Dimanja Tanpa Cinta

Dimanja Tanpa Cinta
keinginan adel


__ADS_3

sifa hanya menggelengkan kepala lalu berkata "tidak bu shanum" sambil menundukan kepala


meskipun usia sifa masih bisa dibilang muda, sifa berusia 3 tahun lebih muda dari shanum.


22 tahun namun kemampuannya sangat luar biasa.


sifa yang awalnya hanya bekerja part time, mencari tambahan untuk biaya kuliah, hingga akhirnya setelah lulus ditarik bekerja di perusahaan oleh tuan Riki.


karena kemampuan dan kecerdasan sifa yang diatas rata-rata.


"tidak ada kan, jadi tidak ada alasan untuk kamu menolak keputusan saya" kata shanum tak menerima penolakan


"baik bu" akhirnya sifa pasrah.


meeting selesai, shanum mengakhiri meeting karena memang sudah tidak ada yang perli dibahas lagi.


sebenarnya shanum ingin membahas tentang masalah laporan keuangan, tapi ia rasa lebih baik menyelidiki lebih dulu.


semua staf sudah kembali keruangannya masing-masing, tertinggal adel, shanum dan juga devan.


"del kamu serius mau mengurus perusahaan?" tanya dev yang merasa antara percaya dan tidak percaya bahwa adel mau turun tangan mengurus perusahaan.


"kenapa tidak" jawab adel acuh.


"dev, mulai sekarang semua harus dengan persetujuan adel, mohon kerjasamanya" kata shanum.


"itu pasti sha" jawab dev.


"tapi kenapa adel tiba-tiba ingin mengurus perusahaan, sebelumnya dia tidak pernah mau jika diajak kekantor, bahkan tidak ada pembicaraan apapun denganku" kata dev lagi yang masih penasaran.


"adel hanya ...." shanum belum menyelesaikan kata-katanya, namun adel sudah menyambar lebih dulu.


"aku hanya ingin membuktikan pada dunia, bahwa delia agasta bukan wanita manja, delia agasta adalah wanita mandiri yang berdiri diatas kaki sendiri, dan tidak bergantung pada lelaki" kata adel santai.


"del, aku kan suamimu wajar kalo kamu bergantung padaku, kamu kan memang tanggung jawabku, lagian kalo kamu ingin mengurus perusahaan seharusnya kita bicarakan dulu"


"jangankan hanya bertanggung jawab pada diriku sendiri, bahkan aku juga bisa mencintai diriku sendiri, jika tak ada lagi yang mencintaiku, dan untuk masalah apapun sudah tidak ada yang perlu kita bicarakan bersama" ada rasa nyeri ketika adel mengatakan itu.


bagaimanapun juga cinta adel untuk dev begitu besar, dan ketika berusaha melepaskan, ada rasa yang sulit diungkapkan.


setelah mengatakan itu, adel berlalu pergi meninggalkan ruang meeting, ia tak ingin terlalu lama berinteraksi dengan dev.


lewat sorotan matanya dev seolah bertanya 'ada apa' namun shanum hanya mengedikan bahu.


shanum juga ingin segera kembali keruangannya, ada rasa tak nyaman ketika hanya berdua dengan adik iparnya dalam satu ruangan.


"sha ada yang aneh dari adel, sekarang aku seperti tak mengenalinya lagi, sikapnya susah ditebak, bahkan aku seperti tak punya kesempatan hanya sekedar untuk menyapa"


dev berkata ketika shanum hendak membuka pintu,

__ADS_1


mendengar dev seperti mengungkapkan keluhan, ia berhenti dan balik badan, namun tidak melangkah mendekati dev.


"jawabannya ada pada hatimu, maka tanyakanlah"


setelah mengatakan itu shanum segera keluar dari ruangan itu, tidak memberikan kesempatan kepada dev untuk bertanya lagi.


☆☆☆☆


hari berlalu begitu cepat, adel menikmati perannya sebagai wanita karir,


sedikit banyak ia sudah mulai menguasai tentang pekerjaan dan tanggung jawabnya.


sifa sebagai sekertaris pribadi adel sangat berperan penting dalam kesuksesan adel memajukan perusahaan.


sifa menjelaskan dengan detail apapun yang adel ingin tahu.


sementara itu dev semakin merasa hari-harinya sangat membosankan.


ia mulai merindukan adel yang dulu, adel yang selalu menyambutnya didepan pintu ketika baru pulang kerja, lalu bergelayut manja dilengannya sambil berjalan menuju kedalam rumah.


rindu dengan rengekan adel yang memaksa dev untuk sarapan buatannya,


sekarang tidak lagi drama dimeja makan,


ketika pagi hari mereka akan sarapan bersama dalam diam, sudah seperti orang asing.


adel tetap bersikap cuek, namun tetap menyiapkan keperluan dev,


kadang juga menyiapkan teh hangat saat dev baru pulang lembur, namun lebih sering mbok sari yang membuatkan.


hubungan mereka terasa sangat hambar, tidak ada lagi celoteh adel ditempat tidur saat malam hari.


hubungan suami istripun tak lagi mereka lakukan.


adel selalu menghindar ketika dev ingin membicarakan tentang hubungan mereka.


adel tak ingin goyah dengan pendiriannya ketika mendengar suara dev. apalagi jika dev membujuknya.


semerajuk apapun adel, pasti selalu luluh jika dev merayunya atau lebih tepatnya pura-pura merayu (dulu)


sekarang sudah tidak lagi.


"del kita harus bicara!" kata dev tegas ketika mereka masih sibuk dengan dunianya masing-masing diatas tempat tidur.


"sudah tidak ada yang perlu dibicarakan" jawab adel santai, sedangkan matanya masih fokus menatap layar ponsel.


"kita tidak bisa seperti ini terus"


"lalu kita harus bagaimana?" tanya adel masih tetal dengan posisi yang sama.

__ADS_1


"del, simpan ponselmu sebentar, kita selesaikan malam ini" dev sudah mengaktifkan mode serius.


"katakan apa yang kamu inginkan, aku akan tetap mendengarkan meski dengan bermain ponsel" jawab adel masih acuh..


bahkan adel sama sekali tidak peduli dengan muka dev yang mulai memerah menahan marah.


jangankan peduli melihat juga tidak.


dev begitu emosi namun ia tahan, ia ingin menyelesaikan masalahnya baik-baik,


dev tak ingin berlarut-larut bermain rumah-rumahan.


yang sebenarnya memang sama sekali tak memiliki tujuan.


dev merebut paksa ponsel adel, menyimpannya dilaci nakas dekat tempat tidur.


"kembalikan ponselku, kamu tak ada hak melakukan itu" kata adel sambil menatap dev


"aku bahkan berhak atas semua yang ada padamu"


"itu tiga bulan yang lalu, sekarang tidak lagi"


"tiga bulan yang lalu, sekarang atau tiga bulan kedepan, aku masih tetap berhak atas dirimu, selama statusku masih menjadi suamimu"


"hanya suami diatas kertas" kata adel kali ini ia sudah memalingkan mukanya dari dev


"jadi cukupkan saja pura-puranya, kamu tidak perlu lagi memaksakan diri untuk bertanggung jawab dari kalimat saya terima nikahnya" lanjut adel lagi.


akhirnya keluar juga kata-kata itu, meskipun tak langsung mengatakan intinya.


tapi seharusnya dev paham dengan kalimatnya..


"maksud kamu apa del? kamu ingin berpisah?" tanya dev emosi, tangannya mencengkeram bahu adel, membalikan tubuh adel supaya menghadapnya.


sedangkan adel hany diam menundukan kepalanya tak berani melihat mata dev.


"jawab del, kamu ingin berpisah dariku?" dev kembali bertanya.


"iya, puas!" seru adel.


"kenapa, apa alasannya?"


"kamu tidak perlu menanyakan alasan untuk sesuatu yang sangat kamu inginkan"


"aku tidak ingin hidup bersama orang yang sama sekali tidak pernah mencintaiku, aku tak pernah lagi ingin mendapat perhatian semu, seumur hidup itu terlalu lama untuk menghabiskan waktu bersama sebuah raga tanpa jiwa"


adel berkata lirih namun dev masih bisa mendengarnya dengan jelas.


dev yang sadar akan perbuatannya tak lagi bisa berkata apa-apa.

__ADS_1


namun berpisah dengan adel tak lagi ia inginkan,


__ADS_2