Dia Bahagiaku Dia Lukaku

Dia Bahagiaku Dia Lukaku
Chapter 60 : Berita yang Dimuatkan di Halaman Utama


__ADS_3

Reyhandra POV


Aku segera berlari keluar untuk mencari Rosa. Tidak, aku bukan mencarinya atau apapun itu, melainkan aku menyerbu keluar untuk mengejarnya. Dan tentunya dengan drama yang sama dengan serial-serial gitu, dimana ada kamu disitu ada aku, bukankah itu yang dinamakan dengan takdir? Ya, aku punya kesempatan untuk mengucapkan kata-kata itu padanya.


Meskipun tadi sangat memalukan, karena hampir saja aku keluar tanpa membayar terlebih dahulu. Meskipun itu bukan masalah besar, karena masih ada Angel di bagian terakhir, dan tentu saja aku bisa melimpahkannya padanya. Siapa suruh dia yang terakhir?


Namun aku tidak melakukannya, karena itu akan semakin sulit untuk menghiburnya. Dan makan malam ini saja sudah cukup memuakkan bagiku, apalagi klo harus membujuknya lagi. Aku sudah nggak sanggup lagi dah. Dan sekarang, misi yang super duper important, yaitu mencari Rosa.


"Sebenarnya kemana sih itu cewek perginya? Cepat sekali jalannya, padahal aku Cuma bentaran doang di cegat oleh pelayan dan kasir di sana." Batinku menggerutu sendiri. "Dia mesti belum jauh dari sini, kan? Ya, aku harus mencarinya dulu. Tapi…, mobilnya…. Ah… tinggalin aja itu mobil, dan cukup bilang pada Hans klo aku sudah pulang duluan, kan? And the problem will the end. Yah, mari cari kunci kita dulu." Putus ku dan langsung berlari mencari Rosa.


Aku segera berlari kemana jalan pulang arah rumah Rosa, tapi dia juga nggak ada jalan yang ini. Aku penasaran sebenarnya kemana saja itu bocah bawah umur keluyuran, apalagi malam-malam seperti ini? Tanpa cross dressing lagi. Aku Kembali berlari mencari kemana arah yang memungkinkan di sana ada Rosa.


Aku sudah kehabisan nafas dengan berlari terus, namun seorang Rosa masih belum juga ku dapati batang hidungnya juga.


"Apa dia sudah naik taksi duluan, ya? Tapi nggak mungkin juga dia mendapati taksi ditengah malam seperti dengan secepat itu. Jik di hitung dari jarak aku membayar di kasir dan selang waktu rosa pergi itu tak lebih dari 3 menit, bahkan itu kurang dari itu. Sebenarnya dia itu apa sih? Rabbit? Cepat sekali dia jalannya. Bukankah klo cewek itu biasanya jalannya itu like the turtle, mereka itu sangat mementingkan keeleganan mereka, dan juga menebar pesona mereka."


Rutuk ku pada diriku sendiri sambal terus membuang pandangan dan menyapu habis jalanan, siapa tau aku mendapati Rosa. Akan lebih bagus lagi dia sedang diganggu oleh sekawanan serigala lapar malam, dan dengan begitu aku akan mendapat kesempatan dengan menjadi seorang hero.


"Sama seperti skenario yang sudah ku atur untuk Alan dan Dinda." Batin ku dan kemudian melanjutkan pencarian ku Kembali. "Dia tak mungkin sudah jauh dari sini, kan? Aku merasa klo dia masih ada disekitaran sini, feeling ku nggak pernah melenceng klo masalah seperti ini, apalagi klo masalah Rosa."


Tapi aku sudah terlanjur capek, bahkan tak ayal orang disekitar sini mengganggap aku seperti orang gila, karena dari tadi aku terus berlari dan keliling seperti ini, seperti orang kehilangan arah dan tujuan saja. Aku nggak mau mengatakan aku seperti orang gila, karena itu terdengar kejam bagi diriku yang masih sangat wajar ini. Dan juga bukan aku bermaksud narsis, itu juga terdengar kejam bagiku yang tampan ini untuk dikatakan sebagai orang gila.


Tapi mau gimana pun aku mencoba menyangkal, tapi yang jelas orang disekitar sini mengganggap aku sebagai orang gila yang nggak tau kenapa, yang ada hanya terus bolak-balik dari tadi, dan itu juga sambal berlari seperti orang kagak jelas. Ya, seperti itulah pemikiran orang-orang padaku untuk sekarang ini.


Meskipun mereka tidak mengatainya secara langsung, namun pandangan mereka itu menyiratkan seperti itu. Aku bukanlah orang bodoh yang nggak bisa membaca mimik wajah orang. Bukan wajah, bahkan dari mata saja aku sudah paham akan pandangan mereka yang memandang kearah ku. Aneh. Gila, nggak jelas, orang rumah sakit jiwa, kasihan, iba dan berbagai emosi lainnya, dan yang paling jelas itu pandangan menghina yang memandang rendah dan mengejek.


“Ahhhhh…, pandangan itu ya? Aku sudah biasa mendapatkannya dulu, jadi tak akan ada pengaruhnya lagi sekarang, terserah kalian menganggap aku apa dan orang seperti apa. Karena aku pernah merasakan pandangan yang lebih dari itu, dan kalian pasti nggak akan memikirkannya bukan? Klo aku mendapatkan pandangan seperti itu dari ibu kandungku sendiri. Bukan hanya sekedar pandangan yang menghina atau mengejek biasa, melainkan pandangan dan juga tatapan membunuh, jijik dan juga menyesal karena pernah melahirkan mu. Kalian pasti tidak pernah mengalami hal yang demikian, makanya punya minat melihat orang seperti itu.” Batinku mereka ulang berbagai emosi yang mereka layangkan padaku.


Itu membuatku nostalgia akan perasaan pada 12 tahun yang lalu, hingga akhirnya berbagai hujan badai yang menerjang diriku berhasil ku lalui, hingga lalu terbitlah dan bangkitlah diriku yang sekarang, pribadi yang penuh hasrat dan obsesif, obsesi yang tak bisa dihentikan, yaitu balas dendam pada orang yang telah membuatku menderita, akan ku buat mereka sama persis seperti diriku atau lebih parah dariku. Karena hidup di dunia ini hanya berlaku hukum rimba, bukan hukum manusia, meskipun aku hidup di dunia manusia.


Hukum manusia hanya akan membuatku menunggu dan terus menunggu, tanpa bisa mengadili dan juga mendapatkan keadilan. Karena aku membutuhkan bukti yang kuat, dan bukti itu tak pernah bisa ku dapatkan. Ku akui akal naluri ku bisa menerima klo ayahku meninggal karena kecelakaan yang terjadi 12 tahun silam, kecelakaan yang direka sedemikian rupa hingga dia seakan bunuh diri, tidak bukan bunuh diri, dicegat dan dibuat menerjang turun ke lereng yang curam dengan mobilnya dan menjumpai ajalnya di sana.


Ya, itu adalah opsi dan juga kenyataan yang didapatkan dari TKP, namun hati ini nggak bisa menerima. Hati ini sudah terlanjur terluka melihat orang disekitar diri ini terus terluka bahkan tak sanggup menerima kenyataan dan melimpahkannya pada ku dan juga adikku, itulah ibuku Irish. Yang melampiaskan kepergian suaminya dengan menyiksa anaknya sendiri, tak terkecuali bahkan yang kecil, yang hanya berumur 3 tahun, anak yang seharusnya mendapatkan dan dikenalkan dengan begitu banyak limpahan kasih dan sayang seperti anak pada usinya.


Ya, karena itu pula aku nggak suka menunggu hal yang tidak pasti. Sangat tidak elit dan juga itu membuang waktu ku. Waktu yang ku anggap bagaikan emas berlian yang mustahil untuk ku buang sia-sia, jadi lebih baik aku sendiri yang turun tangan, buat itu seolah-olah hanyalah sebuah kecelakaan atau sebuah tragedi, ataupun bisa itu adalah kesalahan dan juga kekhilafan.


Padahal yang sesungguhnya itu adalah balas dendam ku pada mereka, dengan cara berbaur terlebih dahulu dengan mereka, membuat diri ku seolah-olah bagian dari mereka, bisa dikatakan itu adalah musuh dalam selimut. Bagi diriku yang pernah melalui masa remaja yang suram dengan berbagai tragedi kekerasan dan kekejaman yang ku dapatkan dan alami, itu semua, balas dendam itu hanyalah hukum rimba yang ku berlakukan. Mata untuk mata, darah untuk darah, dan nyawa untuk nyawa. Juga penderitaan yang tiada tara yang hanya menunggumu untuk ke depannya.

__ADS_1


Itulah hukum yang akan ku berlakukan pada mereka yang menjadi musuhku dan juga sainganku atau orang-orang yang berani macam-macam dengan diriku. Tak peduli dia adalah pejabat, presiden, ayahnya adalah orang terkaya di dunia, punya banyak mobil mewah, bodyguard level kakap kelas dunia, aku nggak peduli itu. Sekali musuh tetaplah musuh, dan sekali lawan tetaplah lawan. Tidak akan ada orang yang bisa mencairkan es ini dalam menjaga prinsip dan kode etisnya itu.


“S*it! Reyhandra Reyhandra, jangan asyik ngelamun doang kamu ini. Nggak ada gunanya juga kamu mengulang masa lalu itu dalam benak pikirannya. Sebaiknya kamu hanya perlu fokus pada masa sekarang dan juga masa depan. Karena mau gimana pun kamu berusaha masa lalu itu tak akan pernah bisa diulang atau kamu menyesal dan ingin memperbaikinya. Itu tidak akan pernah terjadi, hari itu nggak bakalan dating, sekalipun kamu menunggunya sampai akhir hayat mu, masa lalu hanya bisa dikenang dan untuk pedoman perbaikan pada masa depan. Ya, kamu hanya perlu fokus saja untuk saat ini Reyhandra.” Batin ku yang terus bermonolog dalam pikiran ku sendiri, mencoba menyadarkan diri ini.


Namun aku tetap tak bisa karena masa lalu itu sudah melekat di dopamin ku dan tertanam jauh bahkan sampai terbawa ke dalam mimpi yang membuatku lebih senang menghabiskan waktu ku dengan bekerja ketimbang tidur dan beristirahat yang hanya membuatku kembali memimpikan masa lalu yang suram itu.


Aku tersadar saat getaran handphone dalam saku ku bergetar seolah memanggilku. Aku merongoh saku ku dan melihat ID di handphone ku. Nama yang muncul adalah Hans, sekretaris ku yang sepertinya sudah menyadari kehilangan diriku.


“Halo tuan, Anda ada dimana sekarang? Saya barusan mengecek meja yang di lantai dua, tapi Anda sudah tidak di tempat. Dan saya juga memperhatikan klo Nona Angel juga keluar seorang diri tanpa Anda. Dan Ketika saya bertanya pada kasir, mereka bilang Anda sudah pergi 10 menit yang lalu, dan anda kelihatan sangat terburu-buru, bahkan Anda melupakan untuk membayar bilnya, tuan.” Kata Hans dibalik handphone ku.


Aku menghela nafas capek saat mendengar laporan Hans yang super mendetail itu, bahkan bagian aku lupa membayar bilnya dia juga ikut serta melaporkannya, yang membuatku Kembali tak bisa melupakan kejadian yang memalukan itu. Apa kata dunia, jika mereka tau seorang Reyhandra Kedrey langsung lari menyerbu keluar sesudah makan di restoran VIP di sebuah hotel mewah di kotanya.


Reyhandra yang terkenal dengan citra CEO-nya yang berdemage dan juga suami impian para wanita di kotanya itu, berlari keluar karena tak sanggup membayar tagihan. Mana Reyhandra ini yang merupakan pemimpin dari Kedrey Group itu juga membawakan seorang wanita bersamanya, dan meninggalkan Wanita seorang diri untuk membayar tagihannya.


“S*it! Memikirkannya saja sudah tidak lucu, apalagi klo dimuatkan di koran halaman terdepan lagi dan menjadi issue terpanas hingga satu minggu kedepannya. Tidak, no, dame. Itu nggak mungkin terjadi. Lagipula aku sudah membayarnya, jadi itu aman.” Monolong diriku menangkis kenyataan, meskipun sebenarnya harga diriku ini tetap terluka, dan seolah terjatuh yang emang sengaja aku jatuhkan dengan tanganku sendiri.


Bukankah ini kesempatan orang-orang untuk membicarakan diriku. “Ya, aku harus membuat Hans menyelesaikan masalah ini untukku, pastikan nggak ada berita yang keluar besok, apalagi pas pernikahan ku lusa. Itu sama sekali tidak lucu jika benar-benar terjadi, kan?”


“Tuan, dimana anda? Apakah anda masih diseberang sana, tuan? Tuan? Hello? Tuan, anda baik-baik saja? Dimana anda sekarang klo saya boleh tau tuan!!” Hans Kembali berbicara kepada ku karena aku sama sekali tidak memberinya respon.


Aku membuyarkan lamunanku dan menjawab Hans kemudiannya. “Ya, aku masih disini, and like you listen and know, l’m well, very good and very good well. Ok well, Hans, pastikan untuk besok nggak ada berita terpampang di halaman pertama besok.” Aku memerintahkan Hans, yang ku yakin Hans juga pasti mengerti bagian mana sebenarnya yang ku maksudkan.


“Kamu yakin itu akan berhasil? Kamu kan bukan kakek mereka, apalagi ayah mereka? Emang bisa ampuh dengan hanya mengatakan seperti saja? Lakukan lagi! Itu sama sekali tidak meyakinkan! Itu adlah sesuatu yang tidak pasti! Hans, kau sudah bekerja denganku bukan setahun dua tahun lagi, kau pasti tau kan gimana prinsip kerjaku? Aku tidak suka sesuatu yang tidak pasti, itu sama sekali tidak lucu Hans. Dan dalam bisnis itu sama sekali tidak berlaku dan juga tidak bermutu.”


“Lalu tuan ingin yang seperti apa? Biar saya bereskan.” Jawab Hans yang tetap tenang menghadapi ku.


“Kau tau Hans? Nggak ada yang namanya makan siang gratis. Begitu juga soal tutup mulut, hanya orang matilah yang bisa menjaga mulut mereka, kau tau itu, kan? Ku rasa aku nggak perlu memperjelaskan lagi padamu soal itu. Kau pasti paham mestinya.”


“Ya, saya paham itu dengan sangat baik tuan. Tapi negara kita ini bukankah negara adidaya tuan, melainkan negara yang menjunjung tinggi hukum dan juga hak asasi manusia, kita nggak bisa sembarangan merengut nyawa orang tua, negara tidak membenarkannya tuan.” Merepet Hans sebagai seorang yang taat hukum.


“Terserah, aku nggak mau tau. Pokoknya, only one and just only one, yang perlu aku tau, besok nggak ada berita tentang diriku di halaman pertama. Baik itu majalah, koran, komik, manga atau apapun itu, aku nggak mau tau, selesaikan itu sebaik dan sebersih mungkin.” Perintah ku pada Hans sambal memijit pelipis ku.


Aku tau salah klo aku langsung main sebet orang seperti itu, dan itu melanggar hukum. Tapi itu merupakan jalan aman supaya kejadian malam ini nggak terdengar keluar, karena mulut manusia itu bersambung dan juga manusia juga punya kaki, jadi secara otomatis mulut juga punya kaki. Apalagi klo bertemu dengan orang yang hobinya itu suka roasting.


“Tuan tenang saja mengenai hal itu, saya bisa menjaminnya. Karena saya memintanya secara baik-baik, jadi mereka juga meresponnya secara baik-baik juga. Dan mengenai pengunjung di sana, mereka semua kurang jelas dengan alurnya, apalagi disana bukan orang Indonesia semuanya, jadi tuan bisa tenang saja mengenai hal itu. Lalu tuan, nggak mungkin juga berita tentang Anda yang lupa membayar bil itu terpampang di halaman utama komik ataupun manga, tuan.” Jelas Hans melunak tapi juga tetap professional.


“Ok, terserah apapun itu, mau apapun yang kamu lakukan, aku nggak peduli, dan nggak mau ambil pusing sama sekali tentang itu. Karena yang ku pedulikan adalah hanya hasilnya. Dan soal prosesnya aku nggak mau tau, dan jika besok hal itu terjadi, bukankah aku hanya perlu memanggilmu menghadap padaku? Ok, itu saja. Good job Hans, pertahankan terus kinerja mu itu. Dan untuk progressnya, ku akui kau memenuhi ekspektasi ku Hans.” Kataku yang berencana menutup sambungan teleponku dengan Hans.

__ADS_1


“Tunggu dulu tuan! Anda dimana sekarang dan sedang dengan siapa?” tanya Hans gercep sebelum sempat aku menutup sambungannya.


“Ahhh ya, aku lupa. Aku sedan gada di trotoar pinggir jalan dan sedang tersesat karena mencari kunci. Ok, sudah tau, kan? Aku tutup sekarang.”


“Tunggu dulu, tuan. Kunci apaan emangnya? Kok tuan bisa-bisanya menghilangkan kunci sebesar itu sih?” tanya Hans yang sama paniknya denganku. Walaupun aku tak sepanik Hans sih pada kenyataannya.


“Yaahh, begitulah. Mau gimana lagi, kan? Soalnya aku nggak menaruh gantungan anjing di lehernya, yang bisa ku Tarik kemana saja. Tapi kamu tenang aja, bentara lagi juga pasti punya kok.” Jawabku tersenyum smirk.


Karena memikirkan saja bagaimana aku mengikat Rosa di sampingku dan menyiksa batinnya untuk membalaskan dendam ku itu terasa begitu indah dalam dopamin ku.


“Tuan! Tuan ini ngomong apaan sih? Mana mungkin kan kunci rumah punya gantungan anjing yang bisa ditarik kemana-mana. Kunci rumah kan nggak butuh yang kayak begituan, tuan.”sela Hans, yang pada akhirnya aku tau klo pembicaraan antara aku dan dia barusan ternyata tidaklah sinkron, dia mikirin apa dan aku pikirin apa.


Sama sekali tidak nyambung dan mustahil itu bisa terhubung, toh kami sama-sama gagal paham akan maksud satu sama lain.


“Kunci rumah apaan sih kamu!? Yang kumaksud itu adalah Rosa. ROSALYN SAPUTRI VOGART. Kau melihatnya kan tadi, jadi aku sedang mengejarnya. Kunci balas dendamku pada keluarga Vogart, bukan kunci rumah. Dasar kamu ini. Capek juga ngomong ternyata kamu malah nggak paham. Hans, ku Tarik Kembali kata-kataku, progressmu dengan ku masih 90 persen, kamu perlu belajar psikologi untuk memahami maksud ku.”


“Maaf tuan, saya nggak tau klo yang anda maksud itu adalah Nona Rosa tunangan anda itu. Tapi kenapa tuan bisa sampai di pinggir jalan, dan sepertinya nafas anda juga berat. Apakah anda sedang…”


“Ya, aku sedang mencarinya, dan sialnya aku kehilangan jejaknya, dan mustahil juga dia sudah naik taksi dan pulang. Dia pasti belum jauh dari sini. S*it, harus kemana lagi aku mencarinya? Diantara ribuan manusia yang berlalu lalang disini.”


“Tuan, Anda terlalu berlebihan dalam mendeskripsikannya. Tapi tuan, mengingat karakter dan kepribadiannya Nona Rosa, apakah Anda sudah mencarinya diantara para penjual makanan kaki lima. Sepeti jajanan gitu. Coba tuan cari di sana, siapa tau Nona Rosa benar-benar ada di sana.”


“Oh iya, ya. Kenapa aku bisa nggak kepikiran ke sana. Mengingat otaknya yang hanya tau makan saja, bahkan sampai malam-malam pun punya nafsu makan seperti beruang, dia pasti berada diantara rak-rak penjual itu. Apalagi mengingat malam ini dia memberikan undangan pernikahannya dengan lelaki lain untuk kekasih masa remaja nan indahnya itu, pasti makanannya tadi mau seenak apapun, pasti tidak terasa enak. Karena aku juga merasakan hal yang sama saat sedang bersama Angel.” Pikir ku yang tiba-tiba ingat pada malam itu aku menelponnya dan malah dimatikannya, padahal ternyata dia sedang diluar dan jajanan.


Aku menyapu bersih pandanganku dimana sekitar jalan para penjual itu mendirikan gerobaknya. Rosa pasti ada di salah satu diantara gerobak itu. Dan pastinya tak akan sulit untuk mencarinya, karena ruang lingkup pun juga sudah semakin kecil dan akan semakin cepat ku jangkau.


Dia menggunakan pakaian yang meriah hari ini, yaitu dress merah, dan ku akui itu sangatlah mempesona, apalagi dia berdandan dengan gaya dewasa, dan itu terlihat banget vibesnya yang menawan dan begitu elegan.


Aku menemukan Rosa diantara para pelanggan lain yang sedang mengantri. Ternyata dia memang ada di sana, dan sedang menikmati jajanannya itu. Dia terus menjejalkan mulutnya itu dengan tusukan jajanan malam itu.


“Seperti anak SD saja. Dasar kekanak-kanakan, jajanan seperti itu saja sudah membuatnya begitu senang, hingga bisa senyum seperti itu.” Batin ku berbicara saat melihat Rosa di seberang jalan.


“Tuan, bagaimana. Apakah sudah ketemu nona Rosanya? Atau perlukah saya ke sana juga dan membantu mencarinya?” tanya Hans Kembali berbicara dari balik telepon.


“Ya? Kau nggak perlu datang lagi, aku sudah menemukannya. Kau pulang saja terlebih dahulu, aku akan melancarkan serangan mematikan ku. Dan jika kakek bertanya nanti, kau tau kan apa yang harus kamu jawab.”


“Tapi tuan…, tu…”

__ADS_1


Aku segera memutuskan sambungan telepon dengan Hans, mengingat hal seperti, dia pasti panik, karena nggak seorang pun bisa lepas dari pertanyaan maut kakek. Jika kau nggak bisa mempertanggungjawabkannya, jangan berani-beraninya menjawab pertanyaan dengan asal-asalan begitu saja, tanpa disusul dengan pernyataan yang kuat dan kokoh.


__ADS_2