
Dimeja makan sudah tersedia dua piring nasi goreng sea food dan juga segelas teh hangat, Dev tidak terbiasa minum kopi dipagi hari, untuk itu Adel hanya menyiapkan teh hangat untuknya.
Dev menghampiri meja makan dengan keadaan yang lebih segar, kaos putih polos dan celana chinosnya membuat penampilannya semakin menawan.
Adel mentap kearah suaminya dengan heran, "Mas gak kekantor?"
Dev menggeser kursi lalu mendudukinya. "Tidak," tangannya menerima sepiring nasi goreng dari Adel.
Adel mengernyit bingung, "Kenapa?" Pasalnya Dev terlihat biasa saja, tidak terlihat sedang tidak enak badan.
"Habiskan dulu sarapanmu, setelah ini tanyakan apapun."
Dev tidak ingin Adel melewatkan sarapannya hanya karena obrolan yang sedikit sensitif nantinya.
Ponsel Adel bergetar tepat setelah mereka menghabiskan suapan terakhir.
Adel segera mencuci tangannya sebelum menjawab panggilan.
Adel menghubungi kembali kerena dering telah mati. "Assalamu'alaikum Kak." Ucapnya setelah panggilan tersambung.
"Wa'alaikum salam Dek, hari ini ada acara kemana?"
"Belum ada Kak, tapi Mas Dev sepertinya tidak kekantor hari ini, tapi Adel belum tahu Mas Dev ada acara kemana." Sesekali Adel melihat kearah lelakinya yang sedang menikmati teh hangat. "Ada apa Kak?"
"Ada yang ingin Kakak bicarakan dengan kalian, jika tidak keberatan."
"Sepertinya hal penting."
"Bisa dibilang seperti itu."
"Nanti kami kesana."
"Kakak tunggu."
Adel mematikan panggilan setelah mengucap salam, "Mas, Kak Shanum meminta Kita kerumahnya."
Dev meletakkan ponselnya, sepertinya ia sedang berbalas pesan. "Kapan?"
"Sekarang, jika Mas tidak ada kegiatan lain."
Dev menghela nafas, kemudian mengeluarkannya secara perlahan, ia menyesap tehnya yang sudah sedikit dingin. "Sebenarnya Mas ingin mengajakmu keluar, tapi mungkin lebih baik ditunda dulu, kita bisa keluar setelah dari rumah Kakak ipar."
Melihat raut wajah Dev yang seprti penuh beban, Adel duduk semakin mendekat, "Ada yang ingin kamu katakan?"
Dev menatap kearah Adel sekilas, mengambil kembali gelas berisi teh yang tinggal setengahnya lalu meneguk kembali hingga tandas. "Sebenarnya Mas ingin mengajakmu bertemu Amel." Lirihnya dengan hati-hati, takut menyinggung perasaan istri tercintanya.
"Amel?" Gumam Adel pelan.
"Dari semalam dia menghubungi Mas meminta Mas membantunya, entah ada masalah apa, tapi Mas tidak ingin gegabah, itu sebabnya Mas ingin melibatkanmu." Penjelasan Dev membuat Adel sedikit mengerti, ia tidak salah langkah saat tidak menanyakkan lebih dulu tentang Amel.
Adel yakin Dev tidak akan memnyembunyikan apapun darinya.
__ADS_1
"Maafin Mas Del, Mas tidak bermaksud ingin membantu wanita lain, jika Adel keberatan kita bisa tidak menemuinya." Ucap Dev lagi ketika tidak mendapat respon apapun dari Adel.
Dev takut jika istrinya akan marah mendengar nama wanita itu disebut.
Adel tersenyum ringan, "Kita temui sama-sama."
Bagi Adel lebih baik menghadapi bersama-sama daripada nanti suaminya menemuinya secara sembunyi-sembunyi, meskipun itu tidak mungkin Dev lakukan.
Selain itu Adel juga ingin tahu motif Amel begitu ingin bertemu dengan Dev, apakah ini jebakan seperti kemarin atau ada tujuan lain.
"Bagaimana jika kita olahraga pagi dulu." Kerlingan nakal Dev membuat Adel memahami satu hal.
"Kita sudah ditunggu."
"Sebentar." Rengeknya.
"Tunggulah dimobil, Adel hanya mengambil tas."
Bukan Dev namanya jika menyerah begitu saja, ia ikut menyusul istrinya kedalam kamar dan menguncinya.
"Mas kita akan terlambat."
"Kita tidak sedang membuat janji dengan klien."
Dan pergulatan dipagi haripun terjadi sesuai dengan impian Dev, sesuai janjinya Dev hanya melakukan sebentar, namun tetap saja memakan waktu, karena mereka harus mengulang mandi kembali.
***
Adel keluar dari mobil setelah Dev membukakkan pintu.
"Assalamu'alaikum." Salam Dev dan Adel berasamaan.
"Wa'alaikumsalam." Suara Evan terdengar nyaring dari dalam menjawab salam.
"Del rumahmu pindah diperempatan arab?" Sindir Evan.
Kurang dari 30 menit seharusnya mereka sudah sampai jika langsung berangkat setelah panggilan berakhir. Tapi kenyataannya hampir dua jam mereka baru sampai.
"Makanya menikah." Sinis Dev, sedangkan Adel tidak menanggapi, ia memilih berlalu kedalam menghampiri Kakak dan Ibunya yang sedang berara didapur.
"Evan sudah lama Kak?"
"Sudah sekitar 130 menit yang lalu."
"Kenapa tidak Kakak temani?"
"Kakak harus membantu ibu membuat pesanan."
Bu Mira memang mebuka usaha kecil-kecilan, menerima pesanan berbagai macam kue dan juga snack box.
Padahal Shanum sanggup menanggung hidup wanita yang telah melahirkannya, tapi Jenuh dan bosan karena tidak ada kegiatan menjadi alasan mengapa Bu Mira tidak mau berdiam diri dirumah.
__ADS_1
"Kenapa lama Dek? Evan sudah menunggumu dari tadi." Ucap Shanum tanpa mengalihkan perhatiannya dari plastik pembungkus kue.
"Evan mencariku, kenapa tidak kerumah saja."
Shanum tidak menanggapi perkataan Adiknya, ia meletakkan kue terakhir dalam box lalu menutupnya. "Kita kedepan."
Bu Mira menyusul kedepan dengan nampan berisi minuman dan beberapa kue kering dalam toples, ia meletakkannya dimeja dan duduk disamping anak gadisnya.
Sebelumnya dimeja juga sudah ada satu gelas minuman yang isinya telah tandas, dan beberapa potong kue, sangat jelas Evan sudah lama menunggu.
"Bu Maaf, kedatangan saya kesini ingin memberitahu jika satu minggu lagi kami akan menikah." Ucap Evan dengan tenang tanpa gerogi sedikitpun, sepertinya ia sudah menyiapkan matang-matang sebelumnya.
"Apa!" Adel begitu terkejut mendengar pernyataan sahabat lamanya, ia menatap Shanum yang sedang tertunduk menahan malu.
"Alhamdulillah," berbeda dengan reaksi Bu Mira yang berucap penuh syukur karena anak gadisnya akan segera melepaskan masa lajangnya.
"Kenapa mendadak begitu?" Reaksi Dev juga tidak kalah terkejut.
"Maaf jika mendadak, tapi sumpah Aku belum melakukan apapun dengan Shanum, kalian jangan berfikir yang iya-iya." Ucap Evan salah tingkah melihat keterkejutan sepasang suami istri tersebut.
Shanum mendongak mendengar perkataan Evan yang tidak masuk akal.
"Aku juga maunya satu minggu lagi baru acara lamaran resmi, tapi Shanum tidak mau, ingin langsung menikah katanya."
Perkataan Evan sukses membuat semua orang yang ada menatap kearah Shanum, Shanum semakin menunduk malu.
"Kakak ipar serius ingin menikah dengannya?" Kini semua orang beralih menatap Dev dengan pertanyaan konyolnya.
"Kamu belum bisa move on?" Sindir Evan.
"Sudah lah, maksudku takutnya Kakak ipar akan menyesal mendapatkan makhluk jadi-jadian sepertimu." Ucap Dev.
"Apa yang perlu Ibu siapkan nak Evan?" Bu Mira menanyakan persiapan pernikahan daripada mendengarkan pertikaian unfaedah antara menantu dan calon menantunya.
Mereka sudah paham dengan sifat Dev dan Evan, setiap perkataan keduanya hanya dianggap bercanda. Tidak ada yang tersinggung dengan ucapan keduanya.
"Tidak perlu menyiapkan apa-apa Bu, cukup siapkan kesehatan saja."
"Tapi bagaimana dengan acara pernikahan kalian jika Ibu tidak menyiapkan apapun."
"Evan akan menyiapkan semuanya, Shanum hanya perlu memilih konsep seperti apa yang dia inginkan." Ucap Evan meyakinkan.
"Baiklah Ibu percaya padamu."
"Maaf Bu, apakah Ayah kandung Shanum masih ada?" Evan bertanya dengan hati-hati, tidak ingin menyinggung perasaan siapapun.
Ada rasa ragu ketika ingin menanyakannya, namun ia harus memberanikan diri agar semuanya jelas, pasalnya Shanum tidak pernah menceritakan apapun tentang Ayahnya.
Sebenarnya Evan bisa dengan mudah mencari tahu siapa Ayah Shanum, tapi ia tidak ingin melakukannya, Evan ingin mendengar langsung dari yang bersangkutan.
"Ayah ……………"
__ADS_1