
POV ADEL
🦋🦋🦋
Mentari pagi terbit diufuk timur, memberi harapana baru untuk mereka yang menikmati hari dengan penuh syukur.
Pohon-pohon menari-nari memberi aroma khas pedesaan dipagi hari. Sejuk, tenang dan damai.
Kuhirup udara pagi yang masih begitu alami sebanyak-banyaknya, jika bisa ingin membawanya pulang ke Ibu Kota dimana disana oksigen sudah bercampur polusi.
Ingin rasanya berada lebih lama disini, ditempat yang baru pertama dan juga mungkin terakhir kali aku kunjungi.
Namun aku juga merindukan rumahku, rindu Mbok Sari yang pasti juga merindukanku.
"Sayang kok melamun." Suara khas dari seseorang yang paling tidak ingin aku dengar membuyarkan lamunanku.
"Berhentilah bertingak bodoh Fa!" Aku berkata tanpa mengalihkan pandanganku dari depan.
Hamparan padi yang mulai menguning bergoyang-goyang ditiup angin pagi jauh didepan sana terlihat lebih menarik daripada wajah menyebalkan disampingku.
Rafa kini ikut duduk ditepi teras menikmati semilirnya angin dipagi hari, yang mungkin kedepan tidak bisa kita nikmati lagi.
"Del!" Panggilnya.
"Hmmm."
"Aku ingin bicara."
"Katakan!"
"Lihat sini!"
"Aku mendengar dengan telingaku bukan mataku, katakan ada apa?"
Aku sama sekali tidak ingin melihat kearahnya, kearah pria yang sudah sepenuhnya menghilang dari hatiku, tidak sedikitpun tersisa kisah bersamanya.
"Secepat itu kamu melupakanku?" Tanyanya, kulirik sekilas dia masih menatapku.
Tatapan yang masih sama seperti dulu, tatapan memuja dan penuh cinta.
Tatapan yang tidak berubah meski keadaan sudah berubah.
"Ya, secepat itu memang, secepat kamu menghianatiku," seharusnya Rafa tidak perlu menanyakan itu kan, dia yang menghianatiku, dia yang bermain api dibelakangku, tapi seolah aku yang salah karena lebih dulu menikah.
__ADS_1
"Del, maafkan aku waktu itu....."
"Sudah aku maafkan." Aku memotong ucapannya sebelum Rafa menyelesaikan kalimatnya.
"Del aku ingin kamu kembali padaku!" Katanya dengan tegas.
"Jangan gila Fa, aku sudah menikah, berapa kali sih aku harus katakan jika kisah kita sudah selesai!" Kali ini aku beranikan menatap kearahnya, menantang tatapan matanya. Aku tidak mau dia berfikir masih ada debaran didalam dada, tidak! sama sekali sudah tidak ada.
"Aku pasti akan mendapatkanmu kembali!" Sepertinya lelaki tidak tahu malu ini masih terus berusaha.
"Lakukan sesukamu, tapi aku ingatkan, apapun yang akan kamu lakukan hanya sia-sia." Aku berlalu pergi dari sisinya.
"Kita lihat saja nanti, akan aku buktikan." Rafa berkata lagi sebelum aku benar-benar masuk pintu rumah.
"Jangan menggunakan cara licik!" Aku berbalik dan berkata, seringai menyebalkan tercetak diwajahnya.
Apalagi yang bisa dia lakukan selain menggunakan kekuatannya untuk berbuat curang demi sebuah ambisi.
"Dek, pagi-pagi mukanya udah kusut aja, senyum dong selepas sarapan kita pulang." Seperti biasa Kak Shanum selalu paling tahu tentang perubahan ekspresiku. "Ada apa?" Tanyanya sambil memasukan aneka sayur kedalam panci.
"Ada orang gila." Jawabku asal, aku hanya duduk dikursi meja makan dekat dapur, hanya menyaksikan Ibu dan Kak Shanum yang sedang berjuang untuk menghidangkan sarapan.
"Orang gila?" Ibu ikut antusias. "Dimana Dek? Biar Ibu lapor Pak RT, di Desa ini tidak boleh ada orang gila berkeliaran." Sepertinya Ibu mengira ada orang gila sungguhan.
Aku yakin Kak Shanum paham dengan yang aku maksud dengan orang gila.
Tidak seperti dugaanku, Kak Shanum justru hanya tersenyum dan mengedikan bahu sebagai isyarat bahwa aku harus menjelaskan sendiri. Jahat memang.
"Eh bu!" Aku memanggil ibu ketika buru-buru mau pergi setelah sebelumnya mencuci tangan lebih dulu.
"Sudah kamu disini saja, Ibu mau lapor dulu kerumah Pak RT!" Ibu masuk kamar tidak lama kemudian sudah keluar lagi dengan jilbab instannya.
"Bu, tidak ada orang gila, Adek hanya asal bicara." Akhirnya Kak Shanum mau juga ikut menjelaskan.
"Loh cuma asal to, ndak boleh begitu Dek, nanti orang-orang bisa salah paham, ya sudah Ibu mau lanjut masak kalau begitu."
"Iya Bu maaf."
"Jangan diulangi lagi."
Ibu melanjutkan kembali aktifitasanya yang sempat tertunda, aku tidak tahu apa yang sedang Ibu masak, Bakwan mungkin, tapi tidak ada sayurannya.
Biasanya Mbok Sari masak tepung yang dicairkan tapi berisi sayuran, namanya bakwan katanya waktu pertama kali memasakan untukku, tapi aku tidak melihat ada sayuran yang dicampurkan kedalam adonan tepung.
__ADS_1
"Dek, kamu tidak ikut bantuin masak?" Tanyanya saat aku masih berargumen sendiri dengan apa yang tengah Ibu buat.
"Nanti bantuin makan saja Bu." Jawabku sambil menunjukan senyum termanisku.
Ibu hanya tersenyum dan menggelengkan kepala melihat tingkahku.
"Mas sudah pulang?" Tanyaku ketika merasakan benda kenyal nan hangat menyentuh pipiku. "Mandi dulu sana, bau keringat." Kataku lagi sebelum Mas Dev menjawab pertanyaanku.
Setelah shalat shubuh tadi pagi Mas Dev bersama dengan lelaki yang katanya calon Kakak Iparku itu melanjutkan aktivitas dengan berjalan-jalan keliling Desa.
Beruntung mereka tidak nyasar dan bisa pulang kembali.
"Bareng yuh." Ajaknya, dia menggeser kursi didekatku kemudian ikut duduk dan meneguk air mineral hingga tersisa setengah botol.
"Aku sudah mandi," jawabku.
"Lagi," ajaknya.
"Sendiri saja," Aku tidak ingin mengulang ritual pagiku di Desa ini, yang dinginnya benar-benar menusuk sampai ketulang.
Tidak ada air hangat, bahkan kamar mandinya hanya ada satu didekat dapur, tidak enak kan jika harus mandi berdua, apalagi rindu yang sudah menggebu sampai diubun-ubun, bagaimana kalau nanti terjadi yang iya-iya, kan enak. Upssss. 🤭😁✌
Aku tidak lagi mendengar rengekan Mas Dev yang minta ditemani, mungkin dia paham ini dirumah mertua mungkin merasa sungkan juga.
Kak Shanum dan Ibu selesai menghidangkan sarapan tepat saat Mas Devku keluar kamar.
Evan dan Rafa masih diruang depan televisi sedang merebahkan tubuhnya kembali, hanya beralaskan kasur lantai tipis.
Aku tidak tahu bagaiama keadaan mereka semalam, mereka yang biasa tidur dengan nyaman dikamar full AC dan juga kasur empuk, tapi semalam harus tidur dilantai beralaskan kasur tipis, hanya dengan kipas angin dan ditemani dengungan nyamuk sebagai nyanyian pengantar tidur.
Maklum rumah sederhana milik Ibu hanya ada 2 kamar, satu ditempati Ibu dan Kak Shanum, satu lagi tentu aku dan Mas Dev.
"Van sarapan dulu," panggilku pada Evan yang sedang memejamkan mata, meski tidak tertidur.
"Hmmm." Jawabnya singkat, namun belum juga membuka mata.
"Jangan lupa ajak jaelangkung itu," tidak ingin mendengar protes dari salah satunya aku segerak berlalu keruang makan.
Disini kita sekarang, duduk melingkar dimeja makan dan seperti sebelumnya Rafa dan juga Evan kembali keruang tengah setelah mengambil sepiring nasi dan teman-temannya.
🦋🦋🦋
Terimakasih buat yang masih setia dan selalu ngasih dukungan.
__ADS_1
Thank you banyak-banyak ⚘⚘⚘