
Malam ini hujan masih begitu deras membasahi bumi. "Sha hitunglah rintik airnya, sebanyak itu rasaku untukmu." Jujur Evan berkata dari dalam hati. Rasa untuk Shanum begitu besar, Shanum adalah wanita kedua yang akan selalu ia sayangi setelah adiknya.
Perbedaan usia tidak akan jadi penghalang. Meskipun Shanum lebih tua dari Evan, namun tidak akan mengurangi rasa yang bertahta dihati pria berusia 22 Tahun tersebut.
Mereka kini sedang berada disebuah kafe menikmati makan malam syahdu dengan ditemani air hujan.
Duduk dipinggir jendela membuat mereka bisa dengan leluasa menyaksikan keadaan diluar.
"Tidak perlu berlebihan begitu." Jawab Shanum malu-malu.
"Tidak, aku berkata apa adanya."
Evan menjeda ucapannya ketika pesanan mereka datang.
"Tapi maaf aku menempatkanmu diurutan kedua." Lanjutnya lagi.
"Aku mengerti, aku bisa membantumu memberikan kasih sayang yang lebih untuk Elis." Shanum begitu paham dengan perasaan Evan, diapun merasakan hal yang sama. "Akupun begitu, kebahagiaan Adel diatas segalanya."
"Terimakasih."
Selanjutnya hanya keheningan yang menemani makan malam. Shanum tidak membiasakan diri makan sambil berbicara.
"Satu minggu lagi aku akan melamarmu." Ucap Evan tiba-tiba setelah mereka menghabiskan makan malam.
"Aku tidak mau."
"Kamu tidak mau menerima lamaranku?" Evan dibuat panik oleh jawaban Shanum.
Shanum tersenyum melihat raut muka Evan yang begitu ketakutan. "Bukan."
"Lalu?"
"Aku ingin langsung menikah, kamu memang masih muda tapi umurku sudah semakin tua."
"Jangan membahas umur, kita sama. Usia bukan jaminan, bahkan syarat matipun tidak harus tua."
Evan sangat tidak suka jika Shanum membandingkan umur mereka, karena akan membuat dirinya merasa menjadi bocah bagi Shanum.
Semuda apapun usianya, Evan tetap ingin dianggap lebih dewasa oleh calon istrinya, menjadi tempat berteduh untuk segala gundah yang kekasihnya rasakan.
"Maaf."
"Lupakan! Satu minggu lagi kita menikah, persiapkan dirimu." Ucap Dev mantap, ia menatap mata Shanum dengan lekat. "Kamu tidak perlu menyiapkan apapun, cukup siapkan dirimu saja."
Evan mengantar Shanum kembali kerumahnya setelah pembahasan pernikahan selesai.
☆☆☆
Ditempat berbeda Dev dan Adel juga baru saja menyelesaikan makan malam.
"Rafa punya rencana lain." Ucap Adel sambil tiduran. Dan Dev memeluknya dari belakang.
"Bagaimana kamu bisa mengetahuinya? Evan lagi." Dev tidak terkejut soal ini. Meskipun dengan Evan terlihat tidak pernah akur, namun sebenarnya mereka saling menyayangi layaknya saudara, hanya saja tidak bisa mengekpresikan dengan perkataan.
Evan sebelumnya sudah pernah mengatakan pada Dev untuk lebih menjaga Adel, Rafa mempunyai segundang rencana licik demi obsesinya.
Hanya itu yang Evan katakan, namun tidak mengatakan secara mendetail tentang rencana apa yang akan Rafa jalankan.
"Mas tahu jika Evan tahu segalanya?"
"Bukankah Evan pernah mengatakannya."
__ADS_1
"Dan Mas percaya?"
"Tidak ada alasan untuk Mas meragukan ucapannya."
"Tapi....."
Kini Adel merubah posisi menjadi menghadap suaminya.
"Evan hanya ingin memancing emosi Mas saja."
"Mas sudah tau tapi masih terpancing begitu saja."
"Entahlah, meski tahu Evan hanya mencintai Kakak ipar, tetap saja jika kalian hanya berdua rasa cemburu masih ada."
"Dasar."
Dev tidak lagi menyahut ucapan istrinya, ia menyambar bibir yang sejak tadi menggoda.
Mengecupnya perlahan, lama-kelamaan semakin dalam, Dev melepas setelah melihat Adel hampir kehabisan nafas.
Dev menyusuri leher jenjang milik Adel meninggalkan jejak kepemilikan disana, Adel menggeliat perlahan merasakan sensasi yang menuntut lebih.
Perasaan itu mengalir begitu saja, hingga sebuah rasa menuntut penuntasan.
Adel merasa sudah begitu lemas, Namun Dev belum ingin melepaskannya.
Bahkan Dev melanjutkan kegiatan itu lagi ketika berada dikamar mandi.
"Tenagamu tidak ada habisnya." Adel berkata dengan lemah.
"Aku akan membantumu membersihkan diri."
Sedangkan Adel hanya pasrah dengan apa yang Dev lakukan, ia sudah tidak punya tenaga hanya sekedar untuk menolak.
Tidak begitu lama terdengar nafas teratur Adel.
"Selamat istirahat my sweety wife." Ucap Dev begitu Adel tengah terlelap.
Dev keluar kamar menuju ruang kerjanya, kini perusahaan sudah beralih menjadi tanggung jawabnya lagi, menjadikan pekerjaannya bertambah banyak.
Adel hanya ingin fokus membahagiakan diri sendiri katanya. Di usianya yang belum genap 22 Tahun itu, sifat kekakan-kanakannya terkadang masih suka mengiringi langkahnya.
Menikah muda adalah keinginannya, tidak ada penyesalan untuk itu. Adel masih bisa menikmati masa remajanya dengan baik meski telah berganti status menjadi seorang istri.
Hanya saat mengetahui Dev mencintai Kakaknya lah ia merasa sangat terpukul, namun tidak pernah menyesali keputusannya.
Nasi yang sudah menjadi bubur juga masih bisa dinikmati jika diolah kembali. Cukup menambahkan bahan pelengkap saja.
Pun dengan kehidupan, semuanya sudah terjadi tinggal bagaimana kita menyikapi semuanya.
Drrrt.
Ponsel Dev bergetar dengan teratur. Ia mengernyit heran, jarum jam sudah menunjukkan waktu tengah malam namun masih ada yang berusaha menghubunginya.
'Amel!' Gumamnya pelan.
Dev sedikit ragu untuk menggeser tombol hijau, ini bukan waktu yang wajar untuk menerima panggilan dari orang lain.
Dev masih membiarkan ponselnya bergetar, hingga panggilan itu berakhir dengan sendirinya.
Selang beberapa detik ponselnya kembali bergetar. Kali ini Dev juga masih mengabaikannya.
__ADS_1
Setelah panggilan ketiga berakhir ada sebuah notif chat dilayar atas, Dev belum berniat membukanya, ia hanya melihat melalui notifikasi.
(Dev sudah tidur? Tolong jawab panggilanku ini mendesak.)
Dev masih mengabaikan pesan Amel, ia masih khawatir jika ini adalah sebuah jebakan.
Lagi-lagi ponsel kembali bergetar. "Ada apa?" Tanyanya dingin, Kali ini Dev memutuskan untuk menjawab panggilan yang dianggap begitu mengganggu.
"Dev bisakah kamu menolongku?" Ada nada kekhawatiran dari suara Amel.
"Tidak!" Jawab Dev tegas.
"Dev tolonglah, aku sekarang berada di jl. Xxx, aku sedang bersembunyi."
"Aku tidak peduli."
"Dev jika kamu menolongku, aku akan kasih tahu sebuah rahasia."
"Tentang."
"Rencana Rafa selanjutnya terhadap istrimu."
"Aku sudah tahu, dan aku pastikan itu tidak akan pernah terjadi."
Setelah mengatakan itu Dev memutuskan sambungan sepihak. Dev yakin jika kali ini juga sebuah jebakkan.
Dev tidak ingin lagi berurusan dengan wanita berbahaya seprti Amel, cukup sekali ia tertipu dengan berkedok kerjasama, selanjutnya tidak akan pernah lagi terjatuh kedalam lubang yang sama untuk kedua kalinya.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari, ketika Dev kembali kekamarnya.
Dilihatnya wajah teduh istrinya, sangat cantik dan begitu polos ketika sedang tidur, sampai Dev ikut terlelap disamping istri kecilnya.
Adel terbangun ketika mendengar suara merdu Muadzin dari masjid komplek tempatnya tinggal, ia melihat kearah suaminya yang masih nyenyak dalam tidur singkatnya.
Belum berniat membangunkan Dev, Adel segera berlalu kekamar mandi untuk membersihkan diri.
Getaran ponsel dari atas nakas sama sekali tidak mengganggu mimpi indah Dev, Adel segera mendekat kearah sumber getaran yang ternyata berasal dari ponsel suaminya.
Dilihatnya kontak yang memanggil bernama seorang wanita.
'Amel.' Gumamnya.
Ada rasa yang sulit diartikan berkecamuk didalam dada. Berbagai prasangka buruk melintas dihatinya, namun Adel berusaha menepis.
Adel berusaha berfikir positif, tidak ingin gegabah mengambil kesimpulan.
Ponsel kembali bergetar membuyarkan lamunan Adel dari praduga-praduga tentang hubungan keduanya.
Adel masih ragu untuk menjawabnya, ia melihat kearah suaminya yang masih terlelap, menatap lagi kearah ponsel yang layarnya sudah berubah hitam.
Ingin sekali membuka ponsel yang memang tidak pernah dibuat sandi, namun ia urungkan kembali, terlalu lancang mencampuri privasi seseorang meski itu suaminya. Adel berusaha untuk selalu percaya pada Dev dalam keadaan apapun.
Ia meletakkan kembali ponsel tersebut, membuatnya menjadi mode silent tanpa getar agar tidak mengganggu kegiatannya.
"Sayang, kenapa tidak membangunkan Mas?" Tanya Dev begitu Adel menyelesaikan ibadah dua raka'atnya.
"Maaf, tadi Mas masih terlihat nyenyak Adel tidak tega membangunkan."
Adel meletakkan kembali mukena ketempatnya, "bersihkan dirimu Mas, Adel siapkan sarapan."
Dev mengecup sekilas bibir Adel, "Baiklah." Lalu ia masuk kekamar mandi.
__ADS_1