
"Del, maafkan Mas." Dev ingin mencoba kembali menjelaskan kepada Adel, saat ini mereka sedang berada dikamar berdua.
Adel masih diam belum ingin menanggapi apapun.
"Kamu percaya kan sama Mas, Mas tidak mungkin mengkhianati ikatan suci kita."
Dalam hati Adel membenarkan perkataan Dev, sikap Dev selama ini sudah cukup membuktikan kesetiaannya meskipun diawal pernikahan belum ada cinta Dev untuknya, namun Dev tidak pernah mengkhianati dirinya.
Ingin rasanya menghambur kedalam pelukan lelaki yang semalam sudah tidak ditemuinya, namun Adel masih menjaga perasaannya untuk tidak jatuh terlalu dalam.
"Mas akan buktikan tapi Mas juga butuh bantuanmu."
"Apa yang bisa aku lakukan?" Adel membuka suara setelah sedari tadi hanya membisu.
Kemudian Dev menjelaskan rencananya, Adel sedikit ragu namun tetap menganggukkan kepala, ia juga penasaran siapa dalang dibalik semua ini jika memang suaminya dijebak.
"Terimakasih sayang." Ucap Dev yang mendapat dukungan dari istrinya, Dev bersyukur Adel masih mempercayainya.
Drrrtt drttt.
Suara getaran ponsel terdengar dari atas nakas. Dev memandang Adel sambil menyerahkan ponselnya.
Terlihat nama seseorang yang baru saja disimpan mengirimkan pesan melalui aplikasi berwarna hijau.
(Apa kabar Dev? Sudah sampai dirumah?) Bunyi pesan tersebut.
"Aku percaya padamu." Seketika senyum Dev mengembang mendengar tiga kata dari istri tercintanya.
Dev menganggukkan kepala kemudian mengetik balasan untuk seseorang yang baru saja mengirim pesan.
(Baik, siapa ya?)
Awal yang bagus, Dev tidak perlu mencari alasan untuk menghubunginya terlebih dahulu, dengan berpura-pura belum menyimpan nomornya mungkin lebih baik untuk melancarkan rencananya.
(Amel, lupa ya?)
(Amel? Siapa?)
(Baru semalam masa sudah lupa?) Dibubuhi emot mengedipkan mata dibelakangnya.
(Ah ya, ingatanku sedikit memburuk. Ada apa?)
(Lusa aku sampai di Ibu Kota, bisa kita bertemu? Ada yang ingin aku bicarakan.)
Dev berfikir sebentar, mentap kearah Adel yang dibalas dengan anggukkan kepala. Sedari tadi Adel ikut membaca pesan yang dikirim Amel.
(Baiklah, lusa aku sharelock tempatnya.)
(Terimakasih, sampai jumpa Baby.) Ditutup emot kiss dibelakangnya. Dev tidak lagi membalas.
"Bagaimana?" Tanya Dev pada istrinya.
"Lakukan sesuai rencana."
__ADS_1
"Sesuai perintah Sang Ratu."
Malam semakin larut, Dev berusaha untuk memejamkan matanya, setidaknya satu masalah telah terselesaikan. Adel sudah kembali percaya padanya, meski masih ada sedikit keraguan dihatinya.
***
"Bagaimana?" Ditempat lain Rafa menghubungi seseorang menanyakan rencanq selanjutnya.
"Lusa aku akan bertemu dengannya, Tuan tidak perlu khawatir, aku akan membuat Dev bertekuk lutut dihadapanku."
"Sepertinya perasaanmu bukan hanya sekedar sandiwara."
"Wanita mana yang bisa menolak pesona ketampanan suami kekasih impian anda." Amel terkekeh sendiri dengan ucapannya.
Amel seorang sekertaris diperusahaan pusat milik Rafa, berkali-kali dirinya berusaha menggoda pertahanan Rafa, namun semuanya sia-sia.
Benteng yang dibangun Rafa untuk dirinya begitu kokoh, tidak mudah untuk menggoyahkannya.
Amel tahu, Bos tempatnya bekerja begitu mengidamkan seorang gadis, namun saat itu dirinya belum tahu dimana keberadaan gadis incaran dari Tuannya.
Hingga suatu saat rencana licik menjadi jalur alternatif untuk memporak porandakan rumah tangga Pujaan hati bosnya.
Amel sedikit ragu menjalankan aksinya, bahkan ia berniat memberitahu korban kejadian yang sebenarnya dengan tujuan supaya Rafa tidak bisa memiliki kekasih impiannya.
Namun siapa sangka begitu dihadapkan dengan Dev yang wibawanya tidak kalah mempesona dari Rafa, Amel langsung jatuh cinta.
"Bagus! Pepet terus jangan sampai lepas." Dukungan dari Rafa membuat semangat Amel semakin membara.
"Siap!"
Amel tersenyum sendiri membayangkan bisa bersanding dengan Dev, tampangnya yang bisa membuat banyak wanita terpesona pada pandangan pertama.
Apalagi melihat tubuh kekarnyaa tanpa busana, meski belum sempat merasakan, tapi membayangkan saja membuatnya berkeringat hangat.
"Lanjutkan kerjaanmu!"
"Baik Tuan."
Amel kembali keruang kerjaanya, lusa ia akan dipindah tugaskan di kantor cabang milik Rafa yang berada di Ibu Kota, tentu saja dengan tujuan lain.
***
"Siap sayang?" Dua hari begitu cepat berlalu, hari ini saatnya bertemu dengan Amel, dan menguak informasi tentang siapa otak dibalik rencana penjebakan ini.
Tidak ingin berlarut-larut dalam situasi tidak nyaman, sebisa mungkin Dev berusaha mengungkap kejanggalan yang terjadi.
"Siap Mas." Adel hanya mengenakan baju santai rencananya juga akan memakai masker agar tidak dikenali, tapi itu akan menyusahkan ketika hendak menikmati makanan.
Adel memilih hanya mengenakan kacamata gelap dan juga topi yang sedikit menutupi wajahnya.
Mereka sengaja datang 30 menit lebih awal dari waktu yang mereka rencanakan, ada rencana lain yang harus mereka siapkan.
Sebelumnya Dev sudah menghubungi Amel memberitahukan tempat dan waktu untuk bertemu.
__ADS_1
Dev juga meminta Evan untuk menemani Adel, tidak ada lagi rasa khawatir tentang Evan yang akan mendekati Adel. Mengingat Evan adalah kekasih Shanum.
Disinilah mereka sekarang, berada disebuah kafe yang memang sedikit lengang karena belum waktunya jam istirahat.
Adel duduk membelakangi meja Dev namun Dev tetap menghadap kearah Adel, jika nanti Amel datang ia yang akan duduk membelakangi punggung Adel. Posisi yang sempurna, Adel akan mendengar dengan jelas apapun yang Amel katakan nantinya.
Semua sudah disiapkan secara matang, semoga rencana berjalan dengan sempurna, harapan tertinggi dari Dev.
***
"Hati-hati aku yakin Dev tidak akan melepaskanmu begitu saja." Rafa seperti mengerti apa yang akan terjadi.
Amel tersenyum mendengarnya, "Jika Dev tidak melepaskanku bukankah itu bagus, kami akan terus bersama."
Amel seakan tidak mengerti dengan apa yang Rafa bicarakan, otaknya seakan tertutup oleh hati yang sedang bermekaran.
Rafa mendengus kesal mendengar penuturan salah satu karyawan terbaiknya dikantor, meski sifatnya sedikit menyebalkan jika berurusan dengan pria, namun kinerjanya tidak perlu diragukan lagi.
"Jangan jadi bodoh hanya karena pria tak berguna." Keluhnya.
"Tuan Rafa jangan terlalu menghinanya seperti itu, mematahkan semangatku saja."
"Amel, jika bukan karena mengelola perusahaan milik Adel, pria itu hanya menjadi staf biasa dikantor. Apa yang perlu dibanggakan."
"Haruskah aku tetap mengejarmu, agar aku bisa membanggakan calon suamiku yang memiliki banyak perusahaan." Amel memang sedikit berani jika berhadapan dengan Rafa. Terkesan lancang memang, namun Rafa juga tidak terlalu memperdulikan hal itu.
Selain karena mereka pernah berteman sewaktu sekolah, Amel juga berperan baik dalam setiap tugas yang Rafa berikan, meski tidak berhubungan dengan kerjaan.
Adel memang sangat menghormati Rafa sebagai atasan, bahkan ia akan terus memanggil Rafa dengan sebutan Tuan, namun terkadang ia sering lancang dalam berbicara.
"Jangan bodoh!" Dengus Rafa kesal.
Amel hanya terkekeh mendengarnya, "aku berangkat sekarang."
"Amel!" Panggilnya sebelum Amel sampai dipintu, "hati-hati, apapun yang terjadi jangan pernah menyebut namaku."
"Siap Tuan." Amel berlalu pergi meninggalkan ruangan milik Rafa.
Perjalanan membutuhkan waktu lima belas menit untuk sampai ditempat yang telah disepakati.
"Ada yang bisa saya bantu Nona?" Tanya seorang pelayan menghampiri Amel.
"Ah maaf saya sudah membuat janji dengan seseorang, tapi mungkin belum sampai." Amel mencoba melihat-lihat keseluruh penjuru ruang kafe tersebut, namun belum menemukan sosok yang dicarinya.
"Apakah anda Nona Amel?"
"Benar."
"Mari ikut saya Nona, Tuan Dev sudah menunggu."
Pelayan itu mengantarkan Amel menuju meja yang terletak sedikit kedalam dalam ruangan itu.
"Dev sudah lama? Aku belum terlambatkan?" Amel melihat jam yang melingkar ditangannya, lima menit lebih awal dari waktu yang ditentukan.
__ADS_1