Dia Bahagiaku Dia Lukaku

Dia Bahagiaku Dia Lukaku
Chapter 32 : Cinta Itu Buta


__ADS_3

Rosalyn POV


Aku langsung mengganti piyama tidurku dengan baju untuk keluar malam. Karena kartu hijau dari kakak sudah didapatkan, dan juga teman untuk pergi pun sudah ada, jadi aku nggak akan menunggu besok malam lagi. Jarang-jarang aku mendapatkan kesempatan sebaik ini, jadi aku akan menggunakannya sebaik mungkin.


Sebelum pergi aku pergi ke kamar bibi klo aku akan keluar sebentar, dan tentunya jangan lupa menambahkan poin klo aku sudah mendapatkan izin dari kakak, yang artinya mama papa juga setuju klo aku akan keluar buat jajan malam hari ini.


Aku memang terbiasa untuk mencari jajan-jajanan malam seperti ini. Hanya saja ini adalah kali pertamanya aku keluar malam tanpa pengawasan dari bodyguard Steven kakak yang siscon.


Bibi menemaniku sampai didepan pintu depan, dan mengantar kepergian.


"Hati-hati di jalan ya, non. Oh ya non, non perginya pake apa non?" Tanya bibi yang khawatir padaku.


"Aku pergi sama kok, bi. Pakai motor." Jawabku tersenyum sambil memperagakan aku sedang bawa motor.


"Temannya bukan teman yang aneh-aneh kan non?" Tanya bibi lagi, yang mana pertanyaan bibi sama anehnya dengan kata-kata yang baru saja dikeluarkannya.


"Aneh gimana sih, bi? Jangan yang aneh-aneh gitu dong bi nanyanya."


"Bukan maksud bibi nanya aneh non. Hanya saja teman non itu baik kan, non? Gitu maksud bibi." Jelas bibi maksud di bertanya aneh.


"Yah..., teman aku semuanya baik-baik kok sama aku, bi. Nggak ada yang jahat kok." Jawabku dengan serius, karena bibi kayaknya benar-benar khawatir klo aku akan keluar malam ini tanpa pengawasan dari kakak.


"Bibi ini makin obsesif aja orangnya, kayaknya udah ketularan virus kakak ini mah. Klo aku terus diintrogasi kayak gini, kapan perginya aku. Malah buat sopir ojek aku menunggu lama ini." Batinku dengan kaki yang tergerak-gerak untuk segera pergi.


"Bukan baik itu maksud bibi, non. Si Non teh salah nangkep maksud si bibi mah. Maksud si bibi tuh non, dia bukan sembarangan orang gitu."


"Emng nggak sembarangan lah, bi. Klo aku nggak kenal mana mungkin juga aku ngajak dia malam-malam gini. Klo memang seperti yang bibi maksud barusan, karena aku akan keluar malam, berarti sama saja dengan masuk ke mulut harimau kan, bi. Berarti aku udah mau masuk ke mulut harimau ada rencana lagi buat masuk ke mulut buaya." Tutur ku yang tersenyum melihat betapa khawatirnya bibi padaku.


"Nah itu dia non. Jangan sampai non ketipu sama teman non itu dan diajak ke bar gitu non. Bahaya non, tau nggak? Klo udah ketemu sama alkohol itu mah, ehhhh beh, segala kelakuan yang melanggar norma lainnya akan ngikut non. Bahaya itu non. Pokoknya bibi teh nggak non seperti itu non."


Aku habis kata-kata saat mendengar bibi mengungkit masalah teman yang mengajak ke bar. Hatiku merasa tertohok dan speechless tak tau harus menjawab gimana lagi.


Fakta klo teman yang membawa aku ke bar itu memang nyata. Apalagi teman yang aku ajak kali ini adalah Dian Rocher, orang yang mengajakku ke bar, orang yang mengenalkan aku apa itu bar. Dan of course, Adel juga termasuk. Justru malah Adel lah orang pertama and the first yang memperkenalkan aku sama yang namanya bar.


Aku hanya bisa tersenyum tercenges-cengesan baru kemudian aku menjawab perkataan bibi supaya dia nggak khawatir. Lagipula hari ini aku juga memang nggak ada niat untuk pergi ke bar. Bisa jadi aku bakal pulang tengah malam seperti kemaren lagi, dan malah ketahuan sama kakak lagi klo aku nggak ada di rumah.


Yah, kenapa aku bisa tau? Sesuai dengan sikap kakak yang siscon, yang overprotektif itu, dia pasti bakal pulang nanti jam setengah sebelas malam untuk memeriksa aku, apakah sudah berada di alam mimpi atau emang sedang keluyuran seperti setan tersesat di luar.


Dan soal kenapa kakak bakal pulang jam setengah sebelas malam untuk memeriksa aku apakah sudah pulang, itu karena aku sudah janji pada kakak klo aku akan pulang jam segitu. Klo aku nggak setuju, berarti nggak ada izin untuk aku keluar malam ini.


Yah, walaupun aku nggak keluar malam ini, itu bukan berarti kakak nggak pulang, dia tetap akan pulang untuk mengecek kondisi dan keadaan di rumah dan kemudian akan kerumah sakit lagi, buat nemanin mama jagain papa. Klo ada kakak di sana, mereka bisa gantian nanti yang berjaganya.


Sesudah aku meyakinkan bibi klo itu akan baik-baik saja, aku langsung menuju ke keluar pagar. Dian pasti sudah lama menungguku. Dan dia pasti kan bertanya-tanya juga kenapa aku bisa begitu lambat?


Dan ternyata oh ternyata, aku melupakan satu rintangan lagi. Kang Udin yang menjaga pagar akan lembur malam ini, karena rumah sedang kosong. Bukan kosong sih, hanya saja penghuninya hanyalah aku doang dirumah, jadi keamannannya juga ditingkatkan.


"Mau kemana non? Apakah udah dapat izin daru tuan klo non akan keluar?" Sapa Kang Udin yang keluar dari pos jaganya.

__ADS_1


Aku berhenti sejenak karena Kang Udin yang menyapaku, aku kan juga nggak mungkin pura-pura nggak dengar, karena memang jelas-jelas Kang Udin selain bertanya kepadaku, tapi dia juga menghampiriku.


"Ohhh, akh keluar buat jajan jajanan malam, kang. Seperti biasa gitu lho. Kang Udin emang mau nitip apa, biar sekalian Rosa belikan." Tanyaku sambil tersenyum dan menawarkan jastip pada Kang Udin. Padahal rencana aku tuh sebagai sogokan aja, biar cepat diberi izin, nggak banyak diintrogasi lagi.


"Ah, si akang mah, nggak ada titip apa-apa kok non. Yang penting non perginya utuh, klo pulang pjn harus jadi lebih utuh. Dan yang pastinya, non udah dapat izin nih, kan? Jangan pula nanti belum dapat izin, non. Bakal panjang kali lebar kali tinggi sama dengan volume balok non urusannya." Saran Kang Udin serius, namun bagiku dia udah seperti ngajar segala gitu. Karena sampai-sampai di gunain rumus volume balok gitu.


"Mestinya udah dong kang. Pokoknya aman dan tentram deh." Jawabku dengan bercanda sama seperti yang Kang Udin katakan padaku, malahan aku sampai mengangkat jempolku sambil mengedipkan sebelah mata padanya. "Tapi kang, apa maksud klo pergi utuh tapi klo pulang harus lebih utuh, emang bisa gitu ya, kang."


"Ahahaha, si non mah, lucu banget sih. Maksudnya itu loh non, kan klo non pergi semuanya ini masih ituh ni kan, ya? Jadi klo pulang akan lebih utuh lagi, karena banyak bawa belanjaan jajanan non, jadi lebih utuh gitu, non." Jelas kang Udin akan maksud perkatannya itu.


Perkataan dan penuturan Kang Udin, emang kadang aku suka ngeleh waktu memikirkan apa sih sebenarnya maksud dari perkataannya itu? Jadi, kadang aku harus bertanya pada si empunya dulu, batu tau makna dan maksudnya.


"Owalah..., gitu toh maksudnya kang."


"Iya, non. Sekarang udah oada tau, kan?" Tanya Kang Udin lagi bertanya padaku.


"Ah, iya kang. Klo gitu aku permisi dulu ya kang."


"Baik non, hati-hati ya non."


"Oke, kang. Aman itu kang, bisa disetel."


Aku segera berjalan menuju ke arah pagar untuk menemui Dian, yang pastinya dia mesti sudah suntuk menungguku diluar. Namun hal yang tak ku sangka juga, si Kang Udin malah memanggilku lagi.


"Non..., perginya ma siapa non?" Tanya Kang Udin kembali sebelum sempat aku membuka pintu gerbang kecil yang khusus untuk pejalan kaki.


"Oh baiklah, non. Heart-heart on the road ya, non!" Kata Kang Udin untuk terakhir kalinya sebelum aku benar-benar lenyap di balik pagar.


Kang Udin emang Kang Udin, nggak ada duanya deh di rumah ini, dia masih aja dengan senyum khasnya itu, senyuman yang menampakkan serentetan gigi putihnya itu. Tapi itulah daya tarik Kang Udin sendiri. Dan kenapa aku mengatakan tiada duanya di rumah ini? Kan siapa tau ada kembaran Kang Udin yang sampe sifatnya pun persis sama ada di belahan benua lain. Jadi makanya aku berpikir demikian.


Aku begitu keluar langsung menghampiri Dian, dan seperti yang sudah ku prediksi sepertinya dia memang sudah lama disini, karena dilihat dari dia yang sudah menggosok-gosok badannya yang kedinginan karena terlalu lama berdiri di luar, yah meskipun dia sendiri ada pake jaket. Namun apa fungsinya itu, jika kita tetap terlalu lama diluar, dia alam terbuka lagi.


"Hai Yan. Udah lama nunggunya, ya. Sorry ya klo aku telat, soalnya aku harus melakukan ritual introgasi dulu klo emang mau keluar tanpa pengawasan dari kakak." Kataku menghampiri Dian dan berencana naik motor Dian.


"Tunggu, tunggu dulu. Lo siapa?" Tanya Dian memperhatikan aku datu ujung kepala sampai ujung kaki tanpa melewatkan seinci pun.


"Nah, aku Rosa. Masa nggak kenal sih." Aku juga kaget kenapa bisa Dian bertanya seperti itu padaku. Apa aku terlalu aneh sampai dia bertanya padaku seperti itu. Aku memerhatikan lagi pakaianku, mungkin ada yang salah gitu, karena melihat cara Dian memperhatikan ku.


"Lo beneran Rosa, kan?"


"Ya, lah. Orang yang bisa keluar dari rumah Rosa, tentu saja Rosa sendiri yang bisa. Trus klo bukan Rosa emang siapa, setan Rosa?"


"Nggak gitu juga lho konsepnya. Tapi aneh aja gitu."


"Aneh gimananya! Orang baik-baik saja kok ini." Tanyaku kembali melihat kemana arah Dian memandang ku. Dian terus memandang pakaian ku, "Apa ada yang salah, ya?" Aku melihat pakaian ku mengikuti arah Dian yang terus memperhatikanku.


"Nggak, aneh aja. Sepertinya gue nggak biasa dengan pakaian lo itu. Mungkin karena lo muncul didepan gue sebagai gadis tulen, bukan sebagai gadis cross dressing." Tutur Dian akhirnya dan memberikan helm padaku, mengisyaratkan aku untuk naik di belakang

__ADS_1


Aku menggunakan helm yang diberikan oleh Dian dan langsung memasang dibelakang Dian. Dian segera melesatkan motornya di jalan raya yang penuh dengan keindahan kerlap-kerlip lampu di sepanjang jalan kota Jakarta.


"Yan, lo napa sih lintin aku sampe segitunya tadi?" Aku kembali membuka pembicaraan dengan Dian untuk mengisi waktu luang selama perjalanan.


"Bukan apa-apa, sih. Hanya saja gue aneh aneh aja liat lo. Semacam asing gitu."


"Kan kita emang asing, baru tiga kali pertemuan sama ini. Dan ini ini kali pertama kamu liat aku dalam wujud asliku."


"Ya sih. Tapi aku tetap aneh aja gitu. Mungkin aku udah terbiasa sama wujud laki-laki cross dressing-nya. Oh ya, Ros. Btw di rumah lo tadi siapa sih, bapak-bapak yang terus jenguk gue, malah pake senter lagi. Udah kayak orang siskamling gitu. Klo ada orang-orang, mereka pasti langsung curiga klo gue itu pencuri."


"Oh dia tuh satpam penjaga rumah aku, Yan. Dia tu memang gitu diri, bukan maksud curiga sama kamu klo kamu itu pencuri. Dia hanya terlalu bersemangat dengan tugasnya dan terobsesi untuk melakukan yang terbaik buat kewajibannya saja."


"Ohhhh gitu." Jawab Dian yang beroh ria. "oh ya Ros, lo mau jajan dimana nih. Soalnya banyak penjual angkringan malam-malam kayak gini." Tanya Dian menanyakan tujuanku.


"Emmm, ada kok penjual angkringan yang ada di depan indomaret jalan depan lagi tuh. Kita nongkrong disitu aja. Lagipula nanti enak kita sekalian beli minum di indomaret tu, dan untuk parkir juga terbilang aman karena ada CCTV-nya. Kamu tau tempatnya, kan?"


"Of course, I know. Gue ma Adel kadang juga sering nongki di sana."


"Ahhhh, ya. Adel, ya. Kasian dia ya, nggak bisa ikut. Lagi sedang ada ujian sekolah."


"Buat apa lo kasian sama dia. Klopun ujian, dia juga kagak belajar. Dia hanya ngurung diri dalam kamar aja, jadi orang pikir dia sedang belajar keras buat ujiannya. Padahal klo kita liat, dia asyik nge-push rank game mobile lagend-nya tu. Klo nggak nge-push rank, asyik nge-live tiap hari. Pokoknya ada-ada saja lah." Jelas Dian padaku. Dan sepertinya Dian menghela nafas gara-gara ulah Adel itu, meskipun aku nggak melihat Dian langsung menghela nafas.


"Tapi klo dipikir-pikir, kenapa Dian bisa tau tingkah Adel gitu, ya?" Curiga aku, karena sepertinya Dian tau banyak tentang Adel. Namun, aku segera menangkis pikiranku itu dengan alibi karena mereka sudah kenal dekat mungkin, bisa jadi sahabat masa kecil gitu. Jadi dengan begitu, aku bisa dengan tenang melanjutkan perjalanan dan menikmati setiap angin yang mengenai wajahku dan menerpa rambutku.


...***...


Reyhandra sedang berada di kantornya dan sedang menyelesaikan dokumen-dokumen yang harus diperiksanya kembali satu persatu. Meskipun itu sudah dikerjakan oleh para karyawannya, Reyhandra tetap nggak bisa dengan mudah mempercayai orang sebelum dia sendiri yang memberikan kebenarannya.


Namun meskipun itu adalah memeriksa dokumen yang mana perkerjaan yang paling bisa membuat Reyhandra untuk fokus, entah kenapa hati ini dia nggak bisa fokus. Setelah bercerita kepada Andre klo dia memegang kelemahan keluarga Vogart itu dia tetap nggak tenang.


"Bro, karena lo udah memegang kelemahan dari target lo itu, jadi lo sendiri gang paling tau mau gimana lo akan menekan target lo itu. Dan gue yakin, lo nggak butuh panduan gue lo harus ngapain setelah ini. Hanya saja saran gue, klo lo mau akting, akting lo itu harus sempurna. Meskipun lo megang kelemahan lawan lo, lawan lo juga megang kelemahan lo, yaitu kakek lo sendiri. Ini hanya saran gue pada lo, mengingat obsesi lo yang mau mewarisi perusahaan kakek lo dan juga ambisi lo yang mau menginjak-injak orang lain dibawah kaki lo." Begitulah kata-kata Andre yang terus terbayang dalam kepala Reyhandra.


"Ahhh.., kenapa sih aku nggak bisa fokus." Keluh Reyhandra mengusap rambutnya kasar. "Klo emang mau akting, harus akting tang sempurna, ya" Gumam Reyhandra mengingat kembali kata-kata Andre.


"Tapi gimana caranya." Reyhandra bertanya lagi kepada Andre, bagaimana langkah yang harus ditempuhnya.


"Buat di mencintai lo. Lo harus bisa bikin dia menganggap lo itu sebagai mataharinya, dengan begitu lo baru bisa mengendalikan dia sepenuhnya. Dan dijamin, dia pasti bakalan ngikut semua perintah lo. Karena dia sudah terlanjur mencintai lo.


" Kenapa kamu bisa seyakin itu, Andrea Rocher."


"Karena cinta itu buta."


Reyhandra kembali lagi ke dunianya, dan dia mulai memikirkan dan mencernakan segala yang disampaikan Andre tadi siang. "Akting yang sempurna, ya? Dari mana aku harus memulainya, ya? Ah, itu dia undangan pernikahan."


Reyhandra langsung mengambil handphonenya untuk menelpon Raymond mengenai tentang undangan. Karena masalah undangan itu yang nge-handle-nya adalah para orang tua itu. Tapi sesaat kemudian, Reyhandra ingat klo Raymond Vogart sedang dirawat di rumah sakit. Jadi dia mengurung niatnya itu.


"Apa telpon kakek aja, ya? Tapi tidak, bakalan ada ceramah duluan deh sebelum ditanya. Yang ada malah bikin pusing aja terus mendengar omelan. Apa aku telpon orang itu aja, ya? Tapi aku malas klo harus berurusan dengan orang itu." Reyhandra kembali mengurung niatnya. "Ahhh, lakukan saja. Demi akting yang sempurna dan hasil yang memuaskan." Finish Reyhandra yang akhirnya membulatkan tekadnya.

__ADS_1


__ADS_2