
Di rumah Teguh dan Nadia cemas menunggu Zaki dan Sarah pulang. " kok lama sekali mereka pa? Mama khawatir terjadi apa apa pada Sarah," ucap Nadia cemas sambil mondar mandir dalam rumah. "tenanglah ma,. Ada Zaki bersama Sarah tak kan terjadi apa apa", jawab Teguh menenangkan istrinya. Tak lama suara mobil Zaki terdengar memasuki halaman rumah Sarah. "syukurlah nak, kamu sudah pulang. Masuklah dan istirahatlah!" sambut Nadia pada Sarah yang terlihat lusuh. "nak, papa minta maaf. Dan turut berduka atas kepergian Abi", lanjut Teguh pada Sarah sambil memeluk tubuh anaknya itu. Namun tak ada satupun kata yang keluar dari mulut Sarah, dia hanya melihat ayahnya dengan penuh arti.
Di kamar Sarah langsung masuk kamar mandi dan menguncinya dari dalam. Dia bersandar pada dinding lalu duduk dan menyalakan shower. Dinginnya air tak terasa menyelimuti Sarah yang kini seolah mati rasa, lama dia tertunduk dibawah guyuran air shower. "Bi, maaf kan aku", ucapnya keras dibawah guyuran air, air matanya tumpah tak terbendung, dadanya sesak, tenggorokannya seakan tercekik.
Ia menyudahi mandinya, dia berganti pakaian dan duduk di balkon kamarnya, melihat sekeliling nampak sunyi, dia menengadah ke atas melihat nyaris tak ada bintang di sana, kemudian dia teringat kotak yang di berikan ibu Abi padanya sore tadi.
__ADS_1
"mana kotak itu?", Sarah mencari dalam tasnya, mengeluarkan semua barang di dalam tasnya. "ini dia", gumam Sarah. Dia membukanya dan dia melihat sepucuk surat kecil dibawah kalung indah dari Abi.
'Dear, sarah.. Aku minta maaf karena tak mempertahankan cinta kita dengan baik, aku dengan mudah melepas mu untuk pria pilihan orang tuamu. Tapi sungguh aku tak mau kau dan aku melawan restu orang tua yang begitu penting untuk masa depan kita. Sar,. Jangan salah duga padaku, bukan aku tak cinta padamu, justru aku selalu mengagungkan cintaku padamu. Kini Tuhan marah padaku, Dia mengambil apa yang ku agungkan selama ini, Tuhan menegurku melaluimu. Kau yang ku cinta telah ditakdirkan untuk yang lain. Kini hanya doa agar kau dan dia bahagia hingga ke surgaNya, tolong jaga dia yang kini kan jadi suamimu. Aku akan pergi dari hatimu Sar, tapi aku akan selalu ada untukmu. Aku cinta padamu Sar...'
***
__ADS_1
Di ruang tamu, Zaki dan orang tua Sarah sedang membicarakan kejadian hari ini. "Zak, menginap lah di sini beberapa hari, ajak lah Sarah keluar atau kemanapun ia mau untuk sedikit melupakan kesedihannya", ujar Teguh pada Zaki. "iya om, Zaki juga sudah mutusin pindah kuliah di kampus Sarah saja agar lebih mudah menjaga Sarah, dan papa mama juga setuju", jawab Zaki memberi tahukan niatnya. "ide bagus Zak, terima kasih sudah berkorban untuk Sarah", lanjut Teguh menepuk pundak Zaki.
Keesokan harinya Sarah masih saja mengurung diri di kamarnya, "Nak keluarlah, ayo makan. Jangan seperti ini, masa depanmu masih panjang. Pikirkan dirimu dan papa mama juga." pinta Nadia didepan pintu kamar Sarah yang terkunci dari dalam. Sarah terdiam memikirkan ucapan mamanya, sampai kapan dia harus mengurung diri seperti ini, sudah nyaris dua minggu dia hanya keluar kamar untuk makan saja, selebihnya dia habiskan dalam kamar. Hingga dia tak mempedulikan kehadiran Zaki yang kini semakin intens menemuinya meski tak pernah sekalipun dia sapa.
Sarah mulai membuka pintu dengan penampilan yang lusuh tak seperti Sarah yang dulu, kini senyumnya menghilang dari wajah cantiknya. Hari itu dia berniat menemui Zaki yang sedang bercengkrama dengan orang tuanya, "Zak..bawa aku keluar! Aku ingin menghirup udara segar," pinta Sarah pada Zaki. Dengan sigap Zaki langsung berdiri dan menggandeng tangan Sarah untuk masuk mobil dan membawanya jalan jalan. "om tante, kami ijin keluar dulu ya, assalamu'alaikum," pamit Zaki dengan wajah bahagia. Setelah nyaris dua minggu dia tak melihat wajah Sarah kini dia keluar dan mengajaknya jalan jalan.
__ADS_1