Dia Kekasihku (Terlambat Ku Sadari)

Dia Kekasihku (Terlambat Ku Sadari)
BAB 32


__ADS_3

"ih man ada kayak gitu, itu namanya aneh", balas Maya makin heran dengan ucapan Hawa, "dengerin, ibu bapak kita aja gak pernah tau wajah kita dan sifat kita sebelum kita lahir kan?tapi mereka sayang sama kita, cinta sama kita. Itu namanya ikatan batin. Paham sekarang?", jelas Hawa serius. Sarah dan Maya diam memikirkan perkataan Hawa yang ada benarnya juga. "Tapi masa iya ada orang yang seperti itu? dan apa benar itu ikatan batin?" gumam Sarah dalam hati.


***


"Rin, kenapa kamu nempel terus sama aku sih? Maaf ya, aku risih banget apalagi dilihatin anak anak di kampus", ucap Zaki pada Arini ,"jujur Zak aku tertarik padamu kamu sejak awal kamu masuk kuliah. Gak tau kenapa kamu beda, ada rasa nyaman saat aku dekat dengan mu. rasa yang tak pernah aku temukan pada pemuda yang ku kenal", maaf jika kelakuanku membuatmu risih", jawab Arini dengan raut wajah berubah sedih. Zaki melihat wajah Arin dengan seksama, disana dia melihat sebenarnya Arini sangat cantik dan terlihat memiliki hati yang lembut dan tulus, namun dia heran kenapa dilihat dari luar sifatnya sangat mengesalkan.


"ah.. Kenapa jadi mikirin Arini?", gumam Zaki dalam hati. Zaki berdiri dan berjalan pergi mencari Sarah di gedung sebelah, tapi dia tak menemukannya. "kelasnya kosong?, apa sudah keluar?", tanya Zaki dalam hati. "nah kan, ketahuan ngintip kelas Sarah," gertak Arman mengagetkan Zaki, "ya ampun Ar, kebiasaan ngagetin orang", ucap Zaki mengelus dada. "kami aja yang ngelamun Zak, nyari Sarah ya? udah bubaran kali Zak," jawab Arman sambil melongok ke dalam ruangan Sarah.

__ADS_1


"nongkrong ke kafe depan kampus yuk Zak, nunggu materi ke dua sejam lagi nih." ajak Arman pada Zaki, "boleh lah, yuk". Mereka berjalan santai menyusuri lorong gedung fakultas Sarah dan sampai di sebuah kafe kecil yang terlihat sepi dan nyaman, mereka berdua tak sengaja juga melihat Arini yang sedang duduk di bawah pohon sambil berbincang seru dengan bapak tua penjual tissue, "kamu liat itu Zak?itu Arini ya?", tanya Arman mengamati lebih jelas hadis itu, "liat Ar, ngapain dia di situ? Keliatan seneng banget tuh ngobrol sama bapak bapak itu," jawab Zaki heran dengan perubahan sikap Arini yang nampak berbeda saat di kampus. "dah lah Zak, yuk masuk!" ajak Arman, sedangkan Zaki masih terbayang Arini yang seolah berbeda orang.


"Zak, kamu naksir Sarah dari fakultas B itu ya?", tanya Arman penasaran, "ah nggak Ar biasa aja", jawab Zaki sedikit gugup. "naksir juga gak apa kok Zak, taklukan saja hatinya kalau sanggup. Karena aku dengar dulu Abi rela nunggu dapatin hatinya Sarah tuh dua tahun loh." lanjut Arman menantang Zaki, "dua tahun? Gila sabar bener tuh cowok. Emang kenapa selama itu nunggunya?", tanya Zaki pura pura tak tahu, "katanya sih si Sarah belum move on dari cowoknya", lanjut Arman lagi, "hmmm gitu ya? Setia dong si Sarah", balas Zaki lagi, "ya gitu lah nilai aja sendiri!", pungkas Arman sambil nyeruput kopinya.


***


"yuk Sar, move on. Meski bukan pada Zaki cobalah membuka hati lagi pada pemuda yang menurutmu tepat", ucap Hawa memberi semangat. Sarah hanya diam tak menjawab, perasaannya masih tertaut pada Abi, Sarah tak tahu apakah rasa ini adalah murni rasa cinta atau hanya rasa bersalah karena telah menyia nyiakan Abi yang nyatanya tulus padanya.

__ADS_1


"nih di nih, Pandu telpon. Diangkat gak guys?", ucap Sarah memandangi hapenya yang berdering. "angkat Sar, penasaran mau apa dia?", jawab Hawa penasaran. "halo Sarah, boleh ketemu?aku rindu kamu", ucap Pandu, "Pandu kenapa kamu masih hubungin aku sih?", "aku sudah katakn padamu tempo hari, aku tertarik padamu Sar, bukanku lancang tapi, ini kata hatiku Sar. Bukan mauku menginginkanmu, gadis yang tak pernah ku temui tak pernah ku kenal tapi mampu membuatku mabuk kepayang seperti ini". "gak usah lebay deh Ndu, kamu hanya kenal aku dari cerita Abi, kamu gak tau gimana aslinya aku, gimana jeleknya aku. Bisa bisanya kamu ngomong tertarik padaku", balas Sarah sedikit emosi.


"percaya atau tidak Sar, cinta datang karena terbiasa. Aku terbiasa mendengar mu lewat cerita Abi, dan karena itu aku tertarik padamu.", lanjut Pandu.


DEG...


"cinta karena terbiasa" kata kata itu membuta Sarah bergetar mengingat Abi selalu mengatakan hal yang sama. Tak banyak bicara lagi Sarah langsung menutup telpon Pandu.

__ADS_1


__ADS_2