
"Radit!" Teriak Hans sedikit tertahan.
Emosi Hans sudah memuncak, ia ingin segera keluar dan menghajar penghianat itu.
Namun Evan menahannya terlebih dahulu, "tahan sedikit lagi!" Perintahnya.
Hans ingin membantah namun diurungkan, setiap perkataan Evan pasti sudah dipikirkan baik-baik.
Tidak terlalu jelas apa yang sedang mereka obrolkan, jaraknya lumayan jauh, namun masih terjangkau dalam pandangan mata.
10 menit berlalu tapi belum ada perubahan, bahkan Elis dan Radit juga masih berdiri ditempat, tidak ada pergerakan yang berarti yang mereka lakukan.
"Tuan, didalam masih ada satu orang lagi." lapor dari salah satu bawahan Evan yang jaraknya lebih dekat.
"Aku tahu," jawab Evan singkat, "terus awasi," perintahnya.
Setengah jam kemudian terlihat lagi satu orang keluar dari dalam mobil, pemuda yang memiliki perawakan proposional yang nyaris sempurna, memakai jaket kulit berwarna hitam dan juga topi serta kacamata yang menutupi sedikit wajahnya.
Evan kesulitan mengenali identitas tersebut, pasalnya ia tidak pernah melihat pria dengan postur tubuh seprti itu.
"Apakah ada yang mengenal pria itu?" Tanya Evan melalui sambungan earphonenya.
Namun ketika belum ada yang menjawab pertanyaannya tiba-tiba saja ponselnya berdenting, bertanda ada pesan masuk.
Menunggu beberapa saat untuk mendownload gambar yang terkirim diaplikasi hijaunya.
Sebuah foto bergambar seorang pria sedang tersenyum hangat menatap seorang wanita dengan caption, "bagaimana, apa kau menyukainya, kau harus bisa menerimaku menjadi adik ipar, jika tidak ingin adik kesayanganmu bernasib sama dengan Naomi."
Deg!
Mengingat nama Naomi membuat pikiran Evan berkelana kemasa 5 Tahun yang lalu, masa dimana saat itu ia masih berseragam putih abu-abu.
Mungkin sama seusia adiknya saat ini, pada saat itu ada seorang gadis yang begitu menginginkannya, gadis yang berseragam sama namun kelasnya satu tingkat dibawahnya.
(Apa kau sudah mengingatnya kejadian 5 tahun lalu?)
Sebuah pesan kembali masuk, sekilas Evan melihat dari jendela notifikasi tanpa membuka percakapan.
Evan kembali teringat dengan peristiwa naas yang menimpa gadis itu, pada saat itu motor melaju kencang dari sisi kanan jalan, Evan yang hendak menyebrang jalan tidak menyadari hal itu, namun Naomi gadis yang cintanya dianggap cinta monyet oleh Evan rela mengorbankan nyawanya demi menyelamatkan Evan.
Dengan kejadian yang begitu cepat, Evan berhasil didorong namun sebagai gantinya Naomi yang mengalami kecelakaan tanpa bisa terelakan.
"Aku harap kamu mengingat hari ini, karena dimasa depan aku pasti akan membuat perhitungan denganmu!" Ucap seorang pria dengan tegas usai pemakaman Naomi.
__ADS_1
***
"Hans, lelaki itu sedang menuntut dendam." Ucap pelan Evan pada Hans.
Hans terlihat bingung, tidak mengetahui siapa yang Evan maksud.
"Naren," mengerti arti tatapan Hans yang penuh tanya meski tak terucap membuat Evan kembali bersuara.
Mendengar satu nama dimasa lalu membuat Hans semakin bingung, bukan bingung dengan alasan Naren ingin membalas dendam, tetapi ia justru lebih bingung apa hubungan Radit dengan Naren.
Dari sini Hans semakin bertanya-tanya siapa Radit sebenarnya, beberapa waktu lalu ia terlihat seperti seorang bawahan yang begitu patuh terhadap atasannya, bahkan ketika Rafa dalam mode emosi tingkat kuadrat, Radit tetap diam tak bergeming.
Sesaat juga terkadang Radit terlihat seperti seorang penghianat, karena terkadang berada dipihak Evan. Namun saat ini justru berada bersama orang lain lagi.
"Mengapa Radit berada ditiga pihak?" Pertanyaan Roy mewakili semuanya.
"Sepertinya Radit juga berhutang pada pria itu," jawab seseorang yang jaraknya lebih dekat dengan Radit. "Tapi aku merasa Radit tidak berpotensi menghianati Tuan Evan," sambungnya lagi.
"Apa yang kamu dengar?" Tanya Hans.
"Radit hanya menjawab tidak tahu ketika pria itu menanyakan sesuatu tentang Tuan Evan, kalaupun menjawab ia hanya menjawab seperlunya saja, kemungkinan Radit bersedia membantu tanpa mencurangi lawan." Penjelasan salah satu anak buah Evan membuat Evan, Hans, dan Roy merasa sedikit lega.
Sesaat Evan berfikir kasus ini bukan karena dendam pesaing bisnisnya tetapi memang dendam masa lalu yang sama sekali bukan kesalahannya.
Bukan Evan yang membunuh Naomi, tetapi Naomi sendiri yang mengorbankan nyawa untuknya. Namun Naren, Kakak Naomi tidak menerima alasan itu, baginya kematian adiknya penuh kesalahan Evan.
Satu pesan kembali masuk keponsel Evan.
(Apa yang kamu inginkan?)
(Aku tidak menginginkan apapun, aku hanya menginginkan adikmu.)
(Lepaskan Elis, maka aku akan menyerahkan nyawaku,)
(Aku tidak menginginkan kematianmu, aku hanya ingin melihatmu menderita karena kehilangan orang yang sangat kamu lindungi.)
Evan tidak lagi membalas, mengamati Radit, Elis dan juga Naren yang masih berdiri didermaga, perkiraannya meleset, Naren tidak secepat itu membawa Elis pergi, entah ada rencana apalagi yang hendak Naren lakukan, Evan hanya mampu menerka-nerka.
"Alihkan sedikit perhatiannya, aku akan menggunakan kesempatan sekecil apapun untuk menyelamatkan Elis disaat ia lengah." Perintah Evan pada anak buahnya.
"Biar aku saja," ucap Roy keluar dari persembunyian namun bergerak dengan perlahan berusaha untuk semakin dekat.
Sebuah kapal terlihat semakin mendekat, mungkin kapal itu yang akan membawa Elis pergi dari negara ini.
__ADS_1
"Jangan gegabah," cegah Evan.
Namun Roy tidak memperdulikannya, ia tetap berjalan dengan santai semakin mendekat kearah orang-orang itu.
"Bukankah dengan begitu ia akan semakin membuat Naren curiga bahwa ada orang disekitar sini?" Tanya Evan yang tidak lagi bisa berfikir jernih, ia tidak ingin persembunyian orang-orang yang setia dengannya ketahuan.
"Naren tidak mengenal Roy, lain halnya jika aku yang datang kesana," ucap Hans, meski dengan nada santai tetapi tetap saja dari sorot matanya tersirat kekhawatiran.
"Tapi bagaimana jika Naren sudah mengawasi kita sejak lama, mencari tahu siapa saja orang-orang yang dekat denganku?"
"Kenapa kamu jadi sebodoh itu!" Ucap Hans sedikit emosi, ia tidak paham dengan pikiran Evan, biasanya Evan orang yang paling tenang dalam keadaan apapun.
Saat ini evan melupakan sesuatu, jika Roy tidak dikenal siapapun, kalaupun ada yang mengenalnya tidak ada yang tahu tentang hubungannya dengan Evan kecuali orang-orang terdekatnya.
"Aku menghawatirkan orang-orangku."
"Berhentilah bicara omong kosong!"
Evan tidak lagi bersuara, mengamati apa yang sedang Roy lakukan.
"Selamat pagi menjelang siang Tuan," terdengar suara Roy menyapa, earpiece masih ia kenakan, sehingga Evan dengan mudah bisa mendengar suaranya.
Elis ingin berucap namun melihat kode yang Roy berikan seketika mengurungkan niatnya, Elis tau kode-kode rahasia tertentu yang Kakaknya dan teman-temannya miliki.
Terlihat Naren memicingkan matanya, tanda tak suka dengan kehadiran makhluk lain yang tidak diharapkan.
"Maafkan saya Tuan, saya tersesat dan mobil saya mogok," alasan yang sama sekali tidak bisa diterima oleh nalar pria berjambang tipis itu.
Bagaimana mungkin dijaman digital semakin canggih ada orang yang bisa tersesat.
"Kamu ingin menipu!" Jawabnya dengan Tegas.
"Tidak, aku hanya ingin menumpang, sepertinya Tuan akan menyebrang kepulau sebarang."
"Jangan main-main denganku, apa yang sedang kamu lakukan disini!"
"Tidak ada, aku hanya ingin menumpang saja, bukankah Tuan-Tuan dan Nona cantik ini sedang menunggu kapal yang sedang mendekat."
"Tidak ada tempat untukmu!"
Radit sedari tadi hanya menyaksikan perdebatan antara Naren dan juga Roy, sama sekali tidak ada niatan untuk ikut menyela.
"Berhati-hatilah, kita tidak tahu Radit ada dipihak siapa?" Terdengar suara Evan memberi peringatan.
__ADS_1
"Duar!!!!"
Tiba-tiba saja terdengar suara ledakan.