Dimanja Tanpa Cinta

Dimanja Tanpa Cinta
Bab 49


__ADS_3

Pov Adel


☆☆☆


Melihat pesan masuk dari nomor tak dikenal membuat hatiku seketika hancur, menolak percaya tapi bukti ada didepan mata.


Mas Dev Suamiku sedang melakukan perjalanan bisnis keluar kota, hanya satu malam, namun mampu memporak porandakan perasaanku.


Mensugesti diri untuk tidak percaya, berusaha berfikir positif bahwa lelaki yang telah mengikrarkan janji suci didepan Ayahku tidak akan mengkhianatiku.


Tapi nyatanya semalaman mencoba menghubungi ponselnya hanya tampilan memanggil tidak berubah menjadi berdering.


Sakitnya fisik karena kelelahan dan kurang tidur tidak seberapa dibanding sakitnya hatiku kala itu, mentalku dihajar habis-habisan.


Disaat lelakiku sudah ada dihadapan, ingin sekali menghambur kepelukannya, semalam tidak bertemu membuatku begitu rindu, namun ketika mengingat suara semalam membuatku ingin memaki dalam waktu bersamaan.


"Mas akan buktikan, percayalah." Ucapnya waktu itu, aku mencoba percaya, mengikuti semua rencananya.


Dan disinilah sekarang ditaman dekat kafe, suamiku telah membuktikan bahwa memang dia dijebak, dan aku begitu bersyukur karena malam itu tidak terjadi apapun.


"Kamu memiliki bukti tapi kamu membiarkanku perang dengan perasaan!" Mas Dev berkata kepada Evan dengan sedikit frustasi, meski semua sudah baik-baik saja, namun tidak bisa dibohongi ada kekhawatiran dalam diri Lelaki itu jika gagal membuktikan kebenaran kepadaku.


Lelaki calon kakak iparku tidak memperdulikan perkaan suamiku. "Del, kenapa kamu tidak menanyakan ini padaku?" Ia justru mengalihkan pembicaraan kepadaku.


"Kamu harus tahu satu hal, aku bisa melakukan apapun untukmu." Lanjutnya lagi.


"Apa maksudmu? Kamu tidak perlu melakukan apapun untuk istriku." Posesifnya mulai keluar, Mas Dev tidak terima jika ada pria melakukan banyak hal untukku.


Ckkkk.


Evan berdecak sebal, "Bahkan tanpa bantuanku, kamu tidak akan punya bukti jika yang menjebakmu adalah mantan kekasih istrimu."


"Hey, jangan sebutkan itu." Aku tidak suka jika ada yang menyebut Rafa sebagai mantan kekasih, meskipun kenyataannya iya, tapi terlalu menyebalkan jika mengingatnya.


"Benarkan?" Evan berkata tanpa dosa.


"Sepertinya kamu tahu banyak hal?" Tanyaku mengalihkan perhatian.


"Sudah aku katakan tadi, aku bisa melakukan apapun untukmu."


Mas Dev ingin kembali bersuara, namun aku mencegahnya. Tidak akan ada habisnya jika mereka terus berdebat.


Evan yang suka sekali memprovokasi Mas Dev, dan lelakiku juga mudah sekali terpancing jika berhubungan denganku.


"Van dari mana kamu mendapat rekaman itu?"


"Itu hal yang sangat mudah."


"Apapun itu terimakasih untuk bantuannya."


Aku menghargai privasinya, Evan pasti tidak ingin orang lain tau darimana sumber iinformasinya.

__ADS_1


"Jangan sungkan, apapun masalahmu akulah solusinya."


Aku memutar bola mata dengan malas, "jangan sombong."


Evan berdiri dari duduknya, menghampiri penjual batagaor, tidak lama ia kembali lagi namun tanpa apapun ditangannya.


"Adik ipar kamu tidak ingin membuat perhitungan dengan Rafa?" Tanya Evan ketika ia sudah kembali duduk ditempat semula.


Ditaman ini tidak terlalu banyak pengunjung, karena masih jam kerja juga jam sekolah.


Hanya ada beberapa balita dengan baby sitternya, ada juga yang hanya dengan ibunya.


Aku menghela nafas pelan, belum terpikirkan sama sekali untuk membuat perhitungan. "Sepertinya tidak perlu, Rafa hanya ingin hubunganku dengan Mas Dev hancur, dengan menunjukkan kami baik-baik saja sepertinya sudah menjadi pukulan tersendiri untuknya."


Penjual batagor menghampiri dengan nampan berisi tiga piring batagor lengkap dengan sambal kacang diatasnya.


"Terimakasih." Ucapku menerima nampan dari penjual.


Aku meletakkan nampan dikursi yang tadi aku dudukki. Tidak ada meja disini hanya ada beberapa kursi panjang.


Mas Dev bangkit dari duduknya. "Duduklah!" Perintahnya padaku.


"Kita duduk dibawah saja." Jawabku.


Karena kami sudah tidak mungkin duduk disatu kursi. Kursi lainnya terletak berjarak.


"Rafa itu bukan ancaman." Evan berkata kembali setelah kita duduk melingkar dibawah hanya beralaskan rerumputan.


Tak terasa sepiring batagor tandas tanpa sisa, membicarakan Rafa memang tidak akan ada habisnya.


"Mas antar kamu pulang," Ucap Mas Dev setelah meletakkan kembali piringnya.


Aku ikut meletakkan piring diatas piringnya, menyeruput es teh yang terasa mendinginkan tenggorokan. "Aku masih ingin disini."


"Biar aku temanin." Evan dengan cepat memotong ucapanku, apa lagi tujuannya jika bukan untuk memprovokasi.


"Hey! Jangan mencari kesempatan." Sahut Mas Dev dengan cepat.


Bukankah Mas Dev juga tahu jika Evan calon suami Kak Shanum, bisa-bisanya dia masih begitu cemburu.


"Bagaimana bisa kamu bertahan dengan lelaki seposesif ini," Evan berkata sambil menunjuk kearah Mas Dev.


"Cepatlah menikah, maka kamu akan merasakan sendiri bagaimana berada diposisi sebagai seorang suami." Ucap Mas Dev mengejek.


Jika sudah seperti ini maka tujuh hari tujuh malam tidak akan ada habisnya, mereka jika bersama sudah seperti emak-emak komplek yang sedang adu mulut, tidak ada yang mau mengalah.


"Ceraikan dulu istrimu agar aku bisa segera menikahinya." Evan berkata dengan santai, dia kira gurauannya lucu.


"Kamu mendo'akanku menjadi janda!" Ucapku sedikit berteriak, kesal sekali rasanya mendengar ucapannya, status dibuat bercanda sama sekali tidak lucu.


Ingin rasanya aku menarik lehernya hingga seperti jerapah.

__ADS_1


"Becanda del."


"Gak lucu! Aku pecat kamu jadi calon Kakak ipar."


Panik kan, siapa suruh bercandanya kelewatan. "Del maaf, kan cuma becanda, jangan pecat ya." Ucarnya dengan memelas.


"Mas tidak apa-apa jika ingin kembali kekantor, aku pulang diantar Evan nanti." Masih banyak yang ingin aku tanyakan pada lelaki yang suka semaunya sendiri.


"Bagaimana jika dia macam-macam denganmu?" Mas Dev masih tetap khawatir dan belum ingin melepasku sendiri.


"Gadis manja sepertinya tidak masuk dalam kriteria wanita idamanku." Akhir-akhir ini Evan pandai sekali membuat orang hipertensi hanya dengan ucapannya yang sangat menyebalkan.


"Sepertinya Kak Shanum pantas mendapat yang lebih baik darimu."


"Del!" Lirihnya, kan jika berhubungan dengan Kak Shanum dia pasti tidak bisa berkutik. Sebucin itu dengan Kakakku.


***


Setelah terjadi drama yang tidak begitu panjang, akhirnya Mas Dev kembali kekantor meninggalkanku dan Evan hanya berdua meski dengan perasaan terpaksa.


Pekerjaan yang menumpuk membuatnya tidak bisa meninggalkan kantor terlalu lama.


"Kamu ingin membuat tubuhku melebar?" Aku membulatkan mata tidak percaya melihat Evan kembali dengan satu kantong plastik berisi makanan ringan, dan beberapa coklat juga es krim.


Berapa banyak kalori yang akan bersarang ditubuhku, tapi mau dianggurin juga sayang.


Tadi dia pamit katanya mau pergi sebentar, siapa sangka saat kembali membawa racun menyenangkan.


"Nikmati saja, Jika kamu gendut, Rafa tidak akan lagi mengejarmu." Jawabnya dengan santai.


Lagian siapa yang peduli dengan penilaian orang lain apalagi Rafa, aku hanya tidak ingin berat badanku semakin bertambah, itu akan membuat tubuh terasa berat.


Tapi daripada dianggurin nanti mencair lebih baik dinikmati, jika kalori menumpuk aku bisa olah raga untuk membakarnya.


"Itu es krim kesukaanmu kan, tapi tidak tahu kalau sekarang." Ujarnya sambil menikmati es krim rasa mangga.


Evan masih ingat dengan makanan kesukaanku termasuk es krim, terbukti dari yang ia beli hampir semuanya mengandung coklat.


"Sekarang aku suka boba." Jawabku.


"Tapi masih suka coklat kan?"


"Tidak!"


"Tidak salah. Sudah nikmati saja, jika badanmu melebar dan Lelaki menyebalkan itu tak menyukainya, kamu bisa menendangnya."


"Kamu yang menyebalkan." Gerutuku. Lagian kenapa sih Evan tidak mau berdamai dengan Mas Dev, seperti ada dendam pribadi diantara mereka.


"Sudah lupakan, isi energimu dengan banyak, setelah ini pembicaraan kita akan sangat menguras energi."


Mendengar ucapannya seketika membuatku menatap kearahnya. "Soal?" Tanyaku penasaran.

__ADS_1


__ADS_2