Dia Bahagiaku Dia Lukaku

Dia Bahagiaku Dia Lukaku
Chapter 38 : Kenyataan Nggak Seindah Ekspektasi


__ADS_3

Reyhandra yang bangun pagi langsung menuju ke kamar mandinya melakukan ritual pagi. Dan sesudah itu, Reyhandra keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan jubah mandinya.


Kemudian Reyhandra membuka handphonenya dan kembali menelpon Rosa, dan siapa tau klo itu tersambung.


"Apa dia sudah menyalakan handphonenya kembali, ya? Baguslah klo emang gitu." Kata Reyhandra pada dirinya sendiri dan menunggu orang di balik telepon itu mengangkatnya.


"Halo..." Jawab orang dibalik telepon itu, Rosalyn Saputri Vogart.


"Oh, oh ya ha- halo. Selamat pagi." Jawab Reyhandra yang seketika blank nggak tau harus ngomong apa.


"Kok tiba-tiba jadi blank ya saat Rosa menjawab teleponnya. Klo gini, pasti dia bakal nganggap klo aku jatuh cintanya. Walaupun itu bagus klo dia menganggapnya seperti itu. Jadi aku nggak perlu capek-capek ngutarain cinta apalagi perasaan padanya, sebagai wujud klo aku serius padannya." Batin Reyhandra lagi yang kemudian merasa tenang, dan melupakan klo barusan dia berbicara terbata-bata. Yang bisa saja dianggap aneh oleh Rosa.


"Selamat pagi. Ada apa ya, kok nelpon pagi-pagi gini? Apa ada yang harus kita lakuin lagi, nggak ada kan Rey?" Tanya Rosa dibalik telepon.


"Sejak kapan dia panggil nama aku " Rey" senatural itu, ya? Apa aku pernah bilang gitu buat aktif yang sempurna, ya? Ahhh, anggap aja iya." Pikir Reyhandra lagi.


"Ah iya. Nggak ada hal yang harus dilakuin lagi sih."


"Nah, trus kenapa kamu telpon aku, sama chat aku semalam?" Tanya Rosa lagi yang bagi Reyhandra, Rosa kedengaran nggak suka klo ditelepon olehnya.


"Nah, kan. Sudah ku duga klo dia emang baca dan liat chat aku. Bukan kebetulan asal pencet. Emang ya, nggak bisa ngedukung akting sempurna aku apa? Yah, mungkin klo dipikir-pikir lagi, mungkin dia merasa minder karena nggak ada yang sebanding dengan akting aku. Malah aktor atau aktris kalah saing sama aku." Pikir Reyhandra lagi yang entah kenapa pada pagi hari ini dia kena sindrom terlalu membanggakan dirinya sendiri.


"Ah, bukan apa-apa sih. Aku hanya mau nanya kamu dimana aja tadi malam karena kan secara orang tua dan kakak kamu kan di rumah sakit. Jadi kamu bakal sendirian di rumah. Kan siapa tau kamu bisa ku temanin mungkin."


Reyhandra mencari alasan, dan itu memang natural jika di dengar. Tapi bagi Reyhandra itu nggak lebih dari sekedar akting yang sempurna. Akting yang sempurna sudah menjadi konsep awalnya menikahi rosa dan dengan target atau tujuan membalaskan dendamnya terhadap keluarga Vogart.


"Klo soal itu kamu nggak perlu khawatir, soalnya ada Bibi Salma di rumah. Lagipula semalam Kang Udin juga ketakin penjagaannya, jadi aman itu, nggak perlu merepotkan kamu."


"Baguslah klo emang kamu sadar diri. Tapi cuma itu yang mau kamu bilang? Nggak ada yang lain gitu?" Batin Reyhandra lagi yang tanpa di sadarinya klo dia terlalu obsesif.


"Oh, baguslah klo emang kamu ada teman. Jadi kamu jika ada kejadian sesuatu nggak sendirian di rumah." Jawab Reyhandra lagi di permukaan.


"Makasih ya, Rey. Buat perhatiannya. Tapi aku baik-baik aja kok. Hanya saja tadi malam aku keluar buat jajan malam aja gitu sama temen aku, selebihnya nggak ada sih." Tutur Rosa dibalik telepon.


"Oh, jajan malam, ya? Ku pikir kamu akan menyembunyikannya dariku?"

__ADS_1


Reyhandra menjadi keceplosan klo dia salah ngomong. Padahal dia hanya memikirkan itu di dalam hatinya, tapi malah keluar melalui mulutnya. "Dasar mulut, nggak bisa diajak kerja sama dikit pun."


"Rey, apa maksud kamu ngomong gitu?" Tanya Rosa yang sepertinya kurang kedengaran atau dia merasa Reyhandra aneh, makanya dia menanyakannya sekali lagi.


"Ahhhh, bukan apa-apa kok. Hahaha, aku hanya mau tanya, klo kamu tuh kan keluar malam-malam gitu. Emang udah dapat izin dan orang tua atau kakak kamu gitu. Apalagi kamu keluarnya sama teman laki...." Reyhandra langsung menghentikan kata-katanya, hampir saja dia keceplosan lagi.


"Oh, tentunya aku udah dapat izin dari kakak. Klo nggak mana berani aku keluar malam-malam gitu. Ya, kan? Apalagi dengan sikap kakak yang siscon itu."


"Hmmm, gitu ya. Baguslah klo emang gitu. But..., btw kenapa semalam kamu kan udah baca chat aku, tapi kenapa nggak kamu balas saat aku tanya kamu di mana." Tanya Reyhandra yang kembali lagi pada misinya. Misi kali ini menjadi cowok yang perhatian. Dan targetnya adalah akting yang sempurna. "Trus lagi saat aku telepon awal-awalnya, katanya sedang sibuk. Lalu kemudian aku telepon lagi, ehhh malah nggak aktif lagi handphonenya. Kenapa emang? Segitunya kamu nggak ingin berurusan denganku, ya? Hanya karena kita bersatu karena di jodohkan." Serang Reyhandra dengan akting cowok yang kasihan. Tapi ujung-ujungnya, orang di sebarang telepon yang berasa bersalah.


"Ahhhh, bukan gitu. Bukan karena aku nggak mau berurusan dengan kamu. Hanya saja...." Rosa terdiam dan tidak melanjutkan kata-katanya.


"Hanya saja, what??" Tanya Reyhandra yang kian mengharap klo Rosa akan bilang klo sebenarnya dia sangat bersyukur dia bisa ketemu jodoh yang begitu sempurna, hingga dia jatuh pada pandangan pertama untuk Reyhandra. "Hanya saja, apa?"


"Hanya saja..., hanya saja...." Rosa kembali terdiam lagi dan nggak melanjutkannya lagi.


"Apa sususah itu buat nyatain perasaan padaku. Maklum aih, dengan aku yang sangat sempurna ini, dia pasti merasa nggak percaya diri klo dia bisa dapat jodoh juga suami seperti aku." Pikir Reyhandra percaya diri, bahkan dia sampai senyam-senyum sendiri saat memikirkan klo risa akan berkata begitu.


"Hanya saja..., klo masalah chat, aku sudah jawab dalam hati aku. Dan soal teleponnya mati dan nggak aktif lagi, itu karena handphonenya lowbat, jadi aku matiin deh. Kamu maklum aja, ya!" Jawab Rosa sesuai dengan petunjuk kakaknya.


"Iya, emang gitu." Jawab Rosa lagi meyakinkan klo kata-katanya itu emang bener.


"Oh, gitu ya. Ya udah aku tutup ya, sebentar lagi harus ke kantor soalnya."


"Iya, aku juga harus ke rumah sakit sekarang. Klo begitu, bye." Rosa langsung memutuskan sambungan teleponnya dengan cepat, bahkan tak memberi kesempatan buat Reyhandra untuk mengucapkan salam perpisahan juga.


"Benar-benar, kakak beradik." Tutur Reyhandra tersendiri saat kembali teringat klo Stev juga pernah melakukan hal yang sama padanya.


Kenangan Berakhir....


"Hahahaha, seorang Reyhandra di perlakuan seperti itu?? Hahahaha. Wah, wah, keren banget. Hahahaha." Andre tertawa lepas saat mendengar cerita Reyhandra menelpon Rosa tadi pagi. Hingga berakhir dengan bad mood, dan kembali lagi pagi-pagi kakaknya malah mengirim undangan pernikahan lewat kurir.


Andre nggak bisa mengendalikan dirinya untuk tidak ketawa. Bahkan saking puasnya dia ketawa sampai-sampai dia hampir menangis. Pahanya juga sangat perih dan sepertinya itu memerah, karena saat tertawa dia juga memukul-mukul pahanya sendiri.


Andre makin nggak bisa menahan tawanya itu juga saat memperhatikan ekspresi Reyhandra yang sangat lucu bagi Andre. Karena jarang-jarang ada orang bisa melakukan hal seperti itu kepada Reyhandra. Bahkan kakeknya sendiri nggak bisa mengaturnya. Orang yang hanya menganggap segal ocehan dan ceramahan kakeknya itu sebagai angin lalu saja.

__ADS_1


Karena melihat ekspresi Reyhandra yang kian tambah kuat Andre tertawa maka makin masam pula wajah Reyhandra, membuat Andre berhenti tertawa. Walaupun sulit, tapi Andre tetap mencoba untuk mengulum tawanya itu. Itu semua juga dilakukan demi dana masa depannya yang ada pada Reyhandra. Orang yang menggajinya nanti, juga ATM berjalannya.


"Gila, keren banget kakak ipar gue. Pantas sih, bahkan dia mengalahkan gue tentang minuman cocktail di bar, yang merupakan master bar peringkat glory, yang selalu on time, always, everytime, everyday, every night, hadir dan ada di bar." Batin Andre yang masih saja mengulum tawanya itu, padahal di perutnya sudah seperti kupu-kupu yang beterbangan.


"Udahan ketawanya, kan? Atau emang kamu pada aku potong gaji kamu selama 3 bulan penuh." Ancam Reyhandra kepada Andre dengan wajah garangnya itu. Wajah dengan ekspresi dengan, seperti serigala yang beringas.


"Eh, ehh, jangan gitu dong bro. Jangan asal potang-potong gitu aja lo. Itu gaji murni gue itu, jangan seenak jidat lo." Protes Andre nggak terima di perlakukan seperti itu.


"Makanya kamu juga jangan seenak jidat juga menertawakan aku." Imbuh Reyhandra lagi juga nggak mau kalah, karena dia nggak terima di katain apalagi di tertawain seperti itu.


"Padahal jarang-jarang juga gue bisa menertawain lo, emang lo doang yang bisa gitu ke gue." Cicit Andre pada dirinya sendiri.


"Apa kamu bilang barusan? Coba diulang, kurang kedengaran barusan."


"Ahahaha, bukan apa-apa kok bro. Hanya saja motif undangan kalian keren banget ya bro. Pasti nanti akting lo bakal sesempurna undangan ini juga." Jawab Andre berkilah.


"Bukan yang itu, yang belakangnya lagi."


"Apa sih, bro. Dibilangin nggak ada juga."


"Ada, aku bilang ada, ya ada." Kekeh Reyhandra yang percaya pada pendengarannya.


"Dibilang nggak ada juga."


"Dibilang ada, ya ada. Masa kamu nggak paham sih?" Bentak Reyhandra pada Andre.


"Ini orang pendengarannya kok kayak audio ultrasonik ya. Jernih kali. Kudu hati-hati gue klo mau gaji gue aman. Diam aja deh. Berantem pun juga kagak bakalan menang. Mari lakukan ini, demi g-a-j-i." Batin Andre sendiri yang sudah keringat dingin mengingat gajinya sendiri akan hangus begitu saja didepan mata.


Knop pintu ruangan Reyhandra terbuka dengan kasar. Dan itu membuat Reyhandra marah, karena berani-beraninya ada orang yang main langsung masuk ke ruangannya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Sayaaaaaangg. Aku datangggg. l miss youuu." Angel berlari ke arah Reyhandra dan langsung memeluk Reyhandra bahkan mencium pipi Reyhandra.


Hans datang dari belakang yang juga berlari berlari. "Maaf tuan, Nona Angel menerobos masuk gitu aja. Dan nggak mengindahkan perkataan kami."


"Ya, nggak apa klo gitu." Tutur Reyhandra yang memaklumi sifat Angel itu, tapi dia menahannya juga demi keuntungannya juga.

__ADS_1


"Tuh liat. Rey aja nggak keberatan, kalian aja yang karyawan sok-sokan patuh kali. Padahal belakangnya kalian mana ada seperti itu." Maki Angel kepada Hans. Namun Hans tetap nggak berkutik, dia tetaplah dia yang seperti biasa.


__ADS_2