Dimanja Tanpa Cinta

Dimanja Tanpa Cinta
Bab 39


__ADS_3

"Jangan samakan Radit dengan j**a** murahan itu!" Seru Rafa. Luka lama seakan terbuka kembali, luka saat dirinya dengan penuh penyesalan menyaksikan kepergian wanita cinta pertama dan mungkin selamanya.


"Mereka beda kelas!" Ketusnya lagi.


"Jelas beda, apalagi dengan Adel, jauh banget bagaikan langit dan bumi, hanya orang bodoh saja yang mau menyia²kan berlian demi butiran debu."


Evan berkata dengan santai, seolah-olah kata-katanya tidak melukai hati dan jantung bahkan sampai ke ampela seseorang.


"Maksudmu, aku bodoh?"


"Aku tidak berkata begitu, tapi jika kamu merasa ya mungkin memang seperti itu adanya."


Sedangkan Adel justru bingung dibuatnya. Pasalnya tidak ada yang tahu kisah antara dirinya dan pria tak tahu diri yang datang tanpa diundang, selain dirinya, dan Kakaknya, Shanum.


Lain lagi dengan Dev, ia semakin dibuat penasaran dengan masa lalu istrinya.


Dev sama sekali tidak pernah tahu siapapun lelaki yang pernah singgah mengisi ruang kecil dalam hati wanita yang telah dirinya persunting dua tahun lalu.


Namun meskipun begitu Dev tidak ingin ikut bergabung dalam acara diskusi kaum adam masa kini.


"Sialan!" Bentak Rafa. "Berhentilah bicara omong kosong, aku bisa menghancurkan karirmu hanya dalam sekali tarikan nafas." Rafa berbicara dengan nada penuh ancaman.


Namun bukan Evan namanya jika gentar begitu saja hanya dengan mendengar ancaman seperti itu.


Memang Rafa bisa dengan mudah menghancurkan karir Evan yang hanya seorang model.


Dengan kekuatan yang Rafa miliki, tidaklah sulit baginya meminta Agency yang menaungi Evan untuk tidak lagi menggunakan jasanya.


Meski kiprahnya didunia modeling sudah tidak bisa diragukan lagi, namun tanpa adanya Agency yang menaunginya, perlahan karirnya pasti meredup.


"Lakukan jika mampu," Evan sama sekali tidak peduli dengan hal bodoh yang dikatakan Rafa. Meski Rafa memiliki segalanya, namun Evan menyimpan kartu As milik pengusaha muda yang banyak digilai kaum hawa.


"Jangan salahkan aku jika sepulangmu dari sini sudah tidak bisa menghasilkan rupiah lagi," Rafa berkata dengan seringai mengejek diwajahnya. "Dan lupakan tentang keinginan menjadi kakak ipar kekasihku." Lanjutnya lagi.


"Siapa yang kamu sebut kekasih!" Kali ini Bantal melayang tepat mengenai muka dengan pahatan sempurna milik Rafa.


Jika dibanding Dev, Rafa memang jauh lebih tampan dan juga mapan, meskipun tampang Dev juga tidak bisa diremehkan, tapi tetap saja kalah jika dibanding Rafa.

__ADS_1


"Kamulah Beb siapa lagi?" Dengan santainya Rafa berkata, bahkan bibirnya mengukir senyum termanisnya.


Berbanding terbalik dengan saat pertemuan untuk pertama kalinya dengan Adel setelah berpisah lama, dimana waktu itu dirinya menunjukan sisi arogan, namun sekarang kelakuannya tidak jauh beda dari anak jalanan yang tidak tahu malu dan sopan santun.


"Dia istriku, jangan bersikap bodoh." Sepertinya Dev sudah berada diambang batas kesabaran. Ia tidak lagi menghormati Rafa sebagai kliennya.


Bahkan Dev tidak peduli jika perusahaan mengalami banyak kerugian jika Rafa membatalkan kerja sama.


"Aku bukan pelupa akut, sampai sekarang aku masih mengingatnya, tapi tidak masalah juga kan istrimu jadi kekasihku?" Benar kata orang bahwa cinta itu buta, buta dari norma dan aturan. Bahkan bisa membuat orang menjadi gila.


Seperti Rafa saat ini, sepertinya ia sangat tergila-gila dengan perempuan manis dan apa adanya yang beberapa tahun lalu pernah ia lukai perasaannya.


"Bodoh!" Teriak Adel, lalu ia melepas dengan kasar tangan Dev dan pergi menyusul Shanum juga Bu Mira didalam kamar.


Dev tercengang mendapat perlakuan seperti itu dari Adel, 'Kenapa aku jadi kena?' batin Dev "Semua gara-gara kamu!" Teriak Dev, sambil mukanya ia arahkan kehadapan Rafa.


"Aku?" Tunjuk Rafa pada diri sendiri dengan muka sok bodohnya.


"Urus dia Van, aku tidak ingin ikut gila," kata Dev, ia menyugar rambutnya dengan kasar, kemudian kepalanya ia sandarkan disandaran kursi.


"Jelas saja urusanmu, kamu tidak dengar tadi, makhluk itu bisa menghancurkan karirmu, dan jika itu terjadi kamu tidak bisa menikahi Shanum." Dev benar-benar tidak tahu dengan pikiran Evan.


"Silahkan saja jika dia berani." Evan menjawab masih dengan nada santai namun penuh dengan teka teki.


"Dev harusnya kamu mendukungku, ini sama-sama menguntungkan buat kita." Seringai nakal terlihat diwajah tampan Rafa.


"Asal kamu tidak membatalkan kerja sama, itu sudah cukup menguntungkan buat kita."


"Apa yang ada dipikiranmu hanya uang, jangan bilang kamu menikahi Adel karena mengincar perusahaannya, jika itu terjadi maka siap-siap berurusan denganku!"


"Hanya lelaki bodoh yang memiliki pemikiran seperti itu!"


"Kenapa kalian senang sekali mengataiku bodoh hah! jika aku bodoh aku tidak akan menjadi pengusaha muda sesukses sekarang, kamu tau diusiaku saat in mereka masih pusing memikirkan skripsi, tapi aku justru pusing memikirkan istri orang."


Glutak!


Botol kosong bekas air mineral tepat mengenai kepala dengan rambut hitam lekat yang tertata sempurna.

__ADS_1


"Hey kenapa kalian senang sekali melemparkan barang-barang tak berdosa sih?"


"Ketularan Adel." Jawab Evan singkat.


"Sial! Jika begini terus lama-lama aku bisa gegar otak." Sungut Rafa. "Kalau aku tidak bisa mengingat Adel lagi bagaiman? Kalian mau tanggung jawab?"


"Itu bagus, jadi tidak ada yang mengganggu keluarga kecilku." Saut Dev.


"Dev, sudah kubilang kita harus bekerja sama, jika lelaki sok kecakepan ini ......." Tunjuk Rafa tepat dimuka Evan.


"Aku memang cakep!" Potong Evan cepat sebelum Rafa melanjutkan kata-katanya sambil membuang kasar tangan Rafa.


"Terserah! Jika pria ini gagal menikahi Shanum, ini kesempatan emas bahkan berlian untukmu Dev, karena kamu bisa mendekati Shanum kembali dan aku bisa mendapatkan Adel setelah kamu tinggalkan, penawaran yang menarik bukan?"


Gubrak!


Kali ini satu kantong kresek berisi penuh makanan ringan kembali mendarat dikepala Rafa.


Adel yang berniat mengambil jajanan untuk dibawa kekamar tidak sengaja mendengar kata-kata tak bermutu dari Rafa.


"Jaga omonganmu Tuan Rafa yang terhormat!" Kata Adel dengan penuh penekanan, setelahnya ia mengambil kembali plastik yang isinya sudah berhamburan dan mengumpulkan kembali isinya lalu pergi begitu saja.


"Dev kamu jangan kasih dia makan daging macan!" Kata Rafa sambil mengusap kepalanya yang sedikit terasa nyeri, bagaimana tidak ternyata plastik itu bukan hanya berisi makanan ringan, tapi juga ada dua botol air mineral didalamnya.


Dev hanya memutar bola matanya dengan malas tanpa ingin menyahut kata-kata Rafa.


"Rafa pulanglah, katakan pada Radit untuk hati-hati denganku." Kata Evan santai namun ada keseriusan dimatanya.


🦋🦋🦋


Terimakasih teman-teman yang selalu setia mengikuti alurnya.


Jangan lupa tinggalkan jejak.


Thank you banyak-banyak.


⚘⚘⚘⚘

__ADS_1


__ADS_2