
Alan nggak bisa menjawab apa-apa mendengar kata-kata yang tertohok dari Rosa. Fakta seseorang akan berubah seiring berjalannya sang waktu memang benar. Dan kenyataan itu sama sekali tak bisa dipungkiri.
Keadaan diantara dua orang itu jadi diam membisu. Yang terdengar hanyalah mur-mur suara orang-orang disekitar mereka. Risa menatap Alan seakan bertanya kenapa Alan bertanya kenapa Rosa berubah? Bahkan dirinya saja berubah? Apakah perubahan itu nggak berlaku padanya?
Alan hanya berani menatap mata Rosa, tapi dia tidak berani untuk menyanggah soal perubahan. Klo dirinya saja berubah. Lalu apa yang dia harapkan dari Rosa? Seseorang itu harus berubah, harus berevolusi.
"Mata itu..., itu adalah mata yang mempertanyakan. Ya, kenapa dia nggak boleh berubah klo aku saja berubah." Batin Alan menyimpulkan kata-kata menurut sirat kilat cahaya mata Rosa.
"Kak, kenapa kau mengungkit kata berubah klo kamu saja nggak sanggup menjawab tentang perubahan itu. Kak, aku sudah mencoba melepaskan mu. Sekarang aku ikhlas, dan soal perubahan aku nggak menyesalinya. Karena mungkin ini adalah jalan yang terbaik." Batin Rosa lagi yang menatap Alan dengan kilat mata yang tak goyah.
Tak seperti dulu, tiap kali Rosa melihat Alan, maka batinnya itu akan terguncang goyah. Apalagi saat dia menyaksikan Alan dengan wanita lain saat dirinya itu masih berhubungan dengan Alan.
Meskipun alasan Alan lupa ingatan, mungkin Rosa bisa menipu dirinya sendiri dengan berbagai alasan. Tapi siapa sih yang sanggup melihat orang yang sedang memiliki hubungan dengan kita itu justru kelihatan nyaman dengan wanita lain. Insan perempuan manapun pasti akan meraung marah. Kenapa kita yang merupakan orang terdekatnya tapi tidak boleh untuk mendekat?
Rosa dan Alan saling menatap satu sama lain. Orang-orang manapun yang melihat mereka pasti akan mengira klo mereka itu sangatlah intens satu sama lain. Pandangan yang sensual penuh emosional. Bukankah itu pandangan orang yang jatuh cinta?
Namun tidak. Malam ini Rosa nggak mau jatuh cinta lagi. Cintanya kini bukan cinta monyet lagi. Rosa datang untuk memutuskan segala hubungan lama dan mengawali sesuatu yang awal.
Si pelayan tadi datang lagi membawa pesanan Alan dan Rosa. Namun dia malah memergoki Alan dan Rosa saling bertatapan satu sama lain tanpa berkedip. Dia hanya berpikir klo itu adalah cinta. Padahal hagi pada dua insan ini mempunyai monolog yang berbeda.
"Ehem, maaf mengganggu pandangan romantis Anda berdua. Tapi saya datang membawa pesanan Anda." Kata pelayan ini meletakkan makanan pesanan Rosa dan Alan.
Alan dan Rosa mendapatkan teguran itu langsung membuang pandangan dari satu sama lain dan menjadi salah tingkah. Rosa bersikap profesional, karena dia tidak sedang dalam membawa perasaan. Jadi dia segera fokus pada yang didepannya.
"Ok, thank you." Kata Rosa membuka suaranya pada si pelayan.
"You are welcome, miss. Silakan menikmati makanannya. Atau..., haruskah saya juga menemani Anda sekalian disini? Maksud saya siapa Anda butuh pelayanan lain. Misalnya seperti haruskah saya memotong ini untuk Anda?" Tanya si pelayan menawarkan jasanya.
__ADS_1
"Oh no, thanks. Saya sangat menghargai niat baik Anda. But, l can do it with my self. Anda silakan menyibukkan diri Anda lagi. Meskipun kami adalah tamu VIP dari restoran kalian inj, tapi Anda nggak perlu merepotkan diri Anda lagi disini. Lagipula ini adalah dinner saya dengan partner saya. Ada yang mau kami omongin satu sama lain. Dan saya pikir materi omongan kami ini tidak akan sesuai untuk Anda yang mungkin masih singgle ataupun jomblo. Saya takut jiwa Anda itu akan meraung meronta. Bukankah begitu Kak Alan?" Tanya Rosa mengedipkan mata pada Alan, lalu tersenyum ramah ke arah pelayan laki-laki itu.
"Baiklah klo seperti itu. Saya nggak akan mengganggu lagi, takut jiwa saya yang jomblo ini akan meronta minta keluar." Kata si pelayan itu dengan segera mendorong pergi troll makanannya.
"Wanitanya bos, emang beda, ya? Tipe yang mendominasi dan menggoda. Tak menyangka klo hari ini ternyata datang juga. Meskipun bos bisa berenang dan tak akan tenggelam begitu saja dengan mudah. Tapi sayang, dia sekarang malah tenggelam dalam senyuman gadis semenarik itu. Benar-benar membuatku semakin mengidolakan kakak cantik itu. Ternyata ada kalanya klo tuan muda harus bertekuk lutut, merendahkan suaranya bahkan membungkukkan badannya." Batin si pelayan itu yang ternyata itu adalah orang suruhan Erik yang di suruh oleh Oryza.
Rosa memperhatikan pelayan itu yang kian menjauh dari mereka. Entah mengapa Rosa merasa klo pelayan itu sedikit aneh pada mereka. Mana mungkin ada menu penutup buat mereka? Bukan buat mereka, tapi itu khusus hanya untuk Alan dan Rosa. Padahal klo itu emang sampel gratis dan mau menilai kelayakannya atau tidak, kan bisa orang lain juga.
Begitulah yang Rosa pikirkan. Namun Rosa nggak mau ambil pusing, Rosa hanya ingin fokus yang lagi di depan sekarang dan sebentar lagi akan menjadi puncak dari makan malam ini. Yaitu tujuan Rosa untuk makan malam ini dengan Alan.
"Hemm, ok kak. Karena pengganggu juga udah pergi. Jadi sekarang waktu hanya untuk kita berdua." Kata Rosa yang membuat Alan makin salah paham akan maksud Rosa.
Alan hendak memakan makanan yang sudah tersajikan di depannya. Dan katanya lagi, ini adalah makanan terpopuler, menu utama dari restoran hotel De. Dream Roza, juga yang katanya kualitas-kualitasnya premium semua.
Tapi baru saja Alan hendak mengambil garpunya, tapi Rosa keburu menghentikan Alan. "Ehhhhh, tunggu dulu kak. Kita foto dulu." Kata Rosa yang langsung membuka handphonenya dan berselfie dengan Alan, dan tentunya nggak cukup selembar.
Foto mengambil foto nggak cukup selembar. Itu haruslah mencakup semua segi. Dan yang pasti paling utama dan diutamakan Alan dan dirinya harus nampak di selfie tersebut.
"Kamu lagi ngapain? Kok nggak dimakan makanannya?"
"Ahhh, bentar kak. Rosa kirim foto kita dulu ke Kak Stev. Biar dia Kak Stev cemburu dia. Pasti bakalan berkoar-koar ini dia." Kata Rosa sambil tertawa ringan melihat ponselnya. Ternyata dia langsung mendapatkan balasan dari kakaknya dan group keluarga menjadi ribut gara-gara foto itu.
"Kenapa kamu malah tersenyam-senyum sendiri gitu? Apa yang membahagiakan sangat itu. Kasih tau lah. Kan klo kabar baik itu kan harus dibagi-bagi dia." Tanya Alan yang menurutnya tawa Rosa itu lebih menarik ketimbang makanan lezat yang jarang orang lain makan yang ada didepannya.
"Nggak ada apa-apa kok kak. Hanya geli aja melihat respon Kak Stev saat Rosa kirim foto kita barusan. Ternyata kakak dari tadi menunggu-nunggu kapan Rosa kirim fotonya sama dia." Jawab Rosa meletakkan handphonenya dan langsung mengambil garpu untuk menikmati makanannya.
"Ohhhh, gitu, ya? Boleh nggak kamu kirim foto kita barusan ke aku?"
__ADS_1
"Kak Alan? Emang kakak mau ngapain dengan foto itu. Kayak bukan kakak saja. Biasanya kakak nggak suka klo aku kirim foto ke kakak? Kenapa malam ini jadi beda?" Tanya Rosa yang hanya sekedar lalu aja baginya. Dan dia tetap fokus pada makanannya. Tapi itu berbeda dengan Alan yang memikirkannya dengan sangat serius.
Alan terdiam saat mendengar reaksi seperti itu, dan dia berhenti memasukkan daging steak kualitas premium itu ke dalam mulutnya.
"Dia berpikir seperti itu, ya? Tapi aku juga nggak bisa mencegah dia berpikir seperti itu. Itu sangatlah wajar klo dia berkata seperti itu. Tapi nggak apa, sebentar lagi dia akan paham. Dia pasti akan memahaminya." Batin Alan yang tetap positive thinking dan melanjutkan makannya kembali.
"Heeemmm, enak juga ya makanan ini. Klo gini standarnya sih emang layak jadi menu utama di restoran mewah kayak gini. Tapi sayangnya ini nggak ramah banget. Nggak bikin kenyang." Kata Rosa yang terus-menerus memasukkan makanan kedalam mulutnya. Lalu meminum minumannya. "Cocktailnya juga sangat enak. Rasa jeruk, emang rasa favorit aku. Tapi akan lebih baik klo ada rasa coklat." Lanjut Rosa lagi berkomentar seakan dia adalah youtuber mukbang gitu.
"Kamu sangat suka makanannya, ya? Klo gitu bagian aku untuk kamu aja." Kata Alan mendorong piringnya untuk Rosa.
"What?? Makanan dalam piring Kak Alan dikasih untuk aku? Nggak, nggak. Aku nggak mau dia marah dan meledak di depan umum gini karena aku ngerebut makanannya dan makan satu piring dengannya." Batin Rosa waspada. "Ahahaha, nggak apa kok kak. Rosa udah kenyang, sangat kenyang." Jawab Rosa cengengesan sambil mendorong piring Kak Alan kembali kepadanya.
"Kamu seriusan? Kakak udah kenyang juga lho? Lebih baik kamu makan aja, udah aku potong-potong juga. Kamu tinggal makan aja." Kata Alan mendorong piringnya lagi ke Rosa.
"Ahhh, Rosa beneran kok, Rosa udah kenyang. Lebih baik kakak makan sendiri aja. Lagian jarang bisa menikmati makanan disini." Jawab Rosa mendorong kembali piringnya pada Alan.
Namun saat permainan dorong-dorong piring terjadi, Rosa berpikir itu tidaklah elegant dan mendirikan orang dewasa. Jadi dia dengan segera mengubah caranya dan langsung menyambar cocktailnya dan menyeruputnya, dan menggoyang-goyangkan gelasnya.
"Benar-benar sangat enak." Kata Rosa menikmati cocktailnya.
"Iya, enak. Namun akan lebih enaknya lagi klo ini benar-benar coklat." Jawab Rosa dengan mata berbinar yang membayangkan klo itu adalah coklat.
"Sesuka itu ya kamu sama coklat."
"Of course. Bukankah kakak juga tau itu dengan baik. Dan kakak juga suka dengan coklat, kan? Hingga sampai-sampai akh membawa buah tangan saat menjenguk kakak karena kecelakaan dua tahun lalu juga membawa coklat. Karena ku pikir selera kita sama. Namun siapa yang menyangka klo kakak begitu benci sama coklat. Hingga kakak mau membuangnya, untung ada Kak Dinda yang juga suka sama coklat." Jawab Rosa memperhatikan gelas cocktail yang di goyangkannya.
Alan nggak bisa menjawab apa-apa. Karena kejadian itu memang pernah terjadi. Dan disitu pula, awal dari sana pula Alan membenci Rosa, mengatai Rosa bahkan menghina Rosa. Namun sekarang dia menyesal karena pernah melakukan itu semua.
__ADS_1
Suasana menjadi canggung kembali, tidak ada yang mengawali pembicaraan lagi. Namun suasana itu berhasil tercairkan kembali dengan dikejutkan oleh sebuah suara.
"Aku mendengar klo seseorang sangat menyukai coklat. Klo begitu, kebetulan sekali yang saya bawa sekarang juga coklat. Gimana, apakah Anda tertarik dengan ini?" Tutur suara basa yang asing itu memecahkan keheningan.