Dimanja Tanpa Cinta

Dimanja Tanpa Cinta
Bab 44


__ADS_3

POV AUTHOR


☆☆☆


Malam semakin larut, angin dingin menembus melalui ventilasi kamar menerpa tubuh dengan hati yang sedang berkecamuk.


Dinginnya angin malam tidak lagi bisa mendinginkan perasaan yang sedang diliputi amarah.


Suara bising kendaraan malam yang lalu lalang dijalanan tidak bisa meredam suara syahwat yang terus terngiang di indra pendengaran.


Bayangan akan pengkhianatan beberapa tahun silam kembali hadir memberikan rasa trauma pada hati yang mulai membaik dengan segala keadaan.


"Tidak, itu bukan suara Mas Devku!" Racau Adel sambil menutup telinganya


Adel membuka kembali matanya yang tidak sempat terpejam dengan sempurna, ia menatap langit-langit kamar yang hanya nampak temaram oleh sorot lampu tidur.


Wanita yang beberapa bulan lagi genap berusia 22 Tahun kembali bangkit dari tidurnya, ia mengambil benda pipih yang tersimpan diatas nakas lalu membawanya menuju balkon kamar.


Menikmati semilir angin malam berharap bisa menjernihkan pikiran yang sedang gundah.


Terlihat begitu panik memainkan jari-jarinya diatas layar ponsel cerdasnya, kemudian menempelkan ditelinga dan kembali lagi mengusap layar.


Adel berusaha menghubungi nomor lelaki yang lebih dari setahun lalu mempersuntingnya.


Pagi tadi Dev mengatakan akan melakukan perjalanan bisnis keluar kota.


Satu jam setelah take off Dev sempat mengabari bahwa ia sudah sampai di tempat tujuan, mereka juga sempat melakukan panggilan video.


Bahkan beberapa jam yang lalu komunikasi mereka masih lancar, hanya setelah Adel menerima sebuah pesan dari nomor yang tidak ada didaftar kontaknya, nomor Dev juga sudah tidak bisa lagi dihubungi.


Pesan berisikan foto suaminya dan perempuan lain berada dalam satu selimut tanpa sehelai benangpun.


Terlihat jelas Dev bertelanjang dada sedang memejamkan mata dan wanita disampingnya memeluk tubuh yang selalu menjadi candu untuk bersandar bagi Adel.


Selain itu juga terdapat pesan suara yang memperdengarkan suara-suara khas seseorang yang sedang melepas dahaga.


"Apa yang sedang kamu lakukan mas?" Tanya Adel entah ditunjukan pada siapa, karena tidak mungkin juga Dev mendengar. "Aku tidak akan pernah percaya kamu mengkhianati ikatan suci kita." Lanjutnya lagi berbicara sendiri, tanpa terasa bulir bening menetes dipipi.


Sekuat apapun pikiran Adel menepis pengkhianatan Dev, tetap saja foto yang terkirim di ponselnya tidak bisa ia terima dengan lapang dada.

__ADS_1


Sesak, itulah yang Adel rasakan. Teringat kembali bayang-bayang masa lalunya yang membuat ia sempat menutup hati.


Jarum jam sudah menunjukan angka dua dini hari, namun Adel masih tetap setia berdiri ditepi balkon kamar memandang kearah gerbang, berharap ada keajaiban, suaminya pulang. Nihil hingga hari menjelang pagi mobil Dev tetap tidak nampak.


Adzan shubuh berkumandang merdu ditelinga setiap hamba yang mendengar.


Puas Adel menunggu namun tidak ada kepastian, rasa dingin dan pusing ia abaikan, kembali masuk kekamar menuju kamar mandi, membersihkan diri lalu melanjutkan kewajiban sebagai umat muslim, dua rakaat dipagi hari membuatnya sedikit lebih tenang.


"Ya Allah Non apa yang terjadi?" Teriak Mbok Sari begitu mendapati Adel meringkuk dilantai masih dengan mukena yang menempel ditubuhnya.


Mbok Sari meraba keningnya terasa sangat panas, wanita yang usianya lebih dari setengah abad itu dengan cekatan melepas mukena yang Adel kenakan, lalu dengan sekuat tenaga ia berusaha memindahkan Adel keranjang.


Mbok Sari berusaha menghubungi nomor Dev namun tetap tidak bisa tersambung.


Ia beralih mencari kontak lain.


"Assalamu'alaikum Non, maaf pagi-pagi mengganggu, Non Adel demam tinggi!" Dengan panik Mbok Sari mengabarkan keadaan Adel kepada Shanum begitu panggilannya tersambung.


"Wa'alaikumsalam, Astaghfirulloh Mbok tolong panggil Dokter Anna, saya akan segera kesana bersama Ibu!" Perintahnya yang dengan segera disanggupi oleh Mbok Sari.


Setelah menghubungi Dokter yang biasa menangani keluarga majikannya, Mbok Sari gegas mengambil air panas.


Kurang dari satu jam Shanum sudah sampai dirumah Adel bersama dengan Bu Mira.


"Assalamu'alaikum, Mbok bagaimana keadaan Adel? Kenapa bisa begini?" Tanya Shanum beruntun begitu sampai dikamar Adel, mendapati Adiknya terbaring lemah dengan terus mengigau menyebut nama Suaminya.


"Masih seperti itu Non, Mbok Sari tidak tahu awal kejadiannya," Kemudian Mbok Sari menceritakan dari awal ketika ia ingin memanggil Adel untuk sarapan, namun tidak ada suara terdengar, karena penasaran akhirnya Mbok Sari membuka pintu yang memang tidak pernah dikunci ketika Dev tidak ada dirumah. Begitu masuk kamar Adel sudah terbaring dilantai.


Mendengar penjelasan panjang dari Mbok Sari membuat Shanum tidak berhenti istighfar.


"Apakah sudah mencoba menghubungi Dev Mbok?" Tanya Shanum setelah Mbok Sari menyelesaikan penjelasannya.


"Sudah Non, tapi nomornya tidak bisa dihubungi." Ujar Mbok Sari.


"Tidak bisa dihubungi? bagaimana bisa seperti itu?" Tanya Shanum yang juga penasaran.


'Sejak kapan nomor Dev tidak bisa dihubungi, apa dari semalam memang sudah hilang kontak, sehingga membuat Adel terus memikirkan dan tidak bisa tidur dan berakhir seperti ini?' Tanya Shanum dalam hati.


Tidak lama kemudian terdengar suara deru mobil masuk kehalaman rumah.

__ADS_1


"Sepertinya Dokter Anna sudah sampai Non, biar Mbok yang membukakan pintu." Mbok Sari pamit keluar, sedangkan Shanum hanya menganggukan kepala.


"Apa dari semalam nomor Dev sudah tidak aktif?" Tanya Bu Mira memastikan.


"Kakak pikir juga seperti itu Bu," Jawab Shanum.


"Assalamu'alaikum," sapa Dokter Anna begitu memasuki kamar Adel.


"Wa'alaikumsalam," Jawab serempak Shanum dan Bu Mira.


"Dokter tolong periksa keadaan Adel," kata Shanum menghampiri Dokter Anna.


Wanita yang berusia kisaran 30 Tahunan mengangguk dan tersenyum, kemudian mengeluarkan alat dari dalam tas kerjanya.


"Sepertinya Adel kelelahan, dan juga banyak pikiran, apa semalam dia tidak tidur?" Tanya Dokter Anna setelah selesai memeriksa keadaan Adel.


"Itu yang saya pikirkan Dok, pasalnya nomor suaminya tidak bisa dihubungi, saya kira memang dari semalam Adel terus berusaha menghubungi sampai melupakan waktu istirahatnya." Jelas Shanum.


Tidak ada yang ditutupi dari wanita yang usianya lebih tua 4 tahun dari Shanum, Dokter Anna sudah seperti keluarga bagi mereka.


"Dev kemana?"


"Melakukan perjalanan bisnis diluar kota."


"Sejak kapan?"


"Kemarin pagi berangkat. Tapi tidak biasanya seperti ini, aku juga khawatir terjadi sesuatu."


"Berdo'a saja, semoga tidak terjadi apa-apa dengannya."


"Aamiin."


"Saya sudah resepkan vitamin, bisa ditebus diapotek terdekat, jika sudah tidak demam obat penurun panasnya tidak perlu diminumkan lagi." Wanita berjas putih menyerahkan selembar resep obat kepada Shanum.


"Terimakasih Dokter." Ucap Shanum sambil menerima resepnya.


"Sama-sama, jika ada apa-apa jangan sungkan hubungi saya." Jawab Dokter Anna dengan ramah. "Kalau begitu saya permisi dulu, Sha jangan lupa pantau terus keadaannya." Lanjut Dokter Anna lagi.


"Baik Dok, terimakasih."

__ADS_1


Dokter Anna pergi keluar dari kamar Adel diantar Shanum sampai depan gerbang. Shanum sekalian menebus obat diapotek yang letaknya tidak terlalu jauh dari tempat Adel tinggal.


__ADS_2