Dia Bahagiaku Dia Lukaku

Dia Bahagiaku Dia Lukaku
Chapter 52 : Aku yang Akan Menindasnya


__ADS_3

Reyhandra POV


Sesudah Rosa dan Alan masuk ke dalam, tentu saja Angel tinggal sendiri didepan pintu masuk. Dia nggak berani buat masuk karena dia sendiri juga tau klo restoran, maksudku hotel ini punya penjagaan yang ketat dan sangat mengikuti aturan. Lagipula iyu bisnis punya luar negeri, dan dia pasti nggak mau menyinggungnya, makanya dia bersedia untuk menunggu diluar.


"Ternyata dia nggak sepenuhnya bodoh juga. Tapi ku pikir dia akan mengamuk sebentar lagi. Maka ini dia sekarang giliran aku, menyelamatkan wanita yang tertindas." Aku segera turun dari mobil dan tentunya Hans juga turun dari mobil. Tapi dia akan mencari kesibukannya sendiri, dan berada di dekat sini saja. Ini akan memudahkan ku dan juga dirinya saat ku panggil nanti.


Aku menghampiri Angel yang berdiri didepan pintu masuk sambil menatap benci kedalam, kearah Rosa dan Alan yang membuatnya malu barusan.


"Pengendalian emosinya sangat buruk." Pikir ku saat aku melihatnya dengan jelas.


"Angel, kamu udah sampai duluan? Kok kamu nggak ngabarin aku. Tau gitu, aku nggak akan lama-lama buat ngeberesin berkas terlebih dahulu." Sapa ku berpura-pura kaget. Padahal aku sudah puas sejak tadi dengan penampilannya saat dia tadi beradu mulut dengan Rosa.


"Sayangggg. Kamu akhirnya nyampe juga. Kenapa kamu begitu lambat, huh? Padahal kamu kan janjinya jam setengah sembilan. Ini jam berapa udah? Jam sembilan lebih sekarang. Tega banget sih kamu buat aku nungguin kamu. Mana tadi habis berantem lagi sama tunangan j*l*ng kamu itu Dia permaluin aku tau, didepan semua orang yang lewat." Rengek Angel yang langsung melemparkan dirinya padaku saat melihatku.


"Sangat menjijikan." Aku mencoba mendorong Angel dari tubuhku. Jas ku bisa-bisanya kotor dengan make-up menornya itu. Tapi untung dia punya sedikit seni, klo nggak mana mungkin aku suka dengan cewek yang riasannya aja lebih dari 3 inchi.


"Iya, aku kan udah minta maaf sama kamu. Sebagai permintaan maafnya aku bawakan kamu bunga juga. Makanya lambat. Ini bukan mudah lho mencari buket bunga segar pada malam hari. Ini langsung dari kebunnya aku petik dan ku jadikan buket bunga. Gimana kamu suka, kan?"


Aku memberikan segera memberikan buket mawarnya pada Angel. Biar dia nggak memeluk diriku lagi, jadi dia meluk buket mawarnya aja. Lagipula buket mawarnya juga besar. Beruntung Hans membawanya yang besar. Aku nggak tau klo buket ini juga punya fungsi seperti ini.


Nanti aku harus bilang sama Hans, klo taktiknya itu sangat luar biasa. Tidak seharusnya aku mengguruinya dalam masalah taktik menghadapi Angel seperti itu. Padahal dia sudah menghadapinya selama 2 tahun ini.

__ADS_1


"Hemmm, baiklah klo begitu Melihat ketulusan mu yang dengan susah payah membawakan aku buket bunga ini, maka aku akan memaafkan kamu karena terlambat datang. Tapi lain kali kamu jangan seperti ini lagi, ok?" Jawab Angel yang berakting menyedihkan serta imut gitu. Dia pikir itu akan berpengaruh padaku.


Klo dipikirkan lagi, klo dia seperti itu, aku meragukan kemana perginya amarahnya tadi yang meluap-luap itu. Tapi untungnya aku nggak perlu susah-susah memikirkannya lagi, aku sudah terbiasa akan sikapnya itu. Untung ada Hans yang menekankan dia. Klo itu ekor itu pasti akan terus menggangguku.


"Ok ok, aku janji. Nggak akan ada yang begituan di masa depan. Kamu nggak marah lagi kan sama aku?" Tanyaku di permukaan pada Angel. Padahal aslinya aku pun jijik dengan perkataan ku itu.


"Maksudku, nggak akan ada lagi makan malam mau makan siang lagi ke depannya lagi dengan kamu. Cukup sekali ini saja. Akh nggak mau itu terulang lagi di masa depan, bisa-bisanya aku sarafan klo begini terus sama kamu. Kalaupun ini makan malam begini, belum tentu aku nggak sakit perut karena makanannya ini nggak tercerna dengan baik." Batinku yang berkata lain. Dan inilah maksud asliku yang benar. Bukan pertanyaan gila membuatku jijik itu.


"Tentu saja aku nggak marah. Kan kamu kekasih aku yang paaaling memanjakan aku. Aku tau kamu pasti tidak akan mampu melihat aku marah lama-lama dengan kamu." Kata Angel lagi yang dengan centilnya memeluk lenganku.


"Em, iya." Aku segera mengeluarkan kartu keanggotaan VIP ku dan memberikannya pada penjaga itu. Penjaga itu mengangguk dan memberikan kartu lagi. Dia mempersilahkan aku untuk masuk ke dalam memperlihatkan liftnya. Yang emang ada satu staff yang sudah menunggu untuk melayani.


"Wajarlah klo kamu nggak tau. Kartu ini adalah kartu keanggotaan milik Andre. Aku sengaja memintanya supaya kita bisa dinner yang romantis. Kan aku mau minta maaf sama kamu, karena aku nggak memberitahu kamu tentang pernikahan aku dengan Rosa." Jawabku berbohong pada Angel.


Mana mungkin jika seorang Andre mempunyai keanggotaan VIP itu, aku bisa nggak punya? Klo hal seperti itu dia percaya, dia benar-benar bodoh dalam mempelajari hal koneksi. Secara aku adalah seorang CEO sedangkan Andre adalah manajer personalia, pasti koneksi ku lebih luas dari Andre.


Angel nggak ada reaksi lain lagi, mungkin dia percaya atau emang dia curiga. Terserah, lagipula aku nggak ambil pusing untuk memikirkannya, terserah dia mau memikirkan apa, karena itu adalah haknya. Otak juga miliknya, jadi terserah dia.


Kami sampai di lantai dua dan segera diarahkan tempat duduknya. Aku menyapu pandanganku ke seluruh tempat yang bisa ku jangkau. Dan kemudian aku menemukan mereka, karena pakaian Rosa yang emang sangat menarik perhatian orang-orang. Dia kelihatan lebih bersinar dan juga elegant. Ternyata dia datang emang buat untuk mengakhiri. Mengakhiri dengan elegant dan cara yang dewasa.


Tapi tempat duduk kami terlalu berjauhan hingga aku nggak bisa mendengar percakapan apa yang terjadi diantara mereka. Dan itu sangat menggangguku, padahal aku sangat ingin tau, kata-kata seperti apa yang akan Rosa keluarkan untuk meminta kekasih lamanya itu untuk berhenti mengganggunya, karena dia akan menikah denganku dana akan berkeluarga. Ini adalah poin yang membuatku senang memikirkannya.

__ADS_1


Klo dipikirkan lagi, bagiku ini terkesan aneh. Padahal kami sama-sama anggota VIP, dan jarak waktu antara dia dan aku masuk nggak jauh beda. Tapi dia kenapa bisa duduk di tempat sestrategis itu. Didepan jendela kaca yang memperlihatkan bulan di langit. Makan malam seperti itu, itu sangatlah romantis. Dan ini adalah poin yang membuatku sedikit marah dan kesal saat memikirkannya. Para staf yang bekerja disini benar-benar pilih kasih. Sedangkan aku dengan Angel hanya mendapat bagian di samping-samping saja.


"F*ck." Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutku secara nggak sadar. Yang membuat pelayan yang sedang menunggu kami untuk memesan jadi terkejut, begitu juga dengan Angel. Tak hanya mereka, aku pun juga nggak kalah terkejutnya, karena bisa-bisanya aku lost control like this.


"Sorry, sorry. Saya nggak bermaksud untuk memaki Anda ataupun pelayanan Anda. Ini hanyalah masalah pribadi. Saya hanya mengingat kejadian tadi siang yang membuat saya kesal saja. One more again, sorry." Ucap ku dengan segera untuk menyelesaikan kesalahpahaman itu. Sebelum aku benar-benar diusir dari sini karena memaki mereka.


Pelayan itu hanya mengangguk dan menjawab klo dia mengerti. Lalu karena kami sudah selesai memesan, pelayan itu langsung melakukan tugasnya yang lain kembali. Tapi pelayan itu tak lupa untuk mengatakan pada kamu untuk menunggu sebentar.


"Sayang. Kamu kenapa tadi, kok kamu bisa-bisanya mengeluarkan kata-kata umpatan itu? Apa ada yang salah dengan pesananan aku tadi? Kamu nggak suka ya makanan yang ku pesan itu?" Tanya Angel yang menafsirkannya secara perlahan.


Padahal tadi aku sudah menjawab pada pelayan itu klo aku merasa kesal saja akan sesuatu tadi siang. Bukan karena dia yang seenak jidat memesan makanan untuk ku juga.


"Nggak kok sayang. Kamu jangan berpikiran negatif gitu dong. Masa aku berpikir klo kamu memesan makanan yang sama dengan kamu maka aku akan memaki kamu dengan umpatan yang sangat kasar gitu, sih. Y, nggak mungkinlah sayang." Jawabku meyakinkan Angel, bahkan aku sampai memegang punggung tangannya.


Meskipun aku sendiri tidak menginginkannya, tapi tetap saja, aktingku itu harus sempurna dan terlihat meyakinkan. Namun Angel ini terlalu serakah, dia malah mengenggam tanganku balik, malahan itu sampai sepasang. Orang lain yang melihatnya pasti akan mengira klo kami adalah pasangan yang lagi kesemsemnya dan mabuk akan cinta diantara kami.


Sebenarnya itu nggak masalah, sih. Semakin orang lain percaya akan aktingku ini, maka itu berarti klo aku melakukan yang terbaik seperti yang diharapkan. Benar-benar seperti pasangan yang sebenarnya. Hanya saja itu akan berisiko jika ada orang yang mengenalku melihat aku dan Angel, orang yang bukan pasanganku sendiri.


Bisa-bisanya berita itu akan sampai ke telinga kakek dan dia pasti akan membuat masalah lagi. Mendesak ku untuk ini, untuk itu. Pokoknya nggak satupun yang jelas bagiku. Kakek pasti nggak akan menerima alasanku klo aku bilang aku melakukan itu semua demi perusahaan. Dia pasti nggak akan percaya itu.


Apalagi kakek begitu menyukai Rosa. Sampai aku menjadi curiga sebenarnya siapa sih yang cucunya sendiri? Dia begitu memanjakan Rosa dan baik padanya. Tapi ya udahlah, aku akan memaklumkannya saja. Jika kakek yang memanjakan Rosa, maka aku yang akan menindasnya.

__ADS_1


__ADS_2