
"kamu pasti bertanya tanya kan Zak? Kenapa aku di sini?", ucap Arini sambil membawakan minuman untuk Zaki. "kemari lah!", ajak Arini pada Zaki. Arini menggandeng tangan Zaki mengajaknya berkeliling rumah jompo itu, dilihatnya disana banyak orang orang tua yang memiliki begitu banyak menyimpan duka karena dimasa tuanya hidup sebatang kara.
"ini rumah jompo yang aku bangun dengan usahaku sendiri Zak. honor ku menjadi model untuk makeup wedding aku kumpulkan sedikit demi sedikit. Dengan dukungan papa mamaku juga tentunya", ucap Arini bercerita pada Zaki, "lihatlah Zak, betapa hancurnya mereka ketika anak, saudara bahkan pasangan mereka tak mau lagi menampung dan merawat mereka. Mereka sebatang kara di jalan jalan Zak.", lanjut Arini dengan mata berkaca kaca.
Zaki hanya terdiam melihat begitu banyak orang tua di sana yang kini terasa memiliki keluarga dan teman di rumah jompo Arini ini. Tak di sangka Arini berjiwa malaikat diluar kelakuannya di kampus. "Rin, kenapa kamu kalau di kampus seperti itu?, centil, dan seolah gak mau kalah?", tanya Zaki heran.
__ADS_1
"aku..aku hanya mempertahankan diri Zak. Sejak kecil aku sering kena bully, dikatain anak yatim piatu, anak miskin, bla bla bla. Ketika aku diadopsi oleh papa ku sekarang aku di ajari untuk bertahan dan melawan serta membela diri jika ada yang mau menjatuhkan ku. Tapi mungkin caraku salah, tapi semua orang sudah terlanjur melihatku sebagai Arini yang arogan, centil dan mau menang sendiri."
DEG..."YATIM PIATU? MISKIN?ADOPSI?" pikir Zaki semakin terkejut.
Zaki terdiam mendengar cerita Arini yang sungguh membuatnya terharu. "eh Zak kenapa kita jadi berduri di sini?, masuk yuk. aku siapin makan dulu buat kita", ucap Arini mengajak Zaki masuk dan makan bersama.
__ADS_1
"ah tak usah repot repot Rin, aku pulang saja.", jawab Zaki menolak ajakan Arini. "ayolah Zak, temani aku makan bersama kakek nenek di sini", paksa Arini. Arini pergi ke dapur untuk membantu memasak dan menyiapkan makan siang untuk penghuni rumah jompo itu. Tak sadar mata Zaki kini terus memperhatikan setiap aktifitas Arini di dapur, dia melihat kegesitan dan kelihaian Arini memasak. Tak disangka gadis yang diluar sangat angkuh dan dicap centil itu sangat baik hati dan berhati lembut.
Siang itu Zaki dan Arini makan siang bersama penghuni rumah jompo dengan suasana hangat, sesekali mata Zaki memandangi Arini yang terlihat bahagia dan telaten menyuapi lansia yang terlihat manja pada Arini. Setelah itu Zaki berpamitan pada Arini untuk pulang, "Zak rahasiakan ini dari teman yang lain ya. Aku tak ingin kebaikanku dilihat orang lain", pinta Arini pada Zaki. Zaki mengangguk dan langsung masuk mobil.
"ini gila sih, kejutan Arini hari ini sungguh membuatku membuka mata", gumam Zaki sendiri dalam mobilnya. Dia sadar bahwa Ketika memilih pasangan memang harus saling melengkapi dan di dasari ibadah karena Tuhan serat cinta dari hati. Hingga suatu saat nanti kita tua hanya pasangan kita lah yang mendampingi, dan merawat kita, bukan orang lain. Sungguh siang itu membuat Zaki memiliki pandangan lain mengenai Arini yang dulu ia pandang hanya gadis manja yang arogan, yang hanya mengandalkan harta orang tuanya saja untu bersenang senang, prasangka Zaki terpatahkan oleh pemandangan yang ia lihat langsung hari ini.
__ADS_1