
Rosa selesai menelpon Alan dan mengatakan klo dia bisa untuk makan malam malam ini. Rosa mengambil nafas lega. Entah kenapa dia merasa lega, Rosa sendiri juga nggak paham. Seakan ada setumpuk masalah yang langsung hilang dari pundaknya selesai menelpon Alan.
"Perasaan ini? Kenapa aku merasa lega saat habis menelpon Kak Alan, ya? Ini bukan perasaan senang kegirangan yang biasanya ada di hati ini. Melainkan perasaan lega terselesaikan masalah. Mungkin ya juga, karena aku sudah mencoba melupakan dan merelakan Kak Alan dengan orang lain. Makanya aku merasa lega." Batin Rosa menatap handphonenya sendiri. Handphone yang baru saja habis menghubungi balik sosok Alan yang pernah menjadi kekasih masa SMA-nya dulu.
Sehabis menelpon Alan, Bibi Salma juga datang membawakan minuman. Rosa menghela nafas lega lagi, karena dari tadi mata mata berbinar kakaknya yang melihatnya itu akhirnya teralihkan juga.
"Silakan minumannya diminum." Kata Bibi Salma meletakkan minuman sesuai selera masing-masing didepannya.
"Ya, makasih ya bi." Kata Rosa yang bersikap normal seperti biasa.
"Ini tuan muda Stev kenapa? Kenapa dia menatap Non Rosa kayak gitu, ya?" Tanya Bibi Salma memperhatikan Stev.
"Gini lho, bi. Jadi barusan Nak Alan nelpon Rosa, jadi katanya itu ngajak makan malam. Nah, pas awalnya Rosa-nya nolak, karena memang ya dia lagi mau daftar KRS rencananya. Jadi kami desaklah Rosa buat nelpon balik dan setujui aja ajakan Nak Alan itu. Kan awalnya Nak Alan udah goda ehem, ehem Rosa. Alah..., bibi taulah, kan? Jadi masa kita ngalah? Jadi karena Rosa udah nelpon balik Nak Alan lagi dan dibilangnya lah klo Rosa setuju dan sempat buat pergi." Jawab Serena dengan mode gosipnya lalu mengambilnya cangkir tehnya dan diseruputnya.
"Oh, jadi gitu. Jadi, yang menjadi pokok permasalahan mata tuan muda jadi begitu, kenapa juga?" Tanya bibi yang paham akan alur cerita dari Serena, namun belum paham juga kenapa tuan mudanya bisa begitu melihat nona mudanya dengan mata berbinar seperti itu.
"Nah itu dia, bi. Si honey ini keren banget. Pake cara seperti ini lho, bi." Jawab Stev antusias, dan kemudian berdehem, duduk dengan posisi tegak sambil memperagakan Rosa yang sedang menelpon.
"Halo, Kak Alan brengsek. Jadi gini, kak. Jadi ya kita makan malam untuk malam ini. Setelah Rosa pikirin lagi, nggak lama juga buat ngedaftar KRS itu. Palingan juga bentaran doang. Jadi lebih baik nggak ngenunda lagi untuk makan malam bersama kakak. Lagipula udah beberapa kali Rosa juga nggak jadi-jadi buat makan malamnya, cuma bisa plan doang. Tapi klo perlu nggak jadi juga nggak apa." Akting Stev memperagakan gaya Rosa dengan sempurna, hanya saja bagian pertama dan akhirnya adalah improvisasi dari Stev sendiri.
"Nah, jadi gitu bi. Keren, kan? Keren, kan? Keren dong pastinya. Ga kan, bi?" Tanya Stev lagi meminta pendapat Bi Salma.
Bi Salma nampak berpikir sebentar. Dan Rosa yang memperhatikannya pun jadi ikut senang karena akhirnya ada juga orang yang normal seperti dirinya di rumah ini. Nggak terlalu obsesif banget dengan dia. Tapi siapa yang tau aja, klo istilah bahasa bayangan nggak seindah ekspektasi itu emang benar adanya.
"Iya, den. Itu keren banget. Apalagi kan ada tu bagian yang "Tapi klo perlu nggak jadi juga nggak apa.", bagian itu kan, aduhhhh..., mantan betul itu, den. Pokoknya best banget tuan muda. Sangat disayangkan, saya nggak dengar saat si non nelpon balim. Saya ketinggalan tontonan menarik." Tambah Bibi Salma yang nggak jalah antusiasnya dengan Stev.
Mendengar itu, Rosa hanya bisa nepuk jidat. Harapannya untuk mendapatkan orang yang masih sefrequensi dengan dia di rumah ini pupuslah sudah. Mau dibilang Kang Udin, dia juga di luar jagain pagar depan sana. Mana mungkin dia bisa Rosa bisa mengajaknya untuk satu tim dengannya.
"Habislah sudah. Udah nggak ada yang bener lagi di keluarga ini. Apa aku ubah aja ya nama keluarga ini? Bukan Vogart lagi, tapi melainkan fansclub Rosa." Batin Rosa menyayangkan hidupnya hidup dengan orang-orang itu.
Bukan Rosa benci dengan keluarganya itu, melainkan batinnya itu, rasa malunya itu ke ubun-ubun karena keluarganya itu kepada Rosa, lebih ke seperti artis idol dan fansnya.
"Hemmmm, saya pikir Rosa kesayangan saya juga sangat keren. Itu membuat saya bangga akan DNA saya yang begitu unggul itu." Tambah Raymond lagi sambil menikmati kopinya.
__ADS_1
"Pa, masa cuma papa DNA papa doang. Kan ada juga setengah DNA mama juga." Bentak Serena nggak terima.
"Ya lah itu, kan kita juga harus liat dulu siapa mamanya. Sebagus apapun juga bibitnya, klo wadahnya nggak bagus dan kondisi alamnya nggak bagus, kan bagus juga ma." Kata Raymond mencari zona aman.
Karena Raymond merasa lebih baik main aman aja. Itu semua demi keberlangsungan hidupmu, klo nggak bisa-bisanya istrinya yang keturunan Yakuza itu mengamuk dan Raymond berakhir tidur di luar malam ini. Itu akan sangat disayangkan, apalagi dirinya yang baru saja keluar dari rumah sakit. Bisa-bisanya dia jadi masuk rumah sakit, gara-gara tidur di luar.
Rosa emang udah pasrah akan semua keluarganya itu. Semua ketidakmasukakalan itu bagi Rosa akan dia coba untuk menerimanya dengan ikhlas dan lapang dada. Namun tetap saja, dari segi apapun itu, segala omongan keluarganya itu tetap saja melakukan baginya. Mungkin jika didengar orang lain, udah nggak tau lagi mau dikemanain lagi wajahnya itu.
"Nah, klo gitu tunggu apa lagi, non? Langsung cus aja non, buat siap-siap. Kan bentaran lagi tetangga sebelahan kita ini akan menjemput non." Tutur bibi yang menurut Rosa itu adalah hal yang mengerikannya.
"Ya, honey. Langsung go aja kamu siap-siap ke atas. Kamu mandi-mandi dulu yang bersih, yang wangi, ok?" Kata Stev menarik Rosa dan mendorongnya untuk segera naik ke atas.
"Tapi..."
"Udah sayang, kamu mandi aja sana. Nanti bentaran lagi mama nyusul, mama bakal pilih kamu dress yang cantik dan keren, pokoknya akan membuat kamu berwibawa dan begitu bling-bling." Ucap Serena yang ngedukung Stev.
"Ya, benar ma. Untuk malam ini, emang mama yang harus turun tangan. Mama harus menyulap kesayangan papa itu menjadi bidadari yang super duper cantik, lebih cantik dari Nawangwulan di Jaka Tarub itu." Perintah Raymond kepada Serena.
"Ma, Stev yang jadi asistennya, ya." Aju Stev mengangkat tangannya dan hanya diangguki oleh Serena sambil meminum tehnya kembali.
"Tapi, itu susu coklatnya Rosa belum Rosa sentuh sama sekali, lho. Bahkan cangkirnya pun belum Rosa sentuh." Kata Rosa yang mau duduk lagi buat nikmati susunya terlebih dahulu.
Namun saat Rosa akan menyambar susu coklatnya itu namun malah didahului oleh Bibi Salma terlebih dahulu, dan meletakkannya kembali di nampan yang sedang dibawanya itu.
"Lho, bi. Susu coklat Rosa kok malah diambil, sih?"
"Maaf non. Lupa tadi si bibi, kayaknya bibi nambahin garam dalam susu coklatnya bukan gula." Alasan bibi berdalih yang menurut Rosa itu sangat absurd.
"What the f*ck! Pake garam? Nggak realistis banget? Si bibi nambahin gula dalam susu? Mana mungkin itu. Dasar si bibi ini, alasannya itu..." Batin Rosa yang yang langsung dengan lunglai naik ke atas kembali dan mandi-mandi seperti yang disuruh oleh kakaknya itu.
"Ma, langsung cus kita. Kita pilih pakaian untuk honey."
Mendengar itu dari Stev, Serena langsung meletakkan cangkir tehnya dan langsung naik ke atas, menuju lemari Rosa. Memilih pakaian yang cocok untuk Rosa, sesuai yang di deskripsinya tadi.
__ADS_1
...***...
Alan yang awalnya putus harapan dan sedih mendapatkan penolakan dari Rosa nggak bisa apa-apa lagi. Padahal dirinya yang menelpon Rosa tadi merupakan keberaniannya yang paling besar. Memikirkan dulu bagaimana Stev menolak Rosa, mencaci makinya, dan menghinanya.
Jadi wajar klo Rosa menolaknya. Dan itu adalah keputusan Rosa, Alan nggak bisa ikut campur. Karena hati yang telah terluka itu nggak dengan mudahnya bisa kembali sembuh. Dan kalaupun minta maaf, mungkin mulut bisa memaafkannya, namun hati itu tetap luka dan memori itu tetap ada. Kecuali seperti dirinya yang pernah amnesia. Namun ketika itu terkenang kembali, pasti itu membekas.
"Maaf Rosa, maafin Kak Alan mu ini yang nggak mengenal kamu. Padahal kamu udah berusaha sebaik mungkin untuk memulihkan ingatanku ini, tapi aku malah menyakiti dan menghina kamu. Bahkan membawa orang lain dalam hubungan kita ini, disaat hubungan kita masih jalan." Frustasi Alan saat memikirkan betapa dia dulu menyakiti Rosa.
Bahkan hari wisuda Rosa, orang yang paling Rosa harapkan datang selain keluarganya, malah nggak datang. Kalaupun datang malah datang dengan wanita lain dan menghinanya di depan umum.
Alan membuka galeri handphonenya. Galeri yang albumnya itu khusus penuh dengan ingatkan dan memorinya dengan rosa dulu. Alan menggeser satu per satu fotonya dengan Rosa dulu. Sangat disayangkan, klo itu hanya menjadi kenangan bagi dirinya saja.
"Rosa, kenapa aku begitu bodoh. Kamu terus mencoba yang terbaik untuk ku. Mencoba membawa ingatan tentang kita kembali, namun aku malah menyia-nyiakannya. Dan bodohnya lagi diriku ini adalah aku nggak peka akan perasaanku sendiri. Foto yang kamu kirim demi ingatan masa lalu kita, aku nggak pernah menghapusnya. Tapi justru aku membiarkannya saja karena itu adalah angin lalu bagiku. Kenapa aku bisa nggak peka, klo hatiku ini memang ada kamu. Jati nggak pernah bisa berbohong, perasaan nggak pernah bisa bohong. Tapi kenapa juga aku bisa buta mata dan pikiran...." Alan terus meratapi kesalahannya seakan dia sedang berbicara dengan Rosa. Seakan Rosa ada didepannya dan mendengarkan segala keluh kesahnya.
Disaat Alan terus meratapi dan menyayangkan kesalahan yang pernah dibuatnya itu, tetiba dering handphonenya berbunyi. Dering handphone yang akhir-akhir ini emang khusus dijadikan Alan sebagai bunyi dering telepon Rosa.
"Rosa...."
Alan segera mengangkat panggilan dari Rosa itu. Ya, Alan nggak tau Rosa akan ngomong apa dengannya, tapi Rosa menelpon dirinya gitu aja dia sudah sangat senang. Meskipun pembicaraan itu Alan nggak tau, karena bisa saja Rosa bertanya tentang papanya, tapi hati Alan tetap berjingkrak kesenangan.
"Ya, halo Rosa. Ada apa?"
"Kak, jadi ya kita buat makan malam. Soal KRS setelah Rosa pikirin bisa ngedaftar nanti, lagipula juga nggak bakal telat juga cuma gara-gara Rosa makan malam. Jadinya, ok kan? Kita makan malam ini, jangan cuma plan doang Rosa janjiin." Kata Rosa dibalik telepon.
"Oh, bisa ya?" Tanya Alan lagi memastikan, kan siapa tau aja klo dirinya salah dengar. Padahal dia sudah terlanjur senang.
"Iya kak, jadi. Rosa bakal siap-siap dulu, nih."
"Ok, klo gitu kamu siap-siap, kakak juga siap-siap dulu. Nanti kakak jemput kamu ke rumah. Orang tua kamu sama Stev, mereka izinin, kan?" Tanya Alan lagi yang tau bagaimana protektifnya mereka terhadap Rosa. Nggak mungkin mereka bakal kasih izin Rosa buat keluar malam-malam begini, apalagi dengan dirinya yang pernah nyakitin Rosa.
"Udah kak, aman itu. Klo gitu sampai jumpa nanti di rumah Rosa ya, kak. Bye."
"Bye."
__ADS_1