Dimanja Tanpa Cinta

Dimanja Tanpa Cinta
Bab 35


__ADS_3

"Sudahlah Bu lupakan saja, Adek hanya berbicara asal, selama ini Shanum memang belum bertemu jodoh saja, Shanum juga ingin mencari Ibu dulu, supaya Ibu bisa menyaksikan Shanum melepas masa sendiri, tapi Insyaa Allah jika memang Allah berkehendak tidak lama lagi Shanum akan menikah Bu, do'akan saja semoga Shanum mendapatkan jodoh yang terbaik."


Shanum menjelaskan panjang lebar, tidak mau Ibunya salah sangka atas pernyataan Adel.


"Aamiin, Ibu pasti selalu mendo'akan yang terbaik buatmu nak," Bu Mira menjawab kata-kata Shanum.


"Do'akan Adel juga Bu." Adel juga ingin Bu Mira ikut mendo'akan dirinya.


"Pasti Dek, Adek mau dido'akan apa?" Bu Mira mengikuti Shanum memanggil Adel dengan sebutan Dek.


"Do'akan Adel supaya cepat punya anak," katanya dengan malu-malu.


Shanum tidak bisa menahan tawa, sedangkan Bu Mira justru bingung dengan reaksi Anak gadisnya yang malah tertawa mendengar keinginan Adel, bagi Bu Mira bukankah ingin memiliki anak adalah hal yang wajar bagi seorang wanita yang sudah menikah.


"Kakak!" Teriak Adel namun dengan suara yang pelan, bibirnya mengerucut manyun, tapi justru itu terlihat lebih lucu bagi Shanum.


"Ah menggemaskan sekali Adikku." Kata Shanum disela tawanya, ia menghapus setitik air disudut matanya yang keluar karena tertawa terlalu kencang meski dengan suara yang ditekan agar tidak terlalu keras.


"Kakak jangan begitu." Adel masih manyun, tidak terima dengan reaksi Shanum yang menertawakan permintaannya.


"Iya, Kakak ada-ada saja wanita yang sudah menikah wajarkan jika menginginkan seorang anak." Bu Mira sepertinya juga tidak suka dengan reaksi Shanum.


"Maaf, maaf. Habisnya kamu lucu Dek, kamu saja masih seperti anak-anak eh udah pengin punya anak." Kata Shanum, "belajar jadi Ibu dulu sebelum benar-benar memiliki anak." Shanum melanjutkan kaimatnya lagi.


"Nanti kalau sudah punya anak juga Adel bisa jadi seorang Ibu dengan sendirinya, lagian ada Ibu juga yang akan membantu Adel." Adel tidak terima karena dengan tidak sengaja Shanum mengatakan Adel belum bisa menjadi seorang Ibu.


"Tidak bisa begitu, kamu tidak boleh menjadikan Ibu sebagai baby sitter." Shanum akan sangat sensitif jika mengangkut ibunya.


"Kakak Su'udzon mulu, siapa yang minta Ibu jdi Baby Sitter, Ibu akan membantu mengajari cara menjadi seorang Ibu, bukan membantu mengasuh."


"Lebih baik kamu ikut kelas parenting dulu, jadi kamu bisa benar-benar tahu dan siap menjadi seorang Ibu." Saran Shanum.


"Apa perlu kak?" tanya Adel yang mulai tertarik dengan saran Kakaknya.


"Perlu Dek, suapaya kamu tahu apa yang harusnya dilakukan dan tidak dilakukan seorang Ibu, kamu juga akan tahu apa yang perlu anak-anak dengar dan tidak dari kedua orang tuanya." Kata Shanum menjelaskan.


"Akan Adel pikirkan, sepertinya itu menarik, dan Mas Dev juga harus ikut."


"Iya, Dev juga harus ikut agar kalian sama-sama paham."


☆☆☆

__ADS_1


Seminggu sudah masa observasi Bu Mira, kini kondisinya sudah membaik.


Bahkan sudah diijinkan untuk pulang, hanya menunggu periksa Dokter sekali lagi untuk memastika kondisinya benar-benar stabil.


Awalnya hanya beberapa hari masa observasinya, namun Shanum meminta waktu lebih lama supaya kondisi Ibunya benar-benar membaik.


Tok tok tok


Terdengar suara pintu diketuk.


"Masuk." Kata shanum.


Adel langsung menghambur kepelukan lelaki yang baru saja masuk keruangan tempat Bu Mira dirawat.


Dev langsung memeluk erat tubuh yang begitu ia rindukan lebih dari sepekan ini.


"Mas kenalin ini Ibu." Setelah puas melepas rindu, Adel menarik tangan Dev mendekati ranjang Bu Mira.


Dev menjabat tangan Bu Mira dan mencium punggung tangannya dengan takzim sebagai rasa hormatnya kepada Ibu mertua.


"Devan Bu, suami Adel. Ibu bisa memanggil Dev." Kata Dev mengenalkan diri.


"Terimakasih Nak Dev."


"Kenapa? Apa aku tidak boleh menjenguk Ibu Mertuaku?" Dev menjawab pertanyaan Shanum dengan sebuah bertanyaan lagi.


"Bukan seperti itu maksudnya, gimana ya?" Shanum sendiri bingung memilih kata yang tepat untuk ditanyakan.


"Aku merindukan istriku, dan aku juga ingin melihat sendiri kondisi Ibu," jawab Dev yang mengerti arti kebingungan Shanum.


"Bagaimana keadaan kantor?" Tanya Shanum.


Tidak bisa dipungkiri, meskipun kantor sudah diurus Dev, ia tetap saja masih kepikiran, bukan karena tidak percaya pada dev. Percaya, Shanum sangat percaya dengan kinerja Dev yang pasti akan membuat perusahaan semakin berjaya. Namun rasa tanggung jawabnya tidak bisa lepas begitu saja.


"Alhamdulillah baik, semuanya sangat baik." Kata Dev.


"Suamiku pasti bisa diandalkan." Adel menimpali.


"Iya, iya suamimu memang yang terbaik dan bisa diandalkan dalam segala hal." Jawab Shanum.


"Apa Kakak menyesal?"

__ADS_1


"Menyesal? Ya ampun Dek, jelas saja tidak, Kakak nanti juga akan mendapatkan yang terbaik." Shanum tidak habis pikir dengan pertanyaan adiknya.


"Terserah Kakak, tetap saja Suamiku yang terbaik." Adel tidak terima Kakaknya mengatakan akan mendapatkan yang terbaik, karena bagi Adek Devlah yang terbaik.


"Iya, iya, Dev terbaik bagimu, dan nanti suami Kakak terbaik bagi Kakak." Bagaimana bisa Adel berpikir ingin segera memiliki anak, sedangkan sifatnya saja masih kekanak-kanakan, pikir Shanum.


"Kakak kan belum punya suami."


"Kakak bilang nanti Dek, nanti maksudnya kalo Kakak sudah punya suami."


Sedangkan Bu Mira hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan dua anak gadisnya, tanpa terasa air mata bahagia menetes tanpa permisi.


Ia merasa hidupnya sebentar lagi akan sempurna dan penuh warna karena kehadiran dua sosok perempuan didalam hidupnya.


Tok tok tok.


Terdengar pintu diketuk lagi dari luar.


"Masuk." Shanum pikir itu Dokter Rizal yang akan memeriksa, memastikan kondisi Ibu sudah membaik.


Ceklek.


Pintu dibuka seketika semua orang menoleh kearah pintu.


"Evan!"


"El!"


Kata Shanum dan Adel bersamaan, merka pasti terkejut dengan kehadiran sosok pemuda tampan yang kedatangannya tanpa diundang, persis seperti jaelangkung.


"Hay!" Sapa Evan tanpa rasa bersalah sedikitpun karena sudah datang tanpa permisi.


"Apa kabar Bu?" Tanya Evan setelah menyalami dan mencium tangan Bu Mira. Tanpa peduli dengan kebingungan dan keterkejutan dari Adel dan Shanum.


"Baik," Jawab Bu Mira tapi dengan kerutan dikeningnya, seperti tersirat sebuah pertanyaan, 'siapa?'


"Kenalkan Bu, Evan calon menantu Ibu." Katanya tanpa beban sedikitpun.


Membuat semua yang ada diruangan itu bingung, darimana Evan tau mereka ada disini, dan yang lebih membingungkan darimana dia tahu bahwa Bu Mira adalah Ibunya Shanum.


"Del, jangan melihat seperti itu, karena akan membuatmu semakin terlihat bodoh," kata Evan santai.

__ADS_1


"Kamu yang bodoh," Kata Adel sambil memukul lengan lelaki yang ada didepannya hanya berbatas ranjang pasien, namun masih bisa membuat tangan Adel menjangkau sasaran.


"Hey jangan menyentuhanya sayang."


__ADS_2