Dimanja Tanpa Cinta

Dimanja Tanpa Cinta
ancaman


__ADS_3

shanum tak habis pikir, bisa-bisanya mereka melupakan hal sepenting ini.


(apa kalian mendengarkanku) tanya shanum setelah selesai mengatakan tujuan ia menelpon, namun tidak ada respon dari adel maupun dev.


dev memang tidak terlalu fokus dengan kata-kata shanum meskipun tetap mendengarkan, karena ia sedang memikirkan nasib paginya yang gagal karena tetiba ada telepon.


lain halnya dengan adel yang justru sedang memikirkan sejak kapan dev mengganti nama kontak shanum dari *shanumku* menjadi *kaka ipar*


"ya kami dengar" jawab adel setelah sadar dari lamunannya.


(baguslah, cepat kalian berangkat) kemudian menutup teleponnya.


shanum pusing sendiri dibuatnya, mengingat ini bukan tugasnya.


tugas shanum hanyalah mengelola keuangan, memeriksa laporan keuangan,


namun semenjak hubungan dev dan adel membaik, mereka justru seperti membebankan pekerjaannya kepada shanum.


meski tak secara langsung memerintahkan shanum mengurus perusahaan, namun dengan mereka yang keluar masuk seenaknya sendiri membuat shanum mau tak mau harus ikut campur dengan tugas mereka dikantor.


"apa kamu melupakan hal ini mas?" tanya adel setelah shanum mengakhiri teleponnya.


"aku hanya mengingat kisah kita semalam" jawab dev, dan adel dibuat merona oleh kalimat sederhana dev.


"ayo sarapan, kemudian berangkat, jangan sampai telat, jangan buat klien kecewa" kata adel tak mau meneruskan obrolan yang ujung-ujungnya tak berujung.


"ayo" jawab dev lesu.


☆☆☆


"baru sampai?" shanum melihat jam yang melingkar ditangan kirinya, menyambut kedatangan dev dan adel dengan muka yang tidak bersahabat namun tetap dipaksa tersenyum.


"pagi kakaku yang paling cantik sealam semesta" adel tersenyum dengan senyuman yang paling manis, membalas sambutan pagi dari shanum.


begitu sampai diruangannya ternyata shanum sedang duduk dikursi kebesaran milik adel.


memeriksa berkas mungkin ada yang belum sempat adel periksa.


"bagaimana bisa kalian baru sampai, apa kalian melupakannya" shanum sudah seperti bos besar yang mendapati karyawannya telat kekantor


"dan kamu de, bahkan berkas-berkas masih banyak yang belum kamu tanda tangani" shanum melanjutkan kalimatnya lagi sebelum dev maupun adel sempat menjawab.


adel hanya nyengir tanpa rasa berdosa,


"dev bagaimana dengan persiapanmu" shanum juga menanyakan persiapan dev untuk bahan meeting setengah jam lagi.

__ADS_1


"sudah siap semua kaka ipar, tenang saja, aku sudah membereskannya dari kemarin" jawab dev penuh percaya diri.


shanum mengernyitkan kepalanya bingung, sejak kapan dev memanggilnya kaka ipar, sepertinya ini panggilan perdananya.


tapi itu lebih baik, pikir shanum. shanum yang memang sudah lama berusaha melupakan perasaannya dengan dev merasa bersyukur, itu artinya dev sudah bisa menerima dirinya sebagai kaka ipar.


meski tak bisa dipungkiri, lima tahun bersama buka hal mudah untuk bisa dilupakan begitu saja,


begitupun dengan shanum, bagaimanapun juga ia seorang perempuan yang berperasaan,


butuh usaha ekstra untuk bisa lepas dari bayang-bayang dev.


"baguslah kalau begitu" kata shanum lagi, "de selesaikan semuanya 25 menit lagi kita harus sudah berada diruang meeting" lanjut shanum sebelum meninggalkan ruangan adel.


"ka" panggil adel pada shanum, sebelum shanum benar-benar keluar ruangan


"iya" jawab shanum singkat kemudian balik arah menghadap adel, handle pintu yang sudah ia genggam segera ia lepaskan kembali.


"sepertinya kaka lebih cocok memimpin perusahaan"


"kenapa?"


"kaka lebih menguasai segalanya"


"itu tidak benar, kamu hanya perlu belajar" setelah berkata seperti itu shanum berlalu keluar.


adel hanya menganggukan kepala, sebelum meninggalkan ruangan tak lupa dev mencium bibir adel singkat, kemudian dilanjutkan dikening, "aku akan sangat merindukanmu" bisik dev ditelinga adel, membuat muka adel memerah.


"kenapa mukamu merah, kamu sakit" tanya dev yang melihat perubahan diwajah adel.


adel segera mendorong dev untuk keluar, malu sudah tentu.


"tidak banyak waktu lagi cepatlah bersiap" adel mengalihkan pembicaraan kemudian menutup pintu setelah dev terlihat berjalan menuju ruangannya.


"hai del, lama tak bertemu, makin cantik aja" kata seorang pria setelah meeting selesai, pria yang diketahui sebagai pemimpin perusahaan yang akan bekerja sama dengan perusahaan adel.


"hai juga" balas adel singkat.


"aku tak menyangka perusahaan kita bisa bekerjasama"


"akupun merasa begitu"


kini mereka sudah berada dikantin kantor, menemani kliennya yang katanya ingin menikmati menu yang tersedia dikantin kantor adel.


tentu saja dengan dev yang terus mengekor kemanapun adel pergi.

__ADS_1


"nanti aku antar pulang ya" pria tersebut bermaksud mengantar adel pulang.


bahkan mungkin lupa dengan dev yang berstatus suami adel.


pria itu tak menganggap kehadiran dev sama sekali.


"maaf tuan, tapi aku pulang dengan mas devku" kata adel menekankan pada kata mas devku.


"sejak kapan dia ada disini?" tanya pria tersebut


dev sudah sangat emosi rasanya, ia mengepalkan tangannya, ingin sekali meninju mulut pria tak beradab didepannya.


adel yang sadar akan reaksi suaminya, mencoba menenangkan dengan mengelus lengannya.


"silahkan menikmati hidangan dikantin kantor kami, semoga sesuai dengan lidah anda tuan" adel ingin segera pergi dari situasi ini, namun takut menyinggung kliennya.


bahkan ia sekarang berbicara sedikit lebih formal, untuk menjunjuka bahwa hubungan mereka hanya sebatas kerjasama.


"kamu tak ingin menemani?" pria itu tak terima ketika adel hendak meninggalkannya sendiri.


"tuan rumah macam apa yang membiarkan tamunya makan sendirian" lanjutnya lagi sebelum adel sempat berbicara.


"sekertaris saya, sifa akan menemani anda tuan" setelah sebelumnya adel mengirim pesan singkat kepada sifa untuk datang kekantin.


"aku hanya ingin ditemani olehmu atau kerjasama kita batal" mendengar ancaman tersebut firasat adel sudah tak baik.


"kenapa dia nempel terus denganmu sih, sudah seperti daki saja"


'apa dia lupa bukankah aku sudah mengenalkannya sebagai suamiku tadi sebelum meeting dimulai, atau dia kebentur tembok saat keluar ruangan sehingga menyebabkan amnesia', gerutu adel dalam hati.


"dia suami saya tuan" kata adel mengingatkan


"apa dia tidak punya kerjaan, kenapa harus mengikutimu terus?"


"kerjaan saya hanya menjaga dan melindungi istri saya dari terkaman srigala" jawab dev santai dengan tetap tersenyum, namun mengerikan.


adel yang melihat senyum suaminya merasa ngeri sendiri, pasalnya ini pertama kalinya adel melihat dev berekspresi semengerikan itu.


"suami macam apa yang hanya numpang hidup kepada istrinya, bahkan statusmu dikantor saja masih jadi bawahan adel, kamu tak pantas mendampinginya" kata-kata sarkasnya membuat dev tak bisa bebicara lagi.


memang benar dia hanya bawahan adel dikantor,


adel tersadar jika dia belum menukar posisi dengan dev, padahal jika rencananya berhasil dia akan mengembalikan kepemimpinannya kepada dev lagi.


"yang merasakan pantas atau tidak hanya saya tuan, anda tidak perlu repot memikirkannya" melihat suaminya tersudutkan adel berusaha untuk menyelamatkannya.

__ADS_1


"nikmatilah tuan, saya akan menemani anda sampai selesai" adel berkata lagi mengalihkan pembicaraan. mengurungkan niatnya untuk kembali bekerja.


namun reaksinya begitu mengejutkan.


__ADS_2