
Saat melihat tamunya yang merupakan seorang Reyhandra yang sedang menikmati tehnya, Rosa menjadi sangat terkejut. Apalagi Reyhandra melihat dirinya yang baru bangun pagi dan dengan rambut masih acak-acakan. Membuat Rosa berteriak keras dan menggema seluruh rumah.
"Aaaaaaaaaaa!!!!" Rosa berteriak keras saat melihat Reyhandra.
Bibi yang sedang mengikuti Rosa menjadi terkejut, apa yang terjadi dengan nonanya itu. Reyhandra meletakkan tehnya yang sedang diseruput dan melihat kearah Rosa dengan penampilan yang masih acak-acakan dan juga piyama tidur, mengulum senyumnya dan tak bisa menahannya.
"Saya tidak menyangka klo saya akan disambut dengan begitu meriahnya. Ternyata suara tinggi Rosalyn indah juga ya untuk didengar. Kedepannya pasti bisa menjadi penyanyi terkenal." Kata Reyhandra yang bangkit dari duduknya.
Rosa menutup mukanya karena malu dan segera mengambil langkah memutar hendak naik keatas lagi.
"Oh my god, mimpi apa aku semalam, malu bangetttt.." Batin Rosa pada dirinya sendiri dan naik keatas.
Karena Rosa yang jalannya menutup muka jadi dia tidak lihat klo bibi masih didepannya karena berusaha mengejarnya tadi. Rosa tidak melihatnya hingga dia menabrak bibi. Untung Rosa nggak jatuh karena bibi langsung menangkapnya.
"Apa yang terjadi non? Non nggak apa-apa, kan?" Tanya Bibi Salma melihat Rosa dan memperhatikan Rosa depan belakang.
Rosa melepaskan tangannya dan melihat Bibi Salma. "Rosa nggak apa-apa kok, bi. Tapi bi, kenapa bibi nggak bilang ke Rosa klo tamunya itu Reyhandra?" Tanya Rosa berbisik kepada Bi Salma.
"Nah, itu dia. Bibi juga mau memberi tau non soal ini. Tapi si non mah malah langsung turun kebawah dan nggak membiarkan bibi menjelaskannya lagi. Lagipula si non juga cepat kali jalannya, hingga tak dengar si bibi mah manggil-manggil Non Rosa." Jelas Bi Salma berbisik pada Rosa juga.
"Emm, ya udahlah Bi. Nasi udah jadi bubur juga."
"Ada apa? Apa yang terjadi? Kenapa? Ada apa?" Tanya Stev panik yang menuruni tangga dengan cepat. "Honey, kamu kenapa? Nggak kenapa-kenapa, kan?" Tanya Stev membolak-balikan badan Rosa.
"Kak, kamu mau ngapain sih? Mau main balet sama aku, ya?" Tanya Rosa balik yang merasa pusing dengan perlakuan Stev. Juga ditambah kurang tidur lagi, hal itu bertambah-tambah membuat Rosa semakin pusing.
"Oh, bukan gitu." Stev melepaskan tangannya dari Rosa dengan segera.
"Apa yang terjadi? Mama mendengar teriakan dari dapur. Kalian nggak kenapa-kenapa, kan?" Serena juga datang keruang tamu dengan celemek masih dipakainya.
"Ma, ada apa ini?" Papa Raymond juga datang mencari sumber suara teriakan itu.
Kakek Reyhandra juga ikut datang keruang tamu karena mendengar suara teriakan Rosa. Padahal mereka tadi sedang berada di ruang kerjanya Raymond membahas tentang pelaksanaan pernikahan Rosa dengan Reyhandra.
Kakak segera melihat kearah Reyhandra dan menyelidik Reyhandra. "Hei bocah, apa yang kamu lakukan pada cucu menantuku, hah? Kamu apakan dia sampai berteriak sekencang itu."
"Sama tidak melakukan apa-apa padanya, malahan justru saya memujinya karena dia menyambut saya dengan ramah." Balas Reyhandra sambil tersenyum kepada Rosa.
"What?!? Kakek juga disini?" Rosa tak percaya dengan apa yang dilihatnya, dia sungguh dibuat terkejut pagi ini.
Kakek William menghampiri Rosa dan memperhatikannya dengan baik. Lalu kakek kembali melayangkan pandangannya ke arah Reyhandra dengan tajam dan Reyhandra hanya menggidikkan bahunya.
"Nak, kamu nggak kenapa-kenapa, kan?" Tanya kakek William yang benar-benar khawatir akan Rosa.
"Rosa nggak kenapa-kenapa kok, kek. Rosa hanya saja hampir terpeleset tangga tadi makanya Rosa reflek berteriak saja."
"Tapi kamu nggak kenapa-kenapa, kan? Nggak ada yang terluka, kan? Atau haruskah kita panggilkan dokter buat memeriksa?" Tanya kakek cemas, dan Rosa menggelengkan kepalanya dan mengatakan klo dia baik-baik saja.
"Ini kakek tua kenapa khawatir banget sih sama cucu menantunya sih?" Reyhandra bertanya-tanya pada dirinya sendiri saat melihat kakek kandungannya sendiri sangat mengkhawatirkan cucu menantunya ketimbang cucunya sendiri, meskipun Reyhandra sedang berada pada posisi tidak untuk dikhawatirkan.
Stev yang mendengar jawaban Rosa masih belum bereaksi apa-apa, hingga beberapa saat kemudian dua baru sadar akan hal yang mengganjal dihatinya.
"Wait, honey. Kamu bilang tadi kamu hampir terpeleset, kan?" Tanya Stev memastikan jawaban Rosa. Dan itu hanya diangguki oleh Rosa. "Berarti ini nggak boleh dibiarkan lagi. Pa, haruskah kita membongkar keramik tangga ini dan menggantinya dengan yang baru. Lantai ini nggak ada manfaat lagi, karena hampir mencelakai honey kesayangan Stev. Beraninya lantai ini hampir mencelakai kesayangan kita, padahal kita sendiri saja sangat berhati-hati klo hendak menyentuhnya." Ucap Stev yang sudah mulai membara.
"Mulai lagi dah." "Sudah kuduga akan begini jadinya. Tapi tidak disangka reaksinya akan sebesar ini, saya mendapat pertunjukan gratis pagi ini, tidak sia-sia saya pergi kesini pagi-pagi." Batin Rosa dan Reyhandra saat melihat Stev yang sudah mulai kumat. Reyhandra langsung duduk kembali ke tempat duduknya dan menyeruput tehnya kembali sembari melihat pertunjukan.
"Nah, benar apa yang dikatakan oleh Nak Stev, lantai ini harus diganti yang baru karena hampir mencelakai cucu menantu berharga saya. Bagaimana menurut Tuan Raymond?" Tanya kakek William mengalihkan pertanyaan kepada Raymond.
Raymond sempat berpikir-pikir sebentar sambil mempertimbangkan hal yang akan diambilnya kemudian, dan itu membuat Rosa sedikit senang, karena papanya itu tidak kumat pagi ini. Jadi setidaknya bertambah kakek seorang tapi papanya tidak ikutan, jadi akan sedikit mudah, begitulah yang dipikirkan Rosa.
"Benar juga yang dikatakan tuan besar Kedrey, kita harus menggantikan lantainya segera. Haruskah kita memanggil tukang segera? Dan kita harus menyelesaikan ini semua sebelum Rosa dan Reyhandra kembali dari fitting baju nanti."
"Setuju, keputusan yang bagus kepala keluarga Vogart."
"Ok, sudah diputuskan. Biar Stev yang memanggil tukangnya." Jawab Kak Stev yang merasa bertanggung jawab juga dengan hal ini.
"Ternyata aku aja yang terlalu berharap. Aku terlalu berekspektasi tinggi pada papa. Ini nggak boleh dibiarkan, bukan hal yang bagus jika hal ini dibiarkan. Harus pakai alasan apa ya? Klo dibilang gara-gara sandalnya yang terlalu licin dan salah berpijak anak tangga, bisa-bisanya sandal pula yang dikumpulkan dan dibakar semua. Jadi haruskah aku memakai alasan yang konyol?" Pikir Rosa pada dirinya sendiri.
"Begini semuanya, sebenarnya bukan salah tangga juga. Ini hanya karena Rosa tersandung dengan kaki Rosa sendiri." Kata Rosa meralat alibinya sambil mempraktikkan bagaimana cara dia tersandung dengan kakinya sendiri. "Jadi ini bukan salah lantainya, nggak usah diganti yang baru. Lagipula Rosa cukup suka dengan lantai yang ini." Rosa memelas kepada kakaknya karena Rosa tau Stev yang paling meledak-ledak klo masalah seperti ini.
__ADS_1
"Baiklah klo emang begitu keinginan honey, kakak akan menghargai keinginan honey. Apapun pasti akan kakak lakukan demi honey, sampai lautan akan kakak kasih untuk honey jika memang kamu menghendakinya." Jawab Stev memegang kedua bahu Rosa dan setengah membungkuk didepan Rosa.
Rosa mengangguk dan tersenyum kepada kakaknya. Rosa akan menyetujuinya saja daripada ini akan panjang kedepannya. Lagipula Rosa berpikir mana mungkin juga dikasih laut, itukan bagian dari negara, nggak bisa dibeli.
Karena Rosa sudah setuju dengan yang dibilang Stev dan kakek William jiga sudah berpesan agar Rosa lain kali untuk berhati-hati, jadi kakek William dan Raymond kembali ke ruang kerja melanjutkan pembahasan mereka.
"Tak hanya teknik suara tinggi dan menyamar yang ditunjukkan, ternyata gadis kecil ini juga punya bakat untuk menjadi artis. Kenapa nggak dia kembangkan saja bakatnya itu, sungguh munafik." Ejek Reyhandra di batinnya yang sedikit jijik dengan Rosa.
Meskipun Reyhandra tertarik dengan Rosa dalam wujud pakaian laki-lakinya namun Reyhandra masih ingat akan tujuannya menikah dengan Rosa kelak dan dia pasti akan mewujudkannya. Sedangkan Rosa dalam wujud laki-laki, dia hanya perlu bersenang-senang dengannya,membuatnya terombang-ambing juga mempermainkannya.
Reyhandra tersenyum smirk sendiri saat melihat Rosa yang betapa disayang oleh orang sekitarnya. Stev duduk di samping Reyhandra untuk menemaninya, karena dia tidak mungkin meninggalkan tamu duduk sendirian.
"Honey, kamu boleh pergi." Ucap Stev mengusir Rosa dengan nada yang dingin lagi.
"Tumben kakak ngusir aku. Biasanya dia selalu yang paling lengket seperti permen karet aja, minta ditemanin." Pikir Rosa yanga aneh dengan sikap kakaknya itu.
Sesaat kemudian Rosa sadar ajan penampilannya yang masih acak-acakan. Dan dia sudah dilihat oleh seluruh orang rumah dengan penampilan yang begitu. Itu membuat Rosa pengen cepat-cepat bersembunyi. Tak hanya anggota keluarga, tapi juga disaksikan oleh tamu, tamu calon suaminya lagi. Ini membuat Rosa nggak habis pikir, dia begitu ceroboh hari ini.
Wajah Rosa menjadi merah padam saking malunya. Serena menghampiri Rosa dan menyuruh Rosa untuk segera ke kamarnya.
"Sayang, kamu mandi gih sana. Ganti baju yang bagus ya. Karena kalian kan mau fitting baju hari ini. Mama juga harus lanjut memasak di dapur membantu bibi, nanti klo udah selesai, segera turun, ya. Karena kita akan sarapan bersama, ok?" Ujar Serena lembut kepada Rosa.
"Emm, baiklah ma." Rosa mengangguki apa yang dibilang oleh mamanya itu dan segera naik keatas. "Ternyata karena itu toh, makanya muka Kak Stev masam." Menyadari itu Rosa menjadi tersenyum sendiri, karena memikirkan kakaknya yang kekanak-kanakan itu.
Rosa masuk ke kamarnya dan mandi kemudian dia memakai bajunya sesuai yang disarankan oleh Mama Serena-nya. Rosa bersiap-siap dengan cantik dan segera turun ke bawah untuk sarapan bersama.
Suasana di ruang makan berjalan seperti biasanya, hanya saja dua tambahan orang, yaitu kakek mertua Rosa serta calon suaminya. Hal itu membuat Rosa semakin kurang nyaman, apalagi klo Rosa mengingat kejadian semalam dan tadi pagi.
"Semoga saja pencernaan ku tetap lancar setelah semua ini." Rosa terus makan seperti biasanya dia lakukan. Walaupun dia canggung dengan kehadiran Reyhandra, tapi Rosa berpikir lagi buat apa Rosa canggung sedangkan ini adalah rumahnya.
"Honey, kamu dandan ya hari ini." Tanya Stev memulai percakapan dengan Rosa.
"Iya, kata mam kami harus keluar buat fitting baju hari ini. Jadi Rosa sedikit dandan."
"Tapi kamu klo mau keluar sama kakak nggak ada pun kamu dandan-dandanan kayak begituan. Ternyata kamu memang pilih kasih ya, honey. Mentang-mentang dia calon suami, kamu sudah seperti ini. Padahal dia hanya orang baru dalam hidup kamu." Ucap Stev terus terang dan melayangkan pandangan tidak suka pada Reyhandra.
Mendapatkan pandangan tidak suka dari Stev, Reyhandra tak mau ambil pusing, dia masa bodoh akan ith semua. Lagipula menikahi Rosa juga bukan murni keinginannya, padahal dia sudah berkomitmen oada dirinya untuk tidak menikah.
Setelah sarapan selesai, Rosa pamit kepada orang tuanya untuk ikut dengan Reyhandra dan kakek William. Papa dan mama Rosa tetap bersikap layaknya orang tua yang merestui anaknya, hanya Stev saja yang seperti anak kecil merajuk karena daritadi dia minta untuk ikut bersama Rosa tapi dihalangi oleh mamanya.
"Nah klo begitu, kami pergi dulu." Ucap Rosa melambaikan tangannya kepada kedua orang tuanya dan kakaknya dati dalam mobil melalui jendela.
Reyhandra segera melakukan mobilnya menuju ke tempat butik fitting baju yang sudah mereka pesan, dan ditempat itulah mereka berencana membeli gaun pernikahannya.
Gaun pernikahan adalah hadiah dari kakek William, jadi mereka tidak akan menyewanya. Melainkan itu akan menjadi sah milik Rosa pada hari pernikahannya hingga kemudiannya, terserah dari rencana Rosa akan mengapakan gaunnya itu.
Ditengah perjalanan kakek William mendapatkan panggilan dari seseorang dan dia meminta Reyhandra untuk mengantarkannya pulang kerumahnya sendiri, karena dia punya tamu penting uang akan datang berkunjung kepadanya. Terpaksa Reyhandra mengantarkan kakeknya dahulu baru kemudian mereka ke tempat fitting baju.
Reyhandra POV
Aku melesatkan mobil dengan kecepatan maksimum sesudah mengantarkan kakek pulang. Dia juga ada-ada saja alasannya untuk membuat kami tetap pergi hanya berduaan saja.
Itu membuatku sangat tidak menyukainya, walaupun dari segala sisi Rosa adalah tileku. Tapi walaupun begitu, aku tidak ada rencana untuk menikah apapun yang terjadi klo bukan karena dendam itu.
Rosa sama sekali nggak berbicara dari tadi, ini berbeda dengan dirinya dalam balutan pakaian laki-laki. Dia nggak ngelirik aku sama sekali seperti semalam yang dia lakukan. Aku meladeninya dalam wujud laki-laki, karena dia sama sekali tidak mirip Rosa walaupun dia seorang Rosa Vogart.
Rosa dalam wujud Shaka adalah Rosa yang menipu matanya karena pakaiannya yang berbeda, jadi aku nggak nggak membencinya dan anehnya justru aku menikmati saat aku mengerjai dan menipunya sesuka hatiku.
"Entah kenapa dia terlihat menyenangkan dalam balutan pakaian laki-laki, dan aku tidak membencinya dalam mode seperti itu. Justru aku membencinya dalam wujud seperti ini." Aku melirik Rosa diam-diam yang sedang men-scroll handphonenya.
Kami sampai di butik yang telah ditentukan oleh kakek tak lama kemudian, karena aku melesatkan mobil dalam kecepatan yang cukup tinggi. Sesampainya kami langsung dilayani dalam proses pemfittingan bajunya.
Kami segera mengetes baju kami masing-masing, dan masing-masing dari kami ada orang yang melayani kami. Entah kami adalah tamu VIP, mereka melayaninya cukup baik, bahkan saat baru sampai saja, pemilik butiknya sendiri yang menyambut kami.
Aku menyelesaikan fitting bajuku dengan cepat, karena bagiku itu nggak ada bedanya, karena dari awal aku nggak terlalu niat melakukan pernikahan ini, jadi aku masa bodoh dengan hal itu dan aku datang kesini hanya memenuhi keinginan kakek saja, aku terlalu malas mendengar omelannya, sudah dari subuh buta dia menelpon terus hanya karena ini.
Aku menunggu Rosa yang menyelesaikan fitting bajunya di ruang tamu. Meskipun bukan ruang tamu, tapi bisalah dikatakan ruang tamu, karena mereka sampai menyedihkan kopi untukku.
Menunggu memang hal yang membosankan, bahkan kopi hampir habis saja Rosa tetap masih belum keliatan batang hidungnya. Aku bersyukur karena aku terlahir laki-laki, atau nggak, aku nggak tau betapa ribetnya hidup seorang perempuan. Semuanya yang berkenaan dengan perempuan itu membosankan bagiku. Contohnya saja dandan, dandan jiga kama. Mau , shoping juga lama, dan aku telah merasakannya saat melakukannya dengan Angel, klo bukan karena demi kepentinganku sendiri, aku juga nggak bakalan melakukan itu semua.
__ADS_1
Tak lama kemudian, pelayan yang masuk bersama dengan Rosa menyibakkan tirainya dan menampakkan Rosa dalam balutan pakaian pengantinnya. Itu sangat pas di badannya, dan mau berapa kali pun dilihat, dari segi apapun itu, Rosa memang cocok dengan gaun pengantin itu, terlebih dia juga memenuhi semua kriteriaku, hanya saya sayang.
"Bagaimana, tuan? Bukankah pengantinnya sangat cantik?" Tanya si pelayan itu padaku.
"Emm, gaunnya memang cantik." Jawabku memberikan penilaian rasional.
"Ini adalah gaun baru kami pada bulan ini. Tuan besar Kedrey khusus memesannya untuk pengantin wanita ini, jadi gaun inj hanya satu-satunya di toko kami, dan kami tidak memproduksi pada yang lainnya, karena ini pemesanan khusus." Jelas si pemilik butik kepadaku.
"Ternyata kakek emang sangat niat untuk melakukan ini semua, bahkan hal seperti ini saja sudah di handle-nya. Tapi baguslah, aku nggak perlu susah-susah memikirkannya."
"Apa ada kiranya yang ingin kami ubah tuan muda?" Tanya si pemilik butik itu kembali padaku.
"Itu terserah sam pengantin wanitanya. Jika dia suka, maka saya juga akan suka." Jawabku malas, tapi sepertinya itu bakal disalahpahami oleh mereka semua.
"Ternyata tuan muda sangat mencintai calon istri kecilnya, ya. Anda sangat beruntung, nona." Kata pemilik itu kepada Rosa, dan Rosa hanya malu-malu karena dikatai seperti begitu.
"Sangat drama." Rutukku saat melihat tingkah mereka semua. Memang sangat profesional, tidak salah mereka bisa menjadi butik terbaik.
"Ya, terima kasih banyak karena sudah mendesain gaun saya ini. Saya sangat menyukai gaun ini, ini pas dengan kriteria saya. Terima kasih karena sudah mendesainnya untuk saya." Ucap Rosa tersenyum kepada mereka semua yang juga dibalas dengan senyuman juga dari mereka semua.
Entah dia bodoh atau dia memang benaran bodoh. Rosa ini saat naif, tentu saja mereka akan mendesainnya dengan baik, karena uang yang berkuasa. Jadi jika mereka mau hak mereka terpenuhi mereka harus melaksanakan kewajibannya, kewajiban yang memenuhi keinginan pelanggan. Itulah konsep kita dalam berbisnis.
Lama dari berbagai proses yang menyebalkan, akhirnya selesai juga. Ini lebih sulit daripada memeriksa laporan bawahan. Saat akan meninggalkan butik, aku kembali mendapatkan telepon dari kakek.
Sebenarnya apa maunya orang tua ini? Aku mau nggak mau harus mengangkat telepon dari kakek. Rasanya nggak enak jika aku nggak mengangkatnya, karena itu didepan Rosa, terlebih aku harus menjaga image calon suami baik didepan Rosa dan yang lainnya.
"Saya permisi sebentar, ya." Kataku pamit pada Rosa. "Apa-apaan ini? Sejak kapan aku peduli padanya? Dasar Reyhandra bodoh, bisa-bisanya kamu tertipu sama rubah ini? Ingat tujuan utamamu."
"Ya, silahkan." Jawabnya singkat.
Memang sangat singkat, kurasa dia sedikit malu, atau apalah itu.
Ternyata kakek hanya menyuruhku untuk jangan terburu-buru, aku harus menghabiskan waktu dengan Rosa seharian ini. Kakek menyuruhku untuk mengajak Rosa makan siang bersamaku dan kemudian membawanya berbelanja.
Kata kakek ini adalah langkah awal supaya aku semakin dekat dengan Rosa, supaya kamu semakin saling mengenal. Dan memupuk cinta sedikit demi sedikit. Tapi bagiku, itu hal yang melelahkan. Akan lebih baik jika aku pulang ke kantor dan menyelesaikan pekerjaanku, tapi apa boleh buat. Ini adalah perintah atasan, juga kakekku sendiri.
"Anda sudah kembali?" Tanya Rosa saat melihatku kembali.
"Ya. Mari!"
"Tapi Anda ingin mengajak saya kemana?"
"Pertama-tama, bisakah kamu berhenti bicara formal padaku. Aku bukan atasanmu, tapi calon suamimu."
"Ba..., baik, Reyhan."
"Apa? Dia memanggilku Reyhan? Nggak salah dengar, kan? Hentikan keterkejutan mu itu Reyhandra. Sadar! Dia hanyalah rubah. Ingat tujuanmu, ingat balas dendam mu! Buat dia mencintaimu, lalu buang dia. Tapi beraninya dia memanggilku langsung begitu karena aku mengizinkannya, seharusnya dia segan." Batinku mengatur emosi keterkejutan ku.
"Kedengarannya nggak buruk juga." Jawabku dan langsung pergi tanpa menunggunya, sehingga dia harus mengejar ku dengan berlari dengan kaki kecilnya itu. "Kelinci." Tiba-tiba kata itu keluar saja dari benakku. Memang sudah kuduga, aku memang kurang sehat hari ini karena terlalu mabuk tadi malam, hingga aku berpikir klo Rosa itu adalah kelinci.
Aku membawa Rosa ke restoran yang sering ku kunjungi. Aku malas ganti-ganti restoran, karena mereka mereka belum tentu terjalin kebersihannya, nggak semua restoran itu higenis.
Kami memesan makanan kami masing-masing dan menikmatinya, namun tiba-tiba aku memperoleh telepon kembali dan ini dari Hans. Padahal aku sudah memberi tahu padanya klo aku akan fitting baju hari ini. Hans adalah tipe orang yang taat peraturan, jadi dia nggak mungkin melanggarnya, kecuali ini memang hal yang mendesak.
"Maaf, aku harus mengangkat telepon lagi. Ini dari sekretaris ku, mungkin ada hal mendesak yang harus segera diberitahukan padaku." Ucapku pada Rosa meminta izin kepadanya.
"Iya, angkatlah. Mungkin itu memang hal yang penting." Jawab Rosa memaklumi dan melanjutkan makannya kembali.
Aku bangun dari kursi ku dan mencari tempat untuk mengangkat telepon dari Hans. Aku bukannya ingin meminta izin pada Rosa, hanya saja ini sudah menjadi etiket bisnisku sehingga aku sudah terbiasa kan hak itu.
"Iya, Hans. Ada apa?" Tanyaku mengangkat telepon Hans mencoba mencari tempat untuk nyaman berbicara, tapi tidak terlalu jauh dari Rosa.
"Tuan..."
"Sebentar, tahan Hans. Aku harus sedikit jauh dari Rosa."
Aku memperhatikan kearah Rosa, sepertinya dia juga mendapatkan sebuah telepon dari seseorang. Apa mungkin itu dari keluarganya? Tapi kenapa dia tiba-tiba bangun dari kursinya dan panik begitu? Bahkan ponselnya saja terjatuh dari tangannya.
"Tuan ini ada kaitannya dengan Nona Rosa..." Hans berhenti berbicara, karena aku langsung memotong perkataan Hans.
__ADS_1
"Ya, Hans nanti kita bicarakan." Aku menutup telepon dati Hans dan segera menghampiri Rosa.