Dimanja Tanpa Cinta

Dimanja Tanpa Cinta
rindunya shanum


__ADS_3

"kakak menangis" Adel memilih menunggu suaminya diruangan shanum,


"dek sedang apa kamu disini, kenapa tidak mengetuk pintu?" shanum terkejut ketika ada suara menyadarkan ia dari lamunannya.


"jangankan mengetuk, bahkan adel sudah menggedor pintu pake sepatu" adel mendaratkan bokongnya disofa empuk yang ada diruangan shanum.


"benarkah?? kenapa kakak tidak mendengarnya?" shanum yang sedang melamun memang tidak mendengar ketukan pintu sama sekali.


"kakak kenapa menangis" adel tidak menggubris pertanyaan shanum, ia justru malah balik bertanya.


"mana ada kakak menangis" kilah shanum, kemudian bangkit dari kursinya ikut duduk disebelah adel.


"lalu kakak akan membuat alasan kelilipan? hehh disini mana ada debu"


"tidak, kaka hanya.... sakit mata, mungkin"


"apa adel harus membuat penghargaan untuk karyawan yang paling pandai bersandiwara" shanum hanya diam, mungkin memang benar ada sesuatu yang sedang shanum pikirkan.


"kakak kenapa?" kali ini suara adel melembut, berharap kakaknya mau bercerita tentang gundah yang sedang dirasa.


untuk sesaat tidak ada suara apapun didalam ruangan hanya dentingan jam didinding yang terdengar merdu, shanum masih ragu untuk bercerita, namun ia juga tidak bisa terus menyembunyikan perasaannya.


ketika shanum hendak membuka mulutnya, terdengar ketukan pintu disusul suara salam dari luar ruangan shanum.


"masuk" setelah menjawan salam shanum mempersilahkan untuk masuk.


"dev sudah mau pulang?" tanya shanum ketika dev sudah sampai dihadapannya.


"seharusnya, tapi sepertinya kalian sedang ada urusan" dev melihat ketegangan diantara keduanya.


antara adel yang menunggu shanum berbicara dan juga shanum yang masih ragu untuk mengatakannya.


"tidak, aku hanya sedang menemani adel menunggumu, kebetulan pekerjaanku sudah selesai" shanum tidak ingi dev juga ikut curiga kepadanya.


"kalau begitu, aku bisa jemput adel sekarang"


"tentu saja" shanum berdiri dari duduknya kembali duduk dikursi kerja, merapihkan dokumen karena dirinya juga akan segera pulang.


"kakak adel pulang dulu, kakak hati-hati, jika butuh sesuatu kabari adel" shanum mengangguk sambil tersenyum.


"kakak ipar, terimakasih sudah menjaga adel untukku" sudah tidak ada rasa canggung lagi ketika dev berbicara dengan shanum.


semua mengalir secara alami.


☆☆☆☆


"sayang" dev merebahkan tubuhnya, meletakan kepala dipangkuan adel yang sedang duduk dikarpet bulu depan televisi, menyaksikan kartun anak-anak tikus dan kucing yang sedang bermain kejar-kejaran.


"iya mas"

__ADS_1


"ada apa dengan shanum"


"mas juga melihatnya?"


"iya, sepertinya shanum sedang tidak baik-baik saja, tidak biasanya shanum terlihat murung seperti itu, meski menyembunyikan dengan senyum tapi sorot matanya jelas terlihat dirinya sedang menutupi luka"


adel diam mendengar kata-kata dari lelaki yang setahun lalu mengikrar janji suci didepan ayahnya.


"del maaf, bukan maksud mas masih perhatian sama shanum, tapi....." dev bingung menjelaskan, dia kira diamnya adel karena marah lebih tepatnya cemburu mungkin.


"hey mas, kamu kira adel cemburu sama ka shanum?" padahal adel juga sedang memikirkan hal yang sama.


"jika tidak kenapa diam saja"


"aku juga berfikir seperti itu"


malam semakin larut ketika sepasang manusia beda jenis kelamin sedang membahas kemungkinan-kemungkinan tentang shanum.


🍒🍒🍒


pov shanum


langit sudah sepenuhnya hitam hanya berhias kelap kelip cahaya bintang dan sedikit senyum dari sang rembulan, menurut kalender hijriyah saat ini masih tanggal muda, bulan belum terlihat sempurna, namun tetap terkesan indah.


sepertigamalam kedua sudah terlewat namun mata ini masih saja enggan untuk terpejam, ada rindu yang terabaikan didalam hati ini.


rindu pada sosok yang mungkin saja masih ada, namun entah dimana keberadaannya.


apa kabar pahlawan hidupku? mengesampingkan segala luka hanya untuk melihatku tersenyum.


ibu, aku rindu. tanpa bisa dicegah air mata ini terus mangalir bagaikan anak sungai tanpa batas.


kulangkahkan kaki menuju kamar mandi, membasuh anggota tubuh yang menjadi syarat sahnya wudhu.


ingin aku mengadukan segala rasa kepada sang pencipta, Dia yang Maha Segala, berharap suatu saat karunia_Nya berpihak kepadaku.


tanpa putus asa disepertiga malam terakhirku, aku selalu meminta kepada Dzat yang Maha Memberi.


terdengar dering ponsel ketika mata ini baru saja terpejam.


kepala ini terasa berat saat hendak bangun, namun aku paksakan untuk membuka mata.


"assalamu'alaikum" aku mengucap salam setelah menggeser tombol hijau diponselku.


(wa'alikumsalam) terdengar jawaban salam dari seberang, aku tahu itu suara adikku.


"ada apa dek, tumben pagi-pagi menghubungi kaka, bahkan kaka belum bangun"


(apa kakak baik-baik saja)

__ADS_1


"iya sangat baik, memangnya kenapa?"


(tumben jam segini belum bangun?)


"memangnya sekarang jam berapa?"


(jam delapan) aku seketika terlonjak kaget mendengar angka delapan.


ternyata aku ketiduran selepas shalat shubuh. tanpa mematikan sambungan telepon, aku bergegas melepas mukena, lalu cepat-cepat masuk kekamar mandi,


masih terdengar suara adel memanggil, namun aku hiraukan.


🍒🍒🍒


"kakak baik-baik saja?"


sesampainya dikantor ternyata adel sudah menunggu diruanganku.


"apa kamu tidak ada pekerjaan" pertanyaan adel aku balas dengan pertanyaan.


"pekerjaanku hanya memastikan kakak baik-baik saja"


"kakak baik-baik saja dek, sekarang pekerjaanmu sudah selesai kan"


"apa itu artinya kakak mengusirku?" "tentu saja iya, batinku menjawab. sebenarnya bukan maksud mengusir, hanya saja jika adel terus disini sudah pasti akan menagih penjelasan.


"bukan begitu,hanya saja kaka ....."


"sedang tidak ingin diganggu" belum selesai aku menjawab adel sudah menyambar duluan.


"tapi sayangnya adel tetap akan disini sampai kakak mau bercerita" adel melanjutkan kata-katanya lagi, sebelum aku sempat merespon.


"ka, sudah cukup berpura-puranya, sudah cukup kakak menutupi luka dengan sebuah tawa, adel sudah cukup dewasa untuk bisa menjadi tempat berbagi"


benar, sudah saatnya aku membagi sedihku dengannya.


"kak" adel kembali memanggil saat tidak ada respon apapun dariku.


"kakak tidak apa-apa dek"


"apa yang kakak inginkan, adel akan berusaha memenuhi semampu adel, seperti kakak yang selalu mewujudkan kemauan adel"


rupanya kata-kataku tidak diindahkan sama sekali, adel tetap kekeh ingin tau yang terjadi denganku.


"katakan apa yang kakak inginkan?" adel bertanya kembali.


"ibu" suaraku lirih menjawab pertanyaan adel,


ada ekspresi yang tidak bisa dijelaskan dari raut muka adel, aku sudah menduganya adel pasti terkejut.

__ADS_1


"ibu?" ulang adel lirih juga bahkan suaranya hampir tidak terdengar.


__ADS_2