
Alan memperhatikan sosok Rosa yang memohon didepan wajahnya bahkan sampai ia mengatakan kata 'swear' padanya. Alan nggak tau harus berbuat apa dan bagaimana, dia hanya terdiam ditempatnya dengan pemandangan sosok Rosa yang memohon padanya, bahkan dia berjanji untuk tidak lagi mengganggunya.
"Kak, kenapa begong?" Tanya Rosa melambaikan tangannya didepan wajah Alan. Sebentar Alan tersadar klo dia sudah dari tadi terdiam karena melihat seorang Rosa yang biasanya seperti nyamuk didepannya berjanji untuk tidak mengganggunya.
"Ada apa dengan diriku? Bukankah memang ini yang kuinginkan? Dia yang nggak akan mengganggu hariku lagi apalagi masuk dalam hidupku. Bukankah seharusnya aku senang? Tapi kenapa ini? Aku nggak mau Rosa mengganggu diriku lagi tapi aku juga nggak rela klo Rosa nggak mengganggu aku lagi? Sejak kapan aku terbiasa diganggu olehnya?" Alan bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
"Kak Alan kenapa sih? Dari tadi aku ngomong nggak ada reaksi apa-apa, asyik benging aja. Apa dia marah lagi ya karena aku mengganggunya dengan memohon supaya nggak dilaporin ke Papa Mama, ya? Apa dia berpikir klo ini adalah cara baruku untuk menggodanya padahal dia sudah punya tunangan?" Batin Rosa bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Sudah dari tadi dia melihat Alan bengong sendiri dan tidak menanggapi apa yang dibilangnya.
"Atau emang Kak Alan sendiri lagi punya banyak masalah, ya? Lupakan itu, apapun yang terjadi Mama Papa nggak boleh tau aku keluar dengan cross dressing, apalagi klo kakak sampai tau, ribet urusannya. Bisa-bisanya nanti kakiku malah dipatahin lagi sama dia. Dia lebih rela aku duduk di kursi roda ketimbang aku keluar seperti ini. Ihhhhh..., membayangkannya saja sudah sangat mengerikan. Pokoknya harus berhasil bikin Kak Alan supaya nggak dilaporin saya Papa Mama. Tapi gimana ya cara bujuk Kak Alan, dibilangin nggak akan ganggu dia lagi juga kagak respon, harus pake apa ni bujuknya. Klo pun itu uang, malahan Kak Alan sendiri kelebihan uang." Tanya Rosa terus bermonolog dalam hatinya.
"Kak, kakak denger nggak apa yang Rosa omongin barusan? Napa malah diem aja?" Tanya Rosa menggoyangkan lengan Alan.
"Ya, kakak denger kok." Jawab Alan seadanya.
Tapi entah kenapa Rosa malah kurang yakin klo Alan mendengar apa yang dikatakannya barusan. Karena di mata Rosa sekarang, Alan itu seperti orang yang linglung, memang raganya ada didepan Rosa, tapi pikirannya ada ditempat lain.
"Buat jaga-jaga, pastiin sekali lagi, deh." Pikir Rosa. "Kak, kakak janji kan klo kakak akan merahasiakan ini dari orang tua Rosa?" Tanya Rosa sambil menyelidik wajah Alan.
Alan menghela nafasnya pelan dan melihat tepat langsung kearah mata Rosa. Alan tau klo Rosa meragukan dirinya, takut dia berbohong. "Iya, kakak janji."
"Em, janji tu kan?" Tanya Rosa lagi sambil mengangkat jari kelingkingnya didepan wajah Alan.
Sesaat kemungkinan Rosa pun ingat klo Alan benci padanya, dia berbicara saja kadang Alan marah, apalagi klo bersentuhan. Risa merasa canggung tersendiri dan menarik jari kelingkingnya dengan pelan.
Tapi hal yang tidak diduga Rosa terjadi, Alan dengan cepat mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Rosa saat Rosa akan menariknya. "Janji." Ucap Alan memandang wajah Rosa.
Rosa sangat malu, canggung, semuanya berkumpul dan teraduk menjadi satu emosi, tapi Rosa juga senang Alan sudah tidak terlalu waspada lagi padanya. Klo dulunya Alan akan seperti kucing yang bertemu mangsa klo dekat dengan Rosa kini dia sudah mulai sedikit jinak.
Rosa mengipas-ngipasi wajahnya dengan tangan sambil sesekali membuang mukanya dari Alan. Rasanya udara sangat panas disekitarnya, padahal ini adalah malam hari yang nggak mungkin klo udara itu tinggi, melainkan pastilah rendah.
"Kak Alan nggak ngeliat wajahku yang merah, kan? Bisa-bisanya aku malah dianggap gadis mesum lagi sama dia." Batin rosa yang merasa was-was sendiri. Padahal ini bukanlah kondisi yang memungkinkan dia untuk was-was. Meskipun Rosa udah mencoba untuk merelakan Alan sedikit demi sedikit, tapi yang namanya cinta pertama pastilah susah dihilangkan dalam ingatan.
"Ehem, hem.... Karena kakak sudah janji untuk nggak bakalan melaporkan semua ini pada orang tua Rosa maka Rosa akan mempercayai kakak." Ucap Rosa mencoba berbicara dengan normal, sebisa mungkin dia berusaha klo dia nggak bakalan goyah lagi dengan perlakuan manis dari Alan. "Tapi kakak juga harus tau satu hal, rahasia Rosa yang cross dressing hanya kakak seorang dan satu-satunya yang tau. Jadi jika ini bocor sampai ke telinga orang tua Rosa, berarti kakak dalangnya. Dan saat itu terjadi, kakak siap-siap saja, Rosa akan menggebrak rumah kakak. Nggak peduli kalaupun ada istri kecil ataupun istri besar kakak, Rosa juga kan melabraknya juga." Ancam Rosa menunjukkan kearah mata Alan dengan jari telunjuknya.
"Apakah hanya aku seorang yang tau rahasia mu ini? Atau ini hanyalah kata-kata manis dari mulutmu saja?" Tanya Alan kepada Rosa, namun sayang, itu hanya akan terjadi dalam hatinya Alan.
Lagi-lagi Alan hanya diam saja dan menerima serta mendengar apa saja yang dibilangin Rosa untuknya. Alan yang dia seperti itu membuat Rosa merasa bersalah. Dia yang menyuruh orang lain untuk menjaga rahasianya tapi dia pula yang mengancam orang itu. Padahal orang itu nggak bermaksud mengintip ataupun mencari tahu dirinya yang cross dressing, melainkan informasi ini dia sendiri yang menyungguhkannya untuk orang itu.
"Ah, Kak Alan, bukan gitu kok maksud Rosa. Rosa nggak bermaksud untuk mengancam kakak kok apalagi melabrak calon istri kakak. Maafkan aku, Kak. Kakak tenang saja, Rosa nggak bakalan ngeganggu kakak lagi kok, baik kakak membocorkan hal ini pada orang tua Rosa atau tidak itu hak kakak. Tapi akan lebih baik klo kakak membantu Rosa untuk merahasiakannya dan aku Akan merasa sangat berterima kasih." Jelas Rosa kepada Alan dengan kalimat terakhir yang di gumamkannya dengan tidak jelas.
__ADS_1
Rosa nggak mau Alan kembali salah paham padanya. Kenyataan klo dia mencintai Alan itu memang benar dan sampai sekarang dia masih mempunyai sedikit rasa yang tinggal. Rosa sadar klo dia pun juga sudah punya tunangannya sendiri, jadi dia juga sudah harus bisa melupakan Alan dan move on darinya.
Rosa nggak mau dirinya menjadi orang yang linglung dan plin-plan dalam pernikahannya kelak. Perjodohan inj dan juga pernikahan dengan Reyhandra kelak adalah pilihannya sendiri, jadi dia harus mencoba yang terbaik untuk melepaskan Alan sedikit demi sedikit.
Rosa nggak mau dalam pernikahannya kelak ada bayang-bayang seorang Alan dalam rumah tangganya. Lagipula Rosa inginkan pernikahannya itu adalah satu seumur hidupnya, jadi untuk mewujudkan itu, dia harus menyingkirkan duri dan sandungan dalam hatinya.
"Ya, kakak mengerti kok, kamu tenang aja
Rahasia ini, aku akan menyimpannya sendiri. Bahkan klo aku menikah sekalipun ini hanya akan menjadi rahasia aku sendiri."
"Ok, I believe at you, because I know you. You will not lie about your promise. Thank you." Ucap Rosa sambil tersenyum kearah Alan. "Udara malam kayak gini enak juga, ya kak?" Tanya Rosa mencoba basa-basi dengan Alan.
"Udara malam memang sangat menyejukkan, jika kamu melihat ke langit, maka kamu bisa menikmati bintang-bintang yang bersinar bergemerlapan. Kadang mulai yang muncul juga sangat indah."
"Ahaha, ternyata kakak orang yang suka dengan yang berbau astronomi, ya? Apakah ada rasi bintang yang kakak tau?" Tanya Rosa yang penasaran dengan sosok sempurna Alan itu di matanya.
"Ya, ada juga. Kakak menyukai mereka karena itu akan membuat kakak menjadi fresh saat pulang dari rumah sakit. Dengan melihat bintang-bintang di langit kadang itu dapat membunuh waktu disekitar kita."
"Ya, kakak bener sekali. aku juga sangat suka memandang bintang-bintang di langit. Tapi aku lebih suka menebak relasi bintangnya. Konstelasi apa itu. Bagiku itu sangat menarik, apalagi klo kita tau cerita di balik konstelasi bintang itu." Tutur Rosa dengan semangat karena topik yang mereka bicarakan sangat disukai olehnya. "Tapi hanya saja, kadang aku nggak tau relasi bintang apa itu? Yah, karena itu terlalu jauh sih, nggak mungkin banget dilihat dengan mata telanjang, garis-garis relasi kurang jelas, makanya akan sangat sulit untuk melihatnya. Untung mataku jernih, jadi aku lumayan bisa melihatnya." Ucap Rosa dengan bangga akan kesehatan matanya.
"Oh ya? Kamu sangat bangga akan matamu itu?"
"Tapi kakak kerjanya sebagai dokter bedah, bukan dokter spesialis mata, Rosa."
"Ye lah tu." Jawab Rosa dengan tampang malas untuk meladeninya.
Alan lagi-lagi terdiam, Rosa bisa dengan cepat mengakrabkan diri dengannya dan dengan cepat pula dia bisa main julid begitu dengannya. Alan hanya bisa diam saja melihat Rosa seperti itu, meskipun kesan pertama Alan terhadap Rosa itu sangat mengganggunya karena Rosa terus mencoba mengungkitkan dan mengingatkannya tentang masa lalu dengan mereka, yang lainnya Alan tidak bisa membencinya.
Apalagi memori buram mulai bermunculan dari kepalanya sesudah setahun lamanya dia tidak mengingat apapun kembali menghantuinya. Apalagi hal yang berkaitan dengan Rosa, asalkan Alan mendengar nama Rosa, maka slide memorinya akan memenuhi otaknya dan itu sangat menyakitkan kepalanya. Segala hal yang berkenaan dengan Rosa maka memori itu akan muncul. Apalagi saat dia tau klo Rosa akan melakukan perjodohan, rasa sakit dihatinya pun muncul.
Alan nggak punya muka lagi untuk meminta Rosa menceritakan kisah mereka itu, karena dari awal Alan nggak mau mendengar apapun tentang mereka, hubungan mereka, kebersamaan mereka yang Rosa ceritakan padanya, Alan nggak punya hak menanyakannya lagi. Karena dari awal Alan yang nggak mau tau tentang masa lalu mereka dan bahkan membuat Rosa terluka.
"Rosa, btw kapan temen kamu itu akan datang." Tanya Alan membuka mulutnya sambil melihat jam di handphone yang dipegangnya.
Rosa juga melihat jam tangannya, hampir mendekati jam sebelas malam kurang lima menit. "Oh mungkin bentar lagi kak, macet kali jalannya makanya sedikit memakan waktu, agak terlambat. Tapi katanya dia akan datang setengah sebelas kok, dan ini masih ada lima menit lagi."
"Oh gitu ya."
"Ah, klo kakak ada keperluan, kakak pergi aja, nggak apa-apa kok. Rosa baik-baik saja disini sendiri, lagipula ini depan rumah Rosa sendiri bukan gang sempit yang berbahaya." Ucap Rosa yang sadar klo mereka hampir setengah jam berbicara diluar.
__ADS_1
"Oh, nggak apa. Kakak akan nemanin kamu disini hingga teman kamu itu datang."
Suasana menjadi canggung kembali, tidak ada yang mengawali pembicaraan lagi. Rosa juga merasa klo dia sudah nggak punya topik lagi untuk dibicarakan, hanya terdengar suara binatang malam yang bernyanyi bersahutan yang terdengar, ditengah sunyinya malam jam setengah sebelasan malam.
Dari kejauhan masuk lorong, sebuah motor warrior mendekat kearah mereka. "Itu pasti Dian." Pikir Rosa dalam benaknya. Rosa langsung keluar ketengah jalan supaya Dian tapu dimana posisinya berada. Begitu juga dengan Alan, dia mengikuti Rosa dari belakang.
Rosa melambai-lambaikan tangannya, dan Dian langsung berdiri didepannya. Dian melihat klo ada orang di samping Rosa dan berencana membuka helmnya untuk menyapa orang tersebut, namun Rosa menahan tangannya dan menggelengkan kepalanya ringan supaya Dian tidak membuka helmnya itu. Dian yang paham dengan kode Rosa itu langsung mengurung niatnya dan memberikan sebuah helm pada Rosa.
Rosa mengambil helm dari tangan Dian dan memakainya. Rosa melihat kearah Alan dan sadar klo dia harus berpamitan pada Alan untuk menghilangkan fokus Alan pada temannya itu, karena sejak awal kedatangan Dian, Alan tidak pernah membuang pandangannya dari Dian. Tapi syukurlah Alan nggak bisa melihat siapa orang dibalik helm itu dan bagaimana rupanya karena tertutup dengan helm.
"Kak, aku pergi dulu ya." Pamit rosa pada Alan, dan kemudian rosa langsung naik ke atas motor.
"Ya, kamu hati-hati ya, jangan sampai kamu ketahuan sama orang lain yang mengenal kamu." Ucap alan memperingati Rosa.
"Ya kak. Nggak bakalan kok. Penyamaran aku ini udah sempurna. Aku tuh ketangkep sama kakak karena aku keluar dari pagar secara diam-diam, makanya kepergok deh." Jawab Rosa sambil tersenyum cengengesan.
"Hemmm, ya. Ehem, siapa pun kamu, tolong jaga Rosa, ya." Kata Alan kepada Dian. Dan Dian pun hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
Dian langsung melesatkan motornya segera setelah rosa benar-benar sudah siap dan mengambil posisi duduk dengan benar. Rosa melambaikan tangannya kepda Alan klo dia akan pergi, dan hal langka terjadi lagi, Alan membalas lambaian tangan Rosa.
Sebenarnya itu bukanlah hal yang langka, karena itu sudah terbiasa terjadi antara Rosa adan Alan. Hanya saja, selama setahun terakhir karena Alan kehilangan ingatannya, membuat mereka tidak pernah melakukannya lagi. Bahkan untuk sekedar mengenang masa lalu saja risa nggak boleh melakukannya, karena Alan membencinya.
Dian melajukan motornya dengan kecepatan sedang ditengah hilir mudik jalanan pada malam hari. Tak butuh waktu lama bagi Dian untuk sampai di Bar yang dikunjungi oleh Rosa kemarin, Bar mystic namanya.
Dian memarkirkan motornya ditempat biasa setelah menurunkan Rosa. Rosa memperhatikan Dian dengan baik, Dian berbicara dengan satpam penjaga parkirannya dengan ramah, itu memang sikap Dian yang dikenal Rosa.
"Sepertinya Dian sudah terbiasa pergi ketempat ini?" Pikir Rosa saat melihat Dian berbicara akrab dengan satpam penjaga, bahkan tempat parkiran motor Dian saja sudah disediakan tempatnya. Tempat yang sangat amat strategis, tempat yang mudah untuk keluar nantinya klo mau pulang.
Dian langsung menghampiri Rosa saat sudah memarkirkan motornya. "Ayo, kita masuk sekarang, Shaka. Kamu siap manggung malam ini, kan?" Tanya Dian yang berdiri di samping Rosa.
"Of course, I ready." Jawab Rosa dengan mantap. "Mari kita guncangkan panggung Bar mystic ini malam ini, Dian. Mohon kerja samanya."
"Ok, mari kita lakukan."
Dian langsung berjalan didepan dan Rosa mengikutinya dari belakang. Jali kedua Rosa datang ke bad ini, dan tujuannya adah manggung. Hal yang nggak pernah Rosa lakukan selama ini, meskipun hanya sekedar lewat dalam kepala Rosa.
Dian dan Rosa memasuki pintunya, dan suara musik DJ pun mulai terdengar nyaring dan menulikan telinga. Nggak peduli wanita atau pria semuanya bersenang-senang dan menari bersama. ada juga yang duduk minum-minum didepan meja bartender ataupun duduk di meja yang disediakan.
Rosa mengikuti Dian dengan hati-hati, dia harus bisa menjaga Dian dalam pengawasannya, karena klo tidak Rosa akan kehilangan Dian dari pengawasannya dan tersesat ditengah lautan manusia yang sedang bersenang-senang itu.
__ADS_1
"Kamu baru nyampe, Yan. Malam ini akan nyanyi, kan?" Tanya sebuah suara menyapa Dian.