Dia Bahagiaku Dia Lukaku

Dia Bahagiaku Dia Lukaku
Chapter 58 : Tuan, Anda Belum Membayar Tagihannya


__ADS_3

Rosa melihat ke belakang dan dia jadi terkejut kenapa orang yang dia jumpai di rumah sakit kemaren ada di restoran ini? Tapi kemudian Rosa langsung menangkis pikirannya itu, kan siapapun nggak dilarang untuk mengunjungi hotel atau restoran ini, asalkan mereka punya uang dan itu sah-sah aja.


Laki-laki yang berdiri Rosa kembali tertawa dan itu membuat Rosa menjadi terkejut akan suara tawa menggelegar itu. Suara tawa yang mengejek, suara tawa yang paling di benci oleh Rosa, hingga tadi Rosa menampar laki-laki kurang dihajar itu.


"Ha, siapa kamu, huh? Sok-sokan jadi pahlawan cewek cantik kamu, ya? Liat aja penampilan mu dulu, baru jadi pahlawan kau. Dari penampilan aja juga udah bisa diliat, klo kamu itu cuma kelas rendah." Kata laki-laki itu dengan nada mengejek.


Namun laki-laki yang kuberikan coklat di rumah sakit, yang tak ku tahu namanya itu, dia masih tetap tersenyum menampilkan senyum termanisnya. Tapi walaupun lelaki itu tersenyum, tapi yang kejengkelan tak bisa lepas dari raut wajahnya itu. Dan Rosa yakin itu pasti, meskipun setiap orang menggunakan topeng ataupun berakting sekalipun. Tapi yang emosi tetaplah ada, dan Rosa bisa membaca itu.


Emosi laki-laki yang berdiri didepan Rosa, dia hanya mau melihat orang lain merasa ciut dan akan rendah diri saat di hina olehnya. Dan emosi si coklat rumah sakit itu adalah tipe meledak-ledak, hanya saja dia tidak menampakkannya.


"Hemm, dia cukup pandai untuk menyembunyikan emosinya yang meledak-ledak itu dan penuh energik. Patut diacungin jempol." Batin Rosa yang melihat kearah Oryza.


Karena Oryza tak menjawab apa-apa dan memilih hanya untuk tersenyum, laki-laki yang didepan Rosa semakin menjadi-jadi terus mengejeknya.


"Kenapa?! Nggak beranikah? Makanya jangan sok jadi pahlawan kesiangan lo ini. Lain kali klo emang mau sok jadi pahlawan, liat dulu dong siapa yang berdiri di depanmu. Kau nggak tau kan siapa aku? Akulah anak manajer disini, orang yang mengelola reso dan hotel disini. Jadi sekarang, orang seperti lo itu keluar aja, sebelum aku usir. Karena orang-orang miskin seperti kalian mana ada uang untuk bisa makan di resto seperti ini!" Kata laki-laki kembali mengagung-agungkan ayahnya yang bekerja di hotel mewah ini sebagai manajer.


"Ini laki-laki mau ku bacok aja sekalian, ya? Dari tadi terus besar mulut. Sialan emang. F*ck you, go you to the hell tomorrow, ok? Benar-benar bikin kesal. Sebenarnya anak siapa sih ini? Ayahnya manajer bagian mana lagi. Awas aja, liat setelah inj. Apakah kau masih bisa membangga-banggakan jabatan ayahmu?" Batin Oryza tersenyum smirk.


"Benar-benar ya laki-laki ini? Sebenarnya IQ-nya berapa sih? Katain orang kaya seperti coklat rumah sakit ini missqueen. Nggak ngaca apa dia? Padahal satu jaket hoodienya si coklat rumah sakit nggak sebanding dengan setelah yang dia pakai sekarang. Benar-benar hanya orang sombong yang tak tau nilai orang lain." Pikir Rosa lagi setelah melihat setelahnya Oryza dan membandingkannya dengan laki-laki yang terus membanggakan ayahnya itu.


"Hello??Hahaha, kenapa pada diam sih? Benar kan yang gue bilang, klo kalian itu..."


"Anda bisa diam, nggak? Atau apa perlu saya yang diamkan? Saya sangat pandai untuk mendiamkan orang bermulut ember seperti Anda ini, lho. Dan tenang aja, untuk Anda ini gratis. Saya nggak berani mengambil uang dari anak pak manajer disini." Imbuh Rosa yang mulai sedikit naik darah. "Mau main-main denganku, ya? Klo begitu ku temani kau sampai akhir, sampai kau kalah telak dan nggak akan berani lagi ke depannya." Batin Rosa memantapkan dirinya klo dia akan beradu mulut dengan lelaki kurang kerjaan di depannya itu.


"Sialan, kamu j* l*ng...."


"Eiitty, nama saya bukan j*l*ng ataupun sialan yang yang Anda bilang barusan itu, ya? Daya punya nama sendiri, jadi Anda dilarang memanggil nama saya ataupun nama orang lain diluar mana mereka sendiri. Saya tidak menyukai nama yang Anda kasih itu, begitu juga dengan tuan coklat.... Ehem, begitu juga dengan tuan ini. Dia pasti tidak menyukainya. Atau... apa jangan-jangan, Anda menyukai nama yang seperti itu, haruskah saya membantu Anda memilih satu diantara begitu banyak nama itu? Hemm? Bagaimana menurut tuan? Of course, saya nggak keberatan sama sekali kok." Tutur Rosa dengan berani dan juga penuh wibawa. Sudah berani memotong pembicaraan tuan yang membanggakan ayahnya itu, dan itu adalah suatu prestasi mungkin di mata orang lain.


"Tadi aku nyeramahin orang buat memanggil nama seseorang itu sesuai dengan namanya, tapi hampir aja aku menyebutkan si laki-laki coklat di rumah sakit itu dengan laki-laki coklat rumah sakit. Nah kan, kambuh lagi ini mulut. Emang salah ku sendiri ini, siapa suruh nggak kenalan duluan, padahal dia sudah bilang namanya Tapi aku malah melupakannya dan hampir mengatai orang lain diluar namanya." Batin Rosa yang keringat dingin sendiri, tapi dia tidak menampkakkannya di permukaan.


"Kamu..." Teriak laki-laki itu menunjuk kearah Rosa.


Namun Rosa segera menangkap jari laki-laki itu dan memelintirnya. Hingga laki-laki itu berteriak bahkan menjerit seperti suara anak cewek, dan itu sontak mengundang banyak tawa dalam restoran itu, karena ulah Rosa menghajar kang pamer itu.


"Ohh tuan, Anda nggak perlu merasa nggak enak sampai berteriak begitu dong. Saya aja nggak keberatan sama sekali, gimana tuan bisa merasa segan seperti itu. Kata orang, kita nggak harus menolak rezeki jika ada orang memberikan kita rezeki. Jadi meskipun tuan seorang anak manajer yang mengelola hotel number one in this city, tuan juga nggak bisa menolak rezeki dari orang dermawan seperti saya. Ya kan, tuan-tuan sekalian dan nyonya-nyonya?" Tanya Rosa yang mengalihkan pertanyaannya kepada orang disekitarnya.


"Yaaaaa...." Jawab orang ramai yang melihat pertunjukan Rosa.


"Ya, tentu saja nggak boleh nolak dong." Tambah lagi si laki-laki coklat ikut nimbrung menjawabnya.


"Haiish, kenapa hobinya itu suka sekali ikut campur sih? Padahal aku gini juga buat ngebela dia. Padahal tadi klo dia emang nggak ikut campur, pasti udah dari tadi kelar dan cukup dengan satu tamparan dan aku pun juga udah sampai di rumah. Haaaah, Hontōni mendōna." Pikir Rosa dengan lemas. Dia nggak habis pikir kenapa ada orang sebodoh Oryza.


"Ha, kau lagi si miskin, kan? Bisa nggak klo lo itu nggak usah ikut campur masalah gue sama ini j*l*ng. Lo itu cuma orang miskin yang nggak tau tempat lo seharusnya berada. Biar gue kasih tau ya sekarang sama lo, tempat lo itu ada dibawah kolong jembatan luar sana tu, jangan sok-sokan jadi pahlawan lo. Ini urusan gue sama cewek ja..."


"Tuan kang anak manajer yang lacknut, orang yang diluar nurul yang terus mengejek orang dan ngehina orang, bisakah Anda diam sekarang. Berhenti mengatai orang apapun itu. Dan jangan merendahkan dia juga. Mengerti, kan?" Tanya Rosa sambil menunjuk kearah kearah Oryza. Tapi orang yang ditunjuk oleh Rosa malah tercengengesan. "Apaan sih ini orang? Kagak jelas amat. Sinting, ya?" Pikir Rosa lagi mengenainya Oryza, namun dia segera menangkis pikirannya itu. Karena dia harus memfokuskan dirinya untuk tetap berdiri kokoh dan beradu mulut dengan laki-laki didepannya kini. "Ehemm, saya heran dengan Anda, Anda ini tebal muka atau nggak tahu malu atau apa sih? Yang jadi manajer disini tuh ayah Anda dan bukan Anda, kenapa malah Anda yang sombong. Oh, ok fine, jika Anda ingin sombong, kan siapa tau kan, ya? Tapi seharusnya klo Anda emang mau sombong, seharusnya ayah Anda itu direktur kek di hotel ini. Pemiliknya kek ataupun CEO pemilik hotel ini kek, bukan dengan manajer setingkat manajer udah sombong." Tutur Rosa dengan kata-kata yang menusuk, hingga laki-laki itu nggak tau untuk menjawab apa-apa lagi.


"Kamu...." Laki-laki itu segera mendecih, dia kalah, tak tau harus berbuat apa lagi.


Mau ditampar Rosa malah dikira itu adalah kekerasan, dan bisa-bisanya dia yang bakal masuk kantor polisi dan harus bayar 5 juta, karena udah memukul orang. Sedangkan dalam kasus Rosa tadi menamparnya itu adalah sebagai bentuk pertahanan diri.


Tapi klo emang laki-laki itu menampar Rosa dan Rosa membalasnya itu sudah dibilang seimbang dan adil. Tapi bagaimana klo Rosa nggak membalasnya? Walaupun dia nggak mau Rosa membalasnya dan dia juga nggak mau masuk penjara.


"Langsung makjleb nggak sih itu? Nah, makan itu, baru tau rasa, kan? Dulu tindas lagi aku. Nengok, karma itu berlaku, kan?" Batin si penjaga kasir yang puas melihat anak manajer yang sombong itu langsung mati kutu.


"Ternyata pretty girl like type like this. CEO or directeur or the owner this hotel. And then, l only say it to my brother, minta si Rocky untuk menjadikan aku sebagai CEO di hotel ini. Meskipun ini merepotkan, tapi itu sebanding jika itu demi si pretty." Batin Oryza sambil tersenyum smirk dari wajah bulenya itu.


"Tuan muda lagi mikir apaan sih ini? Why me feel that it not some good. Tuan pasti berencana buat ulah lagi, kan? What the f*ck, apes banget hidup aku sebagai sekretaris tuan juga sebagai bodyguard si Kang rusuh ini?" Pikir Erik yang mulai panik. Dia harus melakukan apa kali ini untuk membereskan kekacauan yang dibuat oleh Oryza.


"Wah, wah... hebat, hebat. Saya salut dengan kekuatan tempur Anda itu, nona." Ujar Oryza sambil berjalan mendekati Rosa.


"Tuan, jangan ke sana, saya mohon.... Hentikan!!! Stop it." Rintih Erik dalam hatinya, sayangnya tapi dia nggak bisa mengeluarkan kata-kata itu.

__ADS_1


"Ya, terima kasih atas perhatian tuan ini. Tapi saya nggak perlu Anda untuk menyelesaikannya, saya sendiri cukup untuk menyelesaikan ini. Anda tidak perlu menggurui saya tentang ini." Jawab Rosa dengan tegas menarik batasan.


"Wah,wah... Benar-benar seperti harimau betina, ya. Nggak, haruskah aku mengatakannya sebagai singa betina? Tapi, apa bedanya, ya? Kan sama saja." Batin Oryza yang bimbang dengan julukan mana yang akan diberikannya pada Rosa.


"Wah nona, Anda nggak perlu salah paham begitu. Emang mulai daru sini adalah tugas saya sebagai CEO dari hotel ini. Jadi, terima kasih untuk nona yang sudah membela saya tadi, saya sangat berterima kasih akan hal itu nona." Tutur Oryza dengan senyum bisnis dan hanya diangguki beroh ria oleh Rosa. Dan kemudian Rosa segera mundur, karena sudah ada orang yang menghandlenya.


"Tuan, sejak kapan tuan jadi CEO di hotel ini? Bukannya tuan nggak mau ya, waktu kemaren di perintahkan oleh Tuan Rocky? Anda bilang itu sangat merepotkan makanya nggak mau. Kan gitu?" Bisik Erik pada Oryza.


"Shhhussh, diamlah. Aku baru aja jadi CEO disini. Emang kamu mau ku pecat dari bodyguard aku?" Bisik Oryza membalas bisikan Erik.


Saat mendengar kata-kata pecat dari Oryza, Erik langsung mundur dan berdiri dibelakang dengan patuh. Meskipun senang nggak menjadi bodyguard Oryza, tapi tidak enak juga berhenti menjadi bodyguard Oryza, karena dia mempertimbangkan ini dan itu hal.


Rosa memperhatikan tingkah gelagat Oryza dan Erik yang berbisik-bisik itu, Rosa bodoamat dan nggak peduli dan langsung menuju meja kasir. Namun dalam hatinya Rosa tetap nggak berhenti bertanya-tanya, kok bisa ya CEO itu berpakaian kasual ketimbang berpakaian formal. Itulah yang Rosa pikirkan.


"Ahhh, terserahlah mau kasual mau formal. Itu kan urusannya dia. Lagipula kasual juga nggak jelek-jelek amat." Batin Rosa saat sedang berjalan menuju meja kasir.


Melihat Rosa menuju meja kasir, Oryza juga langsung mengikutinya. Begitu juga dengan Erik, dia tetap mengikuti kemanapun Oryza pergi. Namun, hal yang tak terduga, ternyata Oryza malah mencegah Erik untuk ikut dengannya.


"Mau kemana kau?" Tanya Oryza melihat kebelakang.


"Ikutin tuan. Kata Tuan Rocky, saya harus selalu mengikuti Anda. Yang berarti Anda dimana maka saya di sana." Jawab Erik dengan profesional.


"Emm, yayaya." Angguk Oryza paham akan tugas Erik yang itu. Erik senang klo Oryza emang bisa memahaminya dan tidak mengganggu tugasnya.


"Akhirnya, tuan punya sisi yang mau pengertian juga sama pekerja kecil sepertiku." Batin Erik senang.


"Ya, kamu disini aja. Tolong beresin anak manajer yang satu ini. Tolong ayahnya sekalian, ya. Bilang aja ini mandat dari CEO baru. Bilang gini, klo belum dia beresin anaknya itu, nggak perlu datang lagi dia besok-besok." Perintah Oryza dengan garang lalu lekas pergi. Namun belum lama juga, Oryza kembali berbalik kebelakang dan memberikan mandat baru, "Oh ya, klo nggak gini aja. Suruh dia melapor dulu sama aku besok sesudah dia membereskan anaknya itu. Kan siapa tau dia mungkin berguna. Jangan ketimbang anaknya itu kita jadi kehilangan karyawan yang bagus. Mau gimanapun, kemampuan tetap nomor satu di hotel ini, bukan relasi." Ucap Oryza dengan serius dan kemudian langsung mengejar Rosa kembali. Kembali menggoyangkan ekornya itu.


"Yes, sir." Jawab Erik mengerti dan sedikit membungkuk lalu segera membawakan laki-laki kang rusuh itu pergi sesuai perintah Oryza.


.


.


"Baik, klo begitu tunggu sebentar mbak ya, biar saya proses dan hitung dulu." Jawab si penjaga kasir sambil tersenyum ramah.


"Nah, baik mbak. Meja nomor 7, ya? Semuanya...."


"Kamu mau bayar, ya?" Sapa Oryza yang tiba-tiba nongol di samping Rosa, menghentikan si kasir yang mau memberikan bill berapa biayanya.


"Ya, tuan. Mohon jangan ganggu saya dulu, saya harus bayar ini." Jawab Rosa merespon pertanyaan Oryza, namun Rosa tetap menjaga batasannya.


"Alahhh, nggak usah cool like that. Biasa aja. Kita juga udah kenal."


"Maaf, tuan. But l don't know your name. Although we ever meet at hospital obe more time, and l give you chocolate, but l don't know your name. So..., kita nggak bisa dibilang udah saling kenal." Jawab Rosa yang langsung membuat Oryza membatu. "Maaf, tolong berapa, ya?" Tanya Rosa kembali pada kasir. Namun lagi-lagi Oryza menghentikannya.


"Kamu nggak perlu membayar ini. Ini semua gratis untuk kamu."


"Maaf, tapi saya nggak bisa menerimanya. Meskipun saya pernah membela Anda tadi, tapi itu nggak sampai ke poin dimana Anda harus mentraktir saya."


"S*it! Sulit amat sih ini pretty girl. Huuh, be patient Oryza, she's your pretty girl. She is different, she was smart girl, so butuh usaha yang ekstra juga. Ayo Oryza semangat! Be fighting." Batin Oryza dengan membara namun dia juga rada gemes, karena Rosa masih saja menolak kebaikannya.


"Tapi kamu pernah memberikan saya coklat dan saya sangat menghargai itu. Itu artinya kamu juga pernah mentraktir saya, jadi nggak usah sungkan." Bujuk Oryza lagi pada Rosa untuk menerima traktiran yang dia kasih.


"Nggak, tetap makasih tuan. Tapi saya nggak bisa menerimanya. Mau bagaimanapun Anda bekerja untuk orang lain, dan saya nggak ingin membuat Anda dalam masalah. Apalagi Anda sampai dipecat oleh atasan Anda gara-gara cuma mentraktir saya, jadi saya nggak bisa menerimanya. Sekali lagi terima kasih pada tuan." Tolak Rosa tetap sopan, namun itu terkesan dingin bagi Oryza. "Baik, mbak. Tolong langsung digesek saja kartunya berapa habisnya. Meja nomor 7, ya." Kata Rosa memberikan kartu pemberian papanya.


"Baik, mbak." Jawab si pegawai kasir menerima kartu ATM dari Rosa.


"Benar-benar susah, ya? Gumam Oryza pada dirinya sendiri. Namun, Oryza tak kehilangan akal, dan tetap terus mencoba. " Tunggu dulu, jangan digesek dulu." Oryza menahan si pegawai kasir untuk menggesek kartunya.


"Nggak apa, mbak. Langsung di gesek aja. Tolong, jangan dengerin dia." Perintah Rosa pada si pegawai kasir dan langsung digeseknya. "Mbak, silakan masukkan pinnya." Kata si kasir memberikan Rosa

__ADS_1


"Oh pinnya, ya?" Tanya Rosa lagi yang agak bingung karena papanya nggak bilang pinnya sama Rosa. "Oh my god, pinnya lagi. Lupa ditanya sama papa tadi. Aiiisshh, aku ini. Muda-muda udah pikun, keasyikan sama mentingin gaya pulang sih tadi aku ini. Gimana ini? Alaaah, coba aja dulu. Biasa papa gunain ultah aku udah pin ATM. Ya, coba ajalah. Moga aja bisa." Batin Rosa yang kalang kabut mau gimana. Sebenarnya dia sendiri juga sangsi, karena dia pernah bilang pada papanya untuk menggantikan pin untuk atm bank, jangan taruh pin ultahnya lagi. "Mampuslah aku klo nggak bisa ini." Pikir Rosa mengulurkan tangannya untuk memasukkan kode pin.


"Ahhh, tunggu dulu mbak." Hentikan Oryza dengan memegang tangan Rosa. Dan itu langsung dihadiahi dengan tatapan tajam dari Rosa, lalu Oryza memperhatikan tangannya yang memegang Rosa dengan lancang dan melepaskan pegangannya sambil tersenyum cengengesan. "Hahaha, sorry. Aku nggak bermaksud."


"Lanjut, mbak."


"Oh ayolah, tunggu dulu." Pasrah Oryza lalu segera mengambil mesinnya dari tangan si pegawai kasir. "Ok, fine. Please you listen me first, ok? Well, aku nggak akan mentraktir kamu makan, tetapi tagihan kamu malam ini tetap free, ok? If you ask why, maka ini sebagai permintaan maaf karena kerusuhan yang terjadi sama kamu tadi. Anggap aja ini sebagai kompensasi untuk kamu karena kamu udah nggak merasa nyaman selama di restoran kami. So, jangan ditolak lagi, ok?" Bujuk Oryza yang akhirnya kepikiran tentang kompensasi juga, dan dengan hati-hati menyerahkan kartu Rosa padanya lagi.


"Ok, fine. Mau gimana pun nggak ada sesuatu yang harus kalian kompensasikan. Jadi aku tetap menganggap ini kamu sudah mentraktir aku, dan aku pasti akan membalasnya suatu hari nanti."


"No!! You don't like that. Aku nggak perlu!" Tolak Oryza dengan spontan. Namun sesaat kemudian dia berubah pikiran, karena tujuannya masih belum terpenuhi. "Ehhh, boleh juga, kamu traktir aku balik. Tapi sebelum itu, kita belum kenalan ini. So, my name is Oryza Ro..." Oryza menghentikan perkataannya. "Jangan sampai dia tau klo aku berasal dari keluarga Roza, bisa-bisanya dia menghindari aku lagi." Batin Oryza memperhatikan Rosa yang menunggu Oryza untuk melanjutkan perkataannya. "Ahhh ya, my name is Oryza, you can call me like that. But if you want to call me baby, darling, honey. Of course aku tidak keberatan bisa dipanggil seperti itu oleh kamu."


"Nggak, aku akan manggil kamu Oryza aja. Sesuai namamu saja." Tolak Rosa dengan spontan juga.


"Dingin amat sih mbak cantik. But..., by the way, who is your name? Aku butuh tau nama kamu lho. Klo itu boleh, kan? Kita udah ketemuan dua kali dengan ini, tapi kita belum kenalan." Tutur Oryza yang sebenarnya emang itulah tujuannya.


"Ahh...., pertemuan kita belum tiga kali. Oh ya, aku langsung saja traktir kamu kembali. Ini!" Kata Rosa memberikan satu lagi undangan ekslusifnya.


"Apa ini?" Tanya Oryza penasaran dan membukanya langsung. "Undangan pernikahan? Reyhandra Kedrey and Rosalyn Saputri Vogart." Oryza membaca siapa yang akan melangsungkan pernikahan. "Siapa ini? Kamu?"


"Kamu akan tau klo kamu datang. Pada saat kita ketemu yang tiga kalinya, maka aku akan memberitahumu. Oh ya, kau tau ini adalah undangan ekslusif dan terbatas, karena aku hanya membagikan 5 undangan saja, dan kamu adalah orang yang kelima. Jadi kamu harus merasa terhormat." Kata Rosa kemudian langsung pergi sambil tersenyum. "Senang bertemu denganmu, Oryza." Ucap Rosa sedikit bergumam sebelum dia benar-benar pergi dan Oryza nggak mendengarnya karena dia asyik melihat undangan dari Rosa itu.


"Nona, aku pasti akan datang. Tunggu aku, pangeran mu. Maka pada saat itu aku pasti akan tau namamu." Teriak Oryza setelah Rosa benar-benar pergi, dan tentunya Rosa nggak mendengarnya.


"Tuan, kau teriak apaan sih?" Tanya Erik yang tiba-tiba saja muncul dari belakang Oryza.


"Oh my god, terkejut aku tau." Kata Oryza sambil mengelus-eluskan dadanya. "Nggak ini hanya undangan dati pretty girl aja. Aku mesti harus datang ini. Tiga hari lagi, kan? Kira-kira aku pakai apa, ya? Ahh, sepertinya aku harus shopping besok. Pokoknya aku harus tampil perfect, bahkan lebih macho dari pengantin laki-lakinya." Oryza memberikan undangannya pada Erik dan langsung pergi begitu saja.


"Seperti kenal ini nama? Look familiar. Apa mungkin ini nama orang itu?" Gumam Erik tersendiri, lalu segera menyusul Oryza. "Tuan, mau kemana? Bukankah Anda harus kerja, sekarang Anda ini CEO, lho. Masa Anda langsung lupa saja." Teriak Erik menyusul Oryza.


"Besok kita kerja. Gimana tugas yang ku berikan, kau sudah membereskan kang rusuh tadi, kan?"


"Ya, sudah tuan. Besok ayahnya akan menghadap Anda, biar Anda sendiri yang menilainya nanti. Jangan gara-gara anaknya kita kehilangan pegawai yang berbobot nantinya."


"Iya, aku paham. Makanya aku mulai serius sekarang. Lagipula pretty girl suka orang yang berpangkat tinggi. Jadi aku harus kerja keras. Ayo, sekarang kita ke bar!" Seru Oryza dengan semangat.


"Ku kira Anda sudah berubah tuan. Ternyata sama aja tuan."


"Alaaah, kamu ini. Yang bersenang-senang tetap haruslah." Jawab Oryza dengan santai.


"Tuan, jika kau terus bersenang-senang seperti ini, bagaimana bisa kau bisa sukses dan pretty girl suka sama Anda."


"Nggak apa, besok kita seriusnya, ya. Pokoknya malam ini kita senang-senang dulu." Enteng Rosa memberhatikan taksi dan Erik mau nggak mau harus mengikuti Oryza.


...***...


Reyhandra setelah Rosa keluar, dia juga langsung ngebut keluar mengejar Rosa. Nggak tau meskipun Reyhandra mau membalas dendam dengan melalui Rosa, namun dia merasa lain, namun dia terus menghipnotis dirinya dengan akting yang sempurna.


Reyhandra menuruni lift dan langsung beranjak berlari ke keluar dan hendak menatik pintunya, namun sebelum itu, Reyhandra langsung dicegat oleh pegawai di sana.


"Maaf tuan, Anda belum membayar tagihannya. Silakan tuan, ini billnya." Kata si pelayan memberikan billnya. Dan tagihannya nggak sedikit. "What!? 20 juta? Ahh, wajarlah, kan si Angel mesannya kan nggak sedikit. Pokoknya harus elit." Batin Reyhandra mengingat kejadian tadi.


"Tuan, jadi Anda mau membayar cash atau pakai ATM?" Tanya si pegawai lagi.


"Ya, gunakan ini aja." Kata Reyhandra menyerahkan kartu kreditnya. Dan si pegawai langsung menerimanya dan menggeseknya.


"Tuan, silakan masukkan pin Anda." Kata si pegawai lagi sambil tersenyum ramah.


"Iya, udah."


"Baik, terima kasih sudah berlangganan di restoran kami, tuan. Silakan datang dilain waktu." Kata si pegawai, namun Reyhandra masa bodoh dan langsung menyerbu keluar mencari Rosa.

__ADS_1


__ADS_2