
Rosalyn POV
Ternyata mereka memang belum tidur dan menungguku pulang. Dengan kakak yang sengaja berdiri dekat saklar lampu supaya dapat menyalakan lampu secara tiba-tiba saat aku pulang, lalu Papa dan Mama yang sudah duduk di sofa menungguku membuka pintu dan melewati ruang tamu. Aduh, puyeng aku mikirnya, udah kayak syuting film horor aja.
Tapi ini lebih mengerikan dari syuting film horor. Mama, Papa sudah duduk di sofa dan mengeluarkan aura hitam pekat yang menakutkan. Seakan-akan mereka akan menelanku bulat-bulat kali ini.
"Hai... Kak." Aku menyapa kakak. Tapi tidak seperti biasanya, tidak ada respon. "Malam, Pa, Ma. Apakah hari kalian menyenangkan?" Tidak ada yang merespon kah? Kenapa suasana jadi ngeri dan mencengkram begini?
Kakak duduk dekat Mama, masih dengan ekspresi yang masih mengerikan itu. Lengan yang dilipat didepan dada dan pandangan tajam yang dilayangkan. Sungguh sangat mengerikan. Begitu pula dengan Papa yang duduk di sofa single sit, juga tak kalah mengerikan dari kakak. Oh my god, cobaan apakah ini?
"Duduk, honey!" Perintah kakak. Oh my god, ternyata marahnya kakak sangat mengerikan. "Kenapa kamu kabur tadi?"
Ahhhhh!!! Seharusnya aku tidak mengesampingkan segala pepatah yang telah ku pelajari. 'Marah orang pendiam memang mengerikan.' Tapi masaalahnya adalah kakak bukan orang yang pendiam. Tapi kenapa dia bisa semengerikan ini jika sedang marah!!!
"Hehehehe, kakak itu aja kok dibawa marah sih? Rosa iseng aja tadi. Kok dibawa masok ke hati sih? Orang cuma becanda aja." Jawabku sebisa mungkin menghindari kemarahan kakak. Lagipula aku juga merasa bersalah sama kakak, jadi tahan aja dulu.
"Kakak bilang duduk honey, D-U-D-U-K. Paham bahasa duduk, kan?!" Ucap kakak yang terus menekankan setiap kata-katanya.
"Iya paham. Rosa duduk, ya?" Tanyaku mencoba membuat lelucon.
Tapi sepertinya lelucon itu nggak akan mampan buat malam ini. Jadi turuti aja dulu kemauannya. Aku mematuhi perkataan kakak dan langsung duduk di sofa yang berseberangan dengan kakak.
"Honey, kamu kabur gitu aja tadi waktu di pameran dan kamu hanya menganggap itu sebagai iseng aja?" Kakak kembali bertanya setelah aku duduk. Tapi kondisi apaan ini? Aku persis seperti seorang penjahat yang sedang didakwa.
"Maaf Kak. Rosa pikir..."
"Pikir apa?" Tandas kakak langsung memotong perkataan ku.
"Rosa pikir jika kakak sibuk dengan cewek-cewek itu, Rosa bisa main sepuasnya. Tanpa harus..."
"Harus apa?" Bentak kakak kembali memotong perkataan ku.
"Apa sekarang lagi ngetrend memotong pembicaraan lawan klo lagi ngomong, ya? Tapi sepertinya nggak ada deh yang kayak begituan. Dari mana kakak dapat trend yang beginian?" Pikir ku dalam hati. Aku nggak berani nanya, soalnya kakak sedang marah besar.
"Udah Stev, kita dengar pendapat Rosa aja dulu." Saran Mama sambil menepuk-nepuk ringan bahu kakak untuk menenangkannya.
"Honey, apa kamu nggak mikirin perasaan kami yang khawatir padamu, hah?" Teriak kakak marah.
Aku nggak terima kakak marah-marah begini padaku. "Emang kakak pernah mikirin perasaanku, hah? Kakak pikir aku suka kakak yang terus kayak permen karet denganku? Emangnya aku suka? Aku risih kak. Semua tatapan orang itu menatap padaku kak. Apa kakak pernah berpikir aku mau kayak begitu?" Teriakku yang nggak terima kakak selalu melontarkan kesalahan padaku. Yah, walaupun pada dasarnya aku memang salah.
"Eh... Kok tiba-tiba kamu yang jadinya marah? Seharusnya kan kakak yang marah." Tanya kakak kebingungan saat aku lepas kendali dan menanyakan pertanyaan beruntun.
__ADS_1
"Tiba-tiba apanya? Rosa tadi diam aja itu karena Rosa menghormati kakak. Itu bukan berarti Rosa nggak bisa marah juga, kak. Lalu apakah kalian pernah menanyakan pendapat Rosa? Bagaimana keinginan Rosa? Apa yang Rosa inginkan? Apakah kalian pernah mikirin perasaan Rosa? Setidaknya sedikit saja, kasihlah Rosa sedikit ruang buat Rosa bersenang-senang, buat Rosa menghibur diri. Dan tolong, percayalah sama Rosa." Pintaku memelas dan melunak pada akhirnya.
"Sayang... Cukup, jangan ngomong gitu sama kakak kamu. Gini-gini tu dia peduli pada kamu, lho. Makanya dia sampai marah-marah gini. Dia marah bukan karena benci sama kamu, tapi melainkan karena dia sayang sama kamu." Bujuk Mama untuk meredamkan amarah ku.
"Iya, Rosa ngerti, Ma. Tapi nggak bisa begini dong Ma. Disini tuh selalu Rosa yang mikirin perasaan kalian. Lalu apakah kalian pernah mikirin perasaan Rosa?" Tanyaku dengan air mata yang sudah mulai keluar, walau tak diinginkan. Dada ini rasanya sesak, begitu sakit. Ternyata beginilah rasa yang selama ini sudah terpendam.
"Rosa, jaga omongan kamu jika sedang berbicara dengan Mama mu, ya? Apakah kamu tidak mengerti sopan santun pada yang lebih tua, hah? Apakah ini yang selama ini kami ajarkan pada kamu?" Bentak Papa marah besar padaku.
Papa memang mengerikan. Dia tidak terbiasa marah, dan hampir tak pernah marah. Namun sekalinya dia marah, dia mampu menjungkirbalikkan semua barang yang ada disekitarnya. Hanya Mama yang mampu meredamkan amarahnya itu. Namun apapun itu aku sudah memulainya, jadi aku pula yang harus mengakhirinya. I'm the beginning and I'm the ending.
"Jadi begitu, ya?? Ok, mulai dari sini Rosa akan mengutarakan pendapat pribadi Rosa. Tanpa Rosa akan mempertimbangkan perasaan kalian. Rosa lelah Ma, Pa. Rosa capek, selalu kalian awasin. Rosa nggak pernah punya kebebasan buat Rosa sendiri. Rosa ni udah gede, Rosa udah dewasa. Rosa udah bisa membedakan mana yang bener dan mana yang salah. Rosa nggak butuh lagi pengawasan very ketat dari kalian, yang Rosa butuh itu kalian percaya sama Rosa dan ngedukung keputusan Rosa. Do you know, Dad? Sebuah hubungan ataupun keluarga itu akan damai jika anggotanya itu saling mempercayai. So, believe at me, Dad!"
"Honey, walaupun gitu kamu nggak bisa begitu juga. Kamu nggak tau aja apa yang membuat kami begini padamu. Kamu tolong mengertilah sedikit." Harap kakak padaku. Tapi apa yang harus ku pahami? Aku nggak bisa memahami apapun itu.
"Aku nggak ngerti, Kak! Apa yang harus ku mengerti? Aku nggak pernah tau itu. Kalian selalu menutupinya dariku? Lalu bagaimana kalian berharap aku mengerti kalian? Apa yang harus ku mengerti? Apa yang harus ku pahami? Huh? Coba katakan! Apa yang harus ku mengerti, padahal kalian nggak pernah sekalipun membicarakannya padaku, dan selalu menutupinya dariku. Lalu kalian berharap aku mengerti? That is impossible! It same with you say lie to me and than you hope me to believe you? Sangat naif!"
"Sayang... Kamu coba tenang dulu. Kita bicarakan ini baik-baik, ok?" Kata Mama tetap menenangkan ku.
"Ini nggak ok, Ma? Masa kalian pikir ini keputusan yang adil? Kalian selalu berharap Rosa memahami kalian, tapi Rosa nggak pernah tau apa-apa. Setidaknya, tolong kalian beritahu Rosa, apa yang yang harus Rosa pahami? Bukan dengan menutupi begini? Lalu mengharapkan Rosa untuk memahami kalian. Dan terus, kalian selalu menganggap Rosa bagaikan kaca yang mudah pecah? Apakah Rosa nggak pernah bisa diandalin? Nggak bisa diharapkan? Nggak bisa jadi jaga rahasia? Nggak bisa...."
"Bukan gitu sayang. Bukannya kamu nggak bisa diandalin. Kamu dengerin Mama dulu dong." Pinta Mama yang semakin terbawa emosi dan nggak tahan untuk tidak meneteskan air matanya.
"Ma, biar Papa aja." Potong Papa untuk menghentikan Mama. "Jadi itu yang kamu pikirkan tentang kami, sayang?" Tanya Papa melunak. Sedangkan Mama hanya bisa diam saja, karena memang selama ini aku selalu menerima dan mengikuti apa yang menjadi keputusan orang tuaku.
"Sayang...." Mama sudah mulai menangis.
"Hahaha." Aku tertawa getir menerima itu semua. Baru kali ini aku mengeluarkan unek-unek yang selama ini selalu ku pendam. "Tapi Rosa rasa, nggak cuma sebatas itu saja, kan? Kalian juga meminta beberapa bodyguard untuk mengawasi Rosa diam-diam, kan? Papa pikir Rosa nggak tau? Rosa orangnya sensitif, Pa. Selama ini Rosa diam saja karena Rosa menghormati kekhawatiran kalian sama Rosa. Bener nggak, Pa? Apa yang Rosa bilang?"
Papa dan lainnya hanya diam. Kakak nggak pernah sama sekali menatapku, sedangkan Mama sudah berderai air mata. Sebenarnya aku nggak tega melakukan ini semua. Tapi entah kenapa perasaan yang membuncah itu keluar dengan sendirinya.
"Ternyata memang bener, ya?" Tanyaku lagi. Tapi, aku nggak tega melihat Mama menangis, karena aku tipe orang yang lemah terhadap air mata. "Sudahlah, Rosa nggak ingin hal sepele ini meretakkan keluarga kita." Kataku mengalah, sudah sepantasnya aku mengalah kepada orang tuaku, karena apapun yang mereka lakukan juga demi kebaikanku sendiri.
"Honey, kamu nggak jadi ngomel-ngomel lagi?" Tanya kakak yang akhirnya menatap wajahku juga.
"Apa kakak pikir aku akan mengibarkan bendera *R*ebellion, gitu? Yah... Meskipun usia Rosa memasuki fase itu, tapi Rosa nggak mungkin melakukan itu." Jawabku sambil tersenyum, walau ini bukan dari lubuk hati ku yang dalam. Siapa sih yang bisa tersenyum sesudah dia marah-marah?
"Ma, liat. Rosa kita tetaplah Rosa kita. Semarah apapun dia, dia tetap akan menjaga perasaan kita." Kata papa bangga.
"Iya." Mama menghapus air matanya. "Mama janji, untuk kedepannya kita akan lebih percaya sama Rosa. Ya kan, Pa? Stev?"
"Ya, meskipun sulit. Tapi akan Stev usahain. Apapun demi honey. Dan kita juga kan coba untuk membuat ruang buat kamu sendiri honey, supaya kamu nggak merasa terlalu terkekang."
__ADS_1
"Sudah, cukup. Jadi, Papa mau ngomongin apa sama Rosa. Papa sama Mama, nungguin Rosa pulang bukan karena mau marahin Rosa, kan?" Tanyaku. Karena saat pembicaraan tadi, sudah nampak hawa yang kurang mengenakkakan.
Walaupun aku sering marah-marah begini begitu karena masalah pengawasan yang dilakukan Papa dan kakak, Mama nggak pernah sampai nangis begitu. Pasti ada sesuatu yang memicunya.
"Analisa mu memang sangat tajam, Rosalyn." Puji Papa. Rosalyn? Ternyata memang masalah yang serius. Semuanya terdiam, semuanya membisu. "Sayang, umurmu berapa sekarang?"
"Seminggu lagi memasuki 18 tahun. Memangnya kenapa, pa?
"Rosalyn Saputri Vogart, kedepannya kamu nggak akan menyandang nama Vogart itu lagi."
"Maksud Papa apaan? Papa mau ngusir Rosa, karena Rosa nggak mau Papa awasin?"
"Dengerin Papa ngomong dulu dong, honey. Keep calm down, calm down. Okey?" Kata kakak menenangkan ku.
"Kamu akan Papa jodohin?"
"Apa? Dijodohin? Hah..yang benar saja. Rosa masih bocah bau kencur, Pa? Bocah kemaren sore. Masak Papa pengen cepat-cepat ngirim Rosa ke orang lain sih, Pa? Emang Papa tega?" Tangkas Ku dengan cepat.
"Calm down, honey. Calm down. Ini juga bukan kemauan Papa. Papa begini juga karena dipaksa oleh keadaan, honey." Tegas kakak yang selalu menenangkan ku, padahal sendirinya juga nggak karuan.
"Ok, coba Papa jelaskan alasannya, klo memang alasannya masuk akal, Rosa akan menjalaninya dengan serius."
"Baiklah. Cerita ini terjadi pada masa jauh sebelum Papa dan Mama menikah. Papa dan teman papa itu adalah teman akrab. Kami merintis perusahaan bersama-sama dari nol. Persahabatan kami nggak pernah bisa dipisahkan seperti dua alat yang saling melengkapi satu sama lain. Hingga akhirnya kami pun berhasil merintih perusahaan bersama-sama. Kemudian Papa menikahi Mamamu dan mewarisi perusahaan dari Ayah Mama kalian sebagai hadiah atas kelahiran Stev, dan perusahaan lama pun Papa kasih buat kepada teman Papa itu untuk dikelolanya."
"Dan 7 tahun kemudian kamu pun lahir. Paman Abraham sangat bahagia dan membuat janji klo dia akan menjodohkan anak laki-lakinya yang seusia Stev denganmu." Tambah Mama.
"Dan pada usiamu 5 tahun, kamu demam parah. Dan Papa harus mengantarkan kamu ke rumah sakit terlebih dahulu, padahal Papa punya janji dengan Ayah Reyhandra untuk mendiskusikan proposal kami dengan klien dari luar negeri di vilanya dekat puncak. Papa menelponnya, Abraham bilang dia akan pergi terlebih dahulu dan Papa akan menyusul nantinya. Tapi, dia malah kecelakaan jatuh dari jurang akibat dikejar oleh orang suruhan perusahaan lain karena tergiur dengan tender yang kami tangani. Papa juga dicegat ditengah perjalanan dan dipukuli hingga masuk ke rumah sakit. Papa sangat menyesal dan merasa bersalah atas kejadian itu. Jadi, Papa hanya bisa mewujudkan keinginannya itu, yaitu menjodohkan putranya Reyhandra dengan kamu, putri satu-satunya dari Raymond Vogart, Rosalyn Saputri Vogart."
"Jadi, karena hal itu Papa mau Rosa menikahi laki-laki bernama Reyhandra itu?"
"Papa paham kamu mau mewujudkan cita-cita kamu dan ingin menjadi seorang psikiater yang hebat, tapi kamu kan juga bisa kuliah walaupun sudah nikah nantinya."
"Baiklah kita lihat dulu apakah dia cukup cocok dengan Rosa nantinya. Papa tenang saja, Rosa nggak akan biarkan Papa jadi orang yang akan mengingkari janji sahabatnya sendiri."
"Makasih karena sudah mau mengerti, sayang. Kita akan menjumpai keluarga Reyhandra besok malam. Supaya kamu kenal orang seperti apa calon suamimu itu." Kata Papa membuka tangannya dengan lebar.
Aku segera bangun dan memeluk Papa. "Kasih kembali buat Papa." Balasku padanya. Lalu tetiba Papa mencium keningku. Aku tersenyum, ini berkah untuk ku karena punya keluarga yang selau ada untukku.
"Pa, masa Papa mengambil kesempatan dalam kesempitan gitu buat nyium, honey. Itu curang namanya, Pa." Debat kakak pada Papa tidak terima.
"Emang Papa pikirin? Toh Papa juga nyiumnya kesayangan Papa sendiri." Jawab Papa tak tau malu.
__ADS_1
Aku melepaskan diri dari pelukan Papa. Aku melihat adegan yang tak pernah hilang dalam keluarga ku. Selalu ada pertengkaran kecil tak berarti karena masalah diriku. Hal itu tak pernah luput sedikit pun dari keluarga ini. Ku harap ini akan bertahan selamnya.