Dimanja Tanpa Cinta

Dimanja Tanpa Cinta
Bab 55


__ADS_3

Senja kembali menyapa, bias kekuningan diufuk barat mengantrakan sang surya kembali keperaduannya.


Shanum sudah menempuh perjalanan selama 7 jam lebih, namun ia belum juga sampai ditempat tujuan.


Shanum tidak tega melihat calon imamnya, meski sama sekali tidak ada gurat lelah diwajah Evan, tetapi Shanum tetep mengkhawatirkannya.


langit dengan Bias kuning keemasan kini mulai pudar, Adzan maghrib berkumandang memanggil setiap hamba yang beriman.


Evan menepikan mobilnya disalah satu masjid terdekat. "Kita istrihata dulu."


Shanum hanya menganggukkan kepala setuju.


Suara iqomah dari muadzin telah berakhir, bertanda shalat berjamaah akan segera dimulai, Shanum sudah siap berada dalam shaf shalat, berdempetan dengan para muslimah lainnya.


Tidak ada jarak diantara mereka, tidak ada perbedaan dari tahta dunia, mereka yang berbaris rapih dalam shaf semuanya sama.


Hanya makhluk rendah yang berharap selalu mendapat keberkahan hidup dari sang Maha tinggi.


Terdengar suara salam dari imam mendandakkan shalat telah berakhir, namun belum ada yang berniat beranjak dari duduknya.


Mereka masih ingin mengadukan segala gundah kepada sang Maha segalanya.


Dalam Sujud Shanum selalu memohon ampun, terselip do'a agar dipermudah segalanya.


Shanum kembali menuju mobil dimana Evan memarkirkan mobilnya. "Langsung jalan?" Tanya Shanum begitu sampai ternyata Evan sudah menunggunya.


"Kita cari makan dulu." Sudah waktunya makan malam, Evan tidak ingin Shanum mengabaikan kesehatannya.


Tidak jauh dari Masjid terdapat tenda khas makanan lamongan dipinggir jalan, mereka memilih berjalan kaki, meninggalkan mobil dipelataran Masjid. Berniat akan melanjutkan perjalanan setelah shalat isya.


"Van kamu yakin akan menemui Ayahku?" Shanum masih takut jika bertemu ayahnya, trauma masa lalu masih sangat membekas dimemorinya.


Evan tersenyum, menggenggam tangan Shanum yang berada diatas meja. "Semua akan baik-baik saja." Ucapnya menenangkan.


Evan paham dengan perasaan Shanum yang masih begitu trauma dengan Ayahnya, tapi juga ada rindu disorot mata teduhnya.


"Tapi……………" Shanum tidak melanjutkan perkataannya karena pesanan mereka sudah datang.


Bebek bakar lengkap dengan sambal dan juga lalapan menjadi menu pilihan mereka untuk makan malam.


"Habiskan makananmu, kita bahas lagi nanti." Perintah Evan dengan lembut namun penuh penekanan.


Shanum tidak lagi menyahut, ia mencuci tangannya dengan air yang tersedia dimangkok, kemudian mulai menikmati makanan dengan tenang.


Shanum berhenti ketika nasi tinggal beberapa suap lagi. "Kenapa tidak dihabiskan?" Tanya Evan.


"Aku sudah kenyang, lambungku tidak sanggup lagi untuk menampung."


Evan tersenyum kemudian mengambil alih piring yang terbuat dari rotan dihadapan Shanum memindahkan kehadapannya.


"Jika belum kenyang kamu bisa nambah." Shanum tidak enak hati melihat Evan makan bekas sisanya.


Lagi-lagi Evan tersenyum, "Sayang jika tidak dihabiskan mubadzir." Jawabnya.


shanum tidak bisa berkata lagi. Ia menunggu Evan dalam diam.


Suara Muadzin terdengar merdu dari sebrang jalan tepat setelah mereka menyelesaikan acara makan malamnya.


Jarak antara waktu maghrib dan isya tidak terlalu jauh, untuk itu mereka lebih memilih menunggu waktu Isya tiba, agar bisa dengan tenang melanjutkan perjalanan yang hanya sekitar 2 jam lagi.


Mereka kembali memasuki baitullah dengan tujuan sama, menunaikan kewajiban sebagai hamba.

__ADS_1


Shanum tidak pernah berfikir jika Tuhan membutuhkan dirinya untuk menyembah_Nya.


Namun bagi Shanum, dialah yang membutuhkan campur tangan Tuhan untuk membantu mempermudah segala urusannya.


Untuk itu Shanum selalu berusaha memenuhi kewajibannya sebagai seorang hamba, karena baginya ihtiar saja tidak akan cukup tanpa diimbangi dengan do'a.


Evan membuka pintu samping kemudi begitu terkejut ketika mendapati Shanum sudah duduk dikursi belakang kemudi.


"Sudah dekat kan? Kali ini aku yang mengemudikan mobil." Ucap Shanum tanpa memperdulikan reaksi Evan.


"Dalam mimpimu." Balas Evan. "Cepat pindah!" Perintahnya lagi.


Shanum bergeming ia masih diam ditempat. "Sha!" Evan masih mencoba meminta Shanum pindah.


"Tenagamu tenaga manusia, pasti punya rasa lelah. Istrihatlah, jika sudah dekat aku akan membangunkanmu."


Shanum tidak pernah tahu jika Evan sudah ditempa sedemikian rupa, sehingga ia tidak akan pernah merasa lelah hanya karena mengemudikan mobil yang bahkan belum sampai sehari.


"Aku tidak akan menjatuhkan harga diriku didepan wanitaku."


"Jangan terlalu menjaga gengsi."


"Pindah atau kita akan bermalam disini."


Mau tidak mau akhirnya Shanum keluar, lalu memutar masuk melalu pintu sebelahnya lagi.


Perjalanan mereka lewati dalam keheningan, hanya suara bising lalu lalang kendaraan yang terdengar, tidak ada pemandangan yang bisa dinikmati selain lampu jalanan yang terlihat gemerlap dari kejauhan.


"Apa kamu tidak lelah Van?" Tanya Shanum memecah keheningan.


"Aku bahkan sanggup mengendarai motor agar terbebas macet."


"Bagaiman denganmu?"


"Aku akan ikut dibelakangmu."


"Lalu bagaimana denganku?"


"Kamu didepan mengendarai motor."


"Aku pasti tidak sanggup."


"Kenapa?"


"Takut khilaf terlalu dekat denganmu."


shanum memukul lengan Evan, sedangkan Evan tertawa merasa gemas melihat muka Shanum memerah bak kepiting rebus.


Pukul 10 malam lewat 12 menit mereka sampai disebuah hotel yang tidak semewah dibukota.


"Sebaiknya kita istirahat dulu." Ucap Evan begitu mobil teraparkir dengan sempurna.


Shanum menganggukkan kepala menyetujui.


"Pesan dua kamar Mba." Ucap Evan kepada resepsionis, Hotel ini tutup jam 12 malam dan akan buka kembali pada pukul 6 pagi.


Resepsionis menyerahkan 2 kunci kamar, mereka mencari kamar sesui nomor yang tertera dikunci.


Meski tidak semewah hotel di ibu kota, namun hotel bintang 3 dikota bercahaya ini tidak bisa diremehkan kenyamanannya.


Mereka masuk kekamar masing-masing yang letaknya bersebalahan.

__ADS_1


shanum membersihkan diri sebelum merebahkan badan diperaduan.


Setelah ritualnya selesai Shanum segera membaringkan badan dikasur yang sangat nyaman meski bukan kamar bintang 5.


karena didera rasa lelah tidak butuh waktu lama Shanum sudah berada dialam bawah sadarnya.


Dering diponsel Shanum berbunyi nyaring, dilayar tertera pukul 04.30.


Alarm distel Shanum dijam setengah lima yang setiap harinya akan berdering sebelum fajar menyingsing.


Shanum sudah selesai dengan aktifitas paginya. Ia hendak keluar untuk membangunkan Evan namun pintu kamar Shanum diketuk lebih dulu.


Ternyata Evan sudah berdiri didepan pintu dengan penampilan yang sudah sangat menawan.


"Kita cari sarapan dulu." Ajak Evan.


"Ini masih terlalu pagi. Bahkan hotel ini baru buka setengah jam lagi."


"Baiklah kita berkeliling dulu."


Merekan berkeliling hotel, dan berhenti direstaurant yang terletak dilantai bawah.


Setelah menyelesaikan sarapan, mereka kembali kekamar mengambil apa apa yang perlu dibawa menuju pulau lapas.


"Kita jalan kaki saja, seharusnya tidak terlalu jauh dari pantai teluk kura-kura." Ajak Evan.


Shanum mengikuti langkah kaki Evan, berjalan dipagi hari terasa sangat menenangkan dengan udara yang masih terasa sejuk belum terlalu terpapar polusi.


Hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit untuk sampai ditempat tujuan.


Mereka menghampiri pemilik kapal yang berprofesi sebagai nelayan untuk mengantarkan mereka menuju pulau sebrang.


Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 20 menit akhirnya mereka sampai dipulau tujuan.


Mereka kembali jalan kaki untuk menuju lapas besi.


Perjalanan yang panjang belum membuat mereka bisa dengan mudah bertemu dengan WBP (Warga Binaan Pemasyarakatan)


Mereka harus mengikuti SOP kunjungan WBP lapas besi.


Mereka harus menyerahkan fotocopy identitas diri dan juga surat pengantar dari Desa atau Keluharan.


Mereka tidak mengetahui jika ada persyaratan tersebut, akhirnya dengan sedikit tawar menawar mereka dibuatkan surat kunjungan dengan menghubungi kamtib lapas besi.


Setelah melalui proses panjang akhirnya mereka dipertemukan dengan WBP penghuni lapas.


Shanum tidak menyangka jika Ayahnya akan dipindahkan dilapas yang letaknya sangat jauh dari daerah asalnya.


Ayah Shanum duduk dikursi sendiri sedangkan disebrang meja Shanum duduk bersebelahan dengan Evan.


Tidak ada ekspresi apapun yang ayah Shanum tunjukkan selain raut bingung diwajahnya.


Namun ia masih menunduk tidak ingin membuka suara untuk memulai percakapan.


Hingga suara nan lembut seorang gadis memecahkan keheningan. "Ayah, apa kabar?" Tanya Shanum dengan lirih.


Ia begitu prihatin melihat penampilan ayahnya saat ini, Shanum tidak pernah menyangka jika akan terlahir dari benih seseorang seperti Ayahnya.


Jika bisa memilih Shanum bahkan lebih baik menjadi anak dari ayah angkatnya.


Namun bagaimanapun juga darah lebih kental daripada air, seburuk apapun seorang Ayah, ia tetap Ayah dari Shanum, dan Shanum selalu ikhlas menerimanya.

__ADS_1


__ADS_2