Dimanja Tanpa Cinta

Dimanja Tanpa Cinta
Bab 37


__ADS_3

"Kamu kenapa sih Mas, kayak heran begitu, kita kan sudah lama menikah, wajar kan kalau nantinya punya anak dan menjadi cucu Ibu, yang untuk saat ini masih menjadi calon, karena belum diproses." Jelas Adel tanpa rasa bersalah dengan pemikirannya, yang memang baginya tidak ada yang salah.


"Hah belum ada ya, padahal aku kira tadinya aku akan segera memiliki keponakan, baiklah kalau begitu, mari kita bersaing siapa yang lebih cepat memberikan cucu untuk Ibu."


Evan berkata dengan semangat 45. Seolah membuat anak bisa dibentuk dengan tanah liat.


"Ayo kita pulang sekarang." Dengan semangat membara pula Dev menarik tangan Adel.


"Mas tunggu dulu, kamu tidak mau mendorong kursi roda Ibu, menantu macam apa kamu." Kata Adel dengan bibir mengerucut, dan itu semakin membuat Dev ingin segera mengurungnya didalam kamar.


"Ah maaf sayang, Mas terlalu bersemangat memulai bersaing dengan jomblo akut." Kata Eev menjawab seraya membalikan badan menuju Ibu yang sedari tadi hanya asyik menyaksikan.


"Biar aku saja Dev, kamu bantu bawain barang-barang saja." Kata Shanum begitu Dev ingin mengambil alih kursi roda dari tangannya.


"Siap kakak ipar."


☆☆☆


"Kok turun? Kita sudah sampai? Mana rumah Ibu? Ibu tidak tinggal di gubug tengah sawah itu kan?"


Tanya Dev beruntun begitu mereka sampai dipinggir sawah tempat Shanum dan Adel memarkirkan mobil sebelum melewati pematang sawah.


"Satu-satu nanyanya Mas."


"Mas penasaran Dek."


"Kita belum sampai, masih harus berjalan jauh, rumah ibu didesa diujung jalan ini." Kata Shanum sambil menunjuk jalan tengah sawah. "Dan benar, Ibu tidak tinggal digubug itu." Lanjut Shanum lagi.


"Lagian Mas ada-ada saja sih, mana mungkin Ibu tinggal ditengah sawah sendirian," Adel ikut menyahut.


"Perlu saya sewakan motor lagi Non?" Tanya bang Rio begitu mereka keluar dari mobil masing-masing.


"Tidak Bang, jalan kaki saja." Usul Adel, yang mendapat tatapan keheranan dari enam orang lainnya.


"Kamu yakin Dek, ini jauh loh?" Tanya Shanum memastikan.


"Kenapa tidak, anggap saja kita sedang mencari jejak saat acara persami disekolah."


"Sepertinya menyenangkan." Evan setuju dengan usul Adel.

__ADS_1


Dua orang beda jenis kelamin itu memang banyak memiliki kesamaan, salah satunya sama-sama menyukai tantangan.


"Bang Rio sama Bang Alex tolong bantuin bawa barang bawaanya ya." Kata Shanum Sambil mendorong kursi Roda Bu Mira.


"Baik Non." Jawab keduanya kompak.


"Biar aku saja yang dorong Sha." Evan mengambil alih kursi roda dari pegangan Shanum.


"Tidak ada penolakan!" Katanya lagi sebelum Shanum berhasil mengeluarkan suara.


"Tidak usah, Ibu jalan sendiri saja." Kata Bu Mira sambil berusaha berdiri.


Sebenarnya berjalanpun Bu Mira sudah bisa, hanya saja ia belum boleh terlalu lelah. masih harus cukup istirahat.


"Ibu duduk manis saja, Kak Shanum dan juga Elpan, maksudnya Evan masih punya banyak stok tenaga hanya sekedar untuk berjalan melewati tengah sawah ini." Kata Adel cengengesan.


"Mas jangan lupa bawa minum, kali aja kita kehausan ditengah padang sahara, kan bisa dehidrasi." Ucap Adel lagi.


"Kita hanya akan melewati jalan setapak tengah sawah yang paling hanya butuh waktu 20 menit, tidak perlu sedrama itu." Evan mencibir sambil terus mendorong kursi roda calon Ibu mertuanya.


"Anggap saja begitu kenapa sih el, sirik aja sih sama aku, lama-lama aku pecat juga kamu dari jabatan calon Kakak ipar."


"Justru lucu, El. Nanti statusmu menjadi mantan calon Kakak ipar, keren kan gelar yang kamu sandang." Adel tergelak dengan perkataannya sendiri.


"Bu maaf ya, maklumi saja kelakuan mereka. Mereka masih bocah jadi masih labil," ujar Dev.


"Tidak apa-apa nak, Ibu suka." Jawab Bu Mira.


"Dev, jangan begitu, biarpun aku bocah tapi aku bisa secepatnya ngasih bocah buat ibu." Evan tidak terima dikatain bocah.


"Halalin dulu Shanumnya, jangan ngebet bikin bocah dulu, dasar bocah." Ejek Dev lagi.


"Hey kalian jangan paduan suara mulu," padahal mereka kan sedang adu argumen, tapi dasar Adel kalau ngomong suka asal.


"Mas sini fotoin, kapan lagi bisa foto ditengah sawah begini." Adel memberikan ponselnya pada Dev.


Banyak sekali gambar yang Adel ambil, dari gambar dirinya sendiri, bersama Dev, bersama Shanum bersama Ibu Mira juga, bahkan bersama semua orang yang ikut serta dengan meminta tolong kepada orang yang lewat untuk mengambil gambarnya.


"Ini rumah Ibu?" Pertanyaan pertama dari Evan begitu mereka sampai didepan rumah yang bisa terbilang sangat sederhana.

__ADS_1


"Iya nak, selama ini Ibu tinggal disini." Bu Mira menjawab dengan tersenyum.


Ia turun dari kursi roda mengambil kunci rumah yang ia simpan dibawah salah satu pot bunga yang ada diteras rumahnya.


Shanum membiarkan Ibunya berjalan sendiri, karena ia pikir Ibu Mira sudah tidak mungkin kelelahan hanya karena berjalan membuka pintu rumah.


"Silahkan masuk, tapi maaf ya rumahnya berdebu, sudah hampir setengah bulan Ibu tidak membersihkannya." Raut tidak enak tergambar jelas diwajah tuanya.


"Bu mau ngapain, Ibu duduk saja." Shanum mendudukan Ibunya disalah satu kursi yang terbuat dari kayu yang berada diruang tamu dalam rumah Bu Mira.


Shanum mengambil alih sapu yang diambil Bu Mira dari pojokan ruangan.


"Ibu mau membersihkan dulu Kak, tidak enak kan banyak tamu malah rumah berantakan." Kata Bu Mira masih berusaha berdiri. Namun dengan cepat Adel mendudukannya kembali.


"Kita duduk saja Bu, biarkan mereka yang bekerja," kata Adel setelah berhasil membuat Bu Mira duduk kembali.


Akhirnya mau tidak mau Bu Mira hanya pasrah menyaksikan anak dan menantunya juga calon menantu bekerja sama membersihkan rumahnya, juga dibantu oleh dua orang supir bawaan Shanum.


"Sebentar ya, Ibu ambil minum dulu untuk kalian." Bu Mira ingin bangkit dari duduknya, namun lagi-lagi Adel mengajaknya untuk duduk kembali.


"Biar Adel saja yang ambil."


"Baiklah, diwarung ada air mineral, ambil saja, masuknya lewat pintu dalam." Kata Bu Mira menjelaskan.


"Maaf merepotkan." Lanjut Bu Mira lagi.


Tidak butuh waktu lama adel sudah kembali dengan beberapa botol air mineral kemasan 600 ml, dengan tutup warna biru.


Selain itu Adel juga membawa sekantong kresek penuh yang entah apa isinya.


"Kamu ngrampok Del?" Tanya Evan begitu membuka kantong yang adel bawa berisi makanan ringan khas jajanan anak-anak.


"Hanya meminta sedikit, diwarung masih banyak." Jawab adel tanpa merasa bersalah sambil membuka bungkus snack kemasan 2000an.


"Boleh kan Bu?" Tanya Adel pada Bu Mira,.


"Boleh, ambil sesuka kalian."


Adel dan Evan berebut jajanan persis seperti anak-anak kelaparan yang tidak pernah menikmati makanan enak.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum!"


__ADS_2