Dimanja Tanpa Cinta

Dimanja Tanpa Cinta
balasan untuk siska


__ADS_3

"tidak biasanya macet separah ini" kata adel ketika mobil tak bergerak sama sekali.


"sepertinya ada kecelakaan" dev menduga-duga.


"kita lihat mas"


"baiklah"


mereka keluar dari mobil berjalan menuju TKP, adel sangat terkejut begitu melihat siapa korban kecelakaan,


disitu terlihat seorang gadis yang masih seumuran adel bersama dengan seorang pria yang lebih pantas seperti ayahnya.


dan benar saja ketika sebelumnya adel menanyakan apa yang terjadi kepada orang-orang yang sebelumnya sudah ada ditempat.


bahkan ada yang melihat kejadiannya secara langsung,


katanya seorang gadis bersama ayahnya menjadi korban tabrak lari.


namun adel yang mengenal ayah dari gadis itu, tidak percaya jika itu ayahnya.


tak lama kemudian datang seorang wanita paruh baya menghampiri korban lalu berkata "memang pantas mereka mendapatkannya"


pernyataan dari wanita itu mengundang banyak tanya bagi warga yang ada.


"apakah nyonya mengenal mereka"


"memangnya ada apa, kenapa mereka pantas mendapatkannya?"


"apakah mereka telah merugikan nyonya?"


banyak lagi pertanyaan yang terlontar, namun wanita tersebut hanya menjawab "aku tak mengenalnya"


setelah itu ia pergi meninggalkan tempat kejadian.


'ada yang aneh' batin adel, adel merasa wanita tadi memiliki hubungan dengan salah satu korban.


adel bergegas mengejar wanita yang hendak membuka pintu mobil.


"apakah nyonya mengenal korban prianya?" tanya adel.


"bukan urusanmu" jawabnya acuh


"bagaimana jika aku mengenal gadis itu" kata adel lagi.


sedangkan dev hanya mengekor saja.


wanita tersebut yang hendak masuk kedalam mobil mengurungkan niatnya.


ia kembali menutup pintu mobil lalu berjalan mendekat kearah adel,


"apakah ja***g itu temanmu?" tanya wanita itu sengit.


"namaku adel, bisa kita bicara baik-baik" adel ingin tau apa yang sebenarnya terjadi.


sebenci apapun adel dengan siska, gadis yang mengalami kecelakaan itu, namun hati nuraninya tatap merasa kasihan melihat kondisinya mengenaskan.


apalagi warga tidak ada yang berani bertindak sebelum polisi datang ke tempat kejadian.


"namaku lina, panggil senyamanmu" kata wanita tadi.

__ADS_1


nadanya sudah tak lagi menunjukan kebencian, ada rasa sedih yang ia tahan.


"baiklah nyonya lina, bolehkan aku tau kejadian yang sebenarnya?" tanya adel lagi.


"kamu benar, aku mengenal pria itu, dia suamiku ayah dari anak-anakku" katanya dengan nada sedih, sekejap nyonya lina menghentikan ucapannya.


kemudian ia melanjutkan lagi, mengatakan bahwa beberapa minggu ini sikap suaminya berubah, ia jadi jarang dirumah, sudah tak pernah lagi meminta haknya.


suaminya lebih sering tidur dikantor, dengan alasan banyak kerjaan, dan harus lembur.


padahal sebenarnya suaminya tidur dihotel, nyonya lina yang penasaran, diam-diam menyelidiki kelakuan suaminya.


dan benar saja ternyata suaminya sudah mendapatkan mainan baru, gadis belia yang lebih pantas menjadi anaknya.


"apakah kamu teman dari gadis itu?" tanya nona lina setelah menyelesaikan ceritanya.


"bukan, dia anak dari salah satu karyawan dikantor saya" jawab adel, tak mau mengakui siska sebagai temannya.


"semoga dengan kejadian ini mereka sadar atas kelakuan kelirunya"


"semoga saja, mari kita lihat, sejahat apapun mereka, kita tetaplah jadi manusia baik, jangan menjadi seperti mereka juga" kata adel


kemudian mereke bertiga datang ketempat kejadian lagi, namun kedua korban sudah dinaikan dalam ambulan.


"aku akan mengubungi orang tua gadis itu" kata adel begitu sampai ditempat kejadian.


"baiklah, saya langsung kerumah sakit"


"hati-hati nyonya"


nyonya lina hanya menganggukan kepala kemudian pergi menuju mobilnya hendak kerumah sakit.


"kita pulang" kata dev setelah adel selesai menghubungi ayah siska.


☆☆☆☆☆


angin malam berhembus kencang, menyapa setiap makhluk yang berpapasan dengannya.


adel yang sedang bediri dibalkon kamar, mencoba menghirup banyak-banyak hembusan angin, seakan ia tak ingin kekurangan pasokan oksigen.


sambil menikmati indahnya kota dimalam hari, dan ditemani segelas susu hangat.


"sedang apa?" terasa sebuah tangan melingkar dipinggang.


"hanya menikmati semilir angin malam" mereka yang rencanya akan pergi setelah pulang dan membersihkan diri, akhirnya diurungkan karena melihat kejadian sore tadi.


"kenapa melamun?" tanya dev lagi dengan dagu disandarkan dibahu adel.


"kasihan siska" adel tidak lagi membenci siska, namun hanya kasihan melihat kelakuannya yang tidak berubah.


sebenarnya penghasilan ayahnya sebagai karyawan diperusahaan adel tidak sedikit,


masih lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup.


apalgi ayahnya siska termasuk karyawan lama, dan salah satu karyawan kepercayaan juga di kantor, sudah tentu gajinya pun berbeda dari yang lain.


namun karena gaya hidup siska yang bak sosialita, tak bisa bersyukur hanya dengan uang jajan dari ayahnya.


sejak masih disekolah lanjutan atas ia sudah mulai berani memulai aksinya menjadi sugar baby.

__ADS_1


dan berlanjut sampai sekarang.


"lebih kasihan lagi suamimu?"


adel mengernyitkan alisnya tanda tak mengerti, kemudian dev membalikkan badan adel, dan berbisik diteinga "kasihan suamimu kedinginan"


tanpa basa-basi dev mencium bibir adel, adel yang tak siap berusaha mengimbangi, ia menaruh gelas susu yang sedari tadi ia pegang.


beruntung didekatnya ia berdiri ada meja kecil.


tidak etis rasanya jika melanjutkan adegan selanjutnya dibalkon kamar, akhirny mereka masuk kedalam kamar dengan bibir yang masih bertautan.


"aku lelah" setelah satu jam berlalu adel tergolek lemah diatas kasur "kamu makan apa sih mas, kenapa bisa sekuat itu" adel heran dengan lelakinya yang tenaganya seperti tidak ada habisnya.


"makanan kita sama, hanya saja aku memiliki semangat juang untuk mengabulkan keinginanmu menjadi seorang ibu" sebenarnya itu hanya alasan dev saja, alasan yang sebenarnya memang dev sudah kecanduan dengan d*****n adel.


"alesan, bilang aja doyan"


"itu juga iya"


setelahnya mereka tidur tanpa membersihkan badan terlebih dahulu.


☆☆☆


"bagaimana keadaan siska pak" sesampainya dikantor adel menanyakan keadaan siska kepada pak roni selaku ayahnya siska.


"lukanya cukup parah, tulang kakinya patah, hanya kemungkinan kecil bisa berjalan lagi" dengan lesu pak roni menjelaskan keadaan anak gadianya.


"yang sabar ya pak, semua ada hikmahnya"


"terimakasih bu adel, semoga dengan kejadian ini, siska sadar akan kelakuannya selama ini salah"


"semoga saja pak, ya sudah saya keruangan dulu pak" setelah mendapat jawaban dari pak roni adel gegas keruangannya.


☆☆☆


drrrttt drrttt


ponsel adel bergetar tertera nomor baru, sesaat ragu untuk menjawab namun karena terus bergetar akhirnya adel menjawab panggilannya.


"assalamu'alaikum" salam adel


*wa'alaikumsalam cantik* jawaban dari sebrang membuat adel menyesal sudah menjawab panggilannya.


adel masih sangat hapal dengan suara si penelpon.


"ada apa tuan"


*bisakah kita bertemu siang ini?*


"aku tanyakan suamiku dulu"


*tidak perlu mengajaknya*


"baiklah, kalo begitu aku tidak bisa bertemu"


setelah mengatakan itu adel menutup panggilannya.


ia sudah memantapkan hatinya untuk tidak berurusan dengan pria itu diluar pekerjaannya.

__ADS_1


🦋🦋🦋🦋


maaf teman novel ini sempat hiatus lama karena ada sesuatu hal. terimakasih untuk yang masih setia dengan karya recehku.


__ADS_2