Dia Bahagiaku Dia Lukaku

Dia Bahagiaku Dia Lukaku
Chapter 2 : Ada Rahasia Apa ini?


__ADS_3

Rosalyn POV


Sesampainya aku di kamar, aku melepaskan piyama ku dan menuju ke kamar mandi. Bak mandi ku isi dengan campuran air hangat yang pas untuk berendam, juga sedikit tetesan wewangian parfum mawar menambah suasana nyaman saat ku akan masukkan jari-jemari kakiku. Ini sebenarnya bukan hal langka yang ku lakukan, namun hari ini aku merasa sensasi yang lebih nyaman dengan berendam, seakan semua beban ku hilang dibawa terangkat bersamaan dengan busa sabun.


"Haaaa... Nyamannya." Aku memainkan busa sabun ku. Lalu terlintaskan dalam pikiranku, "Apakah Mama berhasil meredamkan drama Papa dan kakak, nggak ya? Kuharap Mama dapat mengatasinya." "Haiishh... Bikin sakit kepala aja. Tapi aku cukup menyukainya."


Setelah selesai berendam beberapa menit lamanya, aku bangkit dari dalam bak mandi dan mengguyurkan diriku dengan air shower sebagai ritual terakhir. Aku mengambil jubah mandi di gantungan yang sudah ku atur sedemikian rupa agar aku tidak kerepotan saat mencarinya, lalu memakainya. Aku mengambil handuk dan keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutku.


Aku menuju ke meja rias ku dan mengambil hairdryer lalu mengeringkan rambutku. Kubuka lemari eksklusif ku dan memilih outfit yang akan ku gunakan untuk pergi ke pameran. pilihan hari ini adalah baju rok tutu dengan motif bunga-bunga kecil. Aku menggantikan jubah mandi ku dengan outfit yang sudah ku tentukan.


Jubah dan handuk kembali ku gantung didepan pintu kamar mandi, supaya aku tidak kebingungan mencarinya saat akan ku pakaikan kembali. Dan disinilah sedikit sihir ala Rosalyn akan dimulai. Penataan gaya rambut dan polesan make-up tipis yang disesuaikan dengan outfit ku.


"Finished! Hemmm... You are so pretty, baby." Kataku sambil bergaya didepan cermin. Entah ada apa dengan diriku ini, mungkin aku terkena sindrom model.


Aku memilih sepatu sport favoritku dan langsung turun kebawah. Dan tentunya, tas selempang kesayanganku, hadiah ulang tahun dari Mama Serena Vogart tercinta.


Ternyata kakak sudah ready berpakaian dengan gantengnya dan menungguku dibawah. "Setelannya oke, tidak akan memalukan aku nantinya, kecuali sikapnya itu yang memalukan. Tapi dari segi apapun dilihat, dia tetap selalu kelihatan keren. Mungkin klo aku bukan adiknya, aku pasti sudah jatuh cinta padanya."


"Kakak.... Kakak yakin mau nemenin Rosa ke pameran. Nanti jangan malah sibuk lagi berswafoto sama cewek-cewek sana. Trus pada ninggalin Rosa sendiri. Mending kita ajak si kembar aja sekalian, ya?" Kataku mencoba membujuk kakak. "Klo dipikir-pikir lagi, akan lebih menyenangkan jika kita pigi bareng . Benar nggak, Ma?" Tanyaku pada Mama yang kebetulan lagi lewat mau ke dapur.


"Iya sayang. Terserah sama kamunya aja. Yang penting kamu jangan nakal-nakal, dengerin kakak kamu, jangan coba-coba kabur dari pengawasan kakak mu, lho." Nasehat Mama padaku.


Mendengar kata-kata Mama, aku merasa tertohok. Kata-katanya itu pas banget mengenai harga diriku. Nakal, kabur dari pengawasan. Mama emang cenayang, tau aja klo aku akan kabur dari pengawasan kakak. Aku membawa kakak emang hanya sebagai alasan saja, supaya dikasih keluar. Klo tidak, bakal brabe urusannya, disuruh jaga sama bodyguard, dan sepuluh persen kemungkinan aku bakalan bisa kabur dari pengawasan mereka, sembilan puluh persennya lagi nggak.


"Nah, denger tu, honey. Jangan coba-coba buat kabur, ok?" Tegas kakak sekali lagi.


"Iya, iya. Rosa bukan anak kecil lagi kok, Rosa paham hanya dengan sekali dibilangin. Baik, Rosa akan coba berusaha untuk tetap dalam pengawasan kakak nantinya."


"Berusaha? Honey, kamu ini yang bener aja, bukannya berjanji malah bilang berusaha. Pokoknya kamu harus janji. Klo nggak, kita nggak jadi pigi nih." Kesal kakak padaku. Kakak ini ngotot banget sih orangnya, jadinya pusing kan aku mikirnya.


"Iya deh." Jawabku singkat dan langsung melanggeng pergi. "Tapi tetep nggak janji." Lanjut ku membeo. "Oh ya, kak. Plan buat ngajak si kembar, tetap ya!" Kataku sambil melihat kebelakang.


"No, honey. No!!!"


"Biasa aja kali, Kak. Nggak usah histeris gitu juga. Rosa nggak ngajak setan kok, cuma ngajak si kembar doang."


"Tetep nggak boleh honey ku sayang, cintaku, jantung hatiku. Tetep nggak boleh. Kan kamu tau sendiri kayak mana tu dua bocah. Apalagi si playboy Aldi. Eiiiittt... Wait." Kakak terdiam sebentar, dia menyeringai ngeri. Pasti bukan sesuatu yang baik ini, kan?  "Boleh juga, honey. Kita ajak si kembar. Go sekarang! Kita ke rumah mereka."


Ini kenapa jadi kakak yang sangat bersemangat, ya?. Ini benar-benar seorang Steven yang siscon itu, kan? " Kakak salah makan, ya?" Tanyaku mencoba memastikan, takut ada yang salah makan tadi pagi saat sarapan. "Apa mungkin susu yang diminum kakak tadi pagi kadaluwarsa, ya? Tapi nggak mungkin juga, kan? Aku juga ikutan minum susu yang sama, tapi nggak ada kejanggalan aneh yang terjadi." Aku mengecek suhu tubuh kakak dengan menempelkan tanganku di dahinya dan membandingkannya dengan suhu tubuhku. "Hemmmm... Tidak demam, sangat sehat."


"Apaan sih kamu ini, honey?" Tanya kakak menampik tanganku dari dahinya.


"Kakak yakin mau ngajak si kembar nih? Nggak da masalah, kan?" Tanyaku kembali untuk memastikan. Karena hari kakak seperti dua orang yang berbeda.


"Tentu saja. Kakak mu ini nggak pernah bohong tau! Apapun yang ku katakan itu selalu sebuah kebenaran. Seorang pria sejati tidak akan pernah mengatakan kebohongan, dan setiap tindakannya adalah kebijaksanaan. Jadi sudah disimpulkan, klo kakak seratus persen yakin, tidak seribu persen, yakin!" Jawab kakak sambil menyeringai.


Pasti bukan sesuatu yang baik. Entah apa akan jadinya nanti sama si kembar. Kakak makin aneh saja hingga senyam-senyum sendiri, udah kayak psikopat saja. Ngeri aku lihatnya.


"Ya lah tu." Jawabku malas. " Ok, bye Ma. Rosa pamit dulu." Kataku melambai kepada Mama.


"Ya, hati-hati di jalan. Nggak pake sopir?"

__ADS_1


"Nggak, nanti kita naik bus aja. Biar kayak healing beneran gitu. Hehehehe." Jawabku sambil tersenyum lebar pada Mama dan langsung berlari ke luar. Dan destiny-nya adalah rumah si kembar.


...***...


"Ada-ada saja anak jaman sekarang ya, Bi?" Kata Serena kepada Asisten Rumah Tangganya itu.


"Iya, Nya. Maklum, mereka masih muda dan sehat-sehat. Jadi energinya juga pada full. Apalagi Non Rosa, dia sangat bersemangat hari ini."


"Iya, Bi. Semoga saja Rosa akan selalu bahagia kelak. Walaupun tanpa kami nantinya. Bi, jika memang kami nggak ada lagi, saya nitip Rosa, ya? Tolong Bibi jenguk-jenguk dia sesekali." Tambah Serena dengan raut wajah yang sedih, sangat sulit untuk dideskripsikan.


"Nyonya ini bilang apa sih? Nyonya itu akan tetap panjang umur sampai nanti nyonya dapat melihat cicit Nyonya." Hibur Bibi Salma pada majikannya itu.


"Ya, semoga saja itu terjadi. Dan semua masalah akan terselesaikan dengan baik. Yang seharusnya dilupakan harus dilupakan. Dan yang seharusnya ditutupi sudah ditutupi, semoga saja ini akan berjalan dengan layaknya sekarang." Kata Serena yang terdengar ambigu bagi Bibi Salma. Dia nggak pernah tau apa yang sebenarnya tersembunyi dari keluarga Vogart ini. Karena dari awal dia bekerja disini, apapun masalahnya selalu terselesaikan dengan baik, kecuali insiden saat Rosa sakit parah pada umur 5 tahunnya.


...***...


Rosalyn POV


Kami menjemput si kembar ke rumahnya, Aldo dan Aldi. Mereka adalah teman sepermainan ku yang tetanggaan rumahnya. Juga teman satu sekolah plus sekelas lagi. Aldo adalah temen les piano dan Aldi adalah teman rahasia untuk ku ajak ke les Taekwondo. Aku mengikuti Ekskul Taekwondo secara diam-diam, dan tentunya aku merahasiakannya dari keluargaku. Jadi mereka tidak tau klo aku diam-diam mengikuti les itu, kalaupun iya aku bilang ingin mengikuti Ekskul Taekwondo, pasti nggak bakalan pernah diizinin.


"Morning, tante. Tante lagi ngapain sih, Tan?" Sapa ku pada Mamanya si kembar.


"Oh...Rosa. Morning. Tante lagi liat-liat bunga nih. Kamu kok pagi-pagi udah cantik. Mau kemana?"


"Mau ke pameran, Tan. Rencananya sih mau ngajak Aldo sama Aldi sekalian."


"Oh... Mereka lagi kamar. Klo Aldi masih tidur, maklumlah, anak cowok. Aldi itu emang bandel banget orangnya, susah waktu diomongin. Dan klo Aldo lagi bersama ikan-ikannya tuh di kolam, kayaknya sih lagi ngasih makan. ayo, mari masuk! Duduk-duduk aja dulu. Mau tante buatin teh?"


"Nggak ngerepotin, kok." Jawab tante dengan senyum manisnya. Emang nggak bisa ditolak, senyum bisnis itu sangat mengerikan.


Mama dulu pernah cerita klo Tante Rita, orang tuanya si kembar itu adalah seorang pebisnis dulunya, sebelum dia menikah dengan Papa-nya si kembar dan melahirkan mereka. Karena Papa-nya Aldo tu orangnya juga protektif banget, jadi tante Rita nggak diizinin kerja lagi. Dan katanya dia mampu membiayai mereka semua.


Klo dipikir setengah kata-kata itu memang sangat romantis, tapi dalam waktu yang sama juga sangat mengecewakan. Itu mengekang kita sebagai seorang perempuan yang kadangkala punya ketertarikan di dunia pekerjaan seperti ini, dan juga menyiratkan ketidakpercayaan kita terhadap pasangan kita. Klo aku menikah nantinya dan punya suami, semoga saja aku dikasih kebebasan dalam menentukan pekerjaanku nantinya dan akan selalu mendukungku.


Aku melihat kearah kakak dan mengasih kode kepadanya. Soalnya aku nggak enak klo nolak orang yang lebih tua dariku. Tidak, aku memang orangnya kurang enakan. Misalnya saja klo diminta bantu, klo nggak dibantu terasa nggak enak gitu, terbeban. Klo dibantu, sendiri juga yang repot. Untung jarang yang minta tolong padaku, karena memang akunya jarang minta tolong pada orang lain. Jadi orang lain juga merasa segan saat akan meminta tolong padaku. Dan siiiinnggh..... Sinyal ditangkap oleh satelit Stev, dengan kecepatan ultra telepati mata sonik.


"Nggak usah, Tan. Kami baru aja habis sarapan. Udah nggak sanggup lagi, nih. Lain kali aja ya, Tan?" Jawab kakak menolak sopan. Memang klo masalah ini, kakak emang the best lah.


"Baiklah, klo kalian bilang gitu. Tante panggil si kembar dulu, ya?"


"Ok, Tan."


Tante meninggalkanku dan kakak diruang tamu. Menunggu si kembar siap-siap. Siapa suruh aku ngajak orang nggak ada pemberitahuan terlebih dahulu. Ini semua gara-gara kakak yang nggak boleh inilah, nggak boleh itulah. Kan jadinya gini.


Aldo sepertinya selesai duluan dan sudah rapi. Pasti Aldi pake mandi lagi karena habis bangun tidur. Emang klo kembar itu gini, ya? Ada yang biang keroknya satu orang? Walaupun keduanya memang mirip sih, tapi kepribadiannya itu 180 derajat terbalik.


"Hai, Do. Udah siap? Aldi mana?" Tanyaku menyapa Aldo.


Aldo mendatangi kami, dan duduk di sofa. "Lagi mandi, telat bangun dia. Begadang." Jawabnya singkat, hampir tak membentuk kalimat jika dituliskan.


Yah, begitulah adanya sikap seorang Aldo, dan itu lumayan menyenangkan punya teman yang lain-lain kepribadian. Yang satu kalem, satu ribut heboh sendiri, pokoknya beragam lah.

__ADS_1


"Btw, kamu tadi habis dari kolam ikan, ya? Soalnya tadi tante bilang gitu." Tanyaku mencoba basa-basi. Karena kakak juga sedang sibuk dengan handphonenya, jadi kerasa canggung deh.


"Iya." Jawabnya pendek. Tuh kan? Dia selalu gini. Nggak ada basa-basi sedikit pun. Huh, sangat meresahkan. Apa ada cewek yang bakalan mau nih sama Aldo? Orangnya aja kayak tembok besi, untung dia ganteng. Jadi masih ada kesempatan, masih bisa dibincangkan.


"Kak, ikan mas di rumah kita pemberian Aldo tu betina apa jantan, ya?" Tanyaku pada kakak.


"Kok tanya kakak sih, honey? Tanya sama yang kasih lah." Ketus kakak jutek. Emang kakak sialan. "Tapi, kayaknya betina deh." Lanjutnya lagi. Untung dilanjutin, klo nggak udah ku tabok dia pake tinju aku."Betina kan, Do?" Tanya kakak balik ke Aldo.


Aldo seperti berpikir sebentar, dia tampak serius. Emang laki-laki, klo itu masaalah tentang hobinya pasti dipikirin dengan serius. "Ya, mungkin. Betina."


"Masa sih itu betina? Bukannya jantan, ya? Coba kalian mikir deh, namanya aja ikan 'mas', pastilah jantan. Klo betina mah bukan ikan mas namanya, 'ikan mbak'." Jelas ku tertawa ngakak. Setelah sesaat mencerna, kakak juga tertawa lepas. Hanya Aldo yang nggak tertawa dan termangut-mangut sendiri. "Apa dia seserius itu mikirnya?"


Beberapa saat kemudian, Aldi berlari turun kebawah. Dia melewati tiga anak tangga sekaligus dengan kaki panjangnya itu. Terkadang aku merasa iri akan kakinya itu, tapi apalah dayaku orang yang tingginya hanya 155 cm, be like. Untung tinggi aku itu normal seperti gadis sebayaku diluar sana. Dan klo dibandingkan dengan tinggi Mama juga kagak jauh amat bedanya.


"Babyyy... I miss youuuu.... I love youuuu....." Teriak Aldi berlari ke arahku. Dan tentunya kakak langsung bangun pasang badan.


"Hahaha...Aldi. Kamu udah nggak sayang lagi sama tangan kamu, ya? Berani-beraninya mau meluk honey-ku, kesayangan Papa Raymond." Kata kakak dengan tersenyum yang dipaksakan.


"Pelit amat, sih." Cicit Aldi dengan ekspresi wajah cemberutnya itu. "Oh ya, baby. Kita naik apa ke pameran? Pakek mobil aku aja ya? Nanti kamu duduknya samping aku, biar Aldo sama Kak Stev duduk di kursi penumpang. Aku jago lho nyetirnya, dijamin bakalan aman sampai tujuan." Heboh Aldi padaku, bahkan dia mengacungkan jempol dan mengedipkan matanya kepadaku. Apa dia nggak takut ngegoda aku seperti itu, nanti bom Stev bisa saja meledak sewaktu-waktu.


"Nggak boleh." Jawab kakak dan Aldo barengan sambil menarik tanganku.


Habislah sudah, aku jadi barang rebutan tiga cowok gila ini. Ini lagi, si Aldo malah ikut-ikutan. Tumben-tumbenan dia seperti ini.


"Lepasin! Sakit tau! Emang aku barang apa? Jadi rebutan kalian kayak gini. Nggak ada yang akan bawa mobil, kita perginya naik bus." Kataku final.


"Imut banget, sih. Marah aja seimut ini. Apalagi klo senyum, bisa-bisanya aku meleyot. Rasanya mau diumpetin aja masukin dalam kantong." Kata Aldi. Orang yang paling tidak punya efek jera sama sekali.


"Ya, kan?" Jawab kakak bangga. "Apa barusan kamu bilang bocah? Kamu mau ngapain, honey." Tanya kakak sambil merangkul meninju-ninju ringan kepala Aldi, tentu saja itu nggak bakalan selesai begitu saja.


"Do, yuk! Biarin aja mereka. Nggak bakalan kelar klo kita nunggu mereka, tuh." Kataku sambil menarik tangan Aldo.


"Tunggu dulu dong, honeyyyy. Honey!"


"Ya, tunggu dongsss, Babyyy."


Kami sampai di halte sesudah berjalan 5 menit lamanya. Tak lama bus pun datang. Ternyata sudah penuh dan tidak ada tempat duduk lagi. Jadi kena berdiri deh. Tapi bisa-bisanya Aldi minta orang lain buat berdiri untuk tempat dudukku. Terpaksa aku yang harus minta maaf. Bikin malu aja, rasanya mau ku jitak ini bocah.


Untungnya aku berdiri agak depan sedikit dan berpisah dengan mereka. karena memang aku duluan naiknya. Malas aku meladenin orang-orang yang suka berantem. Nggak di jalan tadi, karena pengen gandengin tanganku. Di halte, bahkan dalam bus juga. Untung Aldo nggak kayak mereka, dia tetap no comment.


Dibelakang u ada seorang cowok lumayan ganteng berdiri, kemudian diikuti kakak dan si kembar. Saat bus tiba-tiba ngerem, cowok itu hilang keseimbangan dan terjatuh ke arahku, dia minta maaf. Aku pun bilang itu bukan masalah, karena dia bukannya sengaja jatuh ke arahku.


Tapi, apaan ini? Hawa gelap ini? Kakak memasang wajah seremnya dan melihat ke arahku. Lebih baik aku pura-pura nggak tau aja. Tapi cowok itu merasa nggak nyaman karena kakak terus memelotinya. Yah, kupikir kakak saja yang overprotektif, tau-taunya Aldi juga ikut nimbrung. Dan parahnya lagi Aldo juga ikut-ikutan.


"Kak, boleh ganti, nggak? Aku lihat kakak nggak nyaman. Mereka tuh Kakak-kakak saya, maafin, ya?"


"Owalah... Kakaknya toh, dek. Ngeri amat orangnya, ya?" Jawab kakak itu.


"Ngapain kamu bicara sama honey? Besar juga nyalimu, ya?" Kata kakak pada cowok itu dengan mata yang masih saja melotot. Orang pikir, kakak pasti kena eksoftalmus akibat gangguan hormon tiroid.


"Maaf ya, kak? Memang gitu orangnya. Nggak usah diladenin. Baiknya kita change aja. Sekali lagi sorry ya, Kak. Sorry banget." Kataku merasa bersalah. Padahal bukan aku yang buat salah, tapi aku juga yang harus minta maaf. Ini dia sisi malu-maluin klo bawa mereka.

__ADS_1


Untung kakak itu orangnya baik, nggak tau deh klo itu orang yang suka marah-marah seperti kakak aku yang siscon itu, auto dimaki-maki deh. Akhirnya aku malah terjebak antara si kembar. Dan kakak terus pasang badan dari cowok tadi. Kasian kakak itu disalahpahami terus.


__ADS_2