
"Ndu, hati hati di sana, jaga diri, jaga kesehatanmu, jangan makan sembarangan, jangan...", Pandu menutup mulut Sarah dengan tangannya, "Sar, aku bukan bayi. Ternyata kamu cukup bawel juga ya hahahaha" ucap Pandu menertawakan sikap Sarah yang sangat mengkhawatirkannya. "ih kamu, lagi serius juga malah ketawa" balas Sarah memukul dada Pandu,
"iya iya Sayang ku cintaku Sarah Maharani. Ingat ya jangan main hati dengan cowok lain" ujar Pandu mewanti wanti Sarah, "iya Ndu, kamu tuh yang harusnya hati hati, dan jaga hatimu. Nanti ketemu bule di sana malah tertarik. Kamu kan gampang kecantol orangnya" balas Sarah sedikit manyun.
"Sar, uda waktunya aku berangkat. sampai jumpa dua tahun lagi ya Sar Love you" pamit Pandu mengecup kening Sarah. "Zak, Rin aku titip bocah ini ya.. Awasin kalau macam macam lapo padaku!" ucap Pandu Sambil memeluk lengan Sarah erat. "siap Ndu, akan ku awasi dia, kamu di sana juga jangan macam macam. Sekali saja kamu nyakitin Sarah, liat aja kamu" ancam Zaki pada Pandu setengah bercanda.
"yuk guys, aku pergi dulu ya. Sarah?Love you" pamit Pandu berjalan pergi sambil melambaikan tangannya pada Zaki, Arini dan Sarah.
__ADS_1
***
Malam itu setelah keberangkatan Pandu hari hari Sarah kembali sepi meski terkadang Pandu menghubunginya lewat video call atau telpon, namun ketiadaan Pandu di dekatnya membuat Sarah rindu.
"Nak, ayo makan! Papa udah nunggu" panggil Nadia di balik pintu kamar Sarah, suara panggilan Nadia membuyarkan lamunan Sarah, "eh ma, iya bentar lagi turun" jawab Sarah segera turun dari tempat tidurnya.
Sarah hanya tersenyum kecil dan menggoyang goyangkan tubuhnya sambil menikmati makan malam, "ma.. Masakan mama makin hari makin enak aja", puji Sarah mengalihkan pembicaraan. "tuh pa.. Nih anak mulai lagi. Di tanya papa nya malah mengalihkan pembicaraan", "masakan mama memang tiap hari begini begini aja rasanya Sar, suasana hatimu saja yang bagus jadi semua makanan ini terasa sangat lezat", sahut Teguh menjitak lembut kepala Sarah.
__ADS_1
"Sar, jawab pertanyaan papa itu, bercanda terus ih kamu ini", paksa Nadia pada putrinya itu. "iya iya pa..ma.. Sarah sudah menemukan pemuda itu", jawab Sarah sedikit tersipu. "cerita lah nak, siapa dia, bagaimana dia" cecar Nadia makin penasaran.
Sarah diam sesaat dan mulai menceritakan semua tentang Pandu sambil membayangkan wajah Pandu. " "Benar benar pemuda yang baik sepertinya Sar", ucap Nadia. "ajaklah dia ke rumah Sar, papa ingin kenal!" ucap Teguh. "sayangnya dia sedang diluar negeri pa, dia akan kembali dua tahun lagi" balas Sarah sedikit sedih.
"luar negeri? Ngapain?" tanya Nadia sedikit terkejut, "dia membantu mengelola bisnis papa nya pa, ma" jawab Sarah bangga. "berbakti sekali dia ya Sar? Bisalah dijadikan mantu pa" gurau Nadia pada suaminya. "yaa tunggu sampai dia pulang dulu ma, kita kan belum tau bagaiman dia" jawab Teguh.
Malam itu Sarah duduk di balkon kamarnya memandangi langit malam begitu gelap, nyaris tak ada bintang di sana "Bi.. Terima kasih sampai kamu gak ada pun kebaikanmu mengalir untukku. Kamu tanpa sengaja mengirim Pandu untukku, terima kasih sudah menjelaskan padanya tentang aku, sehingga aku tak harus repot menjelaskan siapa aku. dan maaf Bi, aku harus melupakanmu melupakan semua tentang kita." gumam Sarah sambil memandangi kalung pemberian terakhir untuknya dari Abi.
__ADS_1