Dia Bahagiaku Dia Lukaku

Dia Bahagiaku Dia Lukaku
Chapter 36 : Sesuai Saran


__ADS_3

Rosa akhirnya sampai juga didepan pintu ruang inap papanya. Dia berdiri sebentar dan mengatur napasnya dengan baik, karena dia barusan berlari untuk sampai di ruang inap lantai dua.


Sesudah benar-benar tenang dan mengontrol napasnya, tidak ngos-ngosan lagi, Rosa pun membuka knop pintu dan menampilkan senyum sumringahnya yang cerah.


"Good morning, papa. How do you feel today?" Sapa Rosa dan langsung merebahkan dirinya dalam pelukan papanya itu sesudah menaruh bekal yang dibawanya itu di atas nakas.


"Good morning, sayang. Gimana kabarmu hari ini? Apakah kamu tidur dengan baik?" Tanya Raymond balik kepada putri tercintanya itu dan juga membelai rambut Rosa yang ada dalam dekapannya.


"Hemm, well. I think l'm sleep well. Tapi rosa kesepian karena nggak ada papa di pagi hari."


"Oh ya? Benarkah? Berarti papa harus cepat-cepat sembuh dan balik ke rumah kita."


"Ya, papa harus cepat sembuh." Kata Rosa yang nyembul dari pelukan papanya itu dan langsung berdiri lagi.


"Sayang, gimana keadaan rumah? Apakah baik-baik saja." Serena juga bertanya tentang keadaan rumah karena dia khawatir. Meskipun Rosa aman-aman saja. Namun yang namanya seorang ibu, dia tetaplah sangat khawatir, bahkan hal kecil sekalipun.


"Aman itu, ma. Pokoknya saat pulang nanti rumah tetap dalam keadaan utuh tanpa lecet sedikitpun." Rosa membuat tangannya tanda itu baik-baik saja. "Oh ya pa, ma. Rosa bawa bekal dari rumah, lho. Masakan Bi Salma, koki bintang lima kita. Nih!" Kata Rosa menyerahkan rantang pada Serena.


Rosa tersenyum senang melihat keadaan papanya sekarang menjadi lebih baik. Dan dengan itu, berarti mamanya juga baik-baik saja. Dia nggak akan khawatir lagi, karena suaminya kian membaik.


"Ehem, hem, hem." Stev yang duduk di sofa sambil membaca majalah yang ada di sana berdehem dengan keras, kode klo Rosa belum menyapanya.


Rosa hanya menoleh kearah sumber suara sejenak, lalu kembali lagi pada kesibukannya melihat mamanya yang sedang menyuapi papanya itu.


Stev berdehem lagi, dan kini lebih keras lagi lagi. Namun Rosa juga hanya melihatnya sekilas. Stev yang merasa dikucilkan oleh Rosa, akhirnya tak tahan juga dan bersuara.


"Honey, apakah kakak ini nggak nampak lagi dimata kamu kah? Kok kakak nggak disapa? Padahal papa aja dapat pelukan? Bukankah ini nggak adil dan mendiskriminasi seseorang?" Protes Stev nggak terima diperlakukan begitu.


"Hahhhh...." Rosa menghela nafasnya kasar melihat kakaknya itu. Padahal Rosa udah bertekad untuk mencuekkan kakaknya hari ini.


Banyak hal yang terjadi dalam semalam dan juga pagi ini. Alasan yang nggak jelas menyuruhnya untuk memastikan handphonenya, bahkan kejadian tadi pagi membuat Rosa nggak habis pikir akan pola pikirnya kakaknya itu.


"Pa, ma. Kalian habisin aja sarapan romantis kalian pagi ini, Rosa nggak akan ganggu lagi. Yah, meskipun ini adalah rumah sakit, tapi tetap gunakan waktu kalian sebaik mungkin. Ok, papa?" Rosa mengedipkan sebelah mata kepada papanya itu, dan Raymond pun tersenyum.


"Kalian ini napa sih? Ayah dan anak sama aja, ya pemikirannya. Aneh-aneh aja." Serena menengahi mereka, karena itu membuatnya malu saat Rosa bilang sarapan romantis.


"Ah, mama ini. Nggak ada yang namanya aneh, tapi sarapan romantis. Bye papa, mama." Rosa melambaikan tangannya pada kedua orang tuanya itu. Lalu mengambil rantang di atas nakas, lalu membuka pintu, kemudian berbalik melihat kakaknya. "Cepat, kita cabut dari sini, kita makan di taman." Seru Rosa dengan nada yang menyeramkan.


"Ahhh, si honey kayaknya lagi marah ini? Serem banget ekspresinya barusan." Batin Stev yang mengekori Rosa dari belakang. "Klo gitu, Stev sarapan dulu sama honey, pa, ma ya."


"Hemmm, baik-baik kalian. Jangan buat adikmu malu dengan tingkah mu itu Stev. Kamu itu udah dewasa Stev." Saran Serena sebelum Stev benar-benar pergi mengikuti Rosa.


Rosa sampai di taman, dan mencari tempat yang nyaman untuk sarapan. Dan akhirnya dia menemukan tempat duduk di taman yanga ada mejanya.

__ADS_1


Rosa langsung membedah rantangnya dan membagi makanan untuk dirinya dan juga Stev. Stev akhirnya sampai juga, dan dengan hati-hati dia duduk di depan Rosa. Meskipun Stev seorang yang bucin sama adiknya, Stev juga tipe orang yang takut adik. Makanya dia nggak protes lagi karena Rosa nggak menyapanya tadi.


"Nih, makan." Kata Tosa cuek sambil memberikan bekal pada Stev.


"Honey, kamu marah kenapa sih? Pagi-pagi juga, nggak da mendung kagak hujan juga. Tiba-tiba marah gitu. PMS kamu ya hari ini?" Tanya Stev berhati-hati, takut salah kata-kata.


"Heh, PMS kakak bilang? Hemm, mungkin ya juga kali Rosa lagi PMS. Cepat makan? Risa akan beri perhitungan sama kakak kali ini."


Glek, Stev menelan ludahnya. Karena marahnya Rosa benar-benar mengerikan. "Mampuslah aku. Semuanya karena si brengsek, jelek, nggak tampan, nggak rupawan itu. Awas aja kamu." Batin Stev yang menaruh dendam sama Reyhandra. Karena Stev tebak, ini semua ada kaitannya dengan Reyhandra dan juga kejadian semalam.


Akhirnya Rosa dan Stev pun selesai makan. Rosa memperhatikan lurus kearah kakaknya, dan Stev dibuat nggak bisa berkutik olehnya.


"Benar-benar singa betina. Tapi dia juga sangat imut klo lagi marah." Batin Rosa yang awalnya masih takut-takut dengan kemarahan Rosa, namun sesaat kemudian penyakit bicin adik pun muncul.


"Ngapain kakak senyam-senyum gitu liat Rosa. Ada yang lucu ya?" Tanya Rosa yang melihat tingkah bodoh kakaknya itu yang sudah seperti orang sakit jiwa.


"Nggak ada yang lucu. Hanya saja kamu sangat imut saat marah, honey?" Jawab Stev yang masih senyam-senyum melihat Rosa.


"Kak, kamu..." Rosa kehabisan kata-kata saat menghadapi kakaknya itu. Rosa pun menghela nafas lelah, karena menghadapi kakaknya itu. "Nah sekarang, aku atau kakak dudu yang akan berbicara." Kata Rosa memasuki mode serius.


Dan bagaikan mesin peniru, Stev juga langsung serius daat Rosa berbicara dengan nada serius. "Kakak dulu. Udah dari semalam kakak simpan sendiri. Telat sedikit lagi, mungkin kakak akan stroke memikirnya."


"Nah, klo gitu silakan." Rosa mempersilahkan kakaknya untuk menceritakan sebab penyebab kenapa kakaknya bisa berpesan seaneh tadi malam.


Stev pun bercerita tentang Reyhandra yang menelponnya tadi malam menanyakan tentang undangan pernikahan Rosa. Makanya kenapa Stev menelpon Rosa dan menyuruhnya untuk memastikan teleponnya.


"Oh..., jadi begitu ya permasalahannya. Makanya di nelpon pagi tadi." Kata Rosa pelan pada dirinya sendiri.


"Apa?!? Si baji..., nggak si Reyhandra itu menelpon kamu tadi pagi dia?" Tanya Stev kaget bahkan sampai menggebrak meja, hingga dia menjadi perhatian orang-orang yang lagi lewat.


"Haaah..., lagi. Apa kata mama kak? Masak kakak langsung lupa sih kak?"


"Tunggu, honey. Kamu dengar apa yang dibilang mama sama kakak." Tanya Stev kaget karena Rosa tau.


"Nggak juga. Hanya saja dengan sikap mama dan juga dengan sifat kekanak-kanakan kakak itu, mama pasti berpesan sesuatu tentang sikap kakak itu, kan?" Tanya Rosa yang menebak tepat pada sasarannya. Dan karena hal itu memang benar adanya, jadi Stev nggak bisa ngebantah sedikit pun. "Sekarang bukan disitu fokusnya, jadi bagaimana? Apa kakak udah mengantar undangannya pada Reyhandra?"


"Udah, tadi. Pas kakak ambil tadi malam, kakak nggak langsung mengirimnya, jadi kakak kirim tadi pagi." Jawab Stev dengan nada yang kurang bersahabat karena Rosa peduli akan hal itu.


"Hemmm, baguslah klo kakak udah mengirimnya sendiri kesana." Lega Rosa karena kakaknya masih punya sisi baik dan warasnya juga.


"Nggak kakak kirim sendiri, kakak suruh kirim lewat kang paket. Malas kakak klo ketemu sama si Reyhandra si pura-pura sok suci dan baik, sok gentle itu."


"What??? What the f*ck. Ternyata hanya aku aja yang berekspektasi terlalu pada kakak. Mana mungkin sekalinya tak waras langsung waras, mestilah ikut ngakak waras dan berakhir sinting itu. Dasar kakak." Tosa kembali menghela nafasnya dengan berat, sebenarnya apa sih yang dia harapkan sama kakaknya itu. Nggak ada yang benar satu pun. "Jadi kakak kirim lewat kang paket kak?"

__ADS_1


"Iya." Jawab Stev dengan nada tanpa dosa.


"Haaahh,, hancurlah sudah. Kak, dimana sih sikap kamu yang sesuai dengan umur mu itu, jangan kekanak-kanakan gitu. Itu namanya nggak sopan, kak. Padahal kita bentar lagi juga akan jadi keluarga."


"Keluarga?? Kamu becanda, honey? Kakak nggak pernah menganggap dia keluarga sekalipun dia suami kamu."


"Karena dia ngerebut aku dari kakak?" Tanya Rosa memastikan.


"Eemmm, emangnya apa lagi. Klo dia nggak rebut kamu dari kakak, pasti nggak akan gini."


"Tapi kak. Masa kakak...."


"Udah honey, jangan bahas dia lagi." Imbuh Stev memotong perkataan rosa. "Idah ya, honey. Kakak nggak mau denger itu lagi. Jadi, dia telepon kamu tadi, dia ngomong apa aja?"


"Nggak ada sih, cuma nany kenapa aku membalas chatnya dan kenapa handphone aku mati?" Jawab Rosa memberi tau Stev.


"Jadi, kamu jawabnya apa?" Lanjut Stev bertanya, seakan itu adalah sebuah interogasi.


"Ya, seperti kakak bilang. Ditanya kenapa nggak bals chat, aku bilang klo aku udah jawab dalam hati. Dan ketika dia tanya kenapa handphonenya mati, trus aku bilang handphone ku lowbat, makanya mati." Jelas Rosa klo dia melakukan seperti yang disarankan oleh Stev.


"Hemmm, pintar." Stev mengelus rambut Rosa dan kemudian langsung bangun dari duduknya.


"Kakak mau kemana?" Tanya Rosa yang juga bangun dari tempat duduknya, dan Stev yang sudah berjalan beberapa langkah dari tempat Rosa berdiri.


"Mau ke kantor. Oh ya, soal undangan pernikahannya udah kakak serahkan sama mama. Nanti klo kamu emang mau liat, minta aja sama mama, ya. Kakak harus segera berangkat sekarang, udah telat juga nih." Jawab Stev lembut dan dewasa sambil memperhatikan jam tangannya.


"Hemm, klo gitu kakak hati-hati di jalan, ya."


"Kamu mengkhawatirkan kakak, ya? Klo memang begitu, bagaimana klo sebuah kecupan perpisahan disini?" Ucap Stev kembali pada dirinya yang biasanya sambil menunjukkan pipinya.


"Apaan sih kak? Sana pergi aja. Katanya udah telat, kan? Jangan jadi contoh yang buruk hanya karena kakak anak dari pemilik perusahaannya." Ceramah Rosa kepada Stev, meskipun pendek.


"Iya iya, dasar bawel."


"Apa kakak bilang? Bawel? Siapa yang bawel, huh?" Tanya Rosa tak terima dikatain bawel oleh kakaknya.


"Iya iya, kamu cantik." Kata Stev yang mengalah kemudian langsung membalikkan badannya dan pergi.


"Kak! Tunggu dulu!" Panggil Risa saat Stev sudah agak menjauh.


Mendengar panggilan dari Rosa, Stev membalikkan badannya melihat Rosa. Rosa berlari kearah Stev, dan kemudian berdiri telat didepannya. Rosa menjinjit sedikit dan mencium Stev di pipinya.


"Kakak hati-hati di jalan." Kata Rosa sesudah mengecup pipi Stev singkat dan dangan wajah yang malu-malu. Meskipun Stev adalah kakaknya, namun orang di sekitar yang melihat mereka pasti akan mengira klo mereka adalah pasangan.

__ADS_1


"Iya. Kamu juga langsung masuk ke dalam, ya. Jangan berkeliaran lagi." Tutur Stev tersenyum dan menepuk-nepuk kepala Rosa.


Stev langsung pergi sesudah itu, dan melakukan mobilnya menuju ke kantor. Rosa juga mengambil rantangnya, dan sesuai yang dibilang oleh Stev, Rosa langsung masuk ke dalam, kembali menemani orang tuannya.


__ADS_2