Dia Bahagiaku Dia Lukaku

Dia Bahagiaku Dia Lukaku
Chapter 22 : Tamu di Pagi Hari


__ADS_3

Rosalyn POV


Aku memperhatikan Reyhandra yang pergi semakin jauh dan jauh dan akhirnya hanya titik hitam yang menghilang dengan begitu banyaknya kendaraan dijalan.


Aku memutarkan tubuhku dan berencana langsung pulang, lagipula lorong rumah sudah sampai didepan mata dan hanya perlu jalan kaki sedikit. Ini lebih baik dengan kedok aku akan membelikan sesuatu di indomaret ketimbang Reyhandra yang langsung mengantarkan diriku sampai didepan pagar rumah.


Jadi aku memilih alasan klo aku akan mengganjal perutku dengan jajan di indomaret, lagipula indomaret juga bukanya 24 jam. Aku membalikkan badanku, tapi aku malah dikejutkan oleh kehadiran Kak Alan yang juga memperhatikan apa yang sedang ku lihat.


"Sedang lihat apa?" Tanya Kak Alan yang berada di sampingku, tapi aku nggak tau kapan dia nyampe.


Aku terkejut bukan kepalang. Kak Alan bisa saja bertanya kepadaku, bukan tidak bisa. Hanya saja dia melanggar etika ku, wajahnya terlalu dengan wajahku, hampir saja aku menciumnya. Klo ciuman itu terjadi, dia pasti bakalan berpikir aku mencari kesempatan lagi darinya.


Aku mundur sedikit demi sedikit, dan kak Alan juga menarik dirinya sendiri. Aku sangat gugup, "Nyaris saja." Gumam ku pada diriku sendiri sambil mengeluskan dadaku.


"Kamu sedang lihat apa barusan?" Tanya Kak Alan lagi.


Aku mengatur ekspresi wajahku kembali dan melihat kearah Kak Alan. "Oh, barusan itu ya? Aku hanya melihat temanku saja, kok. Barusan dia yang mengantarku." Jawabku yang langsung berjalan masuk kedalam indomaret.


"Bukannya teman yang menjemputmu tadi itu pake motor warrior, ya?" Tanya Kak Alan kembali dan mengikuti aku masuk ke dalam indomaret.


"Emang iya. Hanya saja dia mabuk berat. Mana mungkin dia mengantarku pulang." Aku mengambil minuman coklat favoritku dan kemudian ke rak roti dan memilih beberapa beberapa dan langsung ke tempat kasir.


"Jadi kamu meninggalkan dia di sana sendirian?"


"Nggak sendiri juga, dia bersama kakaknya. Dan yang mengantarku barusan itu adalah tunangan ku, Reyhandra." Bisik ku ke telinga Kak Alan selagi kami masih mengantri untuk membayar.


Kak Alan nggak ada reaksi apa-apa, sesudah aku membisikkan Reyhandra kepadanya. Dia pasti berpikir klo aku akan aman selagi Reyhandra ada di sampingku, jadi dia pikir si wolf itu akan menjagaku dengan baik.


Akhirnya tiba juga giliran kami untuk membayar. Aku meletakkan barang pilihanku untuk dihitung harganya oleh kasir. Aku hanya memilih satu susu coklat kotak sedang dan dua sari roti rasa coklat juga. Aku memang sudah makan malam sebelumnya, hanya saja aku kembali lapar, karena ini sudah terhitung lebih kurang 4 jam sejak terakhir makan malam bareng keluarga.


"Tujuan belas ribu lima ratus rupiah." Kata kasih itu tersenyum kepadaku.


Aku hendak mengeluarkan uang dalama saku jaket ku tapi Kak alan duluan meletakkan barang pilihannya juga dimeja kasir, pilihan yang sama denganku, hanya saja Kak Alan mengambil susu putih murni, hanya itu bedanya.


"Sekalian saja sama punya saya, mbak." Kata Kak Alan mengeluarkan uang sebesar luma puluh ribu rupiah ke meja kasih.


"Baik." Jawab kakak kasir menghitungnya, dan mengembalikan uang selembar sepuluh ribu dan selembar uang lima ribu pada Kak Alan. "Silakan kembaliannya."


"Ok, makasih." Kataku pada kakak kasir itu dan dibalas senyuman olehnya.


"Sama-sama, silakan kembali lagi." Kata si petugas kasir wanita itu tersenyum ramah.


Aku sempat berpikir, apakah petugas kasir itu tersenyum atas kehendaknya sendiri? Sangat sama dengan boneka yang harus melakukan tugasnya untuk mendapatkan kasih sayang tuannya. Dan dalam posisi si kasir untuk mendapatkan haknya, gajinya.


Rosa segera keluar dari indomaret dan di ikuti oleh Alan menuju jalan pulang sambil menikmati roti dan susu yang baru saja dibelinya. Rosa sedikit canggung untuk berjalan beriringan dengan Alan sama seperti yang mereka lakukan dulunya. Itu terasa canggung setelah begitu banyak hal terjadi dalam setahun terakhir ini.


"Hem, btw, thanks udah menaktir, ya?" Aku memulai pembicaraan dengan Kak Alan sambil menunjukkan roti yang sedang ku lahap.


"Iya, bukan masalah besar kok, hanya hal kecil doang." Jawab Kak Alan yang sama seperti biasanya, ia terkesan sangat dingin sekarang. Bukan terkesan, dia memang dingin kepadaku sekarang.


Aku menjadi mati kutu saat Kak Alan menjawab dengan dingin. Aku segera mengalihkan pembicaraan supaya suasana diantara kami tidak terlalu nampak kali klo itu adalah suatu kecanggungan yang sunyi.


"Udara malam ok juga ya, Kak? Pantesan kakak suka jalan-jalan malam kayak gini." Basa-basi ku dengan Kak Alan mencari topik dalam perjalanan pulang kami.


"Iya. Tapi nggak ada yang bagus dari udara malam hari, malahan lebih bagus udara pagi hari. Pada malam hari tumbuhan akan melepaskan karbon dioksidanya, jadi itu nggak baik bagi kesehatan." Jelas Kak Alan.


Klo masalah itu aku pun tau, hanya saja Kak Alan nggak menganggap topik yang ku anggap itu sebagai suatu basa-basi, malahan dianggap serius olehnya, memang seorang dokter.


Kami terus berjalan menyusuri jalan kompleks rumah kami. Tidak ada yang mengajak bicara terlebih dahulu. Hanya ada suara binatang malam yang melantunkan lagu malam, serta langit cerah dengan sinar rembulan berkerlap-kerlipkan bintang. Namun sayang, malam yang indah ini tidak begitu hangat antara aku dan Kak Alan sekarang.


Ternyata aku selama ini memang naif dan egois seperti yang Kak Alan katakan. Bisa-bisanya aku memaksakan jarak diantara kami hanya kami dulu pernah saling memadu kasih dengan berpacaran diam-diam tanpa diketahui oleh keluarga.


Aku memaksakan Kak Alan untuk mengingat setidaknya masa lalu kami, sehingga aku punya harapan untuk bersamanya, sesuai janji yang kami ucapkan dulu.


"Sungguh naif kamu Rosa, padahal dalam dirinya, dalam hatinya sama sekali tidak pernah ada dirimu dalam hari-harinya, apalagi dunianya. Ternyata aku memang egois memaksakan kehendak ku untuk masuk dalam dunianya."


Aku terus memperhatikan sosok Kak Alan yang berjalan di sampingku. Dia terasa begitu sulit untuk dijangkau, walau dia ada di sisinya. "Apakah sudah saatnya aku menyerah? Sama seperti yang Kak Alan katakan padaku?"


Flashback


Aku yang mendengar Kak Alan kecelakaan diluar negeri dan kini dia sudah pulang ke Indonesia lagi, aku begitu senang mendengarnya, karena dia baik-baik saja. Saat pulang sekolah sesudah mengganti baju dengan baju yang diberikan Kak Alan kepadaku dulu, aku segera pergi menjenguk Kak Alan.


Aku sengaja kabur dari si kembar dan menghindari mereka saat pulang, karena aku harus membeli buah tangan untuk menjenguk Kak Alan nantinya. Aku membeli sekeranjang buah juga beberapa coklat favorit kami untuk ku bawakan kepada Kak Alan, dengan harapan Kak Alan akan menyukainya.


Aku dengan langkah membawakan diriku ke depan pintu rumah Kak Alan. Rasa rindu sudah membuncah dalam diriku dan sebentar lagi akan meledak. Namun aku tetap menahan segala tingkah kekanak-kanakan ku demi kebaikan kedepannya.


Jika aku sudah bisa menahannya selama ini, jadi aku pasti bisa melewati beberapa menit lagi, bukan? Begitulah yang kupikirkan. Hubungan yang kami pupuk selama ini, kami rawat dan padukan kasih walaupun itu terhalang oleh jarak, karena Kak Alan yang menyelesaikan study S2-nya di Amerika dan akhirnya hari itu datang.


Aku sampai di rumah si kembar, mereka tidak menyambut ku dengan heboh seperti biasanya, pasti karena mereka nggak tau klo aku akan berkunjung.


Tante Rita, mamanya si kembar membuka pintu kepadaku saat aku mengetok pintunya, aku disambut dengan hangat. Tante juga bilang klo Kak Alan sedang punya tamu dan aku dengan bodohnya menjawab klo itu nggak apa-apa. Aku hanya mau memberikan Kak Alan surprise.

__ADS_1


"Kak alan pasti akan terkejut dengan kedatanganku, kan? Kira-kira akan bagaimana reaksinya itu, ya?"


Namun yang ku dapati, ada seorang wanita bersama Kak Alan dan mereka sedang berpelukan. Sesaat aku memang syok, tapi kemungkinan aku menangkis segala prasangka ku itu, klo itu adalah temannya Kak Alan. Mereka pasti satu kampus, makanya dekat. Dan itu hal biasa yang dilakukan oleh orang diluar sana saat mereka berjumpa.


Aku mengetok pintu Kak Alan, dan mereka langsung melepaskan pelukan mereka karena tamu datang. Aku meletakkan keranjang buah di meja, begitu juga dengan coklat yang ku bawakan. Semuanya ku letakkan di sana dan langsung berlari memeluk Kak Alan.


Aku memeluk Kak Alan dengan perasaan yang sangat senang, akhirnya rinduku selama ini terbayarkan. Tapi hal yang tak ku sangka terjadi, ternyata Kak Alan malah menolak ku dan menjauh darinya.


"Maaf, kamu siapa sih? Main peluk orang segala lagi." Tanya Kak Alan saat aku sudah melepaskan pelukan ku.


"Hah? Siapa? Aku Rosa kak, pacar kakak. Kita bahkan sering chatan, masa itu saja kakak nggak tau sih? Jangan ngaco deh."


"Pacar? Kamu yang jangan ngaco. Saya mana mungkin punya punya pacar seperti kamu. Saya ini orang berpendidikan,saya nggak mungkin memacari anak kecil seperti kamu." Bentak Kak Alan padaku.


Aku masih tetap tidak dapat menerima kenyataan, dan menganggap Kak Alan sedang membuat kejutan kepadaku dengan bermain drama dengan kakak yang di peluknya.


"Ahhhh, aku tau. Kak Alan pasti becanda, kan? Kak Alan pasti bikin kejutan untuk Rosa, kan? Dan itu sukses besar kak, aku sangat terkejut saat kakak sedang memeluk kakak dokter ini." Ucapku tetap menangkis kenyataan.


"Kamu ini apa-apaan sih? Saya sedang buat kejutan untuk kamu? Nggak, kami memang sedang berpelukan. Apa salahnya saya berpelukan dengan calon tunangan saya?"


Aku nggak percaya apa yang Kak Alan ucapkan padaku, aku menolak untuk mempercayainya. Aku mengambil keranjang buah dan juga coklat dalam bentuk buket kecil ku serahkan pada Kak Alan dan segera berbalik berencana pergi, aku berharap Kak Alan akan mengejar ku, biasanya sia pasti akan melakukan itu saat aku sedang ngambek.


"Maaf, coklat mu." Suara dokter perempuan itu yang dikenalkan sebagai calon tunangan Kak Alan.


"Ya?" Aku berbalik kebelakang.


"Your chocolate." Kata kakak itu memperlihatkan buket coklat. "Kamu lupa mengambilnya."


Aku menghampiri kakak itu dan mengambil coklat itu dari tangannya. "Ya? Sorry. Saya nggak lupa mengambilnya kok, saya memang sengaja mau memberikannya kepada Kak Alan."


"Tapi Alan nggak makan coklat, dia nggak suka coklat."


"Kamu tau apa klo Kak Alan nggak suka coklat. Ini coklat favorit kami, dan Kak Alan sangat menyukainya. Kamu itu hanya kenalan Kak Alan, jadi sadar diri dong." Jawabku dengan tegas juga dengan nada sedikit membentak.


"Jaga sikap kamu ya sama calon tunangan saya. Sekali lagi saya bilang pada kamu. Dia ini adalah tunangan saya. Kamu nggak punya hak buat ngebentak Dinda seperti itu." Kak Alan balik membentak ku bahkan memerahi ku.


"Oh, jadi namanya Dinda, ya? Dokter Dinda. Sekali lagi saya tekankan pada Anda, Kak Alan adalah pacar saya..."


"Sudah saya katakan, saya nggak punya pacar anak kecil seperti kamu. Lebih baik kamu pulang dan bawa ini, saya nggak sudi menerima ini semua." Kak Alan mengambil kembali buah dari tangan Dinda, calon tunangannya itu dan memberikannya kembali kepadaku.


Aku menangis saat mendengar kata-kata kejam dari Kak Alan. Kata-kata yang selama ini nggak pernah keluar dari mulutnya, apalagi untukku. "Aku nggak pernah mengambil kembali apa yang sudah ke berikan." Aku langsung berbalik pergi.


"Tapi coklat ini..." Kata Dinda memperhatikan coklat yang ditangannya.


Saat mendengar Kak Alan akan memberikan coklat itu kepada Dinda, buket cintaku padanya akan diberikan kepada orang lain. aku nggak rela, aku berbalik lagi dan menyambar buket ku kembali.


"Aku nggak memberikannya buat perempuan pelakor seperti kamu, dasar munafik." Itulah kata-kata terakhirku dan aku langsung pulang.


Aku menuruni tangga sambil menangis, langkahku buram karena mata penuh dengan deraian air mata. Aku melihat klo si kembar ada di bawah di ruang tamu, aku segera menghapus air mataku, karena aku nggak mau mereka melihat ku menangis dan terjadi drama yang panjang lagi. Aku hanya ingin segera pulang saja.


"Eh baby, kapan kamu disini?" Tanya Aldi bertanya padaku saat aku turun dari tangga dan bertemu mereka di ruang tamu.


"Oh, aku hanya jenguk Kak Alan kok. Kan kalian juga yang bilang klo Kak Alan udah pulang."


"Oh iya iya. Duduk dulu dong."


"Nggak aku mau langsung pulang aja."


"Alah buru-buru amat. Sini kamu duduk dulu sama kami, ya kan Do?"


"Iya." Jawab Aldo pendek yang sedang duduk di sofa menikmati filmnya.


"Ah, aku nggak bisa lama-lama nih, Kak Stev katanya mau pergi jalan-jalan."


"Cih, dia lagi. Selalu saja mendominasi baby." Gumam Aldi mendecih.


Aku hanya bisa tersenyum melihat tingkah Aldi, dia memang berbeda dengan Aldo, meskipun kembar tapi Aldi lebih hiperaktif dan banyak bicara, dia yang paling cerewet akan sesuatu. Sedangkan Aldo adalah kebalikan dari Aldi, dia paling irit kosakata, hanya saja dia tipe yang posesif, bukan lagi protektif. Aldo lebih kedalam taktiknya dalam menunjukkan sikap posesifnya, sedangkan Aldi adalah tipe yang blak-blakan.


"Aku bisa denger loh."


"Ahahaha, sorry sorry baby sayang." Kata Aldi tersenyum cengengesan kepadaku. "oh ya, btw ngomong masalah Kak Alan, dia aneh banget tau." Mulai Aldi dengan modenya. Mode gosip on. "Dia tu pulang-pulang bawa calon tunangan tau, padahal jijik kali aku saat liat penampilannya itu. Apa Kak Alan buta kali ya, habis kecelakaan? Dia nggak bisa lagi membedakan antara wanita dengan j*l*ng. Mana ngaku-ngakunya calon tunangan lagi."


"Itu karena otak Kak Alan sedang korslet, dia lupa ingatan, Di." Ucap Aldo meluruskannya.


"Tapi jangan separah itu juga kali, masa bawa pulang j*l*ng dan bilangnya dia calon kakak ipar kita. Ihhhh, nggak mau banget aku. Ok lah karena dia yang nolongin Kak Alan, tapi jangan kasih kedudukan sebagai kakak ipar kita dong. Masa jadi kakak ipar kita dengan tampangnya itu. Kan kita bisa kasih dia imbalan uang kek gitu sebagai balasan atas pertolongannya pada kakak." Cerocos Aldi panjang lebar.


"Terserah." Jawab Aldo malas.


"Yeee..., kamu ini. Ngaku aja kembaran aku. Tapi nggak satu tim. Gini nih klo kita mau ngomong sesuatu sama kamu."


"Kan kalian emang kembaran?" Luruskan Rosa kepada Aldi membenarkan.

__ADS_1


"Nggak gitu juga loh konsepnya baby. Aihh..., pokonya aku tertekan batin kali, untung kamu datang hari ini baby. Kamu emang the best, angle of to save my life." Aldi memelukku dengan erat.


"Lepasin, Do. Kekanak-kanakan banget sih? Oh ya, aku harus pulang sekarang. Ini buat kalian aja."


Aku memberikan buket coklat kepada Aldi dan langsung lari keluar. Karena jika aku berlama-lama di sana, aku nggak bakalan bisa pulang, tapi aku senang aku, karena aku sudah tau ceritanya. Dan itu berarti aku masih punya kesempatan.


"Aku hanya perlu membangkitkan ingatan Kak Alan kembali, bukan? Baiklah, aku akan berusaha dengan baik, melalui kekuatan cinta. Kak Alan pasti bisa sembuh lagi."


.


.


.


"Rosa, rosa." Kak Alan memanggilku. Aku tersadar klo aku terlalu banyak melamun saat sedang berjalan.


"Ya?" Jawaku melihat kearah Kak Alan, karena dia tiba-tiba saja berhenti.


"Kamu nggak mau pulang? Inj sudah sampai depan pagar rumah kamu, lho." Kata Kak Alan menunjukkan rumahku.


Aku sangat malu, bisa-bisanya aku nggak sadar klo aku sudah sampai didepan pagar rumahku sendiri. Aku memukul kepalaku sendiri, aku bertingkah kekanak-kanakan lagi didepan Kak Alan.


"Ok kak, makasih buat malam ini Kak Alan." Katak


"Ya, sama-sama. Kamu masuk aja sana."


"Emmm, ok. Btw, kakak jangan lupa ya..." Ungkit ku mencoba mengingatkan Kak Alan.. Tapi Kak Alan-nya hanya bisa menelengkan kepalanya karena dia nggak tau apa yang sedang ku dimaksud. "Alaaah, Kak Alan lupa lagi lah tu, padahal udah janji juga. Ini emang udah jadi kebiasaan Kak Alan, ya. Kak Alan..., Kak Alan, kebiasaan buruk itu harus diubah." Ucapku yang sedikit kecewa dan kemudian aku mengangkat jari kelingking ku di depan Kak Alan dan sedikit demi sedikit dia mundur sampai didepan pagar. "Kakak ingat, kan?"


Kak Alan tersenyum dan mengangguk klo dia ingat, dan itu sukses membuat ku terpana. Memang sebuah kejahatan jika orang itu terlalu sempurna, bahkan itu juga nggak bagus untuk kesehatan ku.


"Baguslah klo Kak Alan ingat, jadi aku nggak usah melakukan hal yang tidak kuinginkan. Ok, bye bye Kak Alan. Heart heart on the road." Kataku yang memang sengaja melencengkan kata-katanya dengan mentranslate per kata.


Kak Alan tersenyum mendengar candaan ku itu, dan itu juga membuat ku senang. "Kamu juga heart heart. Calling me jika kamu udah nyampe ke kamar kamu, ya! Juga..., selamat malam untukmu."


"Emmm, Kak Alan juga selamat malam." Jawabku mengangguk apa yang dibilang Kak Alan.


Aku segera masuk kedalam, begitu juga dengan Kak Alan. Dia pasti langsung pulang sesudah melihat ku masuk. Aku kembali melakuka aksiku, aku harus super hati-hati. Karena ini sudah terlalu larut malam, jadi sangat sunyi. Suara apapun itu pasti bakalan terdengar begitu jelas.


Untung aku berhasil masuk dalam kamar dengan selamat tanpa ketahuan. Walaupun aku sudah melakukan antisipasi dengan melepaskan wig ku jaga-jaga ada yang sadar, nanti klo ditanya cukup bilang aku mimili berjalan.


Tapi untungnya aja nggak ketahuan. Kamar juga nggak ada masalah. Karena aku sudah meletakkan guling dan menyelimutinya, kemudian mematikan lampu dan hanya menyalakan lampu tidur.


Aku mengganti pakaian cross dressing ku dengan piyama tidur. Aku menaruhnya kembali kedalam laci, walau besok akan ku cuci sendiri, tapi yang pakaian cross dressing harus tetap ku masukkan kembali dalam laci. Takut besok ketahuan bibi saat akan mengambil pakaian kotor buat dicuci.


Aku nggak bisa berbohong dengan mengatakan itu sebagai pakaian kakak, karena ukuranku jauh lebih kecil dari kakak. Dan jika itu ketahuan, itu akan menjadi masalah yang nggak bakalan kelar urusannya, bikin ribet bin runyam.


Aku merebahkan tubuhku keatas kasur, rasa kantuk langsung menyerangku. Ini pastilah efek klo aku tidak terbiasa buat bergadang, jadi tubuhku akan otomatis tertidur saat sudah berada atas kasur.


...***...


Pagi menyingsing dan mentari menyeruak masuk dalam kamar. Tapi Rosa masih terlelap dalam buaian mimpi indahnya itu. Lalu suara ketukan pintu terdengar dari luar.


Tok... tok... tok...


"Siapa sih pagi-pagi buta udah ketok-ketok pintu kamar. Nggak bisa apa biarkan orang tidur enak?" Rosa mengelatur saat mendengar ketukan pintu.


Rosa masih tidak bangun, walaupun dia sudah terjaga tapi dia ingin melanjutkan tidurnya. Rasa kantuknya nasih menyerangnya dan tubuhnya sangat berat untuk bangun. Risa kembali menarik selimutnya dan menutup wajahnya karena penglihatannya silau dengan sinar matahari yang masuk melalui celah-celah jendela.


Lalu suara ketukan pintu kembali terdengar dan diikuti dengan panggilan namanya.


"Non, bangun non. Ada tamu untuk nona."


Rosa segera bangun membuka pintu dan mendapati klo itu adalah Bibi Salma. Rosa bangun bukan karena tamunya, tapi tubuhnya yang minta bangun walaupun matanya masih mengantuk. Rosa sudah terbiasa bangun awal, jadi tubuhnya nggak bisa disinkronkan dengan matanya karena Rosa baru tidur beberapa jam.


"Ya, bi. Ada apa?" Tanya Rosa membuka pintu dengan penampilan masih dengan baju tidur, rambut acak-acakan juga mata yang sedikit seperti mata panda


"Ada tamu untuk nona, dan kata nyonya harus Non Rosa sendiri yang menyambut dan melayani tamunya. Nyonya nggak bisa menyambut, karena sedang membantu saya memasak."


Rosa menguap dan menutuonua dengan tangannya. Dia masih terlalu ngantuk bahkan dia masih terangguk-ngguk dan hampir kejedot pintu. " Emang papa kemana, bi?"


"Tuan sedang ada tamunya sendiri, makanya nyonya nyuruh Non Rosa buat menyambut tamunya. Dan klo tuan muda sedang ada urusan sendiri." Tegas Bibi Salma dengan lugas yang langsung menjelaskan semuanya karena dia tau klo Rosa akan bertanya tentang kakaknya juga.


"Tiba-tiba semua sedang ada kesibukan sendiri?" Kaget Rosa yang tau klo semua anggota keluarganya phnya agenda pada pagi ini.


"Iya, makanya Non Rosa sendiri yang harus menyambut tamunya." Jawab si bibi yang tersenyum gaje gitu dan hanya dipandang biasa saja oleh Rosa.


"Baiklah, mari kita sambut tamunya." Kata Rosa menyetujui untuk menyambut tamu.


"Iya, non." Jawab bibi senang.


Rosa menutup pintu kamarnya dan segera berjalan menuruni tangga menuju ke bawah. Dan Itu membuat bibi bertanya, "Non, nona mau kemana?" Tanya bibi menyusul rosa menuruni tangga, tapi kalah cepat karena Rosa terlalu cepat.

__ADS_1


"Menyambut tamu lah, bi. Klo bukan itu apa lagi? Bibi ini ada-ada aja deh." Kaya Rosa yang menganggap enteng tentang menyambut tamu yang dikatakan bibi.


Rosa ke ruang tamu dan melihat tamunya, namun Rosa terkejut bukan kepalang. Bagaikan disambar petir disiang bolong, hal yang tanpa Rosa duga-duga. Tamu di pagi hari? Terlebih tamu itu adalah tamu yang nggak mau ditemuinya, malapetakanya datang, di pagi hari.


__ADS_2