Dimanja Tanpa Cinta

Dimanja Tanpa Cinta
masa lalu shanum


__ADS_3

"kaka ingin menjadi seorang ibu?" bagaimana bisa adel berfirik aku ingin menjadi seorang ibu.


"kakak ingin bertemu ibu" luruh sudah air mataku,


"kakak masih memiliki seorang ibu, dimana dia sekarang" adel terlihat lebih antusias


"entahlah"


"jika kakak masih memiliki seorang ibu, kenapa kak shanum tidak pernah mencarinya?" adel terlihat menghela nafas "apakah kakak tau, betapa adel ingin merasakan pelukan seorang ibu, atau hanya sekedar melihat wajahnya, tapi kakak, kakak masih memiliki harapan untuk merasakan semuanya" adel melanjutkan kata-katanya lagi.


aku masih diam, tidak menanggapi kalimat panjang adel, bahkan aku tidak memiliki kalimat yang tepat sebagai balasan.


"apa kakak memastikan adel bahagia dulu?" adel kembali berbicara, nadanya terdengar menahan tangis, tidak ada yang salah dengan pertanyaannya, memang seperti itulah kenyataannya.


"adel sekarang sudah bahagia, bisakah kakak memikirkan kebahagiaan kakak sendiri?" gadis kecil yang dulu selalu merengek apapun kepadaku, sekarang sudah dewasa. sudah bisa memahami perasaan orang lain.


mendengar perkataannya, aku hanya tersenyum namun air mata tetap membanjiri pipi.


"bagaimana kakak bisa berpisah dengan orang tua kakak dan bertemu ayah?" pertanyaan yang dari dulu tidak ingin aku dengar, bukan karena ingin melupakan orang tuaku, namun hanya tidak ingin membuka luka lama.


akhirnya aku menceritakan semuanya.


☆flash back☆


siang ini hujan turun begitu deras, gadis kecil yang mulai beranjak dewasa sedang asyik memainkan tepung bersama telor, ada juga margarin, sedikit air dan juga ragi tentunya,


"sani tidak usah diteruskan, kamu belajar saja biar jadi anak pintar" wanita berusia kisaran 37 tahun memintanya untuk menyudahi kegiatan putri tercintanya.


"sani bantu sebentar lagi bu, biar ibu tidak terlalu cape" gadis yang baru kelas 3 sekolah menengah pertama ini masih ingin membantu ibunya menyiapkan pesanan,


"janji ya sebentar"


"iya bu"


tidak berselang lama terdengar gedoran pintu, tanpa melihat keluar dua wanita beda generasi itu sudah tau siapa yang datang.


"mira buka" teriak seorang pria dari luar rumah masih disertai gedoran yang semakin keras.


"sebentar mas" bu mira ikut teriak dari dapur, lalu mencuci tangannya.


"bu ayah pulang?" ada rasa takut terlihat jelas dari suara sani, sani sudah tau apa yang akan terjadi jika ayahnya pulang, bentakan juga pukulan tidak pernah absen dilakukan oleh lelaki yang menjabat sebagai imam keluarga.


"sani tenang ya, ibu buka pintu dulu" perempuan itu gegas berlari menuju ruang tamu untuk membuka pintu.


"kenapa lama" teriak pria itu memekakan telinga.

__ADS_1


"maaf" hanya kata itu yang berani mira katakan, mira tidak pernah berani berkata banyak kepada suaminya,


jika dia sedikit membantah sudah pasti pukulan bahkan tendangan mendaran ditubuhnya.


"dasar tak guna" pria itu mendorong tubuh mira dan hampir saja mira terjatuh jika tidak ada tembok disebelahnya.


"mana sani?"


"sani tidak ada" entah kenapa mira memiliki feeling tidak baik, diam-diam berharap sani mendengarnya lalu bersembunyi.


"bodoh kemana dia?" pria itu kembali berteriak bahkan kali ini tangan kekarnya mendarat dipipi mulus mira.


mira diam tidak menjawab, sehingga membuat pria itu semakin marah, menjambak rambut mira.


mira merintih kesakitan dan memohon agar dilepaskan, namun tidak dihiraukan sama sekali.


sani yang tidak tega melihat ibunya disiksa memilih keluar ikut menghadapi kebejatan ayahnya.


"sani disini yah" gadis itu sebenarnya merasa takut, terlihat jelas dari suaranya yang gemetar, namun demi ibunya ia berusaha untuk terlihat berani.


"bodoh, kenapa tidak keluar dari tadi" pria itu mendekat kearah sani, memegang pergelangan tangannya lalu menariknya seperti menarik sapi.


"sani mau dibawa kemana?" mira menahan kaki suaminya sambil terisak


"bukan urusanmu" pria itu menendang mira sehingga kakinya terlepas dari tangan mira.


"diam" bentak pria itu, membuat nyali sani menciut,


"sani mau dibawa kemana mas?" mira kembali mengejar suaminya yang sudah sampai didepan pintu dan kembali memegang kakinya.


"aku akan bawa sani pada juragan jarwo" juragan jarwo adalah tuan tanah ditempat sani dan keluarganya tinggal, selain itu juragan jarwo juga terkenal sebagai lintah darat kelas paus, bunga dengan pinjamnya terkadang lebih besar bunganya,, apalagi jika tidak bisa membayar tepat waktu sudah pasti bunganya semakin bertambah.


"untuk apa?"


"juragan jarwo menginginkannya sebagai penebus hutangku" suami mira yang hobi mabok dan juga main judi memiliki hutang yang tidak sedikit kepada juragan jarwo, sebagi gantinya karena tidak bisa membayar hutang juragan jarwo meminta sani.


"jangan lakukan itu, aku mohon" namun pria itu tidak peduli, ayah dari sani tetap membawa pergi.


mira yang tidak ingin sesuatu terjadi kepada putrinya segera mencari sesuatu.


mira memukul kepala suaminya menggunakan kayo balok yang ia temukan di samping rumahnya.


karena tangannya ia gunakan untuk memegang kepala yang sakit sehingga tanpa sengaja melepas cengkeramannya kepada sani.


"pergi sani, lari secepat yang kamu bisa" teriak mira, namun sani masih bergeming, ia seakan kehilangan kesadarannya.

__ADS_1


"sani pergi" saat melihat sani masih berdiri mematung mira kembali berteriak.


"tidak bu, sani ingin bersama ibu"


"pergilah dulu ibu akan menyusul"


mira ingin menghalangi suaminya agar tidak bisa mengejar sani, karena jika mereka lari bersama sudah pasti suaminya mengejarnya.


"kurang ajar, beraninya kamu" pria itu menjambak rambut mira tamparan serta pukulan ia layangkan kepada istrinya.


"sani lari" teriak mira lagi, saat melihat gelagat suaminya ingin kembali menarik tangan sani.


akhirnya sani berlari secepat dan sejauh yang ia bisa, sedangkan mira masih terus berusaha menghalangi suaminya untuk mengejar sani.


mira tidak takut sama sekali, dia berfikir seandainya hidupnya berakhir, setidaknya dia sudah menjauhkan sani dari pria laknat seperti suaminya, dan berharap semoga sani bertemu dengan orang baik yang mau mengurus sani.


pukulan demi pukulan terus dilayangkan pria itu kepada mira, mira sampai pingsan karena tidak tahan merasakan sakit.


setelah memastikan mira tidak sadarkan diri pria itu kembali berlari mengejar sani, namun sani sudah tidak terlihat.


tiiinnnnnn


terdengar klakson mobil dan suara decitan karena pengemudi ngerem mendadak.


"ahhhhhh" sani berteriak.


seorang pria paruh baya keluar dari pintu penumpang, menghampiri sani.


"de kamu tidak apa-apa" tanya pria tersebut.


sani yang masih merasa shock tidak menjawab, bahkan enggan untuk membuka matanya.


"apa ada yang sakit, om antar kedokter ya" lagi-lagi sani masih diam.


"dek" pria itu berjongok mensejajarkan tubuhnya dengan sani, kemudian menepuk pundaknya pelan. "mana yang sakit?"


mendapat sentuhan akhirny sani sadar dan membuka matanya.


"ti-tidak ada tuan, maaf" sani ingin pergi namun pergelangan tangannya dicekal.


"jangan sakiti sani, sani tidak mau dibawa kepada juragan jarwo" sani mengiba.


"om bukan orang jahat"


"benarkah"

__ADS_1


"kita duduk disana, kamu bisa cerita siapa tau om bisa bantu" akhirnya sani mengangguk.


☆flash back off☆


__ADS_2