Dimanja Tanpa Cinta

Dimanja Tanpa Cinta
Bab 34


__ADS_3

Drtttt drtttt drttt.


Ponsel Adel bergetar bertanda ada panggilan masuk, adel segera meraih ponselnya dan tersenyum kala melihat nama sipemanggil.


Terpampang dilayar foto seseorang yang selalu ia rindukan, beberapa hari tidak bertemu, membuat Adel selalu merindu.


"Assalamu'alaikum," sapa Adel setelah menggeser tombol hijau.


[Wa'alaikumsalam,] Terdengar jawaban salam dari sebrang telepon.


[Bagaimana kabarmu sayang?] Tanya Dev lagi.


"Baik Mas, Mas sendiri bagaimana?"


[Mas tidak baik-baik saja Dek]


"Kenapa? Mas sakit, ya ampun maafkan adel Mas tidak bisa merawat Mas," Tanya Adel panik.


Dev yang melihat kepanikan adel justru terkekeh kecil.


"Hey Mas tidak apa-apa Dek, hati Mas yang tidak baik-baik saja karena terlalu lama menahan rindu."


Setelah lama berbasa-basi dan melepas rindu meski hanya lewat video call, Adel mengakhiri panggilannya, ia kembali keruangan dimana tempat Bu Mira dirawat.


"Kapan kita bisa membawa Ibu pulang?" Tanya Adel begitu sampai ruangan Bu Mira, kebetulan disitu ada Dokter Rizal.


"Mungkin dua atau tiga hari lagi, tapi semua tergantung kondisi Bu Mira sendiri," Kata Dokter Rizal menjelaskan.


"Oke terimakasih."


Setelah mengecek kondisi Bu Mira, Dokter Rizal keluar dari ruangan tempat Bu Mira dirawat.


"Sani, Ibu butuh penjelasan." Kata Bu Mira lirih begitu Dokter sudah menutup pintu dengan benar.


Kemudian Shanum menceritakan dari awal kejadian saat bertemu dengan ayah dari Adel, juga saat-saat dirinya tumbuh sampai saat ini.


Shanum juga mengenalkan Adel sebagai adik yang begitu ia sayangi juga lindungi.


Tanpa bisa dicegah air mata menetes deras dari sudut mata Bu Mira.


Dirinya begitu bersyukur karena Shanum bertemu dengan orang-orang baik, dan memberikan kehidupan yang begitu baik.

__ADS_1


"Ibu ikut senang jika Sani hidup dengan baik selama ini," kata Bu Mira, setelah Shanum menyelesaikan ceritanya.


"Maaf Bu, Ayah mengganti nama Sani menjadi Shanum." Ada perasaan tidak enak ketika Shanum mengatakan itu.


Ia merasa ini pasti akan menyakiti perasaan Ibunya, karena bagaimanapun juga nama itu adalah pemberian dari orang tuanya dulu.


"Hanya sebuah nama, tidak akan merubah apapun." Bu Mira tersenyum mengelus pipi Shanum dengan lembut. "Mulai sekarang Ibu akan memanggil dengan nama Shanum juga," katanya lagi.


"Tidak Bu, panggil senyaman Ibu saja."


"Tidak Nak, nama adalah identitasmu, jika sekarang namamu Shanum, berarti Ibu juga Harus memanggil dengan nama itu."


"Baiklah Bu, atau Ibu bisa memanggil dengan sebutan Kakak, dan ini Adel adik Shanum yang akan menjadi anak bungsu ibu."


Adel mendekat begitu namanya disebut oleh kakaknya.


Adel membungkuk mencium dengan takzim punggung tangan Bu Mira.


"Adel Bu, anak kedua Ibu, Kakak sudah berjanji akan membagi Ibu jika kami menemukan Ibu," kata Adel lirih, ia menatap wajah teduh keibuan milik Bu Mira, desir bahagia tergambar jelas dihatinya, baginya ini seperti mimpi karena akan memiliki seorang Ibu meski bukan Ibu kandungnya.


Bu Mira menatap Shanum bingung seolah bertanya 'berbagi?' Shanum hanya menganggukan kepala membenarkan perkataan Adel.


Meski masih dilanda rasa penasaran Bu Mira akhirnya berkata, "Ibu pasti akan berbagi kasih sayang untukmu dan Shanum."


Perasaan Adel seperti menemukan oase ditengah gurun pasir begitu mendengar pernyataan Bu Mira.


"Benarkah?" Tanyanya memastikan.


Bu Mira menganggukan kepala sebagai jawaban.


"Adel akan memiliki ibu?" Tanyanya lagi.


"Iya sayang."


"Sayang? Ibu memanggilku sayang?"


Betapa bahagianya hati Adel sekarang mendapatkan kasih sayang seorang Ibu yang selama dua puluh satu tahun tidak pernah ia dapatkan.


Meski Adel tidak pernah kekurangan kasih sayang dari Shanum juga Ayahnya, mereka juga berperan sebagai Ibu buat Adel, namun tetap saja Adel merindukan pelukan seorang Ibu.


Meski wanita yang berbaring lemah didepannya bukanlah wanita yang menghadirkan dirinya kedunia, tetapi bagi Adel itu sudah lebih dari cukup.

__ADS_1


"Ibu sayang sama Adel, seperti ibu menyayangi Kakak?" Adel bertanya kembali sebelum Bu Mira bereaksi atas pertanyaan sebelumnya.


"Iya nak, Ibu pasti akan menyayangimu seperti Ibu menyayangi Kak Shanum."


Ingin rasanya Adel lompat-lompat sambil teriak mengabarkan pada dunia bahwa kini ia memiliki seorang ibu, kekanakan memang, tapi inilah kenyataannya. Perasaan bahagianya tidak bisa digambarkan dengan apapun.


"Cepatlah sembuh Bu, kita akan pulang ke Ibu Kota, kita akan tinggal bertiga, disana ada suami Adel, nanti Adel kenalkan." Adel berkata tanpa rasa bersalah sedikitpun.


"Mana bisa begitu Dek, Ibu akan tinggal bersama kakak." Shanum tidak terima dengan penuturan Adel.


"Bisa dong Kak, kalau Kakak mau, Kakak bisa ikut tinggal bersama Adel." Dengan entengnya Adel berkata tanpa peduli dengan perasaan Shanum.


Memang seperti itu dari dulu, Adel selalu ingin menang sendiri tanpa memikirkan perasaan Kakaknya.


"Kakak ga mau, pokoknya Ibu tinggal bareng Kakak, ini kan Ibunya kakak."


"Kakak kan sudah janji mau berbagi ibu."


"Kakak berjanji berbagi bukan memberi."


Kali ini Shanum sepertinya tidak mau mengalah, bukan karena lelah, tetapi hidup bersama Ibu kembali adalah impiannya sejak enam belas tahun. Sejak ia pergi meninggalkan rumah yang telah menjadi saksi perjuangan seorang Ibu membesarkan dirinya dengan penuh kasih sayang dan pengorbanan.


Kini saatnya ia ingin membalas air mata Ibunya yang terbuang sia-sia dengan sebuah senyum dan tawa, Shanum ingin membahagiakan Ibunya dimasa tuanya.


"Kenapa jadi bertengkar?" Tanya Bu Mira melihat kelakuan kedua anak perempuan yang usianya sudah tidak bisa dibilang anak-anak lagi.


"Kalian tidak tinggal bersama?" Tanya Bu Mira lagi. Shanum dan Adel kompak menggelengkan kepala.


"Adel sudah menikah dan tinggal bersama suaminya." Jawab Shanum kemudian.


"Dan kamu?" Pertanyaan dari Bu Mira yang ditunjukan kepada Shanum.


"Kakak belum menikah, dulu kekasihnya Kak Shanum Adel minta, jadi sekarang mantan calon suami Kakak menjadi Adik Iparnya."


Adel menjawab pertanyaan Bu Mira tanpa rasa bedosa sedikitpun,meminta kekasih seperti meminta permen kapas, dengan gampangnya ia menceritakan dulu ia meminta calon Kakak ipar menjadi suaminya, meski Adel tidak tahu jika dulu Dev adalah kekasih Shanum.


Namun pernyataan bahwa dirinya merebut kekasih kakaknya telah melekat erat disudut hatinya, walaupun sebenarnya tidak ada yang mengatakan hal itu.


Meski ia terlihat bangga dan bahagia karena telah menikah menikah dengan Dev, namun tetap saja dihati terdalamnya ia sangat menyesal karena telah menginginkan Dev, disaat Dev masih menjadi kekasih Kakaknya.


"Minta?" Raut bingung jelas tergambar diwajah tua Bu Mira, terlihat dari kerutan dikeningnya.

__ADS_1


"Sudahlah Bu lupakan saja, Adek hanya berbicara asal, selama ini Shanum memang belum bertemu jodoh saja, Shanum juga ingin mencari Ibu dulu, supaya Ibu bisa menyaksikan Shanum melepas masa sendiri, tapi Insyaa Allah jika memang Allah berkehendak tidak lama lagi Shanum akan menikah Bu, do'akan saja semoga Shanum mendapatkan jodoh yang terbaik."


__ADS_2