Dia Bahagiaku Dia Lukaku

Dia Bahagiaku Dia Lukaku
Chapter 19 : Bahasa Telepati Mata


__ADS_3

Rosa segera menuju ke meja tempat duduk Andre tadi. Dan kenapa dia bisa tau dimana meja Andre duduk? Itu karena dia paling mencolok dan si paling heboh yang naik ke atas kursi untuk meneriakinya.


Rosa tak mau menyebut itu sebagai dukungan ataupun support, karena itu malah membuat Rosa risih dan gara-gara Andre juga dia jadi dikenal sebagai Shaka satu bar. Meskipun itu bukan hal yang buruk untuk menjadi dikenal oleh orang lain dan juga terkenal.


Rosa segera menarik kursi dan duduk berseberangan dengan temannya Andre. Rosa nggak tau bahwa yang duduk di seberangnya adalah Reyhandra karena Reyhandra sibuk mencari-cari sosok Andre yang hilang entah kemana, dan dia sudah dari tadi melensakan matanya mencari kemana Andre menghilang.


"Itu bocah pergi kemana sih? Katanya tadi mau nyapa adeknya, tapi si Dian malah sendirian di sana sama menejer bar." Gumam Reyhandra pada dirinya sendiri.


"Cari gue bro?" Tanya Andre mengejutkan Reyhandra dengan kehadirannya yang tiba-tiba.


Reyhandra terperanjat terkejut, namun dia dengan segera memperbaiki tingkahnya dan mengontrol emosinya supaya nggak marah didepan umum. Karena citranya disini adalah sebagai CEO yang dingin yang dikenal oleh banyak orang dengan sebutan 'Wolf of Ice', terutama dikalangan para wanita.


"Oh, udah kembali lo?" Jawab Reyhandra dengan pendek dan suara rendahnya itu.


Andre segera menarik kursi duduknya didekat Reyhandra dan segera duduk. "Xiao xiao, bagaimana kamu tau klo disini tempat duduk gege?"


Rosa masih saja mendiamkan Andre, dia masih dengan prinsipnya yang nggak bakalan berbicara dengan Andre sampai Dian kembali, bahkan Reyhandra pun dia tidak terlalu memperhatikannya.


"Xiao xiao, apakah kamu masih marah dengan gege? Xiao xiao? Oh xiao xiao." Panggil Andre terus menerus dan dengan berbagai suara seimut-imut mungkin dibuatnya.


"Xiao xiao, xiao xiao! Berisik tau nggak? Kamu ini..." Rosa terdiam saat memerhatikan orang di samping Andre adalah seorang Reyhandra Kedrey, tunangannya.


"Hemmm??? Kamu apa, hemm?" Tanya Andre memiringkan kepalanya sambil menggoda Rosa dengan matanya itu.


"Kamu..." Rosa menunjuk Andre dengan telunjuknya, tapi lagi-lagi Rosa terdiam, dia nggak tau apa yang mau dikatakannya.


Rosa menahan emosinya dan akhirnya hanya berdiri saja untuk meredamkan murkanya itu. Untung saja dia melihat Reyhandra didepannya, takut ketahuan juga iya, klo nggak dia sudah menggebrak mejanya.


Padahal Rosa sudah menyusun rentetan kata-kata sejak tadi dia mendiamkan Andre dan dia berencana hendak mengeluarkan semuanya sekaligus, tidak memberinya kesempatan untuk membantah, menjawab apalagi memotong perkataannya. Namun, gara-gara dia syok klo orang lain yang juga teman dari Andre itu adalah Reyhandra dia menjadi terdiam, apa yang dipikirkannya menjadi blank begitu saja dalam otaknya, semuanya jadi ngelek.


"Shak, kenapa bediri? Nggak mau duduk?" Tanya Dian yang datang dari belakangnya.


"Oh Dian, kamu udah selesai bicara dengan pak manejernya, ya?" Tanya Rosa yang membuang kecanggungannya melalui Dian.


"Fiuuhhh selamat, untung Dian datang tepat waktu." Batin Rosa sambil membuang nafas lega tanpa sepengetahuan yang lainnya karena mereka sudah terfokus pada kehadiran Dian.


"Oh, ya udah. Lo baik-baik saja kan, Shak? Lo nggak diapa-apain kakak gue kan?" Tanya Dian yang melihat ekspresi Rosa yang sedikit kurang mengenakkan.


"Apa? Ah, ahahaha, aku baik-baik aja kok. Kenapa juga aku nggak baik-baik aja. Mana berani kakak kamu nindas aku, klo emang dia nggak mau ku sleding sampai pingsan di tempat." Jawab Rosa yang dengan canggung dan mengecilkan suaranya saat dia akan bilang kata 'sleding'. "Ya kan Kak Andre?" Tanya Rosa kemudian.


"Oh, tentu saja iya. Gege pasti akan menjaga xiao xiao dengan segenap jiwa raga kakak. Kamu tenang aja, Yan. Kakak tau kok klo kamu sangat protektif sama Shaka karena dia cowok cantik, kan? Kamu tenang aja pokoknya. Bisa diatur itu. Lagipula gege sama xiao xiao sangat akrab kok, sudah seperti saudara kandung, ya kan xiao xiao?" Tanya Andre balik pada Rosa. Tak hanya sekedar bertanya tapi dia juga bangun dari tempat duduknya dan merangkul Rosa lagi.


"Lagi-lagi ini buaya, rangkul-rangkul orang. Apa dia punya hobi kayak gini ya? Yah, emang udah nasib aku juga kayak gini. Senjata makan tuan, nyesel aku tanya sama itu orang." Rutuk Rosa dalam hatinya sendiri akan kebodohannya.


"Ahahaha, iya Kak Andre dengan aku sangat akrab kok, Yan. Kamu tenang aja." Ucap Rosa meyakinkan Dian lagi.


"Oh baguslah jika kalian sudah akrab. Tapi Shak, lo nggak lupa kan apa yang gue bilang sama lo, kan?" Peringat Dian akan pesannya saat dia memperkenalkan Andre tadi saat mereka masuk bar tadi.


"Oh ya, dimengerti. Kamu tenang aja, Yan."


"Oh ya, Kak Rey. Apa kakak menikmati konser kecil kami tadi?" Tanya Dian saat dia melihat Reyhandra yang tetap diam saat melihat drama antara Rosa dengan Andre.


"Ya, aku sangat menikmatinya kok. Vokalis yang kamu cari juga bagus. Cowok cantik dengan suara emas, sangat jarang ada sekarang ini. Dan kamu bisa mencari orang seperti itu, ini benar-benar seperti mendapatkan sebuah jackpot yang luar biasa. Biasanya klo orang seperti itu, pasti ada bakat dalam memainkan alat musik lainnya, mungkin contohnya saja seperti piano." Ujar Reyhandra sambil melihat kearah Rosa, Reyhandra berencana hendak memancing Rosa dengan itu.

__ADS_1


Rosa langsung membuang pandangannya dari Reyhandra dan melihat kearah lain. Dia juga melepaskan rangkulan bahunya dari Andre dan dia langsung duduk kembali ke tempatnya, begitu juga dengan Andre, dia langsung duduk ke tempatnya kembali.


"Ahhh, didini sangat panas, ya?" Kata Rosa pada dirinya sendiri sambil mengipas-ngipasi tangannya. "Ya kan, Yan?"


"Xiao xiao belum tau, ya? Klo di bar ini memang sangat panas. Kecuali kamu mau ke kolam renang baru dingin. Ya kan, xiao xiao?" Jawab Reyhandra lagi. Dan dia senang melihat Rosa yang gugup karena hal itu. "Oh, atau namamu Shaka ya? Maaf aku belum tau soalnya." Kata Reyhandra lagi.


"Oh, maaf Kak Rey, aku yang salah. Aku lupa mengenalkannya padamu. Shak, kenalkan ini Kak Rey, temen kakak aku. Juga sebagai kakak aku, aku udah menganggapnya sebagai kakak aku karena keluarga kami. Kak Rey, kenalkan ini Shaka." Ucap Dian memperkenalkan Reyhandra pada Rosa.


"Aku udah kenal, Yan. Dia itu tunangan akuuu!!!" Teriak Rosa frustasi dalam hatinya.


"Oh, Shaka ya? Senang berkenalan dengan kamu. Nama saya Reyhandra Kedrey, temannya Andre juga kakak Dian, meskipun kami bukan dari keluarga yang sama, tapi kami sudah akrab dari kecil." Kata Reyhandra mengenalkan dirinya sambil mengulurkan tangannya.


Rosa yang melihat Reyhandra melihat mengulurkan menjadi bimbang antara haruskah dia menerimanya atau tidak. Jika dia tidak menerimanya dia tidak enak dengan Dian dan juga tidak sopan. Jika dia menerimanya, hatinya tidak aman karena dia sangat gugup.


"Klo nggak ku terima uluran tangannya boleh nggak?" Tanya Rosa berbisik pada Dian.


"Cuma salaman bentar doang kok, nggak apa-apa. Kak Rey bukan orang aneh kok, nggak sama kayak Kak Andre gue." Balas Dian berbisik ditelinga Rosa.


Reyhandra masih saja mengulurkan tangannya walaupun Rosa masih tak kunjung juga menerima uluran tangannya. "Ini orang kenapa masih kekeh untuk bersalaman dengan aku. Dasar orang keras kepala!" Rutuk Rosa lagi dalam hatinya.


"Hem? Jadi gimana pilihan kamu Rosa, tunangan kecilku?" Tanya Reyhandra dalam hati yang dimaksudkan untuk Rosa.


Rosa mau tak mau menerima uluran tangannya kepada Reyhandra. Rosa mengelap tangannya dengan jaket karena dia khawatir sebagai dia gugup sampai-sampai tangannya berkeringat baru kemudian menerima uluran tangan Reyhandra.


"Ah ya, saya Shaka. Senang berkenalan dengan Anda juga." Ucap Rosa memperkenalkan dirinya pada Reyhandra.


Reyhandra menerima uluran tangannya Rosa dan menyalamnya. Dan ketika Rosa hendak menarik tangannya itu, tapi Reyhandra malah menahan tangannya. Bahkan sampai beberapa kali Rosa hendak menariknya tapi Reyhandra menahannya dan menahannya.


"Tangan adik Shaka ternyata sangat mulus ya, seperti tangan seorang cewek. Pasti adik Shaka seorang tuan muda di sebuah keluarga, kan? Dari keluarga mana adik Shaka?" Tanya Reyhandra dengan maksud terus menahan tangan Rosa.


"Aaaaaa..., bilang apa sih ini mulut. Cowok cantik? Aaa, malau kali akuuuu...." Teriak Rosa dalam hatinya.


"Oh ya? Apa Kak Rey aja yang pikirannya terlalu kolot ya, tidak mengetahui dunia adik Shaka dengan baik sampai-sampai tidak mengikuti perkembangan zaman, dan juga tidak mengetahui dunia anak muda zaman sekarang ini. Jadi mohon adik Shaka membantu Kak Rey kedepannya."


"Nggak salah liat ini kan gue? Seorang Reyhandra menahan tangan seorang cowok? Nggak, nggak, ralat. Bukan cowok tapi cewek. Tapi apa mungkin Reyhandra tau klo Shaka itu cewek. Tapi nggak mungkin juga lah. Orang seperti dia mana mungkin paham tentang cewek, orang dia lurusnya seperti menara Tokyo juga dinginnya lebih dingin daripada salju di suku Eskimo." Pikir Andre yang terus saja bermonolog dalam hatinya, sebisa mungkin dia memikirkan solusi yang diterima oleh akal nalarnya sesuai dengan standar seorang Reyhandra yang diketahuinya.


"Kak Rey apaan sih? Nggak usah terlalu merendahkan diri. Tipe cowok seperti adik ini hanyalah tipe cowok yang lembek saja dalam pandangan wanita-wanita sekarang ini. Justru Kak Rey lah tipe yang dikejar-kejar oleh banyak wanita, banyak diincar. Karena Kak Rey ini memenuhi tipe 'Wolf of Ice' mungkin. Ahaha, adik mungkin nggak perlu terlalu menjelaskannya pada Kak Rey, karena Kak Rey sendirilah yang paling mengetahuinya. Ya, kan?"


"Hemmm? Pandai juga ini kucing kecil bermain kata-kata. Sangat menarik, tapi sayangnya, kamu hanyalah seorang kucing dan saya harimau, seekor predator yang bisa saya memangsa." Pikir Reyhandra.


"Yeyyy, satu sama!!!!" Teriak Rosa girang dalam hatinya.


"Haa, dasar xiao xiao kecil, kamu sangat senang rupanya. Ternyata ada juga orang yang bisa bermain kata-kata dengan seorang Reyhandra, hal yang jarang terjadi. Bahkan hal yang Dibangga-banggakan oleh Reyhandra, bisa dipatahkan oleh seorang gadis kecil. Andai gue bisa tertawa keras, pasti sangat puas. Kyaaaa, puas banget gue liatnya, andai aja ada popcorn, pasti seru lagi. Tontonan gratis." Batin Andre dalam hatinya sambil menahan tawa diwajahnya.


"Kak Rey kenapa lama kali sih nahan tangan Rosa? Nggak mungkin dia ketahuan Kak Rey, kan?" Pikir Dian was-was. Karena dia adalah orang yang bertanggung jawab atas rosa selama rosa ada di bar ini, atau bisa dikatakan dia adalah adalah walinya Rosa selagi Rosa masih dalam atap bar ini.


"Ah ya, kalian semua. Bagaimana klo kita pindah? Maksudku kita pindah ke tempat lebih nyaman gitu, nggak kayak disini ditengah-tengah bar gini, nggak bisa denger apa-apa soalnya dekat sama ni orang dugem nari-nari disini. Lagipula, ada seorang teman lagi aku yang nunggu kita dekat pojok sana." Ujar Dian mencairkan suasana dan langsung meraih tangan Rosa dari Reyhandra. "Ayo cepet, lo nggak mau kan disini truss?" Bisik Dian kepada Rosa, karena ekspresi Rosa seakan-akan bertanya Dian kenapa.


"Kita akan pindah kemana emangnya, Yan? Mana temen kamu yang satu lagi? Kok nggak keliatan dari tadi?" Tanya Andre yang menyerang Dian dengan rentetan pertanyaan.


"Kakak ikut aja napa sih? Pake nanya segala, berisik tau nggak?" Protes Dian kepada Andre.


"Yayaya, gue ikutin aja."

__ADS_1


"Nah, gitu dong. Kan enak jadinya, kagak berisik kayak gagak minta makan."


"Sejak kapan kakak mu yang ganteng nan tampan ini jadi gagak?" Tanya Andre tak terima dikatain gagak.


"Sejak hari ini." Jawab Rosa sambil berbisik dan tertawa terkikik-kikik.


Reyhandra yang berjalan disamping Rosa bisa mendengar apa yang dikatakan oleh Rosa, walaupun keadaan bar lagi kacau-kacaunya dengan musik DJ. Tak terkecuali dengan Andre sendiri dia juga menyadari klo Rosa mengatakan sesuatu yang tidak mengenakkan kepada dirinya karena dia bisa membaca itu dari wajah Reyhandra yang mengulum senyumnya.


Dian membawa Rosa dan lainnya ketempat Adel menunggu, tempat mereka biasa nongkrong. Adel sedang men-scroll handphonenya saat Dian tiba menyapanya.


"Udah lama, Le?" Tanya Dian menyapa Adel dengan nama samarannya sebagai Leon.


"Bisa dibilang lama."


"Udah sejak kapan. Saat kami perfom kamu udah nyampe belom?" Tanya Rosa yang duduk di kursi sofa seberang Adel.


Karena ini merupakan tempat pojokan, jadi bar menyediakan fasilitas tempat duduk berupa meja panjang dengan sofa. Jadi bar ini efektif untuk pengunjung yang datangnya secara berkelompok.


Reyhandra sengaja duduk di samping Rosa. Dan itu berhasil membuat Rosa kembali risih, walaupun Rosa tidak menampakkannya pada yang lain, tapi Reyhandra menyadari akan hal itu, makanya Reyhandra makin menjadi-jadi untuk terus mengganggunya.


"Risih? Anggap saja ini sebagai DP aku buat kamu nantinya. Dan akan ada hal mengejutkan lainnya lagi yang sudah ku siapkan untukmu, dan itu spesial." Batin Reyhandra yang ditujukan kepada Rosa.


"Ini orang kenapa sih? Punya dendam dia sama aku? Tapi dendam apa? Orang aja baru pertama kali bertemu. Atau jangan-jangan..., jangan-jangan dia tau lagi identitas asli aku sebagai Rosalyn, tunangannya. Gimana ini? Tapi nggak mungkin juga, kan?" Pikir Rosa yang terus bermonolog antara batinnya dan akal pikiran sehatnya.


Tapi akhirnya Rosa lebih memilih akal pikirannya, mana mungkin Reyhandra kenal dengan dirinya yang baru bertemu dengan Reyhandra dalam balutan pakaian cross dressing-nya.


Dian terus memperhatikan Rosa yang merasa risih, dan berencana hendak duduk antara Rosa dan Reyhandra, jaga-jaga supaya Reyhandra tidak curiga dengan identitas Rosa karena Rosa sering gugup jika dekat dengan Reyhandra.


"Gue mesti nolongin si Shaka ni, bisa-bisa Kak Rey malah curiga lagi, masa cowok gugup dengan cowok lain Kan nggak mungkin banget itu. Apalagi dengan IQ Kak Rey, dia pasti bakalan curiga ini." Pikir Dian dan langsung hendak duduk diantara Reyhandra dan Rosa.


"Kamu mau kemana, hah?" Tanya Andre yang menahan tangan Dian.


"Ya mau duduk lah. Emang mau ngapain lagi coba?"


"Kamu duduk deket kakak sini, biar kakak bisa ngeliat kamu baik-baik. Jarang-jarang kita bisa ketemu gini, kan?" Kata Andre lagi mencari menahan Dian.


"Nggak, nggak boleh disini. Kalian masuk dalam sana. Gue maunya tetap disamping gini didini." Kata Adel yang lebih memilih untuk duduk disamping supaya dia bisa lari nantinya klo ada masalah yang terjadi.


"Iya, nggak apa-apa. Boleh juga. Sini, Yan!" Kata Andre menarik tangan Dian dan menahannya. Dan Dian pun mau tak mau harus nurut pada kakaknya itu.


"Yan, tolongin aku dong!!!" Pinta Rosa dalam hatinya sambil melihat kearah Dian, dan sorot matanya itu yang meminta tolong meskipun Rosa nggak mengatakannya secara langsung.


"Mau gimana lagi, kan? Lo liat sendiri. Kakak gue nahan tangan gue nih." Jawab Dian melalui telepati hati dengan Rosa dan matanya yang memperlihatkan tangannya yang ditahan oleh Andre.


Melihat Dian yang nggak bisa membantunya membuat Rosa nggak bisa berkutik apa-apa, dia hanya bisa pasrah. Rosa juga melihat kearah Adel yang duduk di seberangnya, tapi justru Adel juga malah dipelotin oleh Reyhandra dan sontak itu membuat Adel membuang pandangannya kearah lain, yang dikira oleh Rosa Adel juga nggak bisa menolongnya.


"Ini kakak kenapa malah liat kearah ku sih? Apa jangan-jangan aku ketahuan lagi? Kakak tau lagi ini aku yang cross dressing." Pikir Adel membuang pandangannya saat diminta tolong oleh Rosa dan justru yang Adel dapetin justru sebuah pelototan laser dari Reyhandra.


Reyhandra senang klo dia bisa ngeganggu Rosa sampai puas malam ini karena Andre berhasil menahan Dian, dan dia juga berhasil membuat temannya Rosa satu lagi menjadi takut padanya, bahkan temannya itu nggak mampu melihat kearahnya saking takutnya.


"Sekarang siapa lagi yang akan menolong kamu? Dan siapa lagi yang akan kami minta tolong?" Tanya Reyhandra kepada Rosa, tapi itu hanya dalam hatinya Reyhandra.


Kemudian Reyhandra melihat kearah Andre, begitu juga dengan Andre bahkan Andre memberikan senyuman kepada Reyhandra.

__ADS_1


"Makasih bro, atas bantuan lo." Kata Reyhandra kepada Andre melalui matanya.


"Sama-sama, bro. Lo nggak usah segan pada gue. Meskipun gue nggak tau kenapa lo menahan xiao xiao di samping lo padahal dia cowok, meskipun sebagai cewek yang menyamar, tapi lo nggak tau itu. Pokoknya apapun itu, gue selalu ada buat lo." Jawab Andre dengan mata membara sambil tersenyum kepada Reyhandra dan mengangkat jempolnya diam-diam, dan Reyhandra yang melihat itu pun tersenyum puas.


__ADS_2