
Rosa memperhatikan ke belakangnya dan melihat sebenarnya milik siapa sih suara bass itu? Dan itu ternyata adalah pelayan yang tadi sedang mendorong troll makanannya menuju meja makannya Rosa dan Alan.
"Maaf, apakah saya mengganggu waktu berharga Anda berdua? Saya hanya mau memberikan sampel makanan penutup yang saya bilang tadi doang." Kata si pelayan itu meletakkan cake rasa coklat juga puding roti dengan rasa vanilla coffee didepan Rosa dana Alan.
"Oww, you are. No, kamu nggak ngeganggu sama sekali kok." Jawab Rosa dengan ramah. "Malahan kamu datang di waktu yang super tepat. Klo nggak ngerti tau aku akan berapa lama keadaan canggung ini akan mencair." Batin Rosa lagi melihat makanan penutup yang sudah tertata didepannya.
"Ok, ini dia makanan penutupnya? Silakan dinikmati, dan Anda boleh juga memberi kritik dan sarannya."
"Hemmm, klo gitu aku boleh beri sarannya sekarang juga?" Tanya Rosa menoleh ke arah si pelayan.
"Klo begitu akan merepotkan Anda untuk memberi masukan pada makanan penutup restoran kami yang baru." Jawab si pelayan mengangguk dan mempersilahkan Rosa untuk mengutarakan pendapatnya.
"Klo aku pribadi sih, penampilan luarnya dulu udah ok. But, l don't know how about their taste. By the way, l don't know what name of this dessert." Tanya Rosa yang mulai mengambil sendok dessert dan lalu menyuapkan dessert kedalam mulutnya. Merasakannya secara hati-hati, dan begitu menikmatinya. Supaya sampel gratis yang diberikan itu tidak sia-sia.
"Mengenai soal nama, short cake yang Anda makan itu namanya pure chocolate. Dan puding yang satu ini namanya vanilla and coffee will together." Jawab pelayan memperkenalkan nama-nama dari makanan penutupnya.
Namun mendengar nama itu membuat Rosa hampir aja tersendat karena salfok dengan namanya. Dia bahkan ter batuk-batuk saat mendengarnya, dan hampir juga Rosa memuncrat isi mulutnya ke Alan.
"Are You okay, miss?" Tanya si pelayan yang segera memberikan air putih pada Rosa, air yang juga kebetulan dibawanya, karena disuruh oleh bosnya.
"Rosa, kamu nggak apa-apa, kan? Ini minum dulu. Makanya kamu itu klo makan yang benar dong. Jangan buru-buru kayak gitu. Nggak akan ada yang rebutan sama kamu, kok." Ujar Alan yang langsung menyambar gelas air dari tangan si pelayan dan meminumkannya pada Rosa.
"What the f*ck? Apa-apaan dengan nama yang norak itu? Sebenarnya siapa dih yang membuat nama makanan penutup aja nggak ada sedikit seni oun Kenapa mereka nggak belajar dati Deidara." Batin Rosa meminum cocktailnya sesudah meminum air putih.
"Iya, iya kak. Nggak buru-buru kok. Hanya saja..." Ucap Rosa menghentikan kata-katanya.
"Hanya saja apa?" Tanya Alan lagi yang penasaran akan sesuatu yang akan diomongin oleh Rosa.
"Nggak ada apa-apa kok." Jawab Rosa meletakkan gelasnya dan kembali ke mode serius. "Ehemm, klo gitu saya akan memberi krisar untuk makanan penutup ini. Klo bagi saya, yang pure chocolate ini sebenarnya enak, teksturnya juga lembut and creamy. Like the name, coklatnya juga berasa. Hanya saja klo bagi saya ini terlalu kemanisan dan akan nggak cocok untuk beberapa orang yang terlalu suka makan makanan manis. Jadi saya sarankan untuk memakai dark chocolate, karena namanya aja kan pure chocolate, jadi cokelatnya itu emang harus benar-benar kerasa. Dan untuk puding ini..., saya nggak ada komentar. Ini emang sesuai dengan namanya, vanilla and coffee. Dan ini juga enak. Semuanya pas, hanya saja... maaf untuk sebelumnya, apakah namanya itu nggak terlalu norak gitu?" Tanya Rosa langsung ke intinya, walaupun Rosa sopan karena sudah meminta maaf terlebih dahulu.
"Pfffft..." Alan tertawa mendengar Rosa yang bicara blak-blakan, namun dia menahannya karena itu didepan pelayan restoran, karena itu juga terbilang nggak sopan.
Si pelayan dia menyadari klo Alan itu sedang menertawakan nama dati makanan penutup iyu hanya saja dia menahan tawanya karena sedang berada didepan pelayan itu sendiri.
Si pelayan kembali melihat ke Rosa dan menjawab. "Sebenarnya saya juga merasa klo nama itu juga norak. Hanya saja, makanan penutup ini ditemukan oleh bos kami beberapa jam yang lalu, dan memberitahukan namanya gitu. Mungkin bos punya kisah sendiri dibalik nama makanan penutup ini. Kisah saat dia mendapatkan inspirasi untuk mengembangkan makanan penutup ini."
"Maksud kamu bos kamu itu seorang koki?" Tanya Rosa lagi yang semakin penasaran dan tertarik. Tapi itu berbeda dengan Alan yang sangat keberatan Rosa terus berkomunikasi dengan si pelayan, karena dia juga mau mengomongkan sesuatu dengan Rosa.
"Nggak juga, hanya saja bos yang memberikan ide ini untuk koki supaya di coba, dan beginilah jadinya. Makanya kami butuh seorang pelanggan untuk menguji sampelnya dan memberikan saran untuk kamu."
"Oh..., gitu, ya. Jadi seperti yang saya bilang tadi, untuk pure chocolate coba kalian gunakan dark coklat, dan soal hiasannya, saya nggak banyak komentar. Menaruh stoberi diatasnya itu emang udah umum dilakukan, kan? Jadi saya sarankan juga untuk hiasan krim warna putih dan juga bubuk coklat ditabur diatasnya dan juga diberikan parutan dark chocolate sendiri sebagai sentuhan terakhir. Hanya itu saja dari saya." Jawab Rosa tersenyum pada si pelayan.
"Oh baik. Akan saya sampaikan pada koki kami. Untuk yang puding ini, apakah anda punya saran?" Tanya si pelayan lagi mengenai makanan penutup kedua, vanilla and coffee wii be together. Nama yang membuat Rosa sampai terbatuk-batuk mendengarnya.
"Well, untuk yang satu ini saya nggak ada komentar. Mungkin Kak Alan ada. Apakah kakak mau mengatakan sesuatu untuk makanan penutup yang ini?" Tanya Rosa tersenyum cute pada Alan sambil mengambil puding rotinya itu.
"Maaf saya kurang paham dengan dunia makanan penutup ataupun dessert seperti ini. Karena saya tidak bergelut dengan dunia yang seperti ini. Dan lagi saya nggak terlalu menyukai dessert, jadi saya nggak bisa memberikan kalian kritis dan sarannya seperti yang diharapkan, seperti yang Rosa lakukan. Saya nggak punya keahlian seperti itu. Tapi, mungkin juga menurut saya puding roti ini nggak akan terlalu dibenci, karena ada rasa coffee-nya. Mungkin orang laki-laki juga akan suka. Hanya itu saya, jadi bisakah Anda meninggalkan kami berdua disini? Anda sudah banyak menyita waktu kami untuk menikmati makan malam disini karena urusan makanan penutup kalian." Kata Alan dengan tegas.
"Ah, klo gitu saya minta maaf, sangat sangat meminta maaf, karena sudah ngeganggu waktu Anda berdua. Klo gitu saya permisi dulu, silakan nikmati waktu Anda berdua. Saya nggak akan ngeganggu lagi. Klo begitu saya permisi terlebih dahulu dan juga... jika ada sesuatu tolong panggilkan pelayan yang di sana. Anda bisa meminta bantuannya untuk melakukan pembayaran. Atau Anda bisa juga melakukannya secara pribadi, tapi saya sarankan untuk Anda untuk melakukannya secara pribadi di kasir lantai bawah, yang pertama kali Anda lihat itu." Kata pelayan itu menunjukkan ke arah pelayan yang sedang melayani pelanggan lain.
"Kenapa harus manggil pelayan yang itu? Emang klo yang lain nggak boleh, ya? Trus, klo mau bayar, emang kenapa harus melalui pelayan?" Batin Rosa yang merasa itu sedikit aneh. Namun dia tak ambil pusing dan langsung melanjutkan menikmati dessert dan juga cocktailnya.
__ADS_1
"Iya, kami paham Jadi, bisakah Anda meninggalkan kami berdua disini sekarang? Anda sudah terlalu mengganggu kami disini!" Tambah Alan lagi yang ingin si pelayan itu segera pergi.
Si pelayan mengangguk mengerti klo dia itu terlalu mengganggu. Namun, mau gimana lagi? Bosnya itu bilang untuk memberikan makanan penutup yang belum mereka populerkan itu untuk mereka. Tapi sebelum pergi, si pelayan itu tetap tersenyum dulu pada Rosa. Mau gimanapun dia harus meninggalkan kesan yang baik, karena dia beranggapan klo Rosa akan jadi nyonya bos kedepannya. Dan klo itu benar-benar terwujud, maka kehidupan kerjanya akan semakin aman.
Si pelayan sudah benar-benar pergi dan tinggallah Alan dan Rosa. Rosa tetap seperti biasa, tak merasakan apa-apa, dia hanya berpikir untuk menikmati dessert gratis itu. Sedangkan Alan, dia hanya bisa melihat Rosa yang begitu menikmati dessert-nya, tak bisa berkata apa-apa, karena Rosa emang sangat menyukai itu.
"Kamu sangat suka dessert, ya?" Suara Alan yang bertanya pada Rosa.
"Ya, sangat menyukainya. Apalagi ini kan coklat. Kakak tau sendiri klo Rosa tergila-gila pada coklat." Jawab Rosa tersenyum, karena dia sangat senang dengan dessert-nya.
"Tergila-gila, ya? Apakah aku masih membuat kamu tergila-gila, Rosa? Maksudku, apakah ada harapan bagi kita untuk memulai segalanya dari awal?" Batin Alan yang melihat betapa senangnya Rosa.
"Iya juga, ya. Kamu sangat menyukai coklat. Sampai-sampai kayaknya klo nggak ada coklat nggak enak gitu."
"Iyalah kak. Kakak mana tau, karena kakak tu lupa ingatan. Nih, Rosa kasih tau ya. Coklat itu udah bagian dari hidup Rosa, pokoknya coklat udah bikin Rosa candu deh." Jawab Rosa menunjuk Alan dengan sendok dessert-nya.
"Candu, ya? Pasti sangat enak coklat itu, bisa tiap hari ada dekat kamu."
"Oh, pastinya dong." Jawab Rosa dengan cepat tanpa mencerna dulu makna dari perkataan Alan.
"Oh, ya. Ngomong-ngomong, bagaimana hubungan kalian sekarang ini?" Tanya Alan yang ngebahas tentang tunangan Rosa.
"Maksud kakak Reyhan, ya?" Tanya Rosa meletakkan sendoknya, karena dia sudah selesai dengan dessert-nya.
"Reyhan? Nama panggilan, ya?" Batin Alan yang merasa nggak nyaman klo Rosa memanggil laki-laki lain dengan akrab selainnya. Meskipun Alan sadar klo dia nggak punya hak untuk egois, karena Reyhandra itu adalah tunangan Rosa secara saha dan diketahui oleh orang-orang. "Ya, Reyhandra ya namanya? Lupa kakak soalnya. Jadi, gimana perkembangan hubungan kalian?"
"Mengenai hubungan kami nggak ada luar biasa sekali. Kami juga jarang untuk ketemuan, mengingat Reyhandra yang sangat sibuk dengan urusan kantornya. Apalagi gara-gara pertunangan kemarin, itu juga sangat banyak menyita waktunya buat persiapan kami. Belum lagi Kemarin kami fitting baju bersama, dan tiba-tiba juga datang berita klo papa tiba-tiba masuk rumah sakit. Jadi dia menemaniku untuk ke rumah sakit. So, like you know, selama ini kami belum pernah ketemuan, hanya sering teleponan saja. Tapi feeling Rosa berkata, kami akan bertemu lagi dalam waktu dekat. May be this night." Tutur Rosa panjang lebar bahkan tersenyum tanpa sadar saat sedang membicarakan Rayhandra juga mengenai hubungan mereka.
"Kenapa kamu sangat yakin klo kalian akan bertemu malam ini?" Tanya Alan langsung melanjutkan makannya kembali. Dia takut jika dia tidak menyumpalkan mulutnya dengan sesuatu, bisa-bisanya dia akan lepas kendali dan mengatai Reyhandra dengan perkataan yang tidak baik. Dan itu malah semakin memperburuk citranya didepan Rosa.
"Ya karena...., cupid Rosa yang berkata tentunya. Hahahaha...." Tawa Rosa dengan lepas. Dan itu berhasil membuat Alan juga tersenyum, meskipun barusan dia tidak suka karena Rosa membahas Reyhandra didepannya. "Nggaklah kak, Rosa cuma becanda barusan. Tapi by the way, hubungan kakak sama Dokter Dinda gimana? Kalian udah tunangan lho, jangan sampai nanti keduluan sama Rosa, padahal Rosa baru kemaren tunangannya."
"Nggak, kok. Kami hanya saja terlalu sibuk untuk saat ini. Jadi nggak sempat untuk mempersiapkan semuanya. Lagipula, sebagai seorang dokter, kami harus selalu berada di garda depan."
"Ahhh, itu benar juga. Tapi kakak tetap semangat. Pacaran sesudah tunangan itu juga nggak terdengar buruk kok. Dengan itu kita bisa mengenal pasangan kita lebih lagi. Tapi itu tidak sesuai dengan irama kami, yang main sat set sat set gitu." Jawab Rosa dengan enteng, tapi itu malah membebani Alan.
"Dia..., sepertinya nggak lama lagi itu akan terjadi ya? Aku harus segera ngomong pada Rosa. Mungkin masih ada bekas dari benih yang kami tabur dan pupuk selama ini. Masih ada rasa cinta dirinya untuk diriku, dan juga kesempatan untukku. Tapi bagaimana cara aku harus memulainya terlebih dahulu? Aku kan nggak mungkin bilang klo kecelakaan yang terjadi padaku itu adalah drama dari seseorang, dan mengatur Dinda sebagai superhero, hingga aku dengan naif menganggap Dinda sudah menyelamatkan hidupku, hingga aku nekat menjadikan Dinda sebagai tunangan ku. Aku kan nggak mungkin bilang begitu. Apalagi dalang dibalik semua ini terjadi belum terungkap, bukti belum cukup. Dan Rosa adalah orang yang realistis, dia begitu menjunjung tinggi bukti sebelum aku menuduh orang lain." Batin Alan yang berkecamuk. Dan di permukaan dia tetap menikmati makanannya.
"Ini sudah hampir tengah malam. Acara puncak tujuanku sudah seharusnya berlangsung, aku nggak bisa menunggu dan mengulur waktu terus. Ini sudah seharusnya terjadi cepat atau lambat, aku harus menjadi orang yang mengakhirinya. Supaya aku bisa melanjutkan hidupku dengan sempurna, tak terikat lagi dengan masa lalu." Batin Rosa juga terus bermonolog mencari solusi bagaimana cara dia mengutarakannya.
Syarat supaya hal ini lancar sangat banyak. Sesuai saran dari orang rumah, Rosa harus bersikap cool, berwibawa, mendominasi, dan juga klo perlu tegangan udara di sekitar mereka harus sedikit lebih tertekan.
"Aku bingung. Bagaiman caranya aku harus mengawalinya dan membicarakannya?" Batin Alan dan Rosa yang sama-sama bingung, bagaimana cara berkomunikasi sesuatu yang penting yang ingin disampaikan itu bisa tersampaikan dengan baik.
"Aaahhh, mulai aja. Apa yang jadi nantinya, biarlah mengalir secara alami." Batin Rosa yang memantapkan tekadnya untuk verbicara hal serius itu dengan Alan.
"Sebenarnya, ada yang mau aku omongin..."
"Kak, Rosa mau bilang sesuatu...."
Mereka berbicara secara bersamaan, hingga mereka kembali menjadu canggung lagi. Kejadian mereka berbicara pada saat yang bersamaan, bukankah itu terdengar romantis. Makanya mereka menjadi canggung dan tercengengesan, malu satu sama lain. Bahkan saling mendorong saru sama lain untuk berbicara terlebih dahulu.
__ADS_1
"Nggak, dimanapun itu lady tetap first." Kata Alan yang mempersilahkan Rosa untuk berbicara terlebih dahulu. Dan akhirnya Rosa mengalah dan berbicara terlebih dahulu.
"Jadi, aku..." Tutur Rosa yang menghentikan perkataannya lalu mengambil dompetnya. Membukanya dan mengeluarkan undangan pernikahannya dengan Alan yang akan terjadi 3 hari lagi. "Nih, untuk kakak." Rosa mendorong undangan itu pada Alan.
Alan melihat kearah Rosa dan kemudian kembali melihat kepada kartu yang berbentuk persegi panjang itu. Alan menjadi syok. Ternyata hal yang dikhawatirkannya terjadi juga. Dan itu tak lain dan tak bukan telah menghampirinya malam ini. Datang begitu tiba-tiba.
"Apa ini?" Taya Alan yang masih saja syok.
"Ya, tentu saja ini undangan pernikahan aku dan Reyhan. Asal kakak tau ya, undangan ini sangat terbatas lho. Cuma ada 5. Meskipun semua undangannya dicetak sama bentuk, sama desain dan semuanya sama. Tapi ini adalah undangan eksklusif, khusus buat orang terdekat Rosa yang Rosa kasih tersendiri. Jadi kakak harus merasa terhormat menerima undangan ekslusif dari aku, karena nggak semuanya dapat lho. Chma ada 5 undangan ekslusif dari sekian banyak undangan. Jadi kakak wajib datang, ya? Jangan sampe nggak datang pula, jangan lupa pula bawa Dokter Dindanya sekalian ya, kak? Siapa tau karena kakak merasa bersemangat, setelah kami mungkin kakak akan segera menyusul." Kata Rosa dengan senyum yang tulus terpancar dari wajahnya itu.
"Oh gitu, ya? Klo gitu aku wajib harus datang dong." Jawab Alan menerima undangan ith dengan tangan gang gemeteran.
Namun Rosa tak memperhatikan klo tanggan Alan itu gemeteran saat menerima undangan dari Rosa. Karena Rosa sudah terlanjur senang, dengan beban yang ada di kepalanya itu kino sudah terangkan, jadi nggak kerasa beban lagi, udah lebih plong.
"Iya dong, kakak wajib datang dan itu wajib sekali, ok? Klo nggak datang, Rosa juga nggak akan datang di hati pernikahan kakak dan d
Dokter Dindanya nanti."
"Ya, nanti akan aku usahakan untuk berhadir." Jawab Alan dengan loyo.
"Nggak usah diusahakan lagi, kak. Pokoknya harus wajib datang. Sebagai tamu ekslusif Rosa, nanti kalian akan Rosa absen sendiri, dengan cara kalian para orang ekslusif, Rosa harus mendapatkan minimal satu foto dengan kalian." Jelas Rosa yang Alan nggak tau lagi harus nolak gimana.
"Ya, kakak pasti akan datang. Kamu tenang aja. Kan nggak mungkin juga kakak nggak datang di hari pernikahan kamu, padahal orang yang paling berharap kamu itu bahagia adalah aku." Jawab Alan mencoba menegarkan dirinya untuk tetap kuat, dan supaya suaranya nggak bergetar dan parau seakan dia itu sedang menangis.
"Ah, iya juga. Mana mungkin Kak Alan nggak akan datang. Padahal orang yang paling berharap aku segera menikah adalah Kak Alan sendiri. Jadi nggak akan ada lagi yang namanya seorang gadis naif mengejar masa lalu yang selalu mengganggunya. Orang yang selalu mengganggunya untuk mengingat tentang masa lalu mereka." Batin Rosa lagi, tapi Rosa tak mau ambil pusing dan santai aja.
"Ah, ya. Tapi btw kakak tadi mau ngomong apa sih?" Tanya Rosa penasaran Alan hendak ngomong apa tadi dengannya. "Kakak tadi mau ngomong apa, karena itu sepertinya sangat serius."
"Ahhh, nggak pa-pa kok. Nggak jadi aja ngomongnya, soalnya kakak juga lupa." Jawab Alan beralasan, yang bagi Rosa itu sangat tidak masuk akal.
"Oh ya udah lah." Jawab Rosa sambil memperhatikan jam tangannya, tinggal 15 menit lagi sebelum tengah malam. " Oh ya kak, Rosa harus pergi sekarang, ya? Kakak nikmati aja makanannya lagi. Soalnya Rosa harus segera pulang. Jam sudah hampir menujukkan pukul 12, so tengah malam akan segera tiba. Jadi Rosa harus segera pulang."
Jelas Rosa bangun dari kursinya dan tak lupa untuk mengambil dompetnya kembali. Bisa-bisanya klo dia melupakan dompet, dia harus balik lagi ke meja makan dan ketemu lagi dengan Alan, maka dramanya nggak akan jadi cool lagi.
Alan masih belum menjawab apa-apa. Seakan-akan kata-kata Rosa tadi dia butuh waktu untuk mencernanya, saking tidak percayanya dia akan kenyataan didepannya. Karena dari tadi dia sudah berpositif thinking, klo dia akan mengatakannya semuanya hari ini. Tali sekarang udah nggak bisa, karena dia nggak bisa menghancurkan kebahagiaan Rosa. Apalagi Alan juga ingat, betapa sering tersenyumnya Rosa tadi saat sedang membicarakan Reyhandra. Jadi Alan yakin klo Rosa sudah jatuh cinta sama Alan.
"Sebenarnya apa sih yang ku harapkan? Aku sudah 2 tahun menghindarinya seperti wabah, bahkan menghinanya. Jadi bagaimana mungkin klo perasaan lama itu masih bersisa?" Batin Alan sambil membaca undangan dari Rosa.
"Oh, ya kak. Soal makan malam hari ini biar Rosa aja yang traktir kakak. Jadi kakak nggak usah bayar, ya. Lagipula, Rosa juga udah janji sama kakak bakalan traktir kakak, karena kakak udah jaga rahasia Rosa. Jadi kali ini, jangan menolaknya, ok?" Kata Rosa tersenyum pada Alan. "Ehem, hem. Klo gitu, karena ini hampir tengah malam, Cinderella ini harus segera pulang ke rumah, sebelum sihir labunya benar-benar hilang nanti." Kata Rosa yang berakting jadi Cinderella. Dan itu sukses membuat Alan tersenyum, meskipun itu semua terasa berat.
"Oh ya udah kita pulang bareng aja. Biar kakak yang nganterin kamu pulang, ya? Kamu tadi pergi dengan aku, jadi pulangnya juga harus dengan aku? Aku sudah berjanji pada orang tuamu untuk menjagamu dengan baik." Tutur Alan yang juga mau bangun dari kursinya. Dan Rosa dengan sigap segera menghentikan Alan, dan mendudukkannya kembali.
"Nggak apa kok kak. Kakak lanjut makan aja lagi. Itu masih belum habis, lho. Jadi kasian klo disia-siain begitu aja. Padahal orang lain aja belum tentu bisa menikmatinya. Jadi kakak harus menikmatinya dengan pelan-pelan."
"Tapi kamu pulangnya dengan apa? Apa Stev ada bilang klo dia akan menjemput kamu?"
"Nggak ada sih. But, that is okay. Rosa masih bisa naiak taksi. Faktanya nggak sulit untuk mencari sebuah taksi di kota Jakarta yang gede ini. Jadi kakak nikmatin aja pelan-pelan makanannya. Dan Rosa akan pulang sendiri, ok? Bye-bye." Ucap Rosa melambaikan tangannya kepada Alan dan kemudian langsung pergi meninggalkan meja makan. Alan terus melihat punggung Rosa hingga akhirnya Rosa nggak kelihatan lagi. Dan Alan kembali melanjutkan makannya, seperti yang dikatakan Rosa.
"Ternyata hari ini akan datang juga. Hari dimana aku akan menyesal dalam waktu hitung mundur 52 jam lagi. Hingga kemudian aku benar-benar kehilangan dia." Batin Alan menyeruput kopi expresso-nya.
"Nggak, aku sudah menyesal sejak awal aku mendapatkan ingatan ini kembali. Buat apa aku mendapatkan ingatan ini, klo akhirnya yang kudapatkan itu adalah penyesalan. Penyesalan, ya? Kenapa penyelasan itu selalu datang terlambat dan terakhir? Andai ada penyesalan di pertengahan, tengah yang memungkinkan aku untuk mengawali yang baru atau mengakhirkan yang lama." Ucap Alan yang mengamati makanan enak menggoda selera didepannya itu dengan tatapan mata yang kosong.
__ADS_1