
Sepanjang jalan pulang Sarah terus terisak, mengingat apa yan sudah terjadi padanya beberapa tahun terakhir. "sampai kapan ini harus ku jalani? Aku ingin lepas dari perjodohan ini, aku ingin kembali jadi orang yang bebas tanpa cinta untuk siapapun, aku ingin beban ini menghilang dari pundakku" ucap Sarah semakin terisak.
***
"terima kasih ya Zak sudah mau nemenin aku belanja keperluan rumah jompoku", ucap Arini pada Zaki
"gak perlu sungkan gitu Rin, kalau butuh apa apa kabarin aku aja. Kalau aku bisa pasti aku bantu", jawab Zaki sambil menyetir mobilnya. "eh Rin aku boleh mampir ke rumah mu?pengen tahu rumah mu", pinta Zaki pada Arini, "oh boleh boleh, nanti aku kenalin ke papa mama ku," jawab Arini antusias. "tapi kenalinnya sebagai pacar ya Rin?", pinta Zaki.
"eh.. Pacar? Kamu bisa aja Zak", jawab Arini terkejut, "katamu waktu itu kamu tertarik padaku. Sekarang giliranku yang tertarik padamu. Boleh?", balas Zaki sesekali melihat wajah Arini yang terlihat malu malu. "aku sungguh tertarik padamu Rin, sejak kejadian waktu itu. Aku jadi tahu siapa kamu sebenarnya", lanjut Zaki yang kini mulai menggenggam tangan Arini.
__ADS_1
"jadi giman Rin?", tanya Zaki lagi, "giman apa nya Zak?", tanya Arini masih bingung dengan perkataan Zaki. "mau kah kamu jadi pacarku? Kalau bisa sampai nikah", jawab Zaki mantap.
Arini terkejut mendengar pernyataan Zaki yang membuatnya malu namun juga bahagia, "iya Zak, aki mau", jawab Arini menganggukkan kepala dan wajahnya terlihat memerah karena malu. "yes!, terima kasih Rin", teriak Zaki kegirangan sambil mengecup tangan Arini.
"dan untuk urusan perjodohan ini akan segera ku selesaikan, itu janjiku Rin. Aku kini hanya ingin menjalani semua ini denganmu, aku tak mau kejadian yang terjadi pada Sarah dan Abi terjadi pada kita", ucap Zaki dalam hati.
***
"kebetulan Zak, aku ingin bicara padamu juga", gumam Sarah sambil memutar mobilnya ke arah taman dekat rumahnya. Ya sejak kecil, taman dekat rumah Sarah menjadi tempat favorit Zaki dan Sarah untuk bermain, hingga dewasa pun mereka sering ngobrol di sana.
__ADS_1
"kenapa?", tegur Sarah pada Zaki yang sedang minum jus, "ya Ampun Sar, gak berubah ya? ngagetin orang mulu hobinya, untung gak keselek sedotan aku", omel Zaki setengah bercanda pada Zaki. "sorry deh, sini aku minta jus mu", pinta Sarah dengan mengambil gelas jus milik Zaki, "pesen sendiri kan bisa Sar?", ucap Zaki kesal namun dia sudah biasa melihat Sarah seperti ini sejak dulu.
"Sar, mungkin kita harus bicara sama orang tua kita soal kita. Sejujurnya aku lelah Sar terus berpura pura begini", ucap Zaki dengan wajah serius, "alu baru saja ingin mengatakan hal yang sama padamu Zak. Tapi aku takut kedua orang tua kita tetap pada pendiriannya. Tahu sendiri kan, papaku ad penyakit jantung, dan papa mu gak pernah bisa di bantah perintahnya. Gimana cara kita ngomong ke mereka?", kawab Sarah nampak bingung.
"kita cari waktu yang tepat Sar, kita hadapi berdua Sar. Kita maju dan bicara jujur berdua, kita pasti bisa meyakinkan mereka", lanjut Zaki kini dengan suara yang mantap dan penuh percaya diri.
"baiklah, atur saja kapan kita akan melakukan itu. Eh aku kemarin melihatmu menemani Arini keluar dari supermarket. Aku melihat kalian duduk duduk di food court kan?", tanya Sarah memastikan. "eh iya Sar, sepulang dari sana aku nembak Arini. Dan dia menerima. Jadi sekarang aku dan Arini resmi pacaran", jawab Zaki dengan wajah sumringah.
"hah?secepat itu? Makanya kamu ingin menyudahi perjodohan ini karena ud jadian sama Arini kan?",
__ADS_1
"itu salah Satu alasannya Sar, alasan lainnya ya karena aku udah capek ngejar kamu Sar, dan kamu sendiri juga kelihatan makin dekat sama Pandu. Aku gak mau buang waktu Sar, aku gak mau kejadian yang sama sepertimu dan Abi terulang padaku", jelas Zaki pada Sarah.
"kamu benar Zak, aku dukung sikapmu yang segera menyatakan perasaanmu pada Arini sebelum kamu menyesal seperti ku", batin Sarah yang kini diam mengingat kejadian yang menimpanya pada Abi.