Dimanja Tanpa Cinta

Dimanja Tanpa Cinta
Bab 59


__ADS_3

"Silahkan duduk Nona Adel, apakah ada keluhan?" Tanya seorang Dokter dengan ramah.


"Keluhan?" Tanya Adel dengan bingung.


Bu Mira tersenyum penuh arti, namun tidak tertangkap oleh Adel.


"Seperti mual dipagi hari, atau tidak bisa mencium bau yang menyengat, atau mungkin juga tidal bisa memakan makanan tertentu." Dokter menjelaskan ciri-ciri keluhan yang biasa terjadi.


Adel menggeleng dengan cepat. "Tidak ada, semua baik-baik saja Dok, bahkan saya tidak merasakan sakit apapun, hanya saja saya tidak tahu kenapa Ibu membawaku kesini." Protes Adel.


"Ah begitu ya, syukurlah kalo begitu, tapi mohon maaf bisakan Nona Adel berbaring disana." Dokter menunjukkan sebuah ranjang berukuran kecil.


Meski bingung Adel tetap mengikuti perintah Dokter tersebut.


Wanita dengan jas berwarna putih mengoleskan gel diperut Adel, kemudian menempelkan sebuah alat yang digerak-gerakan.


"Lihat tidak bulatan kecil itu?" Tanya Dokter.


Adel mengikuti pandangan Dokter menghadap layar, "yang seperti kacang?" Tanya Adel.


"Iya, itu adalah janin. Usianya sekitar 7 minggu."


"Janin?" Tanya Adel terkejut. Ia masih linglung untuk mencerna situasi. "Maksudnya saya hamil?"


Dokter yang diketahui bernama Mela, menutup kembali baju Adel dan membantunya turun.


"Apakah anda sudah ada tamu yang datang bulan ini?"


Dokter Mela kembali keposisi, duduk didepan mejanya berhadapan dengan Adel dan Bu Mira.


"Seharusnya ........" Adel menggantungkan ucapannya, ia baru sadar jika sudah terlambat datang bulan.


Dokter Mela tersenyum hangat. "Selamat anda positif sedang mengandung, dan seperti yang sudah saya katakan tadi, usia janinnya baru 7 minggu. Usia yang masih rawan, dijaga baik-baik ya."


"Benarkan!" Adel merasa tidak percaya jika dia sebentar lagi akan menjadi seorang Ibu.


Bu Mira menggenggam tangannya. "Harusnya kamu bahagia, kenapa menangis, hmm?"


"Adel juga bahagia Bu," jawab Adel, tapi masih dengan air mata yang menetes.


Dokter Mela meresepkan vitamin dan juga obat untuk ditebus diapotik.


Mereka keluar ruangan setelah mengucapkan terimakasih.


"Mulai sekarang jangan menahan apapun, jika menginginkan sesuatu katakan pada suamimu atau pada Ibu." Ujar Bu Mira ketika mereka sudah dalam perjalanan pulang.


Adel hanya mengangguk, ia baru paham sekarang, jika keinginannya akhir-akhir ini memang bawaan bayi.


"Mas!" Adel berlari menghambur kedalam pelukan Dev ketika baru sampai rumah.


Dev begitu terkejut mendapati Adel yang menangis dalam pelukannya.

__ADS_1


Shanum dan Evan juga dibuat bingung oleh kelakuan Adel. Semua pasang mata mengarah kepada Bu Mira sebagai tersangka dan menuntut penjelasan.


Namun Bu Mira hanya mengedikkan bahu tanda tidak peduli dan berlalu begitu saja menuju kamarnya.


"Sayang kamu kenapa? Apa yang dilakukan Ibu padamu, kenapa kamu menangis?"


Dev begitu khawatir karena Adel masih saja terus menangis.


"Dek, kenapa?" Shanum juga ikut panik.


Adel melepaskan pelukannya dan menggeleng perlahan, Adel menyerahkan amplop kepada Dev.


Dev membukanya dan juga ikut meneteskan air mata. "Ka-kamu ha-hamil?" Tanya Dev terbata seakan tidak percaya. Adel hanya mengangguk mengiyakan.


"Selamat sayang." Ucap Dev kembali memeluk Adel.


"Alhamdulillah." Shanum berucap penuh syukur diikuti oleh Evan.


"Sudah 7 Minggu." Jelas Adel.


"Terimakasih sayang, terimakasih. Mulai sekarang apapun yang kamu inginkan katakan sama Mas, Mas akan memenuhinya untukmu, untuk bayi kita."


***


"Sah!" Suara para saksi menggema didalam masjid. Pernikahan Shanum dan juga Evan akhirnya selesai dilaksanakan.


Hari ini Shanum resmi menyandang seorang istri, dan kehamilan Adel menjadi kado terindah untuk pernikahan Shanum dengan Evan.


Tidak banyak tamu undangan yang datang karena Shanum tidak ingin pernikahan yang terlalu mewah.


Meski sederhana Versi Evan tetapi tetap saja mewah bagi Shanum.


"Kakak selamat ya, setelah ini Kakak akan tinggal bersama kita kan?" Ujar Elis, gadis itu begitu menginginkan Shanum tinggal bersamanya.


Ada keraguan dalam diri Shanum, jika dia mengikuti Evan makan Ibunya akan ditinggal sendiri. Tetapi jika Shanum egois untuk tinggal dirumahnya, maka Elis akan tinggal sendiri. Dan Shanumpun tidak tega melakukannya. bagaimanapun juga Elis tetap masih menjadi tanggung jawab Evan.


Shanum tersenyum, pada akhirnya ia harus mengatakan "Iya" setelah mendapatkan anggukan kepala dari Bu Mira.


"Terimakasih Kak." Elis memeluk Shanum yang masih mengenakan gaun pengantin.


Tanpa mereka sadari disudut taman ada sepasang mata yang memperhatikan mereka dengan raut yang sulit diartikan.


Shanum memilih suasan outdor untuk pesta pernikahannya, agar menambah kesan alami.


Sesi foto keluarga sudah berakhir. Para tamu undangan sedang berjalan bergantian mengucapkan selamat kepada sepasang mempelai yang sedang menjadi raja dan ratu sehari.


Ada sebagian yang sedang menikmati hidangan yang tersedia, Bu Mira menangis haru menyaksikan semua ini.


2 anak gadisnya memberikan kebahagiaan dalam waktu bersamaan.


Sebenarnya Bu Mira menyaksikan seseorang yang sedang duduk sendiri dan tidak beranjak sama sekali untuk mengucapkan selamat, tetapi wanita paruh baya itu berusaha untuk mengabaikannya.

__ADS_1


Selagi pria itu tidak mengacau acara maka selama itu juga Bu Mira masih diam.


Bu Mira tahu siapa pria itu, dan merasa bukan ancaman yang serius. Bahkan Shanum dan juga Evan memang dengan sengaja mengundangnya.


Tetapi dari sejak kehadirannya sampai saat ini tidak ada yang pria itu lakukan selain memandang kearah anak bungsunya, meski sesekali menghadap kearah mempelai.


Tetapi ada yang berbeda saat pria itu melihat Elis naik keatas panggung, raut mukanya berubah seketika, dan semua itu tidak lepas dari pengamatan Bu Mira.


Bu Mira semakin dikagetkan ketika melihat Elis justru menghampiri pria itu.


Meski sedikit jauh , tetapi percakapan mereka masih terdengar jelas.


"Kak Rafa juga datang?" Elis bertanya dengan senyum mengembang diwajahnya.


Rafa tersenyum dengan kaku, dan terkesan dipaksakan. "Aku juga diundang."


"Benarkah?" Binar bahagia terlihat jelas dimata gadis itu. Rafa hanya mengangguk.


"Kak Rafa mau makan apa? Elis ambilkan."


"Tidak perlu repot-repot, nanti aku ambil sendiri."


Akhirnya Elis hanya duduk menemani Rafa dengan salad buah ditangannya.


Hari semakin sore tamu undangan sudah pulang, hanya beberapa yang tertinggal.


Khususnya keluarga jauh dari Evan, karena memang hanya ada kakak sepupu dari almarhumah Ibunya yang Evan tahu. Itupun datang dari kota sebrang dan berencana menginap beberapa malam.


Rafa tanpa rasa lelah masih tetap duduk dikursinya dan baru beranjak ketika Shanum hendak meninggalkan pelaminan.


"Selamat ya!" Ucapnya begitu menghampiri Shanum dan Evan yang sudah turun dari pelaminan.


"Terimakasih!" Jawab Evan singkat.


"Kamu harus mengucapkan selamat kepadaku juga Tuan Rafa!" Ujar Dev menghampiri.


"Untuk?" Tanya Rafa.


"Sebentar lagi aku akan menjadi seorang Ayah." Dev berkata dengan bangganya.


"Benarkah?" Meski bertanya dengan senyum, tapi ada rasa tidak suka dihati Rafa.


Rafa masih berfikir harusnya ia yang menjadi ayah dari anak yang dikandung Adel.


"Tentu saja!"


Elis ikut bergabung dalam percakapan mereka setelah tadi masuk kedalam rumah untuk berganti pakaian.


"Abang kenal sama Kak Rafa?"


Pertanyaan Elis menyita perhatian beberapa pasang mata.

__ADS_1


__ADS_2