Dia Bahagiaku Dia Lukaku

Dia Bahagiaku Dia Lukaku
Chapter 24 : Serangan Jantung dan Serangan Jiwa


__ADS_3

Reyhandra yang memperhatikan Rosa yang berdiri dengan panik sesudah mendapatkan sebuah telepon bahkan handphonenya saja sampai jatuh membuat Reyhandra segera berlari menghampiri Rosa sambil memasukkan kembali handphonenya kedalam sakunya.


"Rosa, kamu kenapa?" Tanya Reyhandra panik sambil menggoyangkan bahu Rosa.


Rosa melihat kearah Reyhandra, air matanya sudah mengalir membasahi pipinya. Dia nggak bisa menahan dirinya, tangannya gemetaran, wajahnya merah padam saking paniknya.


"Rosa, kamu kenapa? Kamu kenapa menangis? Kamu..."


Rosa memeluk Reyhandra yang berada disampingnya yang terus mengguncangkan bahunya. "Reyhan..." Rosa menangis dalam pelukan Reyhandra.


Reyhandra sedikit ragu untuk memeluk Rosa karena dia membencinya. Meskipun Reyhandra tidak membenci Rosa, tapi Rosa masihlah anak dari Raymond Vogart, orang yang membunuh ayahnya, juga pemicu ibunya bunuh diri.


Namun karena Rosa dalam keadaan kacau, Reyhandra menjadi tidak tega terhadap Rosa, dan akhirnya balas memeluknya. "Iya. Ada apa? Apa yang terjadi? Katakan padaku." Reyhandra menepuk-nepuk bahu Rosa untuk menenangkannya.


"Papa..., papa Rey..., papa masuk rumah sakit, Rey." Jawab Rosa menangis sesenggukan dalam pelukan Reyhandra.


"Raymond Vogart? Apa itu yang hendak dilaporkan Hans tadi, ya?" Reyhandra bertanya-tanya pada dirinya sendiri. "Iya, iya. Kamu tenang dulu, ya. Kota ke rumah sakit sekarang. Tapi kamu harus tenang, ok?" Reyhandra melepaskan pelukan Rosa. "Kamu tau papa dibawa ke rumah sakit mana? Kita pergi sekarang juga."


Rosa mengangguk klo dia tau papanya dibawa ke rumah sakit mana. Rosa segera menyambar tasnya yang diletakkan di kursi samping dia duduk dan segera mengikuti Reyhandra ke mobil untuk pergi ke rumah sakit.


Dua puluh menit kemudahan, Rosa sampai di rumah sakit dimana papanya dirawat. Itu adalah rumah sakit dimana Alan bekerja, dan tentang papanya yang masuk rumah sakit dia mendapatkan kabarnya dari Aldi.


Saat Rosa sedang berada di restoran, Aldi menelpon Rosa dan mengatakan klo papanya masuk rumah sakit. Tadi kakaknya, Alan segera pergi ke rumah sakit saat mendapat kabar klo ada pasien, dan itu adalah papanya Rosa.


Rosa segera berlari ke meja resepsionis begitu Rosa sampai didepan rumah sakit, dan Reyhandra memarkirkan mobilnya kemudian mengikuti Rosa dari belakang.


"Maaf, saya mau nanya pasien yang baru masuk hari ini? Sekitar setengah jam yang lalu." Tanya Rosa dengan terburu-buru dan panik.


"Atas nama siapa, ya? Soalnya banyak yang masuk hari ini, mbak." Jawab resepsionis menanyakan nama pasiennya.


"Atas nama Tuan Raymond Vogart."


"Baik, tunggu sebentar, saya cek terlebih dahulu." Resepsionis itu segera mengotak-ngatik komputernya, mencari nama pasien yang disebutkan oleh Rosa.


"Mohon bisa sedikit dipercepat." Minta Rosa buru-buru.


Reyhandra berhasil menyusul Rosa yang sedang berada di meja resepsionis dan menanyakan keadaannya kepada Rosa. Dan Rosa hanya menggelengkan kepala, menandakan bahwa belum ada informasi apa-apa, dan masih menunggu resepsionisnya untuk mencari. Reyhandra mengangguk mengerti dan diam menunggumu resepsionis mencari kamar Raymond.


"Dapat. Atas nama Tuan Raymond Vogart, kan?"


"Ya." Jawab Rosa dan Reyhandra bersamaan.


"Tuan Raymond ada di kamar lantai dua nomor 22, dan sedang ditangani oleh Dokter Alandri Wijaya."


"Ok, makasih."


"Terima kasih."


Rosa segera berlari menuju lantai dua dan diikuti oleh Reyhandra. Rosa menaiki tangga dengan tergesa-gesa khawatir bakan papanya itu.


Sesampainya Rosa dilantai dua, Rosa segera mencari kamar yang dimaksud oleh si resepsionis, ruang nomor 22 dilantai dua. Rosa mendapati kamar nomor 22, dan kakaknya, Stev serta Mama Serena sedang duduk di kursi depan ruangan menunggu dokter keluar.


"Kak, ma, gimana keadaan papa sekarang?" Tanya Rosa begitu dia sampai.


"Tante, gimana keadaan paman sekarang? Apakah baik-baik saja?" Tanya Reyhandra yang melihat Serena sedang duduk di deket Steven juga.


"Paman masih diperiksa oleh dokter." Jawab Serena sedih. Dia terlihat begitu khawatir meskipun dia tidak menangis seperti Rosa.


"Honey, kenapa kamu bisa ada disini? Bukannya lagi fitting baju, ya?" Stev berdiri dan terkejut mendapati Rosa berada didepannya sekarang.


"Kenapa? Kakak terkejut? Sepertinya klo nggak ada Aldi yang bilang sama Rosa, kayaknya kalian emang nggak niat buat memberi tahu Rosa, kan?"


"Nggak, nggak kayak gitu juga, honey. Hanya saja kami nggak ingin kamu khawatir, honey."


"Sudah, cukuplah. Kalian jangan mempersulit keadaan yang sudah runyam ini. Kita tunggu Alan keluar dulu, dan kita dengar apa yang terjadi dengan papa." Serena menengahi Rosa dan Stev.


Rosa duduk tepat di samping Stev dan diikuti oleh Reyhandra yang duduk di samping Rosa. Rosa berbisik-bisik kepada kakaknya apa yang terjadi dengan papa. Stev menjawab klo dia juga nggak tau, karena saat dia masuk ke kantor papanya itu, dia mendapati Raymond sudah jatuh pingsan di lantai.


Reyhandra yang mendengar itu tak berkomentar apa-apa. Dia tetap diam dengan tenang, dia hanya ingin menghormati saja. Dia harus bersikaplah layaknya keluarga, walaupun Reyhandra punya dendam, tapi dia akan membalasnya melalui Rosa atau perusahaannya, tapi tidak saat sedang runyam seperti ini.


"Raymond, ku harap kau nggak mengakhiri permainan ini sebelum permainan ini benar-benar dimulai. Jadi kamu harus bisa bertahan dan menyaksikan alur dari permainan ini." Reyhandra bermonolog sendiri untuk Raymond didalam hatinya.


Dalam ruangan, Alan sedang memeriksa Raymond ditemani eh seorang suster. Suster memasang infusnya dan Alan memerintah Raymond dengan saksama, bahkan dia juga memeriksa matanya dan mendengarkan detak jantungnya.


"Serangan jantung?" Alan kaget saat dia mendiagnosanya seperti itu sesudah dia memeriksa dan mendapati gejala yang dialami Raymond.


Alan melepaskan stetoskopnya dan kembali menyimpannya dalam saku jas putihnya itu dan segera keluar dari ruangan mengahadapi keluarga pasien, keluarganya Rosa.


Rosa dan lainnya segera berdiri dan menghampiri Alan begitu Alan sudah keluar dari dalam ruangan. Suster yang keluar bersama Alan segera pamit padanya dan melanjutkan tugasnya kembali.


"Nak Alan, bagaimana keadaan suami tante." Tanya Serena yang duduk paling dekat dengan pintu dan dapat dengan lebih cepat bertanya kepada Alan.


"Tante dan semuanya. Kalian tenang aja. Paman baik-baik saja kok. Dia hanya kelelahan saja."


"Hanya kelelahan? Nggak ada yang lain?" Rosa bertanya blak-blakan kepada Alan seakan dia sangsi dan curiga dengan diagnosis Alan. Itu klo dinilai dari cara Rosa bertanya.

__ADS_1


Alan hanya bisa tersenyum melihat Rosa yang skeptis dengannya dirinya, kemudian Alan membelai rambut Rosa dengan lembut. "Orang yang mengambil jurusan psikologi kedepannya memang sangat peka, ya? Tapi paman benar baik-baik saja, kok. Kamu tenang aja, ok?" Puji Alan kepada Rosa dan kemudian menenangkan Rosa sambil menepuk bahunya.


Rosa segera masuk ke ruangan papanya dan diikuti oleh Serena dan Reyhandra dibelakangnya. Alan juga ikut masuk kedalamnya dan menemani keluarga Rosa.


"Kapan papa akan sadar, dokter?" Tanya Rosa kembali kepada Alan karena Rosa mendapati papanya masih belum sadar juga.


Deg, hati Alan tersentak saat Rosa memanggilnya dokter, bukan Kak Alan seperti biasanya. Alan merasakan hatinya sakit tapi dia juga nggak tau kenapa. Kenapa itu hanya berlaku untuk Rosa? Sebenarnya masa lalu apa yang dilupakannya? Alan nggak tau.


Serena duduk di kursi samping Raymond dan mengambil tangannya dan di genggamnya dengan erat. Stev tetap setia berdiri di sampingmu Serena sambil menepuk-nepuk bahu mamanya itu untuk menenangkannya.


Alan berjalan kearah sofa dan kemudian diikuti oleh Rosa untuk mengetahui bagaimana keadaan papanya dengan baik. Reyhandra memperhatikan wajah Alan yang lesu, tapi itu bukan karena Raymond sang pasien, tapi Alan sedih saat melihat Rosa.


"Sepertinya ada sesuatu diantara dua orang ini, contohnya seperti..., kekasih masa muda, maybe. Apakah aku memisahkan cinta antar kekasih masa muda ini, ya? Oh my god, that is so good. I'm so happy although l just mind it." Seringai Reyhandra sendiri dalam batinnya, saat dia melihat Alan yang terasa sedih dan Rosa yang dingin biasa-biasa saja.


Rosa mengikuti Alan dan duduk di sofa secara terpisah. Rosa secara to the point, langsung menanyakan kembali keadaan papanya itu. "Jadi bagaimana keadaan papa, dokter?"


Deg, suara denyutan jantung Alan kembali terdengar. Tapi itu bukanlah suara denyutan jantung yang mendebarkan, tapi sayatan perih tanpa luka yang dirasakan Alan.


"Haruskah kamu terlalu formal padaku, Rosa? Tapi bagaimana aku bisa mengatakannya padamu, sedangkan diriku yang membuat garis saling sejajar ini?" Alan terlihat sedih saat melihat Rosa, tapi dia tidak menampakkannya. Sedih dimata Rosa, bisa ditafsirkan dalam makna yang berbeda olehnya, karena papanya sedang sakitnya.


Reyhandra meskipun sedang berdiri seakan dia menghormati keluarga Rosa tapi dia diam-diam menikmati pertunjukan disampingnya itu, meskipun dia hanya pura-pura tanpa peduli pada Rosa dan hanya berharap Raymond kembali sadar. Ya, Reyhandra berharap Raymond sadar dan ikut andil dalam permainannya yang sudah diaturnya kelak.


Peran dimana seorang antagonis yang harus di siksanya dengan kejam dan sedikit demi sedikit. Karena sudah berdosa membuat keluarga protagonis menderita. Reyhandra pasti akan membuat Vogart sama seperti keluarganya itu.


"Aku akan membuat kalian semua lebih baik mati daripada hidup. Tapi tentu saja aku nggak akan membiarkannya dengan mudah. Aku akan membuat kalian hidup segan matipun enggan. Kalian tunggu saja, bagaimana aku akan memainkan permainan ini dengan memainkan boneka kesukaan kalian itu." Batin Reyhandra melihat Rosa dan keluarganya secara bergantian.


Reyhandra tersenyum smirk kearah Rosa. Rosa yang menyadari ada seseorang yang melihat kearahnya dan ternyata itu adalah Reyhandra yang sedang tersenyum, Rosa juga membalasnya senyuman Reyhandra. Kemudian Reyhandra kembali melihat kearah Raymond yang terbaring di ranjang sakit itu.


"Bukankah peran yang ku pilih ini sanggup spektakuler menggugah hasrat kesedihan kalian terhadap aktris ku? Kuharap kau tidak mengecewakan ku Raymond Vogart, jadi segeralah sadar, segeralah bangun. Dan saksikan film perdana yang khusus ku buat untukmu. Maaf, maksudku keluarga tercintamu itu." Tanya Reyhandra yang seakan berkomunikasi langsung dengan Raymond.


Alan yang terus menerus ditanyai oleh Rosa mau tak mau harus menjawabnya, meskipun di harus menutupi sedikit banyak hal dari Rosa. Tapi yang sedikit Alan harus memberi tau Rosa. Karena memikirkan sikap Rosa yang skeptis akan akan segala hal yang menyangkut dengan orang yang dicintainya itu.


"Paman Raymond nggak kenapa-kenapa kok, Rosa. Kamu tentang saja. Paman hanya kelelahan, selebihnya mungkin karena faktor umur dan banyaknya pikiran, itu membuat tubuh paman menjadi lemah. Mungkin itu juga disebabkan oleh tekanan darah tinggi juga kolesterol darah tinggi. Jadi, kalian hanya perlu menjaga pola makan yang baik saja serta sering olahraga, maka paman pasti akan sehat kembali." Jelas Alan panjang lebar.


"Terima kasih banyak, Dokter Alan. Saya nggak tau akan bagaimana jadinya klo nggak ada dokter."


"Rosa, nggak usah formal kali sam Kak Alan, kamu sans aja, ok? Kamu seperti biasa aja manggil kakak. Nggak usah pake embel-embel dokter segala."


Rosa hanya tersenyum menampakkan gigi putihnya saat Alan menegurnya untuk tetap bersikap seperti biasa. Ternyata Alan nggak tahan juga akan hal seperti itu.


"Rosa kirain kakak suka dipanggil kayak gitu. Udah dari tadi Rosa gatel buat manggil Kak Alan ketimbang pake embel-embel dokter. Yah, ternyata Kak Alan nggak suka juga." Rosa tersenyum kembali kepada Alan dengan wajah merekah.


"Ternyata kamu sudah lebih baik, ya." Batin Alan saat melihat senyum Rosa kembali hadir diwajahnya itu.


"Hemm, syukurlah kamu udah mengerti." Alan bangun dari duduknya dan mengelus rambut Rosa dan segera pergi. "Kenapa aku nggak bisa melakukan seperti batinku maksud?" Alan kembali melihat kebelakang dimana Rosa sedang duduk, "Kakak punya pasien lain yang harus diperiksa, jadi kakak pergi dulu, ya." Pamit Alan pada Rosa dan hanya diangguki oleh Rosa.


"Stev, sekitar 10 menit lagi kamu ke kantor aku, ya? Ada yang mau ku sampaikan dan juga harus mengambil resep obat buat paman, ya!"


"Oh, ok."


"Ok, klo begitu aku akan lanjut memeriksa pasien lain dulu. Tante duluan." Alan mengangguk kepada Serena dan Reyhandra dan langsung langsung pergi, hilang dibalik pintu.


Stev menemani sedang menemani Serena untuk terus menghiburnya. Meskipun Serena terlihat tenang, tapi itu dia lakukan demi menjadi ibu yang tangguh didepan anak-anaknya. Jadi dia harus menjadi yang terkuat untuk anak-anaknya. Karena sesudah suaminya, Raymond, Serena lah yang memegang kendali kemudiannya.


"Sepertinya sakit papa nggak sesederhana seperti yang Kak Alan katakan padaku? Atau emang Kak Alan sedang menyembunyikan sesuatu karena dia pikir.... Ahhh..., berhenti berasumsi Rosalyn Saputri Vogart. Aku harus mencari Kak Alan secara pribadinya untuk mengetahuinya." Pikir Rosa mengambil keputusan.


Rosa segera bangun dari tempat duduknya dan meminta izin dengan alasan dia mau ke kamar mandi pada yang lainnya. Dan hal itu disetujui oleh Serena dan Stev, tapi tentu saja dengan pesan supaya Rosa nggak keluyuran kemana-mana.


"Dia mau kemana sih? Sepertinya nggak sebatas mau ke kamar mandi saja. Sebenarnya apa yang sedang dipikirkan oleh otak kecilnya itu, sih? Aku harus mengikutinya, tapi aku nggak punya alasan untuk mengikutinya keluar." Curiga Reyhandra kepada Rosa.


Reyhandra berpikir keras bagaimana caranya dia bisa mengikuti dan membuntuti Rosa, dan mengetahui sebenarnya apa yang sedang direncanakannya. Reyhandra curiga sebenarnya Rosa pasti punya sesuatu antara dia dan dokter Alandri Wijaya, kakak dari si kembar temannya yang cerewet itu.


Tiba-tiba suara deringan ponsel Reyhandra terdengar.


Drrrtttt... Drrrtttt... Drrrtttt....


"Tepat pada waktunya." Batin Reyhandra sendiri saat mendapatkan sebuah panggilan dari handphonenya.


"Maaf, saya harus mengangkat telepon terlebih dahulu." Permisi Reyhandra pada Serena dan Stev. Dan mereka hanya mengangguk, karena mereka juga paham Reyhandra juga seorang pebisnis yang sibuk.


"Oh ya, nggak apa-apa kok Nak Reyhandra, makasih karena sudah datang ke sini menjenguk suami tante."


"Itu bukan masalah besar kok tante. Lagipula kita juga keluarga. Oh ya, apakah tante mau saya bawakan sesuatu?" Tanya Reyhandra mengajukan dirinya.


"Nggak apa Nak Reyhandra, nggak ada yang tante butuhkan dari kamu. Kamu sudah datang kesini membesuk saja sudah cukup bagi kami. Jadi Nak Reyhandra nggak perlu merepotkan diri sendirian lagi." Imbuh Serena tetap lembut.


"Baiklah tante. Saya akan datang untuk membesuk paman besok lagi. Semoga lekas sembuh."


"Iya, makasih banyak."


Reyhandra segera keluar dengan alih mengangkat telepon bisnisnya, walaupun dia hendak membuntuti Rosa, tapi alasannya ada alasan bisnis itu tak sepenuhnya salah. Karena itu adalah telepon dari Hans, sekretarisnya.


Kemudian, dari tadi dia juga mengabaikan telepon dari Andre, bahkan puluhan panggilan tak terjawab. Sampai-sampai Hans yang menelpon, mungkin itu benar-benar mendesak dan penting yang harus segera Reyhandra tangani.


Rosalyn POV

__ADS_1


"Sebenarnya yang mana sih kantor Kak Alan. Departemen bedah, kantor ketua. Ini dia dapat. Ini kantor yang sama dengan yang dimaksudkan oleh suster itu, kan?"


Aku membuka knop pintu dari pintu yang bertuliskan tulisan ketua departemen bedah, berarti ini emang kantor Kak Alan. Tapi saat aku memasukinya dan menutup pintunya kembali, Kak Alan nggak ada dalam ruangan.


"Haruskah aku menunggunya disini?" Aku merebahkan diriku keatas sofa yang di sana.


Aku sudah terlanjur capek karena dari tadi aku asyik keliling-keliling rumah sakit lantai dua ini. Bahkan sampai-sampai aku memeriksa ruangan orang satu per satu.


"Apakah itu lemari pribadi Kak Alan?" Aku mendekati lemari yang ada disana. Aku tertarik dengan sertifikat yang dipajang didalamnya dan juga beberapa tropi penghargaan.


"Wow, prestasi yang luar biasa. Ketua departemen termuda di rumah sakit ya? Emang pantas jadi orang yang ku idolakan." Aku tersenyum terkekeh geli pada diriku sendiri, apalagi klo berpikir aku pernah memacarinya dulu.


Namun, saat mengingat itu semua membuatku sedih. Dia sudah bukan milikku lagi, dan aku juga nggak ada harapan lagi karena aku pun juga sudah menjadi milik orang lain. Masing-masing dari kami sudah ada pemiliknya.


Pada akhirnya aku juga harus melupakannya, merupakan sebuah dosa besar bagi seorang istri yang punya pria lain dihatinya padahal dia sudah punya suaminya sendiri. Apalagi mereka saat sedang bercinta.


"Aahhh..., lagi mikir apa sih ini otak. Sukanya travelling sana sini. Kagak beres lagi kamu Rosalyn." Aku mengetuk-ngetuk kepalaku sendiri karena jujur aku juga malu dengan pikiranku sendiri.


Tiba-tiba aku mendengar suara yang familiar juga langkah kaki ringan menuju ke ruangan Kak Alan. Berarti itu Kak Alan. Aku hendak mengejutkan Kak Alan dengan kehadiran ku yang tiba-tiba di kantornya. Tapi sayup-sayup aku juga mendengar suara lain, itu suara kakak.


"Aku harus segera bersembunyi." Aku mulai panik saat mendengar suara langkah kaki yang semakin dekat. "Ya, dibawah meja Kak Alan." Namun sejenak aku meralat pikiranku sendiri. "Tapi bagaimana jika ketahuan sama Kak Alan, bakalan repot juga jika dipikir dengan kepribadian Kak Alan yang sangat jujur."


Aku melihat kearah pintu, arah knop yang sedikit bergerak untuk terbuka. Aku semakin panik karena belum menemukan tempat untuk bersembunyi. Akhirnya aku bersembunyi di belakang lemari, karena itu punya sedikit celah dan aku muat. Lagipula itu juga menghadang untuk terlihat, karena lemarinya berada di tempat yang strategis.


Pintu akhirnya terbuka, Kak Alan dan Kak Stev masuk. Aku membuang nafas lega karena aku berhasil tepat waktu untuk bersembunyi sebelum ketahuan Kak Alan dan Kak Stev.


"Untung nggak ketahuan." Batinku sendiri mengelus-eluskan dadaku.


"Ayo masuk Stev. Selamat datang di kantorku. Silakan duduk, buat dirimu nyaman." Ucap Kak Alan mempersilahkan kakak duduk.


"Thanks, Lan."


"Udah jangan terlalu sungkan gitu. Kamu kan kakaknya dari teman adik-adikku. Klo nggak ada Rosa, nggak tau deh siapa yang mau berkawan dengan dua bocah bermuka dua itu." Kak Alan tersenyum receh saat dia harus mengungkit kedua adik-adiknya itu.


Tapi itu juga membuatku sedih saat mendengar perkataan Kak Alan. Berarti emang dalam setahun ini aku tak lebih hanya teman dari adik-adiknya dalam setahun ini. Walaupun sekarang aku nggak bisa membawa perasaan lagi dalam konteks hal ini.


"Tolong jangan ungkit itu lagi. Itu juga membuatku kesel saat memikirkannya." Jawab kakak mendengus kesal.


Kak Alan tersenyum saat mendengar jawaban seperti itu dari Kak Alan. "Kalian emang sangat bucin terhadap Rosa, ya?"


"Of course. Because my honey so beautiful, very beautiful, more anda more beautiful. Dan orang yang penting bagiku." Kakak menjawab bangga dengan nada membanggakan.


"Kalian ini mau ngebahas apa sih? Kenapa ngebahas tentang aku bukannya tentang papa." Gerutu ku dalam hatiku sendiri saat mereka membahas hal yang sama sekali tidak penting.


"Ok, kau memanggilku kesini bukan untuk membahas ini, kan?" Tanya kakak memasuki mode serius.


"Nah ini dia."


"Ya. Aku manggil kamu kesini emang bukan tentang itu, tapi ini mengenai penyakit paman." Imbuh Kak Alan serius juga.


"Sudah kuduga, ini memang tidak sesederhana seperti yang kamu bilang pada Rosa."


"Ya, aku memang sengaja menutupinya dari Rosa. Karena aku yakin kalian juga ingin merahasiakannya dari Rosa."


"Tentunya, meskipun honey berhak tau, tapi sekarang dia belum boleh tau. Dia masih ada pernikahannya di depan, dan itu hanya tinggal lima hari lagi. Jadi kami nggak ingin membuat honey jadi kepikiran. Jadi apa penyakit papa aku?"


"Emang keputusan yang tepat aku datang ke kantor ini. Klo tidak sepertinya kalian emang nggak berencana untuk memberitahukannya padaku, kan? Dan akan tetap merahasiakannya kan? Sama dengan rahasia besar yang coba kalian sembunyikan dari aku kan, kak?"


"Ok, jadi berdasarkan gejala yang dialami paman, paman mengalami serangan jantung. Dan itu sangat berbahaya."


"Apa?!? Serangan jantung?? Separah itukah?" Aku kaget saat mendengar itu dari mulut Kak Alan, sedangkan yang dia bilang padaku hanya kelelahan biasa saja. Tapi kenapa kakak tidak kaget saat mendengarnya."


"Serangan jantung, ya?" Ulang kakak sesudah mendengar itu dari Kak Alan.


"Sepertinya kamu nggak kaget. Apa kamu sudah menebaknya?" Tanya Kak Alan menerka.


"Aku nggak kepikiran sampai ke serangan jantung mendadak gitu, karena papa nggak ada riwayat serangan jantung mendadak, begitu juga dengan keluarga papa."


"Serangan jantung itu tak hanya sebagai penyakit turunan. Tapi itu juga faktor usia dan lainnya. Apakah paman menunjukkan gejala khusus, sesuatu gitu?" Tanya Kak Alan berkonsultasi dengan kakak.


"Nggak ada gejala khusus, sih. Papa hanya mudah kelelahan akhir-akhir ini, juga..., di bilang sering susah tidur sekarang. Bahkan dia sering lupa-lupa sekarang. Awalnya ku pikir itu faktor usia seperti yang kamu bilang ternyata ini lebih parah dari dugaan ku." Cerita kakak mencoba mengingat gejala papa akhir-akhir ini.


"Kakak tau semuanya tentang papa. Apakah hanya aku seorang yang tidak tau akan kondisi papa?"


"Insomnia, ya?


" Ya. Oh ya, satu lagi, papa juga mudah mengantuk di siang hari sekarang, saat sedang bekerja dia juga kurang konsentrasi sekarang."


"Begitu, ya? Itu adalah gejala Apnea tidur atau sleep apnea. Itu merupakan gangguan tidur yang menyebabkan pernapasan seseorang terhenti sementara selama beberapa kali saat sedang tidur. Kadang juga mengalami sesak nafas dan sangat sulit untuk bernafas. Merasa seakan tercekik saat tidur, batuk-batuk malam hari bahkan sering sakit kepala saat bangun tidur. Itu semua adalah gejala serangan jantung." Jelas Kak Alan secara rinci.


"Jadi begitu, ya."


"Serangan jantung ini bukanlah kondisi dimana jantung kita sakit, tapi itu terjadi tiba-tiba. Jadi aku sarankan, sebaiknya paman tidak mendengar sesuatu yang bisa memicu jantung paman, karena itu bisa sangat beresiko. Kemungkinan terburuknya adalah sampai kematian."


"Apa? Kematian?!" Aku menutup mulutku sendiri saking kagetnya. Lutut ku terlalu lemas meskipun hanya sekedar untuk berdiri. Aku terduduk tejerembah sampai terduduk di lantai saking syoknya.

__ADS_1


Itu semua terlalu menyerang jiwaku saat aku memikirkannya, apalagi mereka mencoba menyembunyikannya dariku. Aku menangis saat memikirkan itu semua, tapi aku sebaik mungkin menutup mulutku supaya tidak kedengaran suaranya. Aku harus bisa bertahan setidaknya sampai kakak dan Kak Alan keluar dari ruangan ini.


__ADS_2