Dimanja Tanpa Cinta

Dimanja Tanpa Cinta
Bab 48


__ADS_3

"Dev sudah lama? Aku belum terlambatkan?" Amel melihat jam yang melingkar dipergelangan tangannya, lima menit lebih awal dari waktu yang ditentukan.


Dev melihat kearah Amel sekilas menampilkan senyum, "Belum."


Amel duduk tepat dibelakang Adel, sesuai rencana, "Bagaimana kabarmu?"


"Baik." Jawab singkat Dev. "Bukankah kamu akan mengatakan sesuatu?"


Amel memanggil seorang pelayan untuk memesan minuman. "Kamu terlalu terburu-buru."


"Masih ada yang harus aku lakukan setelah ini, bisa langsung pada intinya saja." Dev tidak ingin membuang waktunya lebih banyak lagi untuk berasama wanita ular seperti Amel.


"Ah maaf, orang sepertimu pasti sangat sibuk." Minuman yang dipesan Amel datang, ia menyesapnya sedikit.


"Jangan terlalu banyak basa basi."


"Baiklah, maafkan aku." Amel kembali menyesap jus alpukat. "Mulai hari ini aku dipindah tugaskan di Kota ini."


Dev mengernyitkan keningnya bingung. "Lalu?"


"Apalagi, kita akan sering bertemu." Tanpa tahu malu Amel berkata demikian.


Satu pesan dari My Sweety Wife terpampang dilayar depan, tanpa menunggu lama Dev segera membuka isinya.


(Tanyakan dikantor mana dia bekerja.)


(Oke) Dev membalas singkat pesan Adel.


Dev kembali meletakkkan ponselnya disaku celana, "Maaf pesan dari kantor, bagaimana tadi, kamu dipindah tugaskan?"


"He,em."


"Memangnya kamu kerja dikantor apa?"


"Dikantor XXX."


Dev tersenyum miring mendengar jawaban dari Amel, secara tidak sengaja ia sudah mengantongi satu nama yang pantas untuk dicurigai.


"Apakah masih satu naungan dengan kantor tempatmu bekerja dikota sebelumnya?"


"Sebenarnya disana memang pusatnya, sedangkan disini hanya kantor cabang."


"Fix tidak salah lagi."


Amel merasa bingung dengan jawaban dari Dev. "Apa yang tidak salah?"


"Mel katakan siapa yang memintamu menjebakku?" Ujar Dev tegas.


Amel terperanjat kaget mendengar pertanyaan Dev, namun sedetik kemudian ia berusaha untuk menormalkan kembali ekspresinya.


Amel sudah menduga hal ini pasti akan terjadi lagi. "Dev maafkan aku, sebenarnya tidak ada yang memintaku menjebakmu," Amel diam sebentar sedikit meminum kembali jusnya, hanya sekedar untuk membasahi tenggorokan.

__ADS_1


"Lalu?"


"Aku yang sengaja menjebakmu, aku tidak bisa menolak pesonamu saat pertama kali melihatmu." Tidak semuanya salah, Amel memang tertarik dengan sosok Dev saat pertama kali bertemu.


Namun Amel ingat pesan Rafa apapun yang terjadi untuk tidak menyebut namanya, jadi Amel mengumpankan dirinya sendiri, mengesampingkan rasa malu.


Adel mengepalkan tangannya mendengar pengakuan Amel, tidak bisa dipungkiri, diluaran sana pasti banyak wanita yang mengidamkan sosok Dev, tak terkecuali Adel yang juga jatuh cinta pada pandangan pertama.


Disisi lain Adel juga teringat dengan perasaan Shanum, kala itu pasti sangat berat untuknya ketika ada wanita lain dengan terang-terangan menginginkan kekasihnya, dan saat ini Adel merasakan sendiri bagaimana sakitnya.


Evan mengelus punggung tangan Adel, mengangguk dan tersenyum. Mengisyaratkan semua akan baik-baik saja.


"Katakan semuanya." Perintah Dev dengan tegas.


"Dev maafkan aku, sebenarnya malam itu tidak ada yang terjadi, aku juga tidak benar-benar telanjang, aku memang sengaja mengabadikkan foto kebersamaan kita untuk menjebakmu, aku berharap kamu akan bertanggung jawab denganku."


Ada rasa yang tidak biasa dalam diri Amel, ia terpaksa harus merendahkan diri demi menjaga nama baik bosnya.


"Apakah kamu tidak mengetahui jika aku sudah beristri?"


"Siapa yang menyangka jika usiamu sudah setua itu, semua gadis pasti mengira kamu masih perjaka." Amel terkekeh sendiri dengan ucapnnya.


Dev melipatkan tangannya didepan dada. "Aku percaya padamu yang terpesona denganku, tapi aku tidak percaya jika kamu yang merencanakan penjebakkan ini."


Amel merasa tersudut dengan situasi ini, ia ingin mengatakan yang sebenarnya namun disisi lain ia juga tidak ingin mengecewakan bosnya. "Tidak apa-apa kalau tidak percaya, itu memang hak kamu."


(Bagaimana?)


(Bagus! Sisanya akan aku transfer.)


(Terimakasih Tuan.)


Terdengar rekaman percakapan dari meja sebelah yang suaranya sudah tidak asing lagi.


Amel seketika membeku, bahkan ia tidak berani hanya sekedar untuk melihat kebelakang.


Dev beranjak dari duduknya, "Tetaplah disini!" Perintahnya pada Amel.


Dev berjalan menuju meja Adel, "Kenapa kamu tidak mengatakannya dari tadi?" Ujarnya kesal.


Evan hanya berdecak sebal. "Kamu tidak menanyakan."


Dev tidak lagi menghiraukannya, ia menatap Adel dengan lembut. "Kamu percaya kan sekarang?"


Adel membuka maskernya, tersenyum kearah Dev kemudian menganggukkan kepala. "Aku percaya padamu, dan maafkan aku karena sempat ragu."


Dev kembali menghampiri meja Amel, "Tidak perlu mengatakan siapa dalangnya, aku sudah tahu, terimakasih sudah jujur."


Kemudian Dev pergi dengan menggandeng tangan Adel.


Evan bangkit dari duduknya, "Bagaiman jika berkencan denganku saja." Ucapnya setelah sampai dimeja tempat Amel duduk.

__ADS_1


"Kamu merusak segalanyan!" Kesalnya, kemudian Amel bangun dengan kasar dan berlalu pergi.


***


"Kenapa sudah kembali, jangan katakan kamu gagal." Rafa mengurungkan niat untuk masuk kedalam ruangannya begitu melihat Amel kembali, ia menghampiri Amel yang tengah duduk dengan kesal dimeja kerjanya.


"Sepertinya mereka sudah tahu semuanya?" Amel berkata dengan lesu.


Rafa dibuat bingung dengan kata mereka. "Mereka?" Tanyanya.


"Dev, istrinya dan lelaki yang entah siapa aku tidak mengenalnya, sepertinya aku yang terjebak sendiri dalam permainan ini."


"Keruanganku!"


Amel berjalan dengan lesu mengikuti langkah atasannya.


"Jelaskan!"


Amel duduk disofa mengambil posisi nyaman sebelum menceritakan semuanya.


Amel menceritakan bahwa ketika ia datang Dev sudah berada disitu, ada dua orang dimeja belakang mereka, namun karena Amel tidak mengenal dengan lelaki tersebut, ia tidak curiga sama sekali.


"Bahkan aku sudah mengumpankan diriku, mengaku bahwa aku yang menjebaknya, tetap saja Dev tidak percaya. Apalagi setelah aku mengatakan aku bekerja di kantor ini, sepertinya Dev langsung tahu jika Tuan ada dibalik semua ini."


"Sejak kapan kamu jadi bodoh?" Ujar Rafa kesal. Menyebut nama perusahaannya sama saja dengan menyebut identitas dirinya.


Amel diam tidak mengerti maksud dari kemarahan atasannya, bahkan ia sudah mengikutinya untuk tidak menyebut namanya.


Namun Amel juga tidak berani bersuara hanya sekedar mencari pembelaan terhadap dirinya, ia tahu benar bahwa saat ini, bosnya sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja.


"Kenapa kamu membongkar identitasku, bodoh!"


Amel mendongak mendengar ucapan Rafa, "Aku tidak menyebut nama Tuan."


"Tapi kamu menyebut nama perusahaan ini!" geramnya lagi.


"Tuan maaf, sepertinya ada yang janggal, meskipun aku tidak menyebut perusahaan ini tapi mereka tetap akan tahu jika Tuan dalang dibalik kekacauan ini." Amel baru ingat jika dia juga mendengar rekaman suara yang diputar oleh lelaki yang sangat asing baginya.


"Maksudmu?"


"Lelaki itu memiliki rekaman suara percakapan kita."


"Bagaimana bisa?"


"Aku juga tidak tahu."


"Bagaimana ciri-ciri lelaki itu?"


Kemudian Amel menjelaskan semuanya ciri fisik tentang lelaki yang baru sekali ia lihat didalam kafe tersebut.


Rafa mengepalkan tangannya dengan erat, hingga kuku-kukunya menancap ditelapak tangannya. "Evan!" Geramnya.

__ADS_1


__ADS_2