Dimanja Tanpa Cinta

Dimanja Tanpa Cinta
bab 31


__ADS_3

keesokan paginya shanum sedang bersiap untuk berangkat menuju jawa tengah,


"sudah siap kak?" tanya adel yang tiba-tiba sudah berada diambang pintu kamarnya.


"dek ngagetin aja"


"maaf" jawab adel sambil cengengesan.


"apa kita akan berangkat sepagi ini?" tanya shanum memastikan karena ini baru pukul enam pagi.


"tidak, kita akan sarapan dulu, selesaikan preparenya, adel tunggu dimeja makan"


tidak lama kemudian shanum menyusul adel,


"dev kamu disini juga" shanum menggeser kursi lalu duduk.


"iya kak mengantar adel, hanya sampai sini, didepan ada dua orang supir yang juga jago bela diri yang akan menemani perjalanan kalian"


"terimakasih dev"


"sama-sama kakak ipar"


☆☆☆


"sha mau kemana?" evan yang tiba-tiba berada didepan rumah shanum merasa heran juga bingung karena shanum membawa koper.


"kita ......" shanum bingung mau berkata apa, haruskah dirinya menjelaskn atau merahasiakan lebih dulu, untuk sementara shanum tidak ingin lebih banyak orang yang tau dengan masalahnya.


"mereka akan pergi touring beberapa hari" melihat kebingungan shanum dev ikut mencoba menjelaskan.


"mereka?" tanya evan bingung.


"ya mereka hanya shanum dan adel"


"kamu tidak ikut?" tanya evan pada dev


"tidak"


"kalau begitu, boleh aku ikut?"


"tidakk" jawab dev, adel juga shanum kompak.


"terencana banget sih" gerutu evan.


seperginya mobil yang membawa shanum dan adel, dev juga berncana ikut pergi menuju kantor.


"dev meraka akan pergi kemana?" tanya evan yang masih penasaran.


"touring" jawab dev singkat, dev belum ingin menjelaskan apapun, takut keceplosan.


"apakah mereka akan bersenang-senang?"


"bisa iya bisa juga tidak"

__ADS_1


"kenapa begitu"


"aku tidak ingin menjelaskan apapun, permisi" dev mencoba menghindari pertanyaan evan yang semakin menyudutkan.


"hey jelaskan dulu, aku bisa mati penasaran" evan merasa kepergian shanum memang bukan untuk


liburan.


"jika itu terjadi, arwahmu suruh mendatangiku, aku pastikan akan menceritakan semuanya" setelah mengetakan itu dev masuk kedalam mobilnya tidak menghiraukan lagi evan yang masih begitu ingin tau.


"sialan" umpat evan, kemudian ikut melajukan mobilnya menuju kantor.


☆☆☆


sudah empat jam perjalanan, namun masih jauh dari tempat tujuan.


"istirahat dulu bang" kata shanum kepada supirnya.


bang rio yang tengah menyupir memarkirkan mobilnya dipelataran rumah makan yang berada dipinggiran sawah.


sudah hampir waktunya makan siang mereka memilih untuk mengisi perut terlebih dahulu.


rumah makan yang terdiri dari beberapa saung yang berada ditenga-tengah sawah, dengan hamparan padi yang mulai menguning menambah kesan natural.


"wah indahnya, ini sejuk anginnya alami, betah lama-lama disini" adel mengagumi suasana rumah makan dengan konsep alam.


"mau pesan apa dek?" shanum bertanya sambil membuka-buka buku menu.


☆☆☆


setelah dirasa cukup istirahatnya mereka melanjutkan kembali perjalanannya, menuju alamat yang diberikan oleh bu RW ditempat shanum tinggal sebelumnya.


"apakah masih jauh?" tanya adel


"lumayan mungkin sekitar 3 atau 4 jam lagi"


setelahnya tidak ada percakapan lagi, mereka sama-sama sibuk dengan pikiran masing-masing.


"maaf neng kita hampir sampai titik" kata sang supir membuyarlan lamunan shanum.


"benarkah" perasaan shanum tidak karuan, antar senang, ragu juga takut.


sedangkan adel masih setia berada dialam mimpinya.


"sepertinya mobil tidak bisa masuk gang" sang supir berkata lagi.


"apakah sudah dipastikan benar" bukannya tidak percaya dengan supirnya, namun shanum ingin memastikan.


"jika mengikuti map, seharusnya benar neng, sebentar ya saya tanya orang-orang diwarung dulu" bang rio membuka pintu mobil lalu turun dan berjalan menghampiri segerombolan bapak-bapak yang sedang menikmati kopi diwarung kecil pinggir sawah.


"maaf permisi numpang tanya pak" kata bang rio sopan.


"silahkan, tanya apa mas" jawab pemilik warung.

__ADS_1


"apakah alamat ini masih jauh dari sini" bang rio memperlihatkan catatan kecil berisi alamat mira tinggal.


"ini memang benar desa tempat kami tinggal, maaf anda dari mana ya dan mencari siapa?" tanya salah satu dari penikmat kopi dan gorengan.


"maaf saya hanya supir yang mengantarkan nona saya mencari seseorang" bang rio tidak mau mengatakan tujuan sebenarnya. "jika tidak keberatan bisa tunjukan lewat jalan mana untuk bisa sampai kedesa ini?"


"desa ini tidak bisa dilewati mobil, sebaiknya jalan kaki kalo tidak naik ojek, desa ini berada di sebrang sawah ini"


"terimakasih semuanya, akan saya sampaikan kepada nona saya"


bang rio kembali kemobil untuk mengatakan informasi yang baru didapatkannya.


"bagaimana dek, apa kita mau jalan kaki?" tanya shanum pada adel yang baru saja bangun ketika bang rio masuk kembali tadi.


"apa kita tidak bisa meminjam motor mereka, maksudku menyewa" adel memberikan usul "disana kan ada tiga motor, kita bisa sewa dua, yang satu bisa kita minta menjadi pemandu jalan" adel melanjutkan kata-katanya lagi.


"bang bisa tidak?" shanum bertanya kepada bang rio, lebih tepatnya meminta bang rio memastikan.


"akan saya tanyakan non"


bang rio kembali lagi menuju warung pinggir sawah, tidak lama kemudian bang rio balik kemobil bersama 2 orang membawa 2 motor,


"ayo non, kita bisa naik motor"


bang rio memberi tahu bahwa mereka tidak perlu jalan kaki.


"biar adel yang bawa" adel mengajukan diri untuk membawa motor sendiri.


"kita bonceng aja dek, biar bang rio sama bang alex yang membawa motor" shanum keberatan dengan keinginan adel.


"kakak ihhh ga asyik, udah ayo naik" adel sudah duduk manis diatas motor matic berwaran biru putih keluaran pabrik ternama.


akhirnya mau tak mau shanum mengikuti keinginan adel, duduk dibelakang adel, sedangkan bang rio membonceng bang alex, dan satu orang yang baru datang menjadi pemandu jalan.


hanya butuh waktu 5 menit mengendarai motor untuk sampai tempat tujuan, namun jika ditempuh dengan jalan kaki sudah pasti butuh waktu lebih lama dan tenaga lebih banyak.


"ini rumahnya?" tanya shanum memastikan ketika melihat bangunan yang bisa dibilang sangat sederhana lebih kecil dari rumah shanum waktu masih tinggal bersama ibunya dulu.


"kalau menurut alamat dan nama yang nona berikan memang ini rumahnya" kata seorang yang mengantar mereka.


"tapi kelihatan sepi, seperti tak berpenghuni" adel berkata sambil mengamati sisi luar rumah.


"memang sudah 2 hari ini warungnya tutup dan bu mira tidak keluar rumah" orang yang mengantar kembali menjelaskan.


"dua hari? tidak keluar rumah?" shanum bertanya entah kepada siapa, rasa tidak nyaman merasuk dalam hatinya, ia mencoba menepis pikiran negativnya, namun tetap saja rasa khawatir menjalar dipikirannya.


shanum segera mengetuk pintu dan mengucap salam, namun hening tidak ada jawaban dari dalam.


"maaf siapa ya?" terdengar seseorang bertanya, namun suaranya bukan dari dalam rumah.


shanum membalikan badan ingin melihat siapa yang bertanya.


"maaf"

__ADS_1


__ADS_2