Dia Bahagiaku Dia Lukaku

Dia Bahagiaku Dia Lukaku
Chapter 56 : Pretty Girl


__ADS_3

Rosa segera menuju ke meja kasir dan berjalan terburu-buru setelah Rosa turun dari lift. Dia berjalan sambil tetap was-was, takut-takut klo Alan alan mengikutinya dari belakang. Dan dengan begitu, rencananya akan gagal dan nggak akan berjalan mulus.


Gini-gini Rosa meskipun dia tadinya meninggalkan Alan dengan cool, tapi klo Alan tiba-tiba mengikuti dan menyusulnya dari belakang dia nggak tau harus berbuat apa lagi. Soalnya Rosa nggak pernah mengatur strategi balas dendam seperti itu, apalagi untuk mengalaminya sendiri dan menghayati sekali aktingnya.


"Hei, have you see pretty girl pay bill, huh?" Tanya Oryza pada kasir yang berjaga.


"Pretty girl? Everybody have pretty in this restaurant, sir? How can l know this one pretty girl you mean. You should to describe which one pretty girl, sir." Jawab si wanita penjaga kasir saat ditanya oleh majikan nomor duanya itu.


"Erik, jelaskan padanya sebentar, which one pretty girl l mean. Dia ini benar-benar buta, katanya semua orang disini pretty, pretty dari mananya? Dari Hongkong? Klo dari Amerika nggak mungkin standarnya seperti itu." Keluh Oryza membelakangi si kasir dan menyuruh Erik untuk menghandlenya.


"Tuan, emang semuanya disini kelihatan cantik dan berkelas. Klo nggak mana mungkin mereka datang ke tempat yang mewah seperti ini klo emang mau mempermalukan diri mereka sendiri. Aneh-aneh saja tuan ini, Dan mengenai standar Hongkong yang rendah, mohon jangan salahkan Hongkong tuan, standar tuan saja yang terlalu tinggi dan pemilih. Namun tidak pernah memilih setiap cewek yang datang kepadamu. Entah kenapa juga hari ini tuan jadi pemilih banget." Tutur Erik panjang lebar yang membuat Oryza jadi tidak bisa membantahnya. Karena itu emang benar adanya.


"Ahhh, diamlah. Kamu itu cukup lakukan aja apa yang aku bilang, don't excuse anymore! Are you understand, huh? Soal pretty girl mana yang ku maksud, kau tau itu dengan baik kan? Tadi kamu juga melihatnya, kan?"


Mendengar jawaban yang nggak yang seperti itu dafi tuannya, jawaban yang seenak jidat gitu, Erik nggak bisa berword-word lagi. Karena memang begitulah tuan mudanya itu. Sangat sulit untuk dilayani, bahkan juga seorang pembuat onar dan pebikin masalah baginya. Tiap kali Oryza bikin ulah, maka Erik yang malang harus turun tangan untuk membereskannya.


"Gini amat ya punya bis yang seenak palanya sendiri. Seenak jidat dia sendiri. Untung dia adiknya bos besar dan tuan bos." Pikir Erik yang memikirkan klo kakaknya Oryza adalah orang yang menggajinya dan juga orang yang harus dibalas budinya, makanya Erik tahan akan semua kekurangan Oryza.


Karena dari awal Erik berhadapan dengan Oryza dan segala tingkah anak diluar nurulnya itu, Erik sudah meyakinkan dirinya sendiri dengan motto, "Kekuranganmu aku terima, asal jangan merepotkan ku saja." Begitulah mottonya.


Tapi itu tidaklah berjalan dengan lancar. Hanya setengah dari motto yang terpenuhi, hanya Erik yang menerima kekurangan Oryza yang suka bikin masalah dan membuat onar. Tapi harapan setengahnya lagi nggak tercapai, karena setiap Oryza bikin masalah, maka itu akan merepotkan Erik untuk membereskan sisanya sampai bersih.


"Erik, tolong jaga adik saya, Oryza, ya? Tolong kamu kawal dia dengan baik. Dia itu pembuat masalah, namun aslinya dia adalah pria yang bodoh dan culun. Saya nggak bisa mempercayakan dia pada orang selain kamu, cuma kamu yang bisa menekan Oryza. Jadi, tolong, ya!" Nasehat sekaligus pesan dari kakak Oryza pada Erik.


"Baik, tuan. Tuan nggak perlu khawatir. Tuan hanya perlu fokus pada pekerjaan bagian tuan saja dan juga terus melakukan terapi untuk kaki tuan itu. Soal Tuan Oryza biar saya yang urus." Jawab Erik mantap menyanggupi permintaan dafi kakaknya Oryza.


"Haaah, entah kenapa juga aku menyanggupi permintaan tuan, kan jadinya aku sendiri yang susah." Tutur Erik berbisik pada dirinya sendiri setelah kenangan tentang awal mula dari penderitaan itu berakhir. Dia menyesal akan keputusannya beberapa hari yang lalu sebelum mereka sampai di Indonesia.


Erik mengira klo Oryza bakal terkendali jika emang berada di Indonesia. Mengingat Indonesia adalah bukan negara yang bebas. Namun siapa tau klo sesampainya Oryza di Indonesia, dia malah begitu menikmatinya, bahkan dengan semangat membara langsung ke bar begitu turun dari bandara langsung kabur ke bar dan kemudian menargetkan seorang anak lelaki cantik.


Tapi sekarang, entah kapan dan dimana Oryza bertemu dengan pretty girl, sekarang malah menyuruhnya untuk menghandle orang untuk memenuhi segala keinginan keinginan dari pretty girl itu yang kencan dengan laki-laki lain. Bahkan Oryza menyuruhnya untuk menggratiskannya. Dan bahkan sekarang sedang sibuk mencari orangnya.

__ADS_1


"Dan sekarang dia malah menyuruh orang untuk mencari pretty girl itu yang bahkan aku sendiri nggak kenal dan nggak tau siapa dia." Batin Erik yang frustasi antara dirinya sendiri yang menyetujui keinginan kakak Oryza untuk menjaganya dan kebingungan sebenarnya pretty girl mana yang tuannya itu maksud.


Karena sepengetahuan Erik, dia nggak pernah meninggalkan Oryza sendirian sesampainya di Indonesia kecuali di malam hari saat istirahat. "Nggak mungkin juga kan Tuan Oryza ketemu itu pretty girl di sosial media?" Pikir Erik lagi yang mengasumsikan segala kemungkinan yang mungkin terjadi.


"Kamu kenapa bengong aja dari tadi? Capek aku berdirinya menunggu kamu nanya, tau nggak? Cepetan nanya!" Perintah Oryza dan Erik langsung melakukannya.


"Maaf sebelumnya, kamu berjaga di kasir udah dari berapa jam? Apa mungkin kamu melihat pretty girl yang dimaksud Tuan Oryza?" Tanya Erik dengan sopan kepada penjaga kasir itu. Karena mengingat status mereka yang sama-sama saling bekerja untuk tuan yang sama juga.


"Saya udah berjaga disini sejak tadi sore, karena emang saya yang bejaga untuk shif malam. Dan mengenai pretty girl yang Tuan Oryza maksud, saya nggak tau. Karena bagi saya semua orang itu cantik." Jawab pegawai kasir itu dengan jujur.


"Iya, saya tau. Saya juga merasa semua orang itu cantik dan punya sisi uniknya sendiri Hanya saja yang Tuan Oryza cari..."


"Maaf tuan, tapi apa mungkin Anda mengenalnya dan bisa memberitahukan saya ciri-cirinya, dan mungkin itu akan lebih membantu saya." Ujar si penjaga kasir itu kepada Erik, yang sontak itu membuat Erik melihat kearah Oryza.


"Apa yang kamu lihat, huh?" Tanya Oryza yang sadar klo Erik sedang melihat kearahnya.


"Nggak ada apa, tuan. Silakan anda sibukkan diri Anda lagi." Jawab Erik mempersilahkan Oryza kembali menscroll handphonenya itu. Erik menghela nafas berat dan kemudian kembali berbicara lagi dengan si penjaga kasir. "Saya pun juga nggak tau dan nggak kenal dengan pretty girl that boss mean."


"Mengenai ini...."


"Ahh, kelamaan kamu ini." Tutur Oryza memotong pembicaraan Erik. "Biar aku saja! Jadi pretty girl yang aku maksud disini adalah dia seorang gadis yang anggun dengan rambut hitam kecoklatannya yang lebat dan bergelombang. Dia bukanlah gadis yang tinggi seperti model tapi dia model sejati di mataku. Dia cocok menggunakan semua jenis pakaian bagiku. Apalagi saat dia menggunakan dress warna merah menyala dan dandanannya yang dewasa nan elegan, dan itu membuatku tak sanggup untuk memalingkan mataku darinya. Apalagi dia menggunakan jas hitam yang oversize itu, itu menambah nilai imut untuknya. Elegant, but she's also cute. Meskipun dia bukan model, tapi langkah kecil dan tegap itu sungguh membuat ku terpana." Deskripsi Oryza akan Rosa yang dilihatnya tadi saat di pintu masuk restoran dari kejauhan.


"Benar-benar bucin. Mana mungkin ada orang sesempurna itu seperti yang dideskripsi oleh Tuan Oryza. Ternyata tuan akhirnya punya juga hati untuk berlabuh, ya. Saya turut senang sekaligus berduka untuk Anda tuan. Karena sepertinya orang yang Anda taksir itu sudah punya pacar, buktinya saja dia datang malam ini untuk nge-date." Batin Erik saat melihat tampang Oryza yang sedang mendeskripsikan Rosa yang dilihatnya dari kedua matanya itu.


Saat Oryza sedang mendeskripsikan bidadari yang ada dalam khayalannya itu, Rosa pun lewat di koridor menuju kasir. Dan kebetulan pegawai kasir itu melihat Rosa yang sesuai dengan yang di deskripsikan oleh Oryza.


"Tuan, bukankah itu pretty girl yang Anda maksud?!!" Teriak si pegawai kasir itu menunjuk kearah Rosa yang sedang berbicara dengan seorang laki-laki.


"Jangan kencang-kencang, nanti kedengaran sama dia!! Aissshh, gimana sih kamu?" Tegur Oryza kepada si pegawai kasir itu.


Erik juga melihat kearah orang yang ditunjukkan oleh si pegawai kasir dan bertanya pada Oryza, "Tuan, apa benar itu orangnya? Nggak salah ini, kan??!" Tanya Erik yang sangsi dengan penglihatannya. "Ternyata emang pretty girl, kirain tadi tuan hanya mengada-ngada dan ilusi aja?" Tambah Erik lagi tersenyum menggoda pada tuannya itu.

__ADS_1


"Kau pikir aku ninja apa?! Yang bisa make teknik genjutsu. Lagi ya, biar ku kasih tau sini kau. Jangan pernah sekali-kali meragukan mataku yang cemerlang ini. Aku bisa membedakan mana yang unggul dan mana yang reguler. Kamu harus tau dulu dong klo aku itu tuan muda di keluarga penguasa bisnis di Amerika. Jadi jangan sekali-kali kau meragukan penilaian ku ini. Sekali ku bilang dia pretty girl, so she always be pretty girl, now and then. You know??!" Tutur Oryza membanggakan dirinya dan juga penglihatannya bitu dalam menilai seseorang.


"Tapi tuan, Anda belum menjawab apa itu emang wanita yang kita lihat tadi? Soalnya dia terlihat sedikit familiar." Imbuh Erik lagi yang memperhatikan Rosa dengan baik. Dia merasa klo Erik pernah melihat Rosa disuatu tempat. Tapi dia lupa dimana itu?


"Ya, itu memang dia. My pretty girl, my angel. Bidadari yang duduk di kursi panjang dengan coklat. Tapi..., kamu juga merasa dia familiar? Kok bisa, ya? Saat aku pertama kali melihatnya, aku juga merasa dia mirip dengan... laki-laki cantik yang menyanyi di bar malam itu." Tambah Oryza yang punya pikiran yang sama dengan Erik.


"Ya, itu dia. Laki-laki penyanyi bar itu." Seru Erik yang akhirnya ingat juga. Namun dia baru sadar akan sesuatu yang lain dan melihat Oryza dengan tatapan curiga. "Tunggu tuan, Anda sudah bertemu dengannya sekali? Jadi ini bukan pertemuan pertama Anda, ya. Gitu??"


"Apaan sih kamu? Orang cuma ketemu di hospital kemarin. Kan aku udah bilang juga, klo aku tersesat di hospital yesterday, anda then l meet in garden. And chocolate, itu adalah pemberian dia." Jelas Oryza rada malas karena dia kembali mengingat kejadian di rumah sakit, apalagi insiden memalukan sampai tujuh keturunan di toilet.


"Oh jadi pretty girl itu yang tidak memberi namanya pada Anda, ya? Bravo, good."


"Brovo, good. Good apaan emangnya? Dasar kamu ya! But..., by the way, apakah kamu mengatur pelayan untuk menberikan dia makanan penutup dengan alibi itu sampel gratis? Kalian memberinya rasa coklat, kan? Soalnya dia paling suka coklat."


"Iya tuan. Semuanya beres. Tapi tuan, kenapa tuan tidak memberikannya sendiri? Kan supaya pretty girl tau klo Anda tertarik sama dia?" Tanya Erik yang nasih saja bingung kenapa tuannya itu melakukan sesuatu secara sembunyi-sembunyi, itu benar-benar bukan tipenya.


"Tidak bisa. Kami belum akrab. Dia akan curiga padaku klo aku mendekatinya seperti itu."


Rosa dicegat oleh seorang laki-laki yang tertarik padanya, dan meminta meminta akun sosial Rosa. Karena kata lelaki itu dia sudah tertarik pada Rosa sejak awal Rosa masuk ke restoran ini. Namun lelaki itu mengurung niatnya, karena Rosa masuk dengan seorang laki-laki. Tapi karena Rosa keluar dan hendak pulang sendirian, berarti Rosa nggak punya hubungan apa-apa dengan laki-laki yang tadi masuk dengannya.


Rosa menolak untuk memberikan akun media sosialnya kepada sembarang orang, apalagi orang itu tak dikenalnya. Rosa langsung pergi meninggalkan laki-laki itu dan hendak membayar tagihan pesanan mereka. Tapi Rosa nggak menyangka klo laki-laki itu kembali mencegatnya, dan menarik tangannya.


"Beraninya kamu menolak aku? Emangnya kamu tau siapa aku?" Tanya laki-laki itu dengan nada marah karena Rosa berani menolaknya.


"Siapa Anda, itu nggak penting bagi saya. Tapi, bisakah Anda melepaskan cekaman tangan Anda itu dari saya? Saya mau membayar tagihan." Tutur Rosa dengan dingin dan menghempaskan tangan laki-laki itu. Lalu dengan segera pergi dari sana.


"Sialan, kamu j*la*ng! Asal kamu tau aja, ya. Restoran ini ayahku yang mengelolanya. Kamu harus hati-hati klo sampai aku melaporkannya pada ayahku, bisa-bisanya kamu nggak bakalan bisa masuk ke hotel restoran ini seumur hidupmu." Ancam laki-laki itu yang dengan bangga memamerkan posisi jabatan ayahnya.


"Oh, gitukah? Kalau begitu, saya tinggal nggak perlu datang kesini lagi. Beres, kan? Maaf, saya nggak punya banyak waktu untuk meladeni Anda, saya harus pergi sekarang." Imbuh Rosa yang akhirnya benar-benar menuju ke meja kasir.


"F*ck. J*l*ng sialan. Sok paling suci, padahal dia itu hanyalah j*l*ng yang suka ngonta-nganti pasangan doang." Teriak laki-laki itu terus memaki-maki nggak tau malu dan menjadi tontonan satu restoran.

__ADS_1


Mendengar itu darah Rosa menjadi mendidih dan dengan langkah yang penuh percaya diri Rosa menghampiri laki-laki yang terus memakinya itu dan berdiri tegap didepannya, melihat langsung ke dalam bola mata laki-laki itu.


__ADS_2