
Rosa berdiri didepan laki-laki yang begitu menyombongkan dirinya dengan jabatan ayahnya. Setiap kata-kata yang keluar dari mulut laki-laki itu membuat Rosa muak. Rosa membenci laki-laki dengan tipe seperti itu sepenuh hatinya tanpa ragu, dan Rosa menatap laki-laki itu langsung menusuk ke matanya.
"Hemph, ternyata kamu tau diri juga ya, j*l*ng sialan? Cewek seperti kamu itu yang dandanannya begitu terbuka mana mungkin bisa tahan dengan laki-laki setampan diriku dan juga mapan kaya raya. Jadi kamu pasti akan terus menggonggong seperti anjing dengan diriku yang sempurna ini, kan?" Umbar laki-laki itu dengan sombongnya. Dan itu semakin membuat darah Rosa menjadi mendidih.
"Sebenarnya matanya yang sebelah mana melihat aku yang berpakaian terbuka. Klo pun pakaianku pada malam ini sedikit terbuka bahunya, tapi aku juga menggunakan jas untuk menutupinya. Gini-gini aku masih sayang akan tubuhku yang akan masuk angin nantinya, juga menjaga menjaga tubuhku dari godaan dari mata keranjang lelaki jelalatan." Batin Rosa yang terus merasa klo dia nggak bisa tahan semenit pun untuk menghadapi lelaki sombong yang tak tau sadar diri.
"Yah, untungnya kamu kembali lagi kesini dan menghampiriku dengan penuh penyesalan dan putus asa. Jadi aku akan memaafkan mu." Ujar laki-laki itu kembali yang membuat Rosa semakin marah. Berani-beraninya laki-laki itu menganggap dirinya yang suka nebeng mencari popularitas dan uang dengan menempeli laki-laki kaya seperti itu.
PLAAAKK!! Satu tamparan mendarat di pipi laki-laki itu, dan itu adalah hadiah dari Rosa untuknya yang sudah menghinanya. Padahal tadi Rosa sudah berusaha sekuat mungkin untuk bertoleransi, mengingat ini adalah tempat umum.
"Sialan kau j*l*ng!! Berani-beraninya kau menampar pipiku ini? Kau pikir pipiku ini apa, huh?" Tanya si lelaki itu tersulut amarah.
Namun Rosa tetap tak gentar. Dia malah dengan berani menatap laki-laki itu dengan garang. Laki-laki itu terus memaki Rosa dan menunjuk-nunjuk kearah Rosa.
Rosa memegang jari telunjuk laki-laki itu yang ditunjukkan kearahnya lalu Rosa mematahkan jarinya itu yang membuat laki-laki itu berteriak kesakitan. Dan suaranya itu mengundang seluruh perhatian pengunjung yang ada di sana.
Oryza tetap menyaksikan pertunjukan yang disajikan didepan matanya dengan seksama. Dia sangat menikmatinya, kecuali pengawalnya itu yang kocar-kacir yang panik karena ada perkelahian. Apalagi ini antara perempuan dan laki-laki, yang jelas itu merugikan perempuan. Begitu juga dengan pegawai kasir, sebagai sesama perempuan, dia juga merasa panik.
__ADS_1
"Tuan, kenapa kau malah sangat menikmati pemandangan ini? Ini pertengkaran lho, tuan? Nggak ini... pretty girl yang tuan incar sedang ditindas oleh orang lain, lho? Kenapa Anda malah sangat menikmati adegan kekerasan dalam sebuah restoran, tuan? Malahan Anda tersenyum seperti seorang psikopat. Mana ada lelaki seperti itu tuan? Itu namanya nggak gentle, tuan!" Panik Erik yang nggak tau mau berbuat apa, dan malah jalan mondar-mandir sendiri saking paniknya.
"Tenang kamu Erik? Calm down baby, calm down. Cukup nikmati aja apa yang ada." Jawab Oryza tetap santuy, bahkan dia melah menarik kursi dan duduk untuk menikmatinya.
"Nikmati aja, ya?" Batin Erik yang miris memikirkan nasibnya jika saja Rocky kakaknya Oryza tau klo kelakuan Oryza dibawah pengawasannya akan seperti itu.
"Sialan, ini nggak bisa dibiarkan." Gumam Oryza pada dirinya sendiri. Lalu melihat kearah Oryza lagi, tuan mudanya yang begitu menikmati drama indosiar itu didepannya, bahkan dia juga tersenyum psikopat lagi. "Liat senyuman mesumnya itu, bikin merinding aku melihatnya. Nggak tau aja kenapa aku bisa menyanggupi permintaan Tuan Rocky untuk mengawasinya. Dan ternyata begini, makanya dia menyerahkan adiknya padaku. Dia tau klo sifat adiknya ini emang kang rusuh." Gumam Erik lagi menarik nafas terbebani, dengan sikap Oryza yang nggak habis dia pikir.
Erik membuang pandangannya ke arah wanita si penjaga kasir dan juga beberapa pelayan disampingnya. Mereka berdiri diam saja dan nggak berbuat apa-apa. Namun jelas di pandangan mereka terbesit kepanikan, namun mereka nggak menampakkan perasaan itu keluar.
"Udahlah sekretaris Erik. Biarkan saja itu terjadi. Lagipula jarang-jarang aku bisa melihat suasana seperti ini setelah datang ke Indonesia. Biarkan momen ini jadi kenangan indah bagiku setelah kepulangan ku ke Amerika nanti."
"Hah, kenangan apaan? Tuan, tuan emang nggak takut dengan klo itu akan mencemarkan reputasi hotel kita ini? Dia tamu VIP lho, tuan? Bisa-bisanya dia memberi rating jelek karena keamanan dan kenyamanannya yang buruk. Ah iya, saya lupa. Klo tuan nggak mau tau yang begituan." Tutur Erik yang pada akhirnya dia sadar klo itu akan nihil bagi seorang Oryza yang menganggap hal sepele ini menjadi serius baginya. "Kalian, liat apa lagi! Ayo cepat panggil sekuriti. Cepat!!" Perintah Erik mengalihkan komando.
Belum juga sempat si pelayan pergi untuk memanggil keamanan, Oryza langsung bersuara. "Klo ada diantara kalian yang bergerak satu langkah pun, silahkan kalian pergi ambil gaji kalian dan kemudian jangan pernah berani lagi untuk menapakkan langkah kalian di sini."
Mendengar suara Oryza seperti itu, nggak ada yang berani untuk memanggil sekuriti ataupun keamanan. Mau gimanapun rusuhnya Oryza dan kang bikin masalah, Oryza tetaplah tuan muda keluarga pemilik hotel ini. Meskipun bukan anak pertama, tapi probabilitas bagi Oryza untuk mewarisi bisnis perhotelan ini masihlah 50 persen.
__ADS_1
"Tapi tuan, aduuuuh, gini amat sih ini hidup? Tuan, bagaimana klo tuan Rocky tau, bisa-bisanya Anda dalam masalah saya juga dalam masalah. Jadi lebih baik kita jangan buat masalah. Terlebih lagi ini tuan, that girl is your pretty girl. Why you can do itu at her? Dia sedang dalam masalah lho! Jadi lebih baik tuan melerainya dengan begitu tuan can be her hero, dan bisa jadi juga dia bakal jatuh cinta pada tuan." Ujar Erik yang berusaha membujuk Oryza.
"Hahahaha, omong koso dari mana itu? Jangan becanda deh. And yes, of course that girl is my pretty girl. Karena itu juga aku yakin klo dia nggak akan kalah begitu saja. Sebagai wanita incaran ku, dia pasti punya kualifikasi yang nggak biasa, baik kualitas maupun kuantitas, semuanya aku sudah memprediksi semua itu. Jadi, jangan pernah meragukan pilihanku, dan kamu cukup nantiin saja, liat bagaimana aku akan menyelesaikannya." Jawab Oryza dengan tenang. Tapi karena sikap tenang Oryza itu pula malah membuat Erik menjadi semakin tidak tenang dan panik setengah mati.
.
.
"J*l*ng sialan, cepat minta maaf. Klo tidak, jangan salahkan aku klo kamu akan masuk ke penjara. Ini bisa dihitung sebagai kekerasan, lho. Emangnya kamu sanggup berhadapan dengan polisi? Apalagi dengan status mu itu yang hanya tau menggoda setiap laki-laki saja. Pasti kau nggak mau berurusan dengan ku, jika kau tau aku adalah anak manajer di hotel ini." Kata laki-laki yang mencegat Rosa dengan sombong dan dia juga terus menekankan Rosa karena jabatan ayahnya.
"Polisi, ya? Ayo bawa aja mereka ke sini? Aku nggak takut sama sekali? Kau pikir dengan sikapmu itu aku nggak bisa menuntutnya balik!?? Kamu mencegat ku yang hendak membayar uang ke kasir, tapi kamu manahan ku disini. Ini bisa dianggap sebagai pelecehan, dan soal saksi, aku punya banyak disini. Jadi lebih baik kamu lupakan saja mengenai melapor pada polisi, karena aku duluan yang akan melaporkannya. Dan soal saksi, semua pelanggan disini bisa menjadi saksi ku. Maukah kalian menjadi saksi ku dalam masalah ini?" Tanya Rosa pada semua orang yang berhadir.
"Yaaa....! Kami bersedia!!" Jawab semua orang yang hadir di restoran itu. Tapi yang lebih mewakili dan mendominasi adalah suara para perempuan.
"Kau dengar itu? Dengar, kan? Yah, saya nggak perlu memberitahukannya lagi, kan? Anda harus juga dengar sendiri, kan? Atau..., jangan-jangan Anda masih tidak mendengarnya juga? Haruskah saya menanyakannya sekali lagi mungkin? Huh? Bagaimana? Maukah Anda mendengarnya lagi?
"Nggak perlu lagi. Saya sudah mendengar semuanya." Kata seseorang dari balik Rosa, dan itu sontak membuat Rosa melihat kebelakang, kearah sumber suara.
__ADS_1