Dimanja Tanpa Cinta

Dimanja Tanpa Cinta
Bab 33


__ADS_3

"Jadi bisa jelaskan alasannya?"


Dokter Rizal menatap serius kearah Adel, menuntut penjelasan.


"Rumah sakit Ibukota labih lengkap juga canggih peralatannya, aku ingin Bu Mira ditangani oleh orang yang tepat."


Alasan yang logis memang.


"Apakah kamu mergukan Rumah sakit ini juga kemampuanku?"


Jelas saja Adel bingung ditodong dengan pertanyaan seperti itu.


"Bu-bukan gitu dok, aduh gimana ya jelasinnya?" Bingung Adel.


Sedangkan Dokter Rizal masih setia menanti penjalasan yang lebih bisa diterima nalarnya.


"Begini Pak Dokter yang terhormat, saya tinggal di Ibu Kota, saya dan Kakak saya tidak bisa meninggalkan perusahaan terlalu lama, jadi jika Bu Mira dirawat di Rumah Sakit Ibu Kota saya dan Kakak saya lebih mudah menjaganya." Panjang lebar Adel berusaha menjelaskan.


"Ada hubungan apa antara kamu dan Bu Mira?"


Sebuah pertanyaan yang sulit Adel jawab, bingung antara mau jujur atau tetap merahasiakannya.


"Apa kamu berniat menculik Bu Mira lalu melakukan trafficking?"


'Apalagi ini' Batin Adel.


Tidak ada cara lain mungkin Adel memang harus berkata jujur kepada Dokter Rizal.


"Itu fitnah namanya," kata adel ketus, ia tak habis pikir bagaimana bisa Dokter memiliki pikirina seperti itu.


"Lalu apa hubunganmu dengan Bu Mira?" pertanyaan yang selalu dihindari kembali ditanyakan.


"Berjanjilah untuk merahasiakan." Bagaimanapun juga ia masih ingin mebyembunyikan identitas Bu Mira.


"Tergantung," Dokter Rizal belum mengiyakan atau menolak permintaan Adel.


"Jika tidak mau, aku yang akan meminta Dokter dari Ibu Kota untuk menjemput, beserta polisi juga untuk mengamankan."


"Tidak semudah itu, membawa pasien harus ada prosedurnya."


"Tidak usah menjelaskan apapun, aku tidak bodoh, tinggal aku ceritakan semuanya, aku yakin Dokter dari tempatku bisa menjaga rahasia." Adel berhenti sejenak melihat ekspresi Dokter Rizal.


"Dan aku juga akan menambahkan Dokter di Rumah Sakit ini tidak mengijinkan pasien untuk dipindahkan karena takut merugi." Adel melanjutkan kalimatnya lagi.


"Itu baru fitnah!" Tegas Dokter Rizal.


"Sedikit licik untuk melawan orang licik itu dibolehkan," Adel berkata dengan seringai diwajahnya.


Bukan tanpa alasan Dokter Rizal menahan Adel agar lebih lama bersamanya, sepertinya Dokter Rizal memang sudah tertarik dengan Adel sejak pertama melihat.

__ADS_1


"Jangan berkata sembarangan Nona, saya hanya berusaha melindungi pasien," Sergah Dokter Rizal tidak terima dibilang licik.


"Jadi?" Tanya Adel.


"Baiklah saya akan urus prosedurnya supaya pasien bisa dipindahkan ke Ibu Kota." Pada Akhirnya Dokter Rizal mengalah, sepertinya memang tidak punya alasan untuk tetap menahan wanita yang ada didepannya untuk tinggal lebih lama disini.


"Bagus, lakukan secepatnya." Kata Adel lagi.


"Tidak bisa, Pasien masih dalam keadaan lemah, harus menjalankan operasi dulu, setelah itu harus menjalankan masa observasi juga, jadi butuh waktu lama." Penjelasan dokter sangat masuk akal.


"Baiklah lakukan yang terbaik, jangan pikirkan biaya, dan pindahkan keruang VVIP jangan campur pasien lain, bila perlu datangkan dokter ahli kesini." Permintaan Adel seperti tidak bisa dibantah lagi.


"Sesuai keinginanmu Nona." Kata Dokter Rizal pasrah.


"Jangan menatapku seperti itu, haram hukumnya jatuh cinta padaku." Melihat tatapan tidak biasa dari Dokter Rizal membuat Adel berkata seperti itu.


Setelah mengatakan itu, adel berlalu keluar tanpa permisi.


"Lakukan secepatnya!" Perintah adel lagi sesaat sebelum dirinya hilang dibalik pintu ruangan Dokter Rizal.


Seperginya Adel Dokter Rizal menghembuskan nafasnya kasar 'Apakah sekentara itu aku memperlihatkan rasa kekaguman kepada wanita itu?' Dokter Rizal bermonolog dalam hati.


'Ah sial, belum juga berjalan sudah dihadapkan lampu merah' Dokter Rizal bergumam sendiri.


☆☆☆


"Darimana dek?" Tanya Shanum begitu Adel sampai diruangan tempat Bu Mira dirawat.


"Ada apa?" Shanum yang penasaran berjalan mendekati Adel yang berada disebrang berbatasan brankar pasien.


"Aku ingin membawa Ibu ke Rumah Sakit Ibu Kota, tapi Dokternya banyak alasan"


"Lalu?"


"Akhirnya aku bisa menggertak Dokternya, tapi tidak bisa sekarang, Ibu harus melakukan opersi dulu, setelah sedikit pulih baru bisa dibawa, jika sekarang kondisinya tidak memungkinkan." Panjang lebar Adel menjelaskan.


"Bersiaplah Ibu akan pindah ruangan." Adel berkata kembali.


"Pindah kemana?" Tanya Shanum linglung.


"Apa kakak ingin Ibu tidak bisa beristirahat dengan tenang karena banyak pasien dalam satu ruangan?"


"Baiklah, terserah kamu."


Tidak lama kemudian datang seorang Dokter dan 2 Perawat yang akan memindahkan Bu Mira keruangan yang sudah Adel pesan.


"Selamat siang, maaf mengganggu, saya akan membawa pasien keruangan VVIP sesuai permintaan nona Adel." Kata sang Dokter sambil melirik mencuri-curi pandang kearah Adel.


"Ya silahkan Dok, dan terimkasih sebelumnya." Kata Shanum ramah.

__ADS_1


"Tidak masalah ini sudah menjadi tugas kami."


☆☆☆


Tiga hari sudah mereka berada di Rumah Sakit kota tempat Bu Mira tinggal, operasi juga sudah dilaksanakan pagi kemarin, hanya menunggu kondisinya sedikit membaik maka mereka bisa memindahkan Bu Mira ke Rumah Sakit Ibu Kota.


"Dok lihatlah Ibu menggerakan jarinya." Shanum begitu bahagia melihat gerakan kecil yang dilakukan Ibunya.


"Biar saya periksa dulu Nona."


Dokter memeriksa dengan detail kondisi Bu Mira.


"Alhamdulillah Bu Mira sudah berhasil melewati masa kritisnya, semoga secepatnya pulih."


Dokter menjelaskan keadaan Bu Mira kepada Shanum.


"Alhamdulillah, Aamiin, maksaih Dok!" Kata Shanum bahagia.


"Kalau begitu saya permisi dulu." Pamit Dokter Rizal.


"Sekali lagi terimakasih."


Dokter Rizal hanya menganggukan kepala, kemudian keluar ruangan.


"Air" Terdengar lirih suara seseorang meminta air.


"Ibu mau minum?" Tanya Shanum lembut.


"Sani," Bu Mira langsung mengenali Shanum sebagai Sani anaknya.


Meski sebelas tahun tidak bertemu, namun tidak menjadikan Bu Mira lupa dengan wajah anaknya.


Walaupun penampilan Shanum jauh berbeda dari Sani sebelas tahun yang lalu, tapi bagi Bu Mira Tidak ada yang berubah, semuanya masih sama.


Ikatan batin seorang Ibu kepada anak yang begitu dirindukan tidak bisa ditipu hanya dengan apa yang nampak dimata.


"Bu, Ibu masih mengenalku?" Tanya Shanum sambil menyodorkan gelas berisi air putih.


"Benar kamu Sani?" Bu Mira menjawab setelah meneguk habis satu gelas penuh air minum.


"Iya bu, ini Sani putri Ibu." Jawab Shanum sambil menahan air mata, bahagia sudah pasti menjalar dihati Shanum, bagaimana tidak penantian selama sebelas tahun akhirnya sampai pada ujungnya.


"Sani anakku," Bu Mira merentangkan tangan ingin memeluk Shanum, Shanum langsung menghambur kedalam pelukan wanita yang telah menghadirkannya kedunia dua puluh enam tahun yang lalu.


"Maafkan Sani bu," kata Shanum sesenggukan didalam rengkuhan wanita yang menenangkan.


Bu Mira tidak menjawab perkataan Shanum, ia terus memeluk seperti enggan melepaskan, meski dirinya hanya bisa berbaring lemah, namun rasa takut kehilangan membuat dia semakin erat memeluk anak gadisnya.


"Sani bagaimana kabarmu?" Tanya Bu Mira setelah puas memeluk Shanum.

__ADS_1


"Sani baik bu, sangat baik, maafkan Sani tidak pernah peduli dengan keadaan Ibu, dan baru mencari Ibu sekarang." Kata Shanum penuh penyesalan.


__ADS_2