
Seperti yang sudah disarankan oleh Steven, Rosa melakukannya dengan baik dan sesuai urutan yang memang seharusnya Rosa lakukan. Mulai dari bangun tidur Rosa langsung menghidupkan kembali handphonenya dan mengisi dayanya kembali.
Baru kemudian Rosa turun ke bawah dan mencari Bibi Salma. Rosa menyuruhnya untuk menyiapkan bekal untuk dibawa ke rumah sakit. Rosa menyuruhnya untuk menyiapkan bekal dalam dua rantang yang berbeda. Satu untuk sarapan romantis papa dan mamanya, walaupun di rumah sakit dan satu lagi untuk dirinya dengan Steven.
Rosa naik ke atas lagi dan merapikan tempat tidurnya baru kemudian mandi dan memakai pakaian yang bagus. Sesudah semuanya selesai Rosa mengambil handphonenya kembali dan turun ke bawah siap berangkat ke rumah sakit.
"Bi, bekalnya udah selesai belum? Klo belum, apa ada yang harus Rosa bantuin?" Tanya Rosa menuju ke dapur di mana Bibi Salma sedang berkutat dengar kesibukannya.
"Udah hampir siap kok, non. Nggak ada yang perlu di bantu lagi." Jawab Bibi Salma tersenyum kepada Rosa.
"Oh, nggak ada ya, bi. Baiklah klo gitu." Rosa membuka kulkas dan mengambil susu coklat yang memang selalu di stoknya untuk keperluan Rosa. Karena Rosa akan sarapan nanti dengan kakaknya, jadi Rosa harus mengisi perutnya dengan meminum susu terlebih dahulu.
Rosa menegak habis susu dalam gelasnya, dan bertepatan pula bekal pun sudah selesai di buatkan.
"Ini non. Udah siap bekalnya. Kirim salam bini ya non sama tuan dan nyonya. Bilang juga moga lekas sembuh. Soalnya si bibi teh nggak bisa datang atuh non."
"Yah, nggak papa juga kali, bi. Kan kerjaan bibi disini bukan sekedar masak nyuci aja disini. Bibi juga membantu kami menjaga rumah kami. Kami pulang dengan kondisi rumah yang bersih dan sarapan makanan lezat di meja makan aja sudah membuat kami begitu berterima kasih sama bibi. Jadi bibi nggak perlu khawatir meskipun bibi nggak datang ke rumah sakit. Lagipula mungkin ntar malam papa juga akan pulang. Jadi bibi bersiap-siap aja, ya." Rosa menghibur bibi supaya dia tidak perlu khawatir dengan baik.
Baru setelah mendengar perkataan Rosa dan senyuman yang ditampilkan Rosa kepadanya, itu membuat kegundahan dan kegelisahan Bi Salma menjadi sedikit berkurang.
Rosa mengambil rantang yang dipegang oleh Bibi Salma dan langsung pergi berpamitan padanya. Bi Salma mengantar Rosa sampai di pintu depan dan melambaikan tangannya kepada Rosa.
"Non, hati-hati di jalan, ya non." Hantar Bibi Salma kepada Rosa.
"Oke, sip. Aman tu bi. Bisa diatur.x Jawab Rosa berbalik melihat Bi Salma dan tersenyum lebar kepadanya.
"Si non mah emang baik pisan orangnya teh, makanya tuan besar, nyonya dan tuan muda begitu menyayanginya. Moga aja keluarga ini akan terus seperti terus." Kata Bibi Salma pada dirinya sendiri dan langsung masuk ke dalam lagi saat Rosa akan hampir sampai di depan pagar.
"Good morning, Kang Udin. Semangat pagi yang membara ya untuk hari ini." Sapa Rosa kepada tugas jaga gerbang rumahnya itu.
"Morning too, Non Rosa. Itu harus dong, demi keamanan dan kesejahteraan bersama. Jadi si akang harus punya semangat 45 dong."
"Hahaha, bisa aja si Kang Udin ini, ya."
"Bukan bisa non. Emang harus. Liat-liat gini si akang, ehhh beh, si akang teh punya tenaga lebih dari anak muda jaman now." Bangga kang Udin sambil memperagakan tangannya yang punya otot yang kuat dan besar.
"Hahaha, iya iya. Umur boleh tua, tapi semangat tetap anak muda ya kang."
__ADS_1
Iya, dong non. Baru hidup sejahtera, aman, bahagia. Tapi non, non mau kemana sih pagi-pagi buta seperti ini?" Tanya Kang Udin yang melihat Rosa sudah fresh dan rapi pagi-pagi.
"Mana ada pagi-pagi buta ini, jang. Udah hampir jam tujuh pagi, lho. Dan juga, Rosa mau ke rumah sakit, bawa bekal." Jawab Rosa sambil menunjukkan rantang yang dibawanya.
"Oh ya, ya. Si tuan besar sedang di rumah sakit. Maaf non, soalnya si akang teh suka kelupaan kadang orangnya. Nitip salam ya non, buat tuan besar ma nyonya. Sekalian juga buat tuan muda."
"Ngokey." Jawab Rosa sambil mengacungkan jempolnya dan berkedip kepada Kang Udin. "Klo gitu, Rosa gas sekarang ya, kang."
"Ok, hati-hati di jalan non."
"Iya kang, aman itunya."
Rosa melambaikan tangannya pada Kang Udin juga sambil tersenyum dan dibalasnya sama Kang Udin. Baru kemudian Rosa membuka gerbangnya sendiri dan menghilang di balik gerbang itu menuju ke rumah sakit.
Rosa berjalan kaki untuk menuju ke jalan raya. Karena rumah Rosa masuk lorong, dan nggak mungkin taksi bisa lewat di jalan yang beginian. Makanya Rosa harus berjalan sekitar beberapa meter untuk mendapatkan taksi.
Sebenarnya bukan hal yang sulit untuk mendapatkan taksi sekarang. Kita bisa dengan mudah mendapatkannya melalui handphone, tinggal pesan grab aja. Hanya saja Rosa menggunakan kesempatan ini untuk sekalian berolahraga pagi, makanya dia berjalan kaki.
Namun hal yang tanpa diduga, sebuah mobil berhenti di samping Rosa saat Rosa sedang asyik menikmati udara paginya itu. Dan ternyata orang dalam mobil adalah Alan.
"Oh, mau ke rumah sakit kak. Buat antar bekal ni."Jawab Rosa sambil menunjukkan rantang yang dibawanya. " Kakak mau kemana juga pagi-pagi gini."
"Mau ke rumah sakit juga, aku kena shift pagi soalnya. Ya udah, kita barengan aja, gimana? Nggak ada yang jemput, kan?" Tawar Alan kepada Rosa.
Rosa merasa nggak enak dengan tawaran Alan. Selain Alan adalah mantan pacarnya tanpa diputusin, Alan juga tunangan orang lain. "Nggak ada sih, kak. Emang boleh Rosa barengan sama kakak? Nggak ada yang marah nanti?"
"Nggak lah, kamu ini ngomong apaan sih? Cepat, buruan masuk. Yang ada bekalnya malah dingin lagi." Imbuh Alan kepada Rosa.
"Oh, ok ok, siap." Rosa berlari kecil dan segera naik ke mobi dan duduk di belakang.
"Ros, kamu ini apaan sih? Masa duduk belakang sih, aku kan bukan kang supir. Emang kamu benar-benar menganggap aku sebagai tukang sopir, huh?" Terdengar suara Alan yang sedikit membentak, namun raut wajahnya sedikit sedih. "Atau emang kamu menganggap aku sebagai wabah yang harus kamu hindari. Tapi aku juga nggak bisa berbuat apa-apa, ini semua salah ku sendiri dan kamu berhak melakukan hal seperti itu." Batin Alan yang melihat Rosa masih aja bengong dibelakang.
"Apa nggak salah dengar ini? Kak Alan marah? Bukankah seharusnya dia senang karena aku dengan senang hati menjauh dari pandangannya dan nggak mengganggu pandangannya. Bukankah di selalu berkoar-koar tentang itu dulunya." Batin Rosa yang masih bingung dengan aikap Alan. Karena akhir-akhir ini, Alan bersikap plin-plan padanya.
Dulu Alan selalu mencoba mendorong Rosa dan menghinanya nggak tau diri karena seperti cewek yang nggak punya malu, nggak punya harga diri. Sampai dia harus mendekati orang yang sudah punya tunangan. Tapi sekarang sikap Alan malah bersikap sebaliknya, Rosa merasakan Alan seolah berusaha menciptakan momen saat-saat mereka tiba-tiba saja berhampiran.
"Ros, kok malah bengong. Sini, duduk depan." Tutur Alan membuyarkan lamunan Rosa.
__ADS_1
"Oh, oh iya kak. Segera." Rosa langsung turun dan duduk di kursi depan disamping Alan. Baru kemudian Alan menjalankan mobilnya menuju ke rumah sakit.
"Apa-apalah Kak Alan ni. Yang penting aku cepat nyampe buat ngantar bekal ini." Pikir Rosa tak mau ambil pusing.
Selama dalam perjalanan, tak ada seorang pun diantara mereka yang memulai pembicaraan terlebih Rosa. Rosa juga nggak merasa risih sama sekali, karena dia sudah mencoba move on sedikit demi sedikit. Dan dia dapat menerima kondisi itu. Rosa asyik melihat kearah keluar jendela, menikmati pemandangan pagi kota Jakarta.
"Itu..., semalam kamu pergi kemana." Tanya Alan pada Rosa. Namun karena Rosa asyik dengan pemandangannya, Rosa kurang mendengar apa yang dibilang oleh Alan.
"Ya? Apa yang kakak bilang barusan?" Rosa kembali bertanya kepada Alan karena kurang jelas suaranya.
"Tidak dengar, ya? Syukurlah." Lega Alan dalam batinnya. Karena Alan sudah menciptakan batas antara Rosa dan dirinya, jadi Alan mengalih pertanyaannya ke yang lain. Karena dia nggak mau terkesan seolah sangat peduli dan mengurusi urusan pribadi Rosa. "Oh, bukan apa-apa. Hanya saja, paman akan pulang malam ini, ya?"
"Iya, kak. Btw, thanks ya karena udah ngerawat papa aku." Senyum Rosa kepada Alan.
Alan yang melihat senyum Rosa, serasa salah tingkah dan langsung fokus menyetir kembali. "Itu bukan apa-apa kok. Udah jadi tugas aku buat ngerawat pasien-pasien aku. Nggak mesti itu paman, meskipun itu orang lain, aku juga akan melakukannya."
"Ya, Rosa tau kok. Tapi, tetap thanks ya."
Alan masih saja nggak jawab, karena dia merasa salah tingkah dengan senyum Rosa. Itu terasa dejavu dan teringat akan kenangan mereka di masa lalu.
"Yah, klo kamu emang merasa sangat berterima kasih padaku, bagaimana klo kita makan malam bersama malam ini?"
"Makan malam?" Tapi, itu..."
"Nggak apa, lagian kita juga nggak akan melakukannya lagi klo kamu udah nikah nanti. Kan sudah ada suami kamu sendiri. Tapi klo kamu nggak mau, keberatan juga nggak apa, kok."
Rosa nampak berpikir sebentar, dan mengingat perkataan Alan yang mengatakan terakhir, karena Rosa akan menikah nantinya. "Ya udah, coba Rosa pikir-pikir dulu ya, setelah papa pulang nanti, ya." Putus Rosa akhirnya untuk mencoba meluangkan waktu dan meminta izin pada kakaknya yang siscon itu.
"Ok, nanti klo jadi telepon aja, ya. Jangan lupa, jangan sampe kayak kemaren." Ingetin Alan lagi akan telepon yang membuat Alan sampai harus berjaga dan menunggu telepon dari Rosa.
"Iya, kak. Ah, udah nyampe. Makasih ya kak buat tumpangannya. Bye, semangat kerjanya, ya." Kata Rosa yang langsung turun dan memberi semangat kepada Alan sebelum dia berlari dan hilang masuk ke dalam rumah sakit.
Alan hendak memanggi Rosa, namun dia mengurung niatnya itu. Karena dia nggak ada alasan untuk melakukannya. Alan duduk merenung, menghela nafas berat, dan menidurkan kepalanya di atas setir. Dan melihat gantung mobil yang diberikan Rosa dulu padanya saat mereka masih begitu dekat.
"Rosa, bagaimana klo aku bilang, sekarang aku mengingat semuanya, semua masa lalu kita. Apakah aku masih punya kesempatan? Apakah aku masih ada harapan untuk tetap berdiri teguh di sampingmu? Masihkah aku dapat memperbaiki semuanya? Atau akankah kamu meninggalkan tunangan yang akan kamu nikahi itu dan kembali padaku? Seperti dulu lagi."
Alan terus bertanya sambil melihat gantungan itu, gantungan yang mereka pilih bersama saat dulu pergi ke pameran. Alan begitu frustasi, karena dia terlambat untuk ingat segalanya. Dan penyesalan terbesarnya adalah meskipun dia tidak ingat, tapi dia terlalu kasar pada Rosa, terlalu menyakitinya dengan segala perkataan dan penuturannya yang dikeluarkan untuk Rosa.
__ADS_1