
Rosa dan Alan dipandu oleh staf yang bekerja. Staf itu memandu Rosa dan Alan ke tempat duduk mereka, tempat yang dekat dengan jendela, tempat yang paling romantis karena bisa melihat pemandangan keluar melalui jendela. Apalagi pada malam ini bulan purnama bersinar terang benderang dihiasi langit yang berbintang like diamonds.
Tak berapa lama saat kemudian, pelayan datang sambil membawakan buku menu. Rosa dan alan segera membaca dan melihat buku menu.
"Oh my god, benar-benar hotel legendary, harganya saja... Ini sejumlah jajan aku selama satu bulan yang ku hambur-hamburkan dengan boros. Kira-kira klo aku pulang sekarang terlambat nggak, ya?" Batin Rosa yang terkejut melihat harga dari menunya.
Rosa menjadi bingung nggak tau apa yang harus dilakukannya. Jiwanya yang takut akan pemborosan dan juga pengeluaran yang terlalu banyak keluar. Rosa terus membolak-balik halaman dari buku menunya, dan membandingkan satu sama lain. Rosa berusaha mencari paket yang paling murah diantara yang termurah.
"Ya ampun. Ini terlalu mahal sekali? Bagaimana aku akan membayarnya? Meskipun aku seorang dokter, aku juga perlu berhemat dan menabung untuk masa depanku nanti. Tapi, aku kan juga nggak mungkin untuk menarik Rosa keluar dari sini. Kami sudah terlanjur menginjakkan kaki kami disini. Haaah, pesan saja apa yang mungkin. Lagipula aku sendiri yang menikmatinya, buat apa pelit sama diri sendiri. Soal mentraktir Rosa, aku mentraktirnya juga bukan tiap hari, cuma hari ini doang. Meskipun harus lebih berhemat lagi aja ke depan, kan nggak mungkin juga aku mati gara-gara terlalu berhemat." Batin Alan melirik Rosa sambil membaca buku menunya.
Rosa dan Alan terus membolak-balikkan halaman buku menunya. Mereka seakan ragu buat memesannya karena terlalu mahal. Ini bukan lagi mahal biasa, ini benar-benar sangat mahal.
"Gila, kenapa ini resto bisa masuk top number one, sih? Paling banyak dikunjungi lagi. Makanannya nggak seberapa, mungkin enak Bi Salma masak di rumah ketimbang disini. Nggak ramah banget, mana porsinya seukuran anak kecil lagi. Mana bisa kenyang klo seperti ini. Benar-benar perampokan masal yang legal." Gerutu Rosa dalam batinnya saat melihat ukuran menunya yang hanya seukuran bubur bayi.
"Kak, kakak mau pesen apa? Klo Rosa nanti ngikut aja." Tutur Rosa membuka suara. Lagipula udah dari tadi pelayannya nunggu mereka mesan.
Jadi akan nggak enak banget klo harus membuatnya membuang waktu hanya dengan menunggu mereka memesan menunya. Meskipun Rosa sekarang adalah tamu VIP, meskipun itu adalah tugas pelayan untuk merajakan dan meratukan pelanggan.
"Aku yang ngikut aja. Rosa pesen apa maka Kak Alan juga pesen yang itu. Dimana-mana itu kan lady first. Lady yang diutamain. Jadi terserah kamu saja." Jawab Alan yang emang itu datang dati lubuk hatinya, karena sekarang yang ada dipikirannya itu bagaimana Rosa akan memaafkannya.
Jadi dia berusaha sebisa mungkin untuk memperbaiki sikapnya yang dulunya sering ngehina Rosa dan mendapatkan Rosa kembali. Meskipun luka yang ditoreh itu mustahil untuk sembuh, karena yang bekas itu tetap ada. Alan juga mau tetap berusaha.
Sudah beberapa hari ini Alan mendapatkan ingatannya kembali. Karena berbagai rangsangan dan juga ingatan tentang dirinya dengan Rosa, Alan akhirnya mendapatkan ingatannya kembali.
Meskipun saat kembali dia sudah terlambat. Karena Rosa sudah terlanjur terikat benang merah dengan orang lain. Tapi itu bukan berarti tidak bisa dilepaskan lagi. Karena status Rosa dan Reyhandra selama ini adalah tunangan. Alan sadar klo sekarang Rosa sudah mulai move on dengannya, nggak gamon lagi.
Terlebih Rosa sepertinya juga mencintai tunangannya yang itu. Tapi Alan tetap mau serakah, dia akan mencoba untuk terakhir kalinya. Asalkan janur kuning belum melengkung, maka Alan masih punya kesempatan untuk merubahnya.
Alan berusaha sebisa mungkin mencari kesempatan untuk bertemu dengan Rosa. Menggodanya dengan berbagai cara yang dulunya nggak pernah dilakukan. Bahkan dia menjerat Rosa dengan kedok yang namanya balas budi dengan traktiran makan malam. Kalau dipikirkan, mana ada yang namanya dinner untuk balas budi. Kecuali itu adalah traktiran antara teman biasa. Bukan dengan dinner yang romantis.
"Bagaimana ini? Kak Alan juga terserah sama aku pesannya. Mana mahal kali lagi. Kan sayang uangnya. Aahhh, nggak apa. Kata papa akhiri dengan berwibawa and stay cool. Gunakan kartu kreditnya." Pikir Rosa lagi meyakinkan dirinya.
Meskipun dia menyayangkan uangnya yang akan melayang dalam hitungan menit. Terbang seperti layang-layang yang putus talinya. Terombang-ambing di langitan yang luas tanpa akhir yang jelas.
"Ok, well." Ucap Rosa menutup buku menunya. "Ehem, sepertinya agak sulit untuk memilihnya sendiri, karena menu yang disediakan disini semuanya mewah dan kelihatan so delicious. Saya jadi bingung untuk memilihnya yang mana saking..., yah begitulah." Rosa berbicara dengan pelayan yang berdiri disampingnya sambil tersenyum.
__ADS_1
"Ya, saking mahalnya dan nggak masuk akalnya membuatku sayang untuk memesannya, soalnya kasihan uangnya terbang seakan ada sayap malaikat yang melekat." Batin Rosa tersendiri yang tetap memasang senyum bisnis yang menawan di permukaan.
"Maklum jika Anda mungkin bingung dalam memilihnya. Karena ini semuanya kelihatan so delicious, and this menu also have hight quality. Jadi itu merupakan hal yang wajar." Kata si pelayan itu memulai teknik marketingnya.
"Ohhh, that is so luxerious. Hemm ok well, do you have suggestion about what should choose about this menu? Or... do you have, hemmm menu andalan or menu utama kalian pada malam ini? Hemm?" Tanya Rosa tak mau kalah. Dia berusaha terlihat elegant seelegan mungkin. Meskipun jiwanya mungkin nggak ada yang namanya elegan. Mengingat dirinya yang hobi cross dressing itu.
"Oh ya, of course. Apakah Anda sekalian ingin memesan menu utama malam ini?" Tanya si pelayan yang ingat klo itu emang ada.
"Ya, tolong ya." Jawab Rosa menyetujuinya. "Kak Alan gimana? Nggak keberatan, kan? Hemmm?" Tanya Rosa tersenyum kepada Alan.
Deg... Deg deg.... Suara jantung Alan terpompa dengan cepat. Kali ini Rosa benar-benar melakukan seperti yang diperintahkan oleh kakak dan mamanya di rumah. Terlebih lagi, sekarang ingatan Alan sudah kembali, jadi godaan itu nggak bisa Alan normalkan lagi, apalagi saat Rosa mengedipkan matanya kepada Alan.
"I-iya. Samain aja. Ehem, ya tolong pesanannya disamain aja dengan Rosa." Jawab Alan yang gelagapan.
Namun dia dengan cepat merubahnya karena dia nggak ingin ketahuan. Melihat Alan yang salah tingkah itu, Rosa menjadi tersenyum sendiri. Meskipun dia hanya sedikit menarik sudut bibirnya itu supaya dia stay calm and elegant, jadi nggak bisa ketahuan klo dia tersenyum karena puas karena Rosa berhasil meruntuhkan tembok Alan yang selama 2 tahun terakhir ini dibangun kokoh.
"Ok. How about drink, sir? Do you want..."
"Saya pesen ekpresso saja. Tolong itu, ya!" Pinta Alan kepada si pelayan, dan pelayan pun dengan sigap segera mencatatnya.
"Hemmm, some thing else? What kind the popular drink? Oh no, the drink that usually the person order?"
"Usually? Ahh.., how about wine? That is usually the person order. Do you want it, miss?" Tanya si pelayan memberikan opsi pada Rosa.
"Rosa, wine itu..." Alan hendak mencegah Rosa, karena itu adalah alkohol. Dan nggak akan baik bagi Rosa. Namun Rosa segera mengangkat tangannya, klo dia menyuruh Alan untuk diam dan berhenti.
"Wine? That is sound greet. Ok, saya pesan cocktail saja." Jawab Rosa dengan santainya, namun Alan yang mendengarnya begitu kaget hingga dia membelalakkan matanya nggak percaya. Gimana bisa Rosa yang merupakan bocah dewasa kemaren meminum cocktail?
"Cocktail? Your taste so good, miss. Anda tau bagaimana cara untuk menikmati sesuatu." Puji pelayan itu pada Rosa, dan hanya diberikan senyum oleh Rosa. "Ok, what kind the cocktail do you want?" Tanya si pelayan yang merasa tertarik dengan keputusan berani Rosa. Karena pelayan itu tau klo Rosa adalah gadis baik-baik, dan juga baru dewasa. Hal itu terbukti dengan sikap Alan yang berlebihan pada Rosa.
"Pilihan tuan emang sangat menarik, ya? Standarnya aja berbeda. Benar-benar layak menjadi orang yang diperhatikan oleh tuan muda." Batin si pelayan itu yang melihat senyum percaya diri Rosa yang merekah dan senyum sumringahnya itu yang mempesona.
"Well, l want a glass mocktail, please! Saya mau mocktail yang terkenal di restoran kalian. Ada, kan?" Tanya Alan bertanya dengan suara yang sensual.
"You are so interesting, miss. Nice to meet you, miss. Bertemu dengan Anda benar-benar moment yang sangat berharga. Begitu membuka wawasan saya." Kata si pelayan setelah selesai mencatat pesanan Rosa dan Alan.
__ADS_1
"Oh, really? I am so glad to meet you, too. You are so kind dalam melayani pelanggan Anda."
"Ya, thank you, miss. Mohon tunggu pesanan Anda sekalian. Dan juga..., Anda berdua merupakan tamu terhormat kami, jadi hari ini akan ada makanan penutup yang sedang dikreasikan dan juga dikembangkan oleh koki kami saat ini. Saya harap Anda sekalian bisa memberikan dan saran yang positif untuk makanan penutup kami. Jadi kami bisa memperbaiki untuk kedepannya." Jelas si pelayan membungkuk badannya.
"Ok, senang bisa menjadi orang pertama yang mencoba makanan penutup dari restoran seterkenal ini. Dan ini juga merupakan sebuah kehormatan bagi kami berdua." Tutur Rosa tersenyum.
"Ya, baguslah klo Anda menanggapinya dalam sisi positif juga. Jadi mohon bantuannya. Klo begitu saya permisi dulu. Silakan nikmati pembicaraan Anda berdua sambil menunggu pesanannya." Kata si pelayan itu. Dan sesudah Rosa mengangguk, pelayan itu kembali membungkuk dan segera meninggalkan meja Rosa dan kembali melanjutkan pekerjaannya kembali.
Sesudah si pelayan meninggalkan mejanya, Rosa baru bisa menghela nafas lega. Dia kira dia akan meninggalkan restoran ini dan lebih memilih untuk makanan pinggir jalan aja. Jajanan angkringan pada malam hari.
Namun Rosa nggak bisa meninggalkan itu begitu saja. Karena Rosa harus mendapatkan beberapa foto kenangan, sebagai bukti untuk orang tuanya dan kakaknya. Tapi mau dibicarakan apapun, Rosa tetap saja menyayangkan uangnya. Meskipun dia mendapatkan sampel makanan penutup gratis. Tapi tetap saja Rosa merasa sedih.
"Nggak apa, Rosa. Anggap aja itu kamu lagi beramal pada perutmu saja. Puaskan perut dan nafsu hari ini. Biarkan dia liar." Batin Rosa tersendiri dan kembali fokus pada Alan lagi yang duduk didepannya.
Namun btak biasa, Alan malah menatapnya dengan intens dan juga menusuk. Hingga itu membuat Rosa menjadi risih.
"Ada apa, kak? Liatin Rosa segitunya? Cantik ya Rosa? Udah, Rosa juga tau klo Rosa emang cantik, dan cantik bingit malam ini. Jadi kakak berhenti melihat Rosa seperti itu." Tutur Rosa dengan tebal muka memuji dirinya sendiri.
"Oh my god, Rosa.... Kenapa kamu jadi gitu? Minimal sadar diri kek klo wajah cantik kamu itu pas-pasan. Masih banyak diluar sana yang lebih cantik dari kamu." Batin Rosa menangisi kata-katanya barusan. Dia sebenarnya sangat malu, hingga klo ada lubang, dia pasti akan bersembunyi di sana
"Ya, kamu cantik. Cantik banget malahan." Jawab Alan datar. Dan bagi Rosa itu merupakan penafsiran dari tidak tertarik.
"Oh gitu. Jadi kenapa kakak liatin Rosa gitu trus? Kan jadi malu Rosa ditatap seperti itu."
"Nggak, hanya saja kamu jauh berubah, ya?"
"Apa? Berubah? Kakak ini ada-ada aja. Mana mungkin Rosa berubah. Emang Rosa bisa berubah jadi ultramen apa? Ngadi-ngadilah Kak Alan ini." Becanda Rosa menanggapi perkataan ambigu Alan.
"Ya, nggak gitu juga. Tapi benar kok. Kamu banyak berubah. Bahkan selera minum juga berubah. Pribadi juga berubah banyak. Kamu sekarang sudah dewasa dan menentukan pilihan kamu sendiri. Bahkan cara makan dan cara kamu menanggapi itu sangat dewasa." Tutur Alan memutar-mutar, tak tau apa sebenarnya maksud Alan.
"Maksud kakak apa, ya?" Tanya Rosa bingung, sebenarnya yang jadi poinnya yang mana??
"Nggak, hanya saja kamu lebih berani. Bahkan sekarang kamu berani keluar malam dan pergi ke bar. Dan sekarang kamu dengan terang-terangan memesan cocktail didepan ku, tanpa ada niat untuk menyembunyikannya sedikit pun." Jawab Alan yang terkesan lancang bagi Rosa. Karena kini Alan bukan siapa-siapanya Rosa. Melainkan hanya kakak dari temannya.
"Klo seperti itu nggak bisa dianggap berubah dan bisa dianggap berubah juga. Sesuai kata yang kenyataannya terbukti, orang akan berubah seiring berjalannya sang waktu. Maka dari sanalah aku berubah, kak. Dan bukankah kakak sendiri juga berubah?" Tanya Rosa pada akhirnya yang membuat Alan terdiam, karena itu benar. Dan dia mengakuinya. Dan akhirnya suasananya pun menjadi canggung diantara kedua orang itu.
__ADS_1