
Sampailah Sarah di kafe itu, dan melihat Pandu sudah duduk sendiri di bangku paling pojok dekat toilet, "maaf telat, tadi ojek online nya lama", tegur Sarah pada Pandu yang memainkan ponselnya. "oh sudah datang? Baru saja aku mau menelpon mu", jawab Pandu melihat ke arah Sarah yang berdiri di hadapannya.
"duduklah, mau pesan apa?", pinta Pandu, Sarah hanya menggeleng tak bersuara. "aku minta maaf atas kejadian tadi Ndu, dan aku minta maaf atas nama Zaki. Karna ku kalian berantem", ucap Sarah dengan suara lirih, "aj sudahlah, aku paham bagaimana perasaan Zaki melihat wanitanya di dekati pria lain", jawab Pandu santai,
"lagi pula salahku juga telah membuatmu menangis waktu itu karena perkataan dan sikapku, maafkan aku Sar, dan aku juga minta maaf pada Zaki karena menyakiti wanitanya", lanjut Pandu.
Sarah melihat memar dan bekas darah kering pada wajah Pandu, "sakit ya?", tanya Sarah mengisap ujung bibir Pandu yang memar. "aaw, sakit sedikit gak papa Sar", teriak pandu lirih sambil mengerutkan dahi. "mas, minta es batu ya", pinta Sarah pada waiters kafe, "untuk apa?mau kamu **** es batu itu?", canda Pandu pada Sarah, Sarah hanya diam dan menggeleng kepala sedikit tersenyum mendengar candaan Pandu.
Sarah mulai membungkus es batu itu dengan sapu tangannya, "eh mau ngapain?", elak Pandu terkejut melihat Sarah duduk di sampingnya. "diam lah, biar ku kompres memar mu", ucap Sarah, dengan perlahan Sarah mengompres memar Pandu dan membersihkan bekas darah kering pada hidung pandu.
__ADS_1
"kalau kamu menyangsikan cintaku kenapa kamu seperhatian ini padaku Sar?" gumam Pandu memandangi Sarah yang telah beberapa kali merawatnya.
"Sar, waktu itu ketika kau meminta es batu pada penjual sate, kamu bilang aku pacarmu. Apa maksudmu?", tanya Pandu mengingat kejadian waktu itu. Sarah hanya diam dan berdiri berpindah tempat duduk di hadapan Pandu, "aku.. Tak sadar mengatakan itu, tak sengaja keluar begitu saja Ndu. Maaf jika kamu tak suka", jawab Sarah menyesal.
"sejujurnya aku sangat bahagia waktu itu, entah itu kamu sengaja atau gak. Oh ya terima kasih sudah merawat ku beberapa kali Sar, aku sangat bahagia. Apa sebaiknya aku menyakiti diriku sendiri agar bisa mendapat perhatianmu?", jawab Pandu dengan sedikit candaannya. "bercanda mu gak lucu Ndu, aku pamit dulu Ndu. Terima kasih masih mau menemui ki, ku kira bogeman Zaki akan membuatmu marah padaku", ucap Sarah.
***
"kamu yang kayak anak kecil Zak, tiba tiba mukul orang di depan umum kayak gak tau tata krama aja", balas Sarah sedikit meninggikan suaranya, "jadi kamu ngebela Pandu?", terus Pandu sedikit kesal. "sudahlah Zak aku capek. Aku mau istirahat", pamit Sarah mengakhiri telpon Zaki.
__ADS_1
Malam itu Sarah memikirkan sikapnya pada Pandu, kenapa dia bisa seperhatian itu padanya, berbeda dengan dulu waktu dia mencoba untuk membuka hati untuk Abi ketika berusaha move on dari Zaki. Dulu dia sangat sulit untuk seperhatian itu pada Abi, dulu dia acuh pada Abi, kenapa kini ketika masih ada rasa dihatinya untuk Abi dia bisa seenteng itu memberi perhatian pada Pandu, seolah dia membuka diri untuk Pandu bisa masuk dalam hidupnya.
Dilain tempat Pandu sedang merasa bahagia karena beberapa hari ini Sarah menunjukkan perhatian untuknya, "Sar, beri lah aku sedikit kesempatan untuk memasuki hidupmu. pandang aku sekali saja dengan hatimu, toh aku tak berdosa mendekatimu, karena Abi sudah tak lagi ada sekarang. Ya meski masih ada Zaki yang membayangi", ucap Pandu pada dirinya sendiri di depan kaca kamar mandinya.
Dan di luar rumahnya, Zaki memikirkan hubungannya dengan Sarah selanjutnya, jika tiap hari makin banyak jarak diantara mereka. Tiba tiba Zaki teringat Arini, entah kenapa dia ingin sekali menghubunginya,
"halo, Rin. kamu ngapain?",
"oh Zak, tumben telpon? Lagi santai aja nih belum bisa tidur", balas Arini sambil bersantai di dalam kamarnya. "emmm, pingin ngobrol aja sih sama kamu", balas Zaki. Akhirnya mereka berdua malam itu mengobrol hingga tengah malam.
__ADS_1
"tidur yuk Zak, bisa bisa begadang ini kita nanti", ujar Arini pada Zaki, "eh iya ya, udah mau jam dua belas ternyata, yuk Rin.. Bye", pungkas Zaki menutup telpon.
Entah kenapa sejak kejadian tempo hari di rumah jompo Arini, Zaki sedikit ada rasa untuk Arini meskipun tipis, tapi Zaki menyadari itu. Hanya saja dia teringat perjodohannya dengan Sarah yang entah akan berjalan lancar atau akan selesai dengan batalnya perjodohan diantara mereka.