
"Elis, dia rekan kerja abang, ada yang ingin abang bicarakan dengannya. bisakah Elis masuk kembali."
Elis mengikuti perintah kakaknya. Gadis itu kembali masuk bersama Bu Mira dan diikuti Shanum juga Dev beserta Adel.
Evan memilih duduk dikursi taman, diikuti oleh Rafa. "Kamu sudah tahu kan kenapa aku selalu mengejarmu selama ini?"
"Elis adikmu?"
Evan mengangguk, "bukankah aku pernah berkata tidak akan melepaskanmu jika kamu menyakiti seorang gadis."
"Van, aku tidak pernah mencintai Elis, kamu tahu aku hanya mencintai adik iparmu."
"Jika tidak menginginkannya, kamu tidak perlu memberi harapan padanya."
"Aku baik karena menganggapnya Adik, bukankah Elis sangat menggemaskan ketika menjadi seorang Adik?" Selama ini Samuel hanya menganggap Elis sebagai Adik.
Berbeda dengan Elis yang memilik harapan lebih terhadapnya, Evan masih diam karena tidak ada yang benar-benar dilakukan dengan buruk oleh Rafa.
"Tapi Elis mengharapkan lebih dari itu." Ucap Evan kesal. "Aku masih diam karena kamu tidak memanfaatkan perasaannya."
"Aku bukan penjahat, jangan pernah berfikir akan menjadikannya pelampiasan." Rafa ikut kesal.
"Aku tahu itu, tapi kamu pernah membuatnya menangis."
Rafa mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu. "Aku tidak sengaja membentaknya untuk tidak terus menggangguku. Maafkan aku."
"Aku tahu, apapun yang kamu lakukan aku mengetahuinya, tapi Elis sekarang sudah kembali baik-baik saja."
Rafa membenarkan ucapan Evan, benar memang apapun yang Rafa lakukan, Evan akan selalu mengetahuinya.
"Van, bisakah katakan pada adikmu tentang perasaanku yang sebenarnya, aku tidak ingin dia terus berharap."
"Tidak, selesaikan masalahmu sendiri."
"Ini akan lebih menyakitkan jika terus berlarut."
"Maka selesaikan secepatnya."
Rafa bingung, pria itu tidak tega jika harus terang-terangan menolak cinta Elis. Awalnya Rafa menganggap jika Elis hanya sekedar cinta monyet.
Tapi tidak untuk sekarang, Rafa berfikir cinta Elis mungkin tulus, sama sepertinya cintanya dulu kepada Adel saat seusia Elis.
"Van, jika aku berusaha membalas perasaan Elis, apakah kamu akan mempertimbangkanku sebagai adik ipar?"
Evan terkejut dengan pertanyaan Rafa yang awalnya tidak pernah terbayangkan jika pertanyaan itu akan ia dengar.
"Jangan jadikannya pelampiasan." Sebenarnya Evan tidak benar-benar membenci Rafa, Evan mulai mengikuti kehidupan Rafa sejak Elis menceritakan tentangnya.
__ADS_1
"Aku tahu aku salah, aku ingin menjadikan Elis sebagai tempat untuk melupakan Adel, tapi tidak masalah kan jika suatu saat aku benar-benar mencintai adikmu."
Evan sebenarnya tidak terima, tapi ia juga ingin memberikan kesempatan. "Dengan beberapa syarat." Ucap Evan.
"Katakan?"
"6 Bulan, waktumu hanya 6 bulan untuk memenangkan hatimu sendiri," Evan menjeda ucapannya sejenak. "Elis masih 17 Tahun, mininal 5 Tahun lagi baru boleh menikah, dan terakhir aku tidak ingin kamu menghidupi Adikku dengan uang haram."
Rafa paham dengan semua syarat dari Evan, dan itu tidak merugikan sama sekali.
"Dalam waktu 6 bulan, aku berjanji pasti sudah bisa mencintai adikmu, dan aku akan menunggunya selama 5 Tahun, aku juga akan menghancurkan bisnis haramku." Rafa berkata dengan mantap.
Evan tertegun, ia tidak menyangka jika Rafa akan meninggalkan bisnis haramnya. "Aku pegang janjimu."
Rafa mengangguk, Evan kembali masuk, Rafa mengikutinya dibelakang.
"Kak Rafa belum makan kan? Elis ambilkan ya." Elis langsung menyambut kehadiran Rafa begitu sampai diruang tengah tempat mereka berkumpul.
Rafa tersenyum, "baiklah, terimakasih."
Evan meninggalkan Rafa dan menyusul Shanum yang sedang berada dikamarnya.
Rafa menghampiri Adel yang sedang tiduran dipangkuan Dev, "Del selamat ya, aku turut bahagia, semoga keponakanku selalu sehat."
Adel spontan bangun dari tidurannya, "Pelan-pelan." Ucap Dev.
"Terimakasih." Dev yang menjawab ucapan Rafa, sedangkan Adel masih linglung, tidak menyangka jika Rafa akan mengucapkan selamat untuk kehamilannya, tapi ini adalah kabar baik, artinya Rafa sudah melepas dirinya.
"Seharusnya dari dulu kamu lakukan." Ujar Dev.
"Perasaanku tidak sesederhana itu."
Adel hanya mendengarkan saja, tidak ada keinginan sama sekali untuk menyahut.
Elis datang dari arah depan dengan nampan berisi makanan sisa prasmanan.
"Hanya tersisa ini." Ucap Elis sambil menyerahkan nampan kearah Rafa.
"Tidak masalah, ini juga masih banyak, terimakasih El."
"Sama-sama, tidak perlu sungkan begitu kak."
Adel melihat interaksi Elis yang sedikit berbeda, dan tatapan penuh damba dari mata gadis belasan tahun tersebut.
"Elis menginap kan?" Tanya Shanum yang juga baru bergabung setelah mengganti pakaiannya.
"Semalam Kak, Besok Kak Shanum yang menginap dirumah Elis kan?"
__ADS_1
"Bukan menginap, tapi tinggal." Ralat Evan.
"Ah ya, begitu juga bisa."
"Kan memang begitu."
***
Rafa pamit setelah menghabiskan makanannya.
"Radit, tutup semua usaha kita yang berada dikota B." Ucap Rafa kepada Asistennya yang datang menjemput.
Saat ini mereka sedang berada didalam mobil untuk perjalanan pulang.
Ada senyum terpatri dibibir Radit, sangat tipis sehingga Rafa tidak menyadarinya. "Sesuai perintah anda Tuan."
Perjalanan tidak memerlukan waktu yang lama, Rafa sudah sampai dirumah mewahnya segera membersihkan badan.
Radit masih setia menunggu diruang kerja Rafa, pria itu tidak akan pulang jika belum memastikan Rafa istirahat dengan baik.
Rafa datang dengan penampilan yang lebih segar. "Aku hanya ingin memiliki usaha dikota ini dan negara S, selebihnya kamu tutup semua." Rafa duduk dikursi kebesarannya.
Memang hanya 2 perusahaan itu yang halal, selebihnya hanya bisnis ilegal, di negara S adalah perusahaan peninggalan orang tuanya yang selama ini Rafa kelola.
Tetapi karena keserakahannya yang tidak ingin dikalahkan 2 Tahun terakhir Rafa membangun bisnis ilegal yang ternyata dengan mudah tercium oleh Evan.
Tetapi sekarang ia tidak ingin memiliki bisnis itu, perusahaan milik orang tuanya dan perusahaan yang ia kembangkan sendiri sudah cukup menghidupinya.
Rafa sadar banyak harta tidak bisa membeli cinta dan kebahagiaan.
Hidupnya selama ini hanya didedikasikan untuk menumpuk harta, tetapi ketenangan tidak ia dapatkan dihatinya.
"Radit aku akan mempertimbangkan perasaan Elis, menurutmu bagaimana?"
Radit terkejut dengan pertanyaan tiba-tiba dari Rafa. "E-Elis?"
"Ya, Elis. Kamu mengenalnya kan?"
Radit mengangguk, "Adiknya Tuan Evan."
"Menurutmu bagaimana?"
"Bagaimana dengam Tuan Evan?"
"Evan akan mempertimbangkanku sebagai adik ipar jika aku bisa lebih baik dari sekarang."
"Saya rasa itu bukan keputusan yang buruk Tuan."
__ADS_1
Radit sekarang paham alasan Rafa ingin menutup usaha ilegalnya, pebincangan serius pasti telah terjadi antara Rafa dan juga Evan.
Evan satu-satunya orang luar yang mengetahui bisnis haram milik Rafa.