
Rosa yang sesudah melalui perbincangan berat dengan Stev sekarang hanya bisa ngelamun dan mencoba berpikir keras. Jujur, meskipun Rosa terlihat enteng dalam menanggapi Stev sejak tadi tapi dia tetap nggak bisa mengenyahkan itu dari dalam pikirannya.
Sejak pertama pas awal sampai di rumah sakit dan ke ruangan Raymond, papanya untuk berberes-beres hingga sekarang dalam mobil, Rosa juga tak membuka mulutnya sama sekali, kecuali papa atau mamanya yang mengajak bicara. Dan saat ditanya pun kadang Rosa sering nggak dengar atau kurang fokus saat melakukan sesuatu karena dilanda dengan pikiran berat.
"Yang dikatakan oleh kakak tadi memang nggak masuk akal sama sekali. Masa plot twist, bahaya, duri, jalan berliku, sih? Nggak jelas amat. Tapi saat dipikir-pikirkan lagi, kata-kata plot twist itu juga bagaikan kutukan, karena ada dua sisi, dua kemungkinan yang akan terjadi. Ini bukan probabilitas biasa, ini masalah kenyamanan dan kedamaian hidup, nggak bisa dianggap enteng begitu aja. Plot twist, ya? Benar-benar plot twist yang bagaikan plot twist. Sangat membingungkan dan menguras pikiran." Batin Rosa yang terus melamun seorang diri.
Rosa yang duduk di kursi di samping Stev dari tadi terus melamun. Melihat mobil dan motor-motor yang berlalu lalang karena orang-orang yang juga baru pulang kantor dari balik spion mobilnya sambil memikirkan masalah pikirannya yang mengganggunya kini. Hingga Serena sang mama tercinta yang sedang berbicara dengannya saja dia tidak mendengarnya, karena jiwanya ada di tempat lain dan hanya raganya yang duduk didalam mobil itu kini.
"Sayang, kamu kok terus diam dari tadi, sih? Apakah ada yang sesuatu yang mengganggu kamu, sayang? Sayang?? ...Rosa!" Panggil Serena beberapa kali, tapi Rosa masih belum sadar juga klo ada orang yang berbicara dengannya.
"Rosa, ... sayang..." Raymond juga ikut memanggil Rosa. Awalnya dia memanggilnya masih dengan lembut, namun ujung-ujungnya karena udah berkali-kali dipanggil namun tidak ada respon dia menjadi jengkel juga. "Rosa, apa kamu nggak dengar saat dipanggil?" Panggil Stev jengkel, namun dia tetap masih menjaga nadanya.
"Udahlah, pa. Nggak usah marah-marah gitu juga. Papa baru aja keluar dari rumah sakit, seharusnya papa bisa mengontrol emosi papa itu dong. Kan papa juga tau gimana kondisi papa itu?" Tutur Serena yang menengahi dan meredamkan amarah Raymond.
Walaupun amarahnya itu nggak meledak-ledak, namun itu tetap nggak baik buat kesehatan jantungnya, itulah yang Serena khawatirkan.
"Nggak bisa gitu dong, ma." Sela Raymond yang merasa klo dia harus memperingati putri kesayangannya itu dengan tegas dan harus memperbaikinya dengan yang benar. Apalagi beberapa hari lagi Rosa akan menjadi bagian dari keluarga suaminya, jadi dia harus bisa menjaga kelakuannya itu.
"Ada apa ya dengan Rosa? Kenapa dia sepertinya sedang memikirkan sesuatu yang rumit." Pikir Serena melihat Rosa yang nggak biasanya Rosa mendiamkannya atau tidak menjawab pertanyaannya itu.
"Stev, ada apa dengan adik kamu itu? Coba kamu panggil dia. Kok bisa-bisanya dia mengabaikan mama kamu gitu? Meskipun kita memanjakannya, tapi dia juga nggak bisa nggak menjawab mama saat ditanyai seperti itu?"
Perintah Raymond dengan nada yang sedikit jengkel. Karena dia juga sayang akan istrinya, sudah beberapa kali dia memanggil Rosa dan mengajaknya berbicara, namun nggak ada respon ataupun reaksi dari sang empunya.
"Honey, honey..." Stev memanggil Rosa dua kali juga sambil menyetir, tapi masih aja belum ada respon. "Buset, ini anak lagi mikir apaan sih? Nggak tau apa papa sedang kesal itu? Bisa-bisanya dia masih mood buat ngelamun sampe hilang roh seperti itu." Batin Stev melihat Rosa yang masih belum sadar juga saat dipanggil beberapa kali.
"Honey, kamu di panggilin papa tuh." Panggil Stev lagi dan kini menggoyangkan bahu Rosa.
"Ah, kak? Ada apa, kak?" Tanya Rosa kepada Stev saat dia tau klo kakaknya memanggilnya sampai harus menggoyangkan bahunya.
Melihat Rosa yang seperti nggak biasanya, nggak seperti dirinya yang biasa itu, Stev menjadi diam. Padahal awalnya dia berencana untuk memarahinya juga, karena dia berani melamun seperti orang mati dan nggak mendengar orang yang sedang berbicara dengannya. Namun dia mengurung niatnya itu, karena melihat wajah Rosa yang aneh, seperti banyak pikiran yang mengganggunya.
"Ada apa, kak?" Tanya Rosa lagi karena malah terus melihat kearahnya. "Kak, liat ke depan, hati-hati lho klo bawa mobil, masa nggak liat ke depan." Seru Rosa saat melihat klo lampu lalu lintas menyala merah didepannya. Rosa memperingati kakaknya, dan jangan sampai pula malah menerobos dan terjadi kejadian yang nggak diinginkan.
"Ah, oh iya iya." Jawab Stev melambatkan laju mobilnya dan berhenti sebentar karena lampu merah.
"Ada apa kak? Kakak barusan ngomong apa?"
"Nggak ada apa-apa kok, honey. Hanya saja papa manggil-manggil kamu dari tadi." Kata Stev memberi tahu Rosa. Dan ketika Rosa hendak berbalik, Stev malah kembali bertanya. "Tapi honey.... Are you okay. You look..."
"I am okay. I'am good like you see." Jawab Rosa tersenyum pada Stev. "Pa, ada apa manggil Rosa barusan? Maaf ya...."
"Ada apa, ada apa? Kamu ini gimana sih..." Raymond emosian dan langsung memotong perkataan Rosa.
"Udah, pa." Potong Serena akan perkataan Raymond dan menggenggam tangannya supaya makin nggak melanjutkan perkataannya. Karena dia melihat wajah Rosa yang nggak biasanya dia seperti itu. "Nggak apa kok sayang, hanya saja tadi mama manggil kamu, kok kamu nggak banyak bicara hari ini? Kan biasanya kamu nggak bisa diem." Tutur Serena mengambil alih berbicara.
"Oh gitu, ya. Maaf ya ma, soalnya Rosa nggak kedengaran tadi."
"Nggak apa kok, sayang. Kamu kok nggak biasanya sih? Apa emang ada yang lagi kamu pikirin?" Tanya Serena yang lebih peka akan suasana hati Rosa yang sepertinya banyak pikiran.
"Yang sedang ku pikirin? Ada sih. Itu kan masalah plot twist yang kakak bicarakan tadi sore pas akan ke rumah sakit. Kan nggak mungkin juga aku kasih tau ini ke mama papa. Yah, walaupun nggak mungkin terjadi, tapi entah kenapa aku nggak bisa mengenyahkan itu dari otakku dan terus memikirkannya." Batin Rosa tersendiri. "Nggak ada apa kok, ma. Hanya campur aduk aja. Rosa lagi mikirin kuliah Rosa nanti aja. Apakah Rosa sanggup?" Jawab Rosa di permukaan kepada Serena.
"Oh gitu, ya. Kirain mama kamu sedang memikirkan masalah proyek besar gitu hingga sampai-sampai keadaan sekitar pun kamu udah kagak dengar. Emangnya kamu kerja dimana? Kan gitu. " Canda Serena kepada Rosa.
"Nggak lah, ma. Mama ini ada-ada aja deh. Mana ada kerjaan Rosa, apalagi proyek besar." Jawab Rosa tersenyum menanggapi candaan mamanya itu.
Rosa segera berbalik kembali duduk seperti semula dan kembali juga dia seperti tadi. Melamun seperti orang yang hilang roh. Dan yang tinggal disini hanyalah raganya saja.
"Sebenarnya, masalah kuliah apaan sih yang dipikirkan oleh anak nomor satu di SMA Wintara itu? Sangat aneh." Batin Serena lagi yang menyadari keanehan dari Rosa mulai dari tadi di rumah sakit yang membantunya berberes-beres. Rosa sering acap kali melakukan kesalahan kecil yang tak pernah dilakukannya sama sekali selama ini.
"Ma, ada apa sih? Kok mama menghentikan papa buat mengajar anak papa itu? Meskipun kita sangat menyayanginya dan sayang padanya, tapi dia juga nggak bisa nggak peduli dan nggak ngerespon saat orang yang lebih tua darinya sedang berbicara dengannya." Bisik Raymond pada istrinya itu.
__ADS_1
"Udahlah, pa. Rosa bukannya sengaja mau mengabaikan kita seperti itu. Tapi emang ada yang lagi Rosa pikirin. Masa papa anak sendiri aja kagak peka?" Tany Serena yang akhirnya malah kesal dengan sikap Raymond itu.
"Bukannya kagak peka, ma." Kilah Raymond menyangkal perkataan istrinya.
"Klo bukan nggak peka apa juga namanya? Kagak peduli?"
"Bukan kagak peduli juga, ma. Masa mama katain papa kayak gitu, sih?"
"Terserah mama lah. Toh papa emang kagak pernah peka orangnya. Untung mama istri papa, klo nggak, udah dari dulu papa ditinggalin nikah. Nggak tau juga dulu mama bisa-bisanya jatuh cinta sama orang yang kagak peka seperti papa." Tutur Serena yang membuat Raymond langsung bungkam mulut, nggak berani untuk bermain silat lidah lagi dengan Serena.
"Perasaan laki-laki itu selalau salah ya, Stev?" Telepati Raymond dengan Stev melalui kaca spion .
Steven melihat papanya yang kelihatan dan paham akan perasaan papanya. Stev hany bisa menganggu klo dia setuju dengan papanya. Namun apalah daya mereka yang takut akan ibu negara itu. Jika mandat undang-undang ibu negara sudah keluar, berarti nggak bisa dibantah kagi.
"Iya, pa. Lelaki itu emang selalu salah dan serba salah. Makanya pada akhirnya keluar istilab Mrs always right. Meskipun lelaki punya kadang punya julukan Mr. Right, tapi didepan Mrs. always right. Itu nggak bisa apa-apa lagi." Batin Stev membalas telepati papanya itu, seakan mereka berkomunikasi secara langsung.
Dua puluh menit kemudian, Rosa dan keluarganya akhirnya sampai di rumah. Rosa langsung masuk kedalam dan duduk di ruang keluarga, begitu juga orang tuanya. Mereka menyusul di belakang. Seperti biasa mareka ngumpul dan berbincang-bincang sambil menonton.
Stev masih memarkirkan mobilnya di garasi. Dan membawa beberapa barang bawaan pulang darintumah sakit dengan dibantu oleh Kang Udin.
"Mau ditarok dimana ininya atuh, den?" Tang Kang Udin kelada Stev.
"Tarok atas sofa aja, kang. Nanti biar bibi yang ambil. Soalnya ini baju ganti pas tinggal di rumah sakit, kang." Jelas Stev pada Kang Udin.
"Oh gitu ya, den. Klo gitu si akang teh langsung balik ke pos jaga lagi, ya. Soalnya mau kunci pagar dulu, belum ke kunci."
"Kang Udin nggak ngopi dulu, kang?" Tanya Serena menawarkan kopi kepada penjaga rumahnya itu. Bisa dikatakan klo Kang Udin adalah satpam rumah mereka.
"Nggak usah aja, nya. Tadi juga udah, si bibi yang ngantar ke pos saya. Katanya biar nggak ngantuk nanti. Nunggu tuan dan nyonya pulang dulu baru kemudian kunci pacarnya. Ehhh, taunya bau aja jam delapan udah pulang." Jawab Kang Udin menolak sopan tawaran majikannya itu.
"Oh gitu ya, kang. Soalnya tadi Stev dan Rosa awal jemput tadi. Sore-sore langsung jemput, makanya bisa nyampe rumah cepat juga. Tapi masih lumayan juga, karena Stev bawa mobilnya santai." Kata Serena lagi.
"Oh iya. Tapi ngomong-ngomong, tuan besar gimana keadaannya? Udah lebih baikan?" Tanya Kang Udian lagi, dan kini kepada Raymond.
"Baguslah, senang mendengarnya. Maaf tuan, saya nggak jenguk tuan di rumah sakit."
"Nggak apa itu kang. Kan Kang Udin juga membantu kami jaga rumah saat kami nggak ada. Dan saat pulang rumah masih baik-baik saja, itu jauh membuat kami merasa berterima kasih kepada Kang Udin. Kan, ma?"
"Iya, kang. Nggak usah merasa bersalah. Cuma masalah sepele ini kok." Tambah Serena ngedukung perkataan suaminya itu.
"Tapi, tuan. Tuan sakit apa hingga mendadak masuk rumah sakit gitu? Kan tuan biasanya sehat-sehat saja. Tiap hari ngantor saya liat tuan sehat aja. Emang tuan sakit apa?" Tanya Kang Udin yang memang kepoan orangnya.
Serena dan Raymond saling bertatapan, kemudian mereka melihat kearah Stev. Mereka nggak mungkin mengatakan kebenaran sakit Raymond kepada Kang Udin karena itu juga didepan Rosa. Bisa saja Rosa mendengarnya, walaupun sekarang dia tengah sibuk dengan handphonenya.
Bi Salma yang sedang berdiri disana melihat klo tuan-tuannya saling bertatapan satu sama lain, dan akhirnya kearah Rosa. Bi Salma paham akan keadaan klo mereka berencana untuk merahasiakannya dari nona muda mereka. Karena jika dilihat dari betapa mereka menyanyangi putrinya itu. Mereka pasti merahasiakannya dari Rosa.
"Tuan pasti nggak ingin membicarakannya, karena itu didepan si non. Mereka pasti ingin merahasiakannya, mungkin sampai si non nikah nanti. Atau emang sampai non tau sendiri, atau pasa saat yang tepat nanti akan diberitahu. Dan ini bukan kali pertamanya, tuan dan nyonya nyembunyiin rahasia sebesar ini dari non, bahkan identitas si non sendiri disembunyi rapat darinya." Pikir Bibi Salma saat melihat taunnya belum menjawab juga.
Bibi yang melihat Kang Udin yang kepoan gitu jadi kesal juga karena dia nggak bisa melihat situasi dan kondisi saat bertanya. Dan saking jengkelnya, Bi Salma pun menyuruh Kang Udin kerja lagi.
"Kau ini, ya? Dasar kang kepo. Kenapa nggak lanjut kerja aja? Banyak kali pertanyaanmu itu lah?" Usir Bi Salma kepada Kang Udin.
"Aku kan cuma mau tau aja. Apa salahnya bertanya. Orang bilang itu, malu bertanya sesat di jalan. Makanya jangan malu gitu atuhhh." Kang Udin nggak terima di usir gitu aja dan malah betadu mulut dengan Bi Salma.
"Udah bi, nggak apa. Nggak salah kok Kang Udin bertanya." Serena menengagi mereka.
"Tapi, nya...."
"Udah nggak apa."
"Saya hanya sakit karena kelelahan saja kang. Kadang juga suka kurang makan pas di kantor karena banyak pekerjaan. Jadi nanti hanya perlu makan bernutrisi dan istirahat yang cukup saja. Dan penyakit tua lainnya, kolesterol menumpuk. Hahaha." Jawab Raymond sambil tertawa. "Makasih ya kang, udah bertanya saya sakit apa."
__ADS_1
"Ya tuan, sama-sama. Sata soalnya nggak enak sama tuan, karena nggak menjenguk tuan di rumah sakit."
"Tuan kekurangan gizi? Jadi si bibi juga harus berusaha keras untuk memasak yang lebih bergizi lagi nantinya. Tuan kan seorang..., apa itu istilah sekarang? Wakhal.., Wahai.... Apa itu nya, hang pekerja keras yang nyonya bilang?" Tanya bibi yang kesusahan mengingatnya.
"Workaholic maksud bibi?" Kata Steve membenarkannya.
"Ya, itu dia. Workaholic. Jadi bibi harus bekerja lebih keras lagi." Ujar bibi penuh semangat pada dirinya sendiri. "Oh tuhan, si bibi lupa bikin minum dulu. Tuan, nyonya, guan muda, non, mau minum apa?"
Serena melihat ke arah Stev lalu menjawab, "Semuanya seperti biasa aja, bi. Papa dan Stev kopi, saya teh aja. Hangat bi, ya. Soalnya ini kan malam."
"Iya, nya. Non Rosa mau minum apa?" Tanya bibi lagi karena Rosa belum mengatakannya.
"Honey, kamu ditanyain bibi mau minum apa, tuh? Jangan keasyikan main handphone mulu kamu." Seru Stev yang berada di samping Rosa.
Rosa sedikit terkejut karena Stev main teriak, padahal duduk disampingnya. Rosa membuang pandangan mematikan kepada Stev. Lalu langsung menjawab pertanyaan bibi.
"Saya coklat panas aja, bi." Jawab Rosa seadanya.
"Si non aneh hari ini. Kenapa, ya?" Bibi bertanya-tanya pada dirinya sendiri, karena menyadari keanehan Rosa. "Klo gitu, saya buatkan dulu minumannya, ya." Kata bibi langsung menuju ke dapur.
"Iya, bi."
"Saya juga langsung balik kerja lagi, fuan, nyonya." Pamit Kang Udin juga meninggalkan rumah.
"Iya, kang. Sekali lagi makasih ya, kang." Jawab Stev menyahut.
"Sama-sama den, itu sudah tugas saya."
Kang Udin langsung meninggalkan rumah dan lanjut kembali bekerja. Dia hanya harus menginci pagarnya dan tugasnya sudah selesai, berarti udah bisa beristirahat.
Stev memperhatikan Rosa yang terus saja bergelut dengan handphonenya. Stev berpikir Rosa benar-benar sangat menjengkelkan hati ini. Dati tadi nyampe di tumah, terusan dengan handphonenya itu.
"Apa handphonenya itu lebih menarik, ya? Atau dia lagi chatan lagi sama si Reyhandra itu." Pikir Stev melihat Rosa yang sangat khidmat dengan handphonenya.
"Honey, kamu ngapain sih terusannya kau main handphone." Tanya Stev kepada Rosa.
"Kagak ada apa-apa kok, kak." Jawab Rosa pendek.
"Kagak ada apa-apa gimana sih? Itu kok ada. Asyik kai dengan handphone mu. Apa yang menaru, coba kakak liat." Ketus Stev merampas handphone Rosa dati tangannya.
Dan di lihatlah Stev, klo itu adalah group camaba kuliah, tempat Rosa akan kuliah. "Ribut kali kok group ini? Bahkan hampir tiga ribuan ini pesan masuknya." Tanya Stev pada Rosa.
"Itulah, kak. Kirain Rosa kayak mana. Inibtuh lagi masa pendaftaran KRS tau. Makanya gini. Rosa cuma ikut baca aja, kan siapa fau diantara tiga ribu lebih pesan disini, ada informasi penting." Jawab Rosa kembali mengambil handphonenya dari tangan Stev.
"Bukan gitu, soalnya kamu tadi asyik mikirin sesuatu. Mikirin apa sih, honey?" Tanya Stev yang penasaran.
"Mikirin apa, ya? Kan nggak mungkin ngebahas itu didepan papa mama. Apalagi papa sakit jantung." Pikir Rosa dalam hatinya sendiri. "Lagi mikirin masa depan aja. Kakak kanapa sih? kenapa jadi kepoan gitu orangnya."
"Nggak, hanya saja, kakak pikir kamu lagi apa gitu. Chata sama laki-laki gitu, kan? Tapi kan honey..." Kata Stev duduk berhadapan dengan Rosa, bahkan memposisikan posisi Rosa duduk berhadapan dengannya. "Tapi kan honey, klo ada cowok yang chat kamu buat pacaran, pacarin aja honey. Biar ada alasan buat kamu nggak nikahin si Reyhandra itu. Dan klo masalah satu kelar, nanti masalah cowok itu biar kakak yang urus. Kamu tinggal tenang aja. Hanya perlu..."
"Ma, pa. Ada dengar apa kata kakak, kan?" Kata Rosa yang ngadu pada orang tuanya.
"Stev..." Suara Raymond menghentikan Stev.
"Kan kita harus membereskannya, pa. Papa nggak rela juga kan klo honey dibawa direbut dan diemut oleh si Reyhandra itu. Padahal selama ini kita menjaganya dengan very very gery, greet well." Protes Stev nggak terima.
"Bahasa Inggris apaan tu? Kok nggak pernah dengar, ya?"
"Jangan ngejek kamu honey."
"Ya udah terserah kakak aja. Mau ngurusin apa. Yang jelas Rosa mau ngurusin sesuatu sesudah yang satu ini." Maksud Rosa adalah mengurusi masalah pendaftaran KRS-nya, namun malah ada orang yang menelponnya.
__ADS_1
Stev melihat nama kontak yang tertera di layar handphone Rosa dan langsung mengatakan, "Ya benar. Ini dia yang harus diurusin."