahan Andre mencegah Dian.
"Dia dapat telepon dari siapa, sih? Sampai-sampai harus pindah segala, nggak bisa ya klo disini saja?" Reyhandra bertanya-tanya dalam hatinya, jujur dia nggak suka akan hal itu.
Saat Rosa beranjak bangun dari tempat duduknya untuk mengangkat telepon, orang dibalik Rosa duduk juga segera bangun dan dan hendak mengikuti Rosa tanpa diketahuinya.
"Tuan, kamu mau kemana?" Tanya sang asisten pada atasannya itu.
"Sebentar. Jadi mengikuti ku." Perintah sang atasan kepada bawahannya itu.
"Nggak bisa, Anda harus tetap dalam pengawasan saya. Tuan CEO berpesan begitu pada saya. Ini bukan wilayah kita, tuan." Kekeh sang asisten tetap mengikutinya.
"Baiklah, terserah. Tapi jangan terlalu dekat." Kata sang majikan dan langsung melanggeng pergi.
"Baik, Tuan Oryza." Jawab sang asisten patuh pada kehendak tuannya itu.
Rosa sampai di toilet dan mengangkat teleponnya, walaupun suaranya bisingnya masih kedengaran, tapi ini tidak seberapa.
"Iya, halo Kak Alan. Ada apa? Apa aku ketahuan?"
"Ah, udah kelar kok. Hanya saja kami sedang minum-minum."
"Minum-minum? Rosa, kamu juga ikutan minum? Dan sekarang kamu sedang mabuk? Ada dimana kamu sekarang biar kakak jemput."
"Kak, dengerin aku dulu. Aku nggak mabuk kok, aku nggak ikutan minum. Hanya temen aku aja yang minum. Aku nggak ikutan."
"Baiklah klo begitu. Tapi, kamu pulangnya kapan? Udah dini hari ini, kakak masih nungguin kamu di indomaret nih. Tapi kamu nggak muncul-muncul."
"Apa? Kak Alan nungguin aku?" Batin Rosa tersendiri. "Kakak pulang aja, nggak usah tungguin aku. Bentar lagi juga pulang."
"Nggak, kakak akan tetap nunggu kamu disini. Cepatlah pulang, jangan biarkan kakak menunggu lama, ok?"
Rosa terdiam saat Alan mengeluarkan kata-kata begitu dan Rosa buru-buru menjawab Alan kembali. "Oh, ok. Aku akan pulang segera."
"Baiklah, kakak tunggu kamu disini. Jadi segeralah pulang, ok?"
"Emmm, aku matiin."
Rosa segera memutuskan sambungan teleponnya. Rosa diam terpaku memegang handphonenya. Apakah dia nggak salah dengar? Apakah itu benar-benar seorang Alan yang itu? Alan yang menyuruhnya pergi dan menolaknya menjauh dengan segala makian?
"Kakak kenapa bilang supaya aku nggak membuat kakak menunggu? Padahal aku sendiri selalu yang menjadi penunggu, menunggu kakak kembali mengingatku, tapi bahkan kakak nggak memberikanku satu kesempatan pun. Kenapa kakak seperti ini kepadaku? Kenapa?? Kenapa kakak selalu seperti ini? Saat aku hampir merelakan kakak, kakak kembali hadir dalam hidupku. Kakak selalu mengatai aku egois, padahal kakak sendiri yang egois, tanpa menyadarinya. Kenapa kakak kembali memberiku torehan luka? Jika memang kakak nggak bisa bertanggung jawab" Ucap Rosa didepan cermin toilet bar.
Rosa menepuk-nepuk wajahnya supaya dia sadar kembali. Dia tidak boleh terbawa perasaan lagi. Kini dia sudah akan menjadi milik orang lain, dan Kak Alan juga sudah punya orang lain disisinya. Rosa melihat kearah cermin dengan nanar dan langsung meninggalkan toilet.
Rosa meninggal toilet dan tanpa sadar menabrak seorang laki-laki. Hingga ponsel Rosa terjatuh.
"Maaf, saya nggak sengaja." Kata orang itu minta maaf dan jongkok untuk mengambil handphone Rosa.
"Iya, nggak apa-apa kok." Kata Rosa menerima handphonenya kembali tanpa melihat orang yang menabraknya dan langsung pergi dari sana.
Laki-laki itu melihat punggung Rosa yang meninggalkan dirinya tanpa memperhatikan dirinya, padahal dia sudah menabrak Rosa bahkan handphonenya saja sampai jatuh.
"Baru kali ini ada orang yang tidak tertarik pada pesona diriku ini. Bukankah itu sangat menarik, Erik?" Tanya Oryza kepada asistennya itu yang berdiri tidak jauh dari Oryza.
"Iya, tuan. Dia memang anak laki-laki yang unik dan jarang." Jawab sang asisten, Erik, menyetujui perkataan atasannya.
Rosa kembali ke tempat duduknya semula dimana ada Reyhandra, Andre dan satu orang tak berguna yang sedang mabuk. Rosa hanya berdiri saat dia sudah sampai di meja mereka.
"Aku harus pulang sekarang." Rosa mengutarakan keinginannya.
"Jadi dia dapat telepon disuruh pulang, ya? Nggak mungkin itu orang tuanya, klo nggak mengingat bagaimana sikap kakaknya itu, dia pasti sudah sampai disini dan menyeretnya pulang. Apa mungkin teman kembarnya itu, ya?" Pikir Reyhandra berasumsi.
"Bagaimana mana kamu akan pulang?" Tanya Andre, karena Andre tau Rosa datang bersama adiknya, bahkan adiknya saja sekarang sedang keenakan tidur karena mabuk, apalagi untuk mengantarkannya pulang.
__ADS_1
"Aku akan naik taksi."
"Ok, baiklah klo begitu. Kamu hati-hati di jalan." Pesan Andre.
Reyhandra bangun dari duduknya dan meletakkan uang tunai dimeja, bayaran untuk minumannya. "Kamu pulang dengan saya saja." Kata Reyhandra segera melanggeng pergi.
"Bro, acara kita belum selesai."
"Kamu selesaikan saja." Jawab Reyhandra masa bodo. "Kamu tunggu apa lagi, ayo pulang."
Rosa segera mengikuti Reyhandra dan masa bodoh sama Andre sendiri. Palingan dia akan bersenang-senang lagi, begitulah pemikiran Rosa.
Rosa menunggu Reyhandra mengambil mobilnya dan sesaat kemudian Reyhandra pun datang dengan mobilnya.
"Naik." Perintah Reyhandra kepada Rosa membuka jendela mobilnya.
"Oh, ok." Jawab Rosa segera naik di kursi penumpang.
"Kamu ngapain di sana?"
"Naik mobil, kan?"
"Kamu pikir aku ini sopir apa? Sini duduk didepan?" Perintah Reyhandra lagi.
"Nggak apa, aku disini aja."
"Kubilang duduk didepan."
"Ini orang kenapa banyak kali maunya sih?" Rosa mendecih kesal. Klo bukan karena ini udah sangat larut malam, mana mungkin dia mau satu mobil dengan orang yang mengerjainya, walaupun hitungan jari ke depan akan satu rumah.
Rosa turun dari mobil dan duduk di samping Reyhandra. Rosa langsung duduk dengan tenang dan sebisa mungkin jauh dari Reyhandra, makin jauh makin baik, begitulah pikiran Rosa.
"Ok, l'm ready." Kata Rosa kepada Reyhandra.
"How so stupid you are. Orang yang nikah dengan kamu pasti bakalan sial kedepannya."
"Apaa?? Dia bilang aku bodoh? Sial? OMG hello? Aku ini bukan pembawa sial, ya. Tapi pembawa berkah, berkah tau." Begitulah jawaban yang mau Rosa semprotkan untuk Reyhandra.
Reyhandra menghela nafas, lalu mendekat kearah Rosa dan semakin dekat. Rosa juga berupaya untuk menghindar, tapi dia nggak bisa karena dia terantuk dengan pintu mobil.
"Kamu mau ngapain?" Tanya Rosa panik.
Rosa menutup matanya tidak mampu melihat apa yang akan dilakukan Reyhandra. Reyhandra memasangkan sabuk pengaman Rosa dan melihat kearah wajah Rosa yang sedang merem menutup matanya.
"kamu sedang membayangkan apa? Pengen saya cium?" Tanya Reyhandra yang masih dekat dengan wajah Rosa.
Rosa membuka matanya perlahan dan melihat dirinya ternyata belum memakai sabuk pengaman dan itu membuatnya sangat malu. Padahal ini bukan pertama kalinya dia naik mobil, dan bukan juga orang yang tak punya mobil di rumah.
"Kenapa? Kamu mengharapkan saya mencium mu, ya?" Tanya Reyhandra tersenyum menggoda Rosa.
"Nggak, siapa juga yang mengharapkan itu dari kamu." Rosa membuang mukanya keluar jendela saking malunya dia.
Reyhandra mengambil kesempatan itu untuk mencium pipi Rosa dan itu sontak membuat Rosa seperti tersengat listrik dan dia memegang pipinya.
"Dasar kriminal." Teriak Rosa.
"Saya nggak melakukan tindak kriminal apa-apa kok. Saya hanya mengambil ongkos sopirnya saja. Lagipula ini supaya seimbang, tadi saya mencium di pipi kanan jadi sekarang yang sebelah kiri." Ucap Reyhandra tersenyum menang dan Rosa nggak bisa menjawab apa-apa lagi, karena wajahnya sudah terlanjur seperti udang terebus.
Tidak ada yang memulai pembicaraan sama sekali dalam perjalanan pulang, hanya Rosa yang mencuri pandang akan Reyhandra. Jujur Rosa merasa suntuk dari tadi karena nggak ada yang memulai pembicaraan.
Rosa juga nggak mau memulai pembicaraan terlebih dahulu karena dia merasa segan. Lagipula dia nggak mau karena Reyhandra sudah seenak jidat padanya. Jadi Rosa hanya bisa curi-curi pandang Reyhandra sesekali.
"Ini orang lumayan juga, tapi sayang minus akhlak. Tapi klo dipikirkan lagi, kegantengannya itu termasuk kriminal karena itu membuat orang-orang terpesona padanya." Pikir Rosa melihat Reyhandra terang-terangan tanpa diketahui Reyhandra karena dia sedang menyetir.
"Apakah saya begitu ganteng hingga adik Shaka begitu terpesona?" Tanya Reyhandra melihat kearah Rosa dan kemudian fokus lagi ke jalan.
"Siapa juga yang ganteng. Kamu kalah ganteng sama aku." Bangga Rosa pada dirinya sendiri.
"Itu memang benar, tapi adik Rosa bukan ganteng hanya cantik saja." Goda Reyhandra tersenyum licik dan menekankan kata cantik lalu Reyhandra kembali melihat kearah Rosa untuk mengetahui ekspresi apa yang akan dibuat Rosa kali ini.
Rosa lagi-lagi kembali dibuat seperti udang rebus oleh Reyhandra. Rosa segera membuang pandangannya dan melihat keluar dan menyadari dia sudah hampir sampai di indomaret lorong rumahnya dan juga Alan menunggunya di sana.
"Turunkan saya di indomaret depan sana saja, ada sesuatu yang mau saya beli untuk mengganjal perut ini." Perintah Rosa.
"Hemm..., baiklah."
Reyhandra segera berhenti saat sudah sampai didepan indomaret. Rosa turun dari mobilnya dan kemudian mengetok pintu mobil Reyhandra.
"Terima kasih pada Kak Rey karena sudah mengantar saya." Kata Rosa setengah berjongkok didepan jendela Reyhandra.
"Jika adik Shaka merasa berterima kasih, jadi lebih sering-seringlah mampor ke bar dan menghibur kami semua dengan nyanyianmu itu."
Rosa nampak berpikir sejenak. "Sepertinya..., that is impossible."
"Why??"
"Aku juga punya hal pribadi yang nggak bisa dibagi, dong." Rosa tersenyum tulus kepada Reyhandra.
"Sepertinya dia nggak tau klo aku tau bahwa itu adalah dia." Pikir Reyhandra saat melihat reaksi Rosa. "Hemm, baiklah. Mungkin kadang-kadang kamu bisa mengundang Kak Rey untuk mampir ke rumah mu." Tanya Reyhandra terus menawar.
"Itu juga mustahil. Begini, jika Kak Rey memperhatikan benda di langit, maka itu adalah matahari, dan bumi berputar mengelilinginya, bukan Kak Rey." Ucap Rosa tersemyum. "Jadi, bye bye. Thanks atas tumpangan gratisnya." Rosa melambaikan Reyhandra dan tersenyum tulus padanya.
"Itu bukan masalah besar, Kak Rey akan menganggap ciuman kamu sebagai bayaran tumpangannya." Ucap Reyhandra tersenyum licik dan segera menutup jendela mobilnya dan melajukan mobilnya.
__ADS_1
"Kamu..." Rosa hendak membalas kata-kata Reyhandra kembali, tapi Reyhandra keburu kabur duluan. "Awas aja kamu."